JIWA ISTRIKU YANG TERTUKAR

JIWA ISTRIKU YANG TERTUKAR
25. Mengingkari


__ADS_3

Russel menolak untuk mengakui semua tuduhan istrinya dengan berpura-pura tidak mengetahui apapun.


"Kamu bicara apa Claire? Jiwa siapa yang kamu maksud?" Tanya Russel dengan sengaja memasang wajah bingung.


Claire mengamati pancaran mata suaminya yang sedang menyimpan kebohongan kepadanya. Pura-pura tidak tahu atau memang sengaja tidak mau tahu?" Tanya Claire.


"Jangan membuat aku makin bingung, Claire! Saat ini kamu sedang hamil. Tidak bisakah kamu fokus pada janin kita agar dia tumbuh sehat tanpa membuat ia sedih di dalam sana?" Ucap Russell memenangkan istrinya.


Claire merasa sesak. Ia tahu betul kalau Russell lebih semangat saat bersama dengan Havana daripada dengan dirinya. Terbukti, dalam tidur pun Russell masih menyebut nama Havana.


"Alam bawah sadar kamu saja menuntut hatimu untuk menyebut nama itu karena kerinduan mu padanya daripada aku." Batin Claire.


"Jangan memikirkan hal-hal yang membuat hubungan kita hancur, sayang! Aku tahu saat ini hormon kehamilan busa saja membuat kamu mudah cemburu dan gampang marah." Ucap Russell membuat Claire merasa sangat tidak puas karena hatinya masih sakit melihat pengkhianatan suaminya dengan kakak kandungnya sendiri.


Namun, ia sendiri tidak tega pada bayinya yang akan menderita kalau mereka akan bertengkar.


Sementara di rumahnya Romy malah terjadi kebalikannya, hava dan suaminya seakan sedang menikmati bulan madu kedua mereka membuat mereka tidak jenuh untuk bercinta.


Untuk menjaga kenyamanan rumah tangganya, Romy tidak mau membahas tentang jiwa Havana yang terjebak pada tubuh Claire karena Havana sendiri tidak pernah menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan masalalunya sebelum mereka mereka datang menemui jasad Havana.


Sekitar tiga bulan kemudian, Havana mendatangi tempat kerjanya untuk kembali menjadi sekertaris ibu menteri. Kedatangan Havana sangat mengejutkan satu kantor itu. Mereka seakan sedang melihat hantu Havana yang tiba-tiba muncul tanpa ada kabar berita. Saking syok-nya ada yang tiba-tiba saja pingsan membuat mereka panik.


Havana terlihat tidak peduli dan memilih masuk menemui ibu menteri. Karena Havana bukan orang baru di kantor pemerintahan itu, membuat ia diterima dengan baik oleh mereka.


"Apakah aku bisaa bertemu dengan ibu menteri?" Tanya Havana.


"Sebentar nona Havana saya akan menanyakan ibu Mentri dulu, apakah beliau sedang sibuk atau tidak." Ucap salah satu resepsionis menghubungi sekertaris baru ibu menteri.


"Baik." Havana menunggu sambil melihat ponsel barunya yang dibelikan oleh suaminya.


Tidak lama, resepsionis itu meminta Havana untuk ke ruang kerja Bu menteri. Di dalam sana Bu menteri sebenarnya juga merasa tidak percaya bahwa Havana kembali lagi setelah hampir enam bulan lebih menghilang dan dianggap tewas oleh pemerintah setelah melakukan pencarian korban selama satu bulan.

__ADS_1


"Havana...!" Ibu menteri langsung menyambut Havana penuh kerinduan. Keduanya berpelukan sambil melepaskan kerinduan mereka hingga. Ibu menteri menguraikan pelukannya.


"Aku hampir tidak percaya bahwa kamu datang lagi ke sini dalam keadaan masih hidup dan sesuatu yang kuat biasa kamu bisa hidup setelah tidak ada harapan lagi kami bisa menemukanmu." Ucap ibu menteri penuh haru.


"Apakah nyonya Lotta merindukan aku?" Tanya Havana sambil mengulum senyumnya.


"Sangat merindukan kamu Havana. Oh iya, aku pernah bertemu dengan adik kandung kamu bernama Claire. Saat itu ia sangat akrab denganku dan ia mengetahui hal-hal yang hanya aku dan kamu yang tahu tapi dia mengetahuinya. Bukankah kamu pernah bilang, kalau kamu adalah gadis yatim piatu?"


"Mungkin adikku banyak mengetahui segalanya dari cerita suamiku. Karena apapun mengenai hal kecil yang terjadi padaku, aku selalu berbagi nya dengan suami." Ucap Havana.


"Lalu bagaimana bisa mereka mengakui kalau kamu adalah putri mereka ?" Tanya nyonya Charlotte pada mantan sekertarisnya itu.


"Sejauh ini aku belum banyak tahu bagaimana keluargaku bisa mengetahui keberadaan ku karena sebagian memori ku ada yang hilang tentang masa laluku." Sahut Havana yang sebenarnya malas membahas masalalunya yang ingin ia lupakan.


"Baiklah Havana. Aku mengerti perasaanmu, sekarang apakah kamu datang untuk bekerja lagi denganku?"


"Tentu saja Nyonya. Aku tidak ingin bekerja di tempat lain. Aku lebih nyaman kerja di dunia pemerintahan." Ucap Havana.


Havana sangat senang dan langsung pamit pulang pada Bu menteri luar negeri itu. Setibanya di tempat parkir, tanpa sengaja Russell melihat Havana yang sedang berjalan menuju mobilnya.


"Havana...!" Desis Russell lirih. Ia segera menghampiri Havana yang berjalan dengan anggun ke arahnya.


Havana tidak menyadari kalau saat ini ia sedang diperhatikan oleh adik iparnya yang usianya di atas suaminya Rommy.


"Havana...!" Panggil Russell terlihat sumringah.


Havana menghentikan langkahnya dan tersenyum pada Russel dengan sambutan yang biasa seperti layaknya kakak ipar. Russel yang merasa sangat merindukan Havana menghampiri ibu satu anak ini dengan memeluk erat tubuh Havana membuat Havana tersentak.


Havana merasa jengah dengan perlakuan Russell yang dianggapnya terlalu berlebihan. Dengan sedikit mendorong tubuh kekar Russel agar pria ini tidak tersinggung.


"Maaf Russell..! Aku merasa sangat sesak kalau dipeluk kuat seperti ini." Ucap Havana sangat risih.

__ADS_1


"Havana....! Apakah kamu tidak mengingat aku sedikitpun?" Tanya Russel terlihat kecewa.


"Apa yang harus aku ingat Russell? kecuali kamu adalah adik ipar ku?" Tanya Havana.


"Apakah kita bisa bicara berdua, Havana, di suatu tempat?" Ajak Russell.


"Ke mana?"


"Tempat yang kamu sangat suka."


"Tempat yang aku suka? Emangnya kamu tahu tempat kesukaanku?" Tanya Havana tidak mengerti.


"Aku tahu semua tentangmu Havana. Apa yang kamu sukai dan tidak kamu sukai." Ucap Russell begitu semangat.


"Bagaimana mungkin kamu tahu semua tentangku sementara ini kali kedua kita bertemu." Ucap Havana.


"Kemarilah....!" Russel langsung menarik tangan Havana menuju mobilnya.


Havana yang bingung hanya menurut saja akan ajakan Russel. Ia sama sekali lupa akan masalalunya ketika masih hidup di dalam tubuh Claire. Mungkin bagi Havana perjalanan jiwanya yang menyusup pada tubuh Claire adalah bagian dari mimpi yang belum tentu semua orang mengingat mimpinya yang panjang.


Tidak lama kemudian, Russell sudah membawa Havana di sebuah tempat di mana Russell membawanya pertama kali di restoran mewah.


Di saat itu Havana menikmati Anggit yang berumur ratusan tahun yang sangat nikmat yang belum pernah ia rasakan karena harganya yang bisa menghabiskan satu tahun gajinya.


"Ini bukan tempat kesukaanku." Ucap Havana menolak masuk ke restoran mewah itu yang seumur hidupnya itu adalah bagian impian saja tapi Russel malah membawanya ke sini.


"Tunggulah sebentar Havana...! Kita nikmati makan siang di sini sambil menikmati wine kesukaanmu." Ucap Russell.


Ketika anggur itu dituangkan, Havana segera mencobanya dan benar saja, rasa anggur itu mampu membuatnya terasa sangat familiar dan dia tidak tahu kapan dia minum anggur itu.


"Ini adalah anggur kesukaanmu, sayang dan aku sering membawakan anggur itu untukmu saat kita masih bersama." Ucap Russel makin membuat Havana merasa Russel sangat tidak sopan padanya.

__ADS_1


"Hentikan kegilaan mu Russell..! Aku ini hanya kakak ipar bagimu dan aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan." Ucap Havana segera angkat kaki dari restoran mewah itu.


__ADS_2