JIWA ISTRIKU YANG TERTUKAR

JIWA ISTRIKU YANG TERTUKAR
24. Kembalinya Havana


__ADS_3

Saat keluarga sudah berkumpul menatap jasadnya yang sedang koma, akhirnya jiwa Havana masuk lagi ke tubuhnya.


Baik Russell, Claire dan Rommy yang pernah berkomunikasi dengan Havana, menunggu bangkitnya ibu dari Cavin ini. Lama mereka menunggu dengan cemas, membuat Baby Cavin yang mengenal ibunya turun dari pangkuan Omanya menghampiri dan ibu.


"Mami....! I love you mami..!" Ucap cavin sambil mengecup bibir ibunya yang saat ini terbaring seperti putri tidur.


Kecupan Cavin lah yang menggerakkan semua syaraf Havana agar cepat memberi respon pada keluarganya bahwa dia akan segera siuman dari komanya.


Tidak lama Havana merespon dengan menggerakkan jemarinya membuat keluarganya lebih mendekatinya. Havana sedikit bergumam sambil meringis merasakan kepalanya sedikit pusing.


"Ssssttt....ahhhhkk!" Satu tangannya memegang kepalanya membuat sang suami segera mendekati istrinya yang begitu sangat ia rindukan.


"Baby....!" Rommy mengusap jemari lentik itu sambil membawanya ke pipinya.


Mata Havana mulai melihat jelas wajah-wajah yang sedang menatapnya penuh haru. Tapi ia hanya fokus menatap wajah suaminya yang sedang tersenyum kepadanya dengan mata berkaca-kaca.


"Selamat datang lagi ke dunia ini sayang. Kami semua datang untuk menjemputmu." Ucap Rommy sambil memperlihatkan keluarga lainnya.


Havana menatap wajah ibunya yang masih ia kenal lalu beralih ke ayahnya namun ia sedikit tidak percaya kedua orangtuanya bisa berada di depannya.


"Apakah mereka kedua orangtuaku? Apakah aku masih bermimpi dan ini, bayi siapa Rommy?" Tanya Havana berusaha ingin bangkit dan langsung di bantu Martin tapi Russell langsung terlebih dahulu mendahului pria itu.


Claire menarik nafas berat melihat respon suaminya yang ingin membantu Havana duduk walaupun Rommy bisa melakukannya.


"Havana...! Ini mami sayang. Maafkan mami baru bisa menemukanmu setelah kamu sudah tumbuh dewasa malah sudah berkeluarga." Ucap nyonya Kelen lalu memeluk putrinya yang ikut perlahan mengangkat kedua tangannya memeluk tubuh sang ibu.


Begitu juga ayahnya tuan Brian yang tidak kuat menahan kerinduannya pada sang putri. Keluarga itu saling melepaskan kerinduan mereka. Tidak lama kemudian terdengar dua helikopter yang datang untuk menjemput keluarga tuan Brian. Tentu saja atas perintah Russell.


Tian Brian segera pamit kepada keluarga itu dan Russel memberikan sejumlah uang ganti rugi pada keluarga itu yang telah merawat Havana. Martin begitu kesal karena kakeknya tidak mengijinkan dua untuk memperkenalkan diri pada Havana.

__ADS_1


"Terimakasih banyak tuan Hendrikus atas pertolongannya anda sekeluarga sudah merawat putri saya." Ucap tuan Brian.


"Tidak apa. Kami senang membantu karena sudah kewajiban manusia untuk saling tolong menolong." Ucap kakek Hendrikus.


"Ini ada sedikit kenang-kenangan dari kaki untuk keluarga ini. Mohon diterima dengan baik." Ucap Russell sambil menyerahkan paper bag yang terdapat banyak Dollar di dalamnya.


Romy sudah menggendong Havana membawanya ke helikopter pertama berserta anaknya. Sementara helikopter ke dua di tempati nyonya Kellen dan suaminya dan yang terakhir untuk Russell dan istrinya Claire, menuju bandara di mana pesawat jet pribadi milik Russell sudah menunggu keluarga itu.


Setibanya di bandara, Havana masih saja digendong oleh sang suami membawanya ke dalam pesawat miliknya Russell. Wajah Russell nampak mengeras namun terlihat murung menatap sendu pada Havana yang tidak begitu merespon dirinya.


Claire membenamkan wajahnya ke dada sang suami seakan mengatakan, "dia sudah bersama keluarganya dan kau hanyalah bagian masa lalunya. Kau hanya hidup dalam kenangannya."


"Ini siapa mam...!" Tanya Havana saat merasa lebih baik.


"Kenalkan ini Russell, adik ipar mu dan ini adik tercantik mu, Claire." Ucap Nyonya Kellen.


Havana menyodorkan tangannya ke Russell yang menatapnya gugup.


Keduanya saling berjabat tangan dan di saat itulah, Russell merasakan genggaman kuat Havana pada tangannya, membuat Russel tersenyum.


Havana tidak mengerti arti senyum Russell namun hatinya merasakan getaran aneh tapi tidak tahu itu apa. Havana lupa akan semuanya jika jiwanya pernah berkelana di tubuh sang adik yang menatapnya datar.


"Cih....! Kau puas bermain-main dengan suamiku setelah sadar menjadi amnesia. Syukurlah, setidaknya kau bukan pengganggu dalam rumahtangga ku karena aku bisa membunuhmu." Batin Claire yang menyimpan api cemburu pada sang kakak yang benar-benar tidak mengingatkan apapun.


Setibanya di kota New York, Havana masuk ke dalam mobil suaminya yang terparkir dekat hanggar milik Russell. Sementara baby Cavin masih bersama sang nenek.


"Biarkan Cavin menginap di rumah mami, sayang. Kalian butuh waktu berdua untuk melepaskan kerinduan." Ucap nyonya Kellen penuh pengertian kepada putri pertamanya itu dan Rommy yang sudah lama merindukan istrinya kembali dalam hidupnya.


Dalam perjalanan pulang ke rumah mereka, Havana masih terlihat diam. Entah mengapa wajah Russell yang tersenyum padanya membekas dalam ingatannya.

__ADS_1


"Wajah itu seperti ada di dalam mimpiku. Aku merasa sangat mengenalnya? Tapi di mana?" Batin Havana menatap nanar ke depan jalan raya yang tampak lengang.


Sementara itu, Claire yang sudah memegang ponselnya yang juga sering dipegang oleh Havana, melihat apa saja yang Havana lakukan pada ponsel miliknya.


Rupanya Havana merekam percintaan panasnya antara dirinya dan Russel.Di video itu ada tulisan teruntuk adikku Claire.


Claire membuka video itu dan mulai menontonnya saat Russel sedang berada di kamar mandi. Nafas Claire seakan terhenti, melihat betapa Russell menikmati permainan yang diberikan oleh Havana padanya.


"Cih....! Kau layak disebut pelacur murahan Havana. Kita lihat nanti, aku akan menjebakmu dan menggoda suamimu, biar kau tahu bagaimana rasa sakit dikhianati." Batin Claire lalu menghapus video itu.


Russel yang baru keluar dari kamar mandi melihat wajah istrinya terlihat sinis menatapnya." Kamu belum ngantuk sayang?" Tanya Russel.


"Apakah kamu sekarang sudah berani mengkhianatiku Russell?" Tanya Claire penuh selidik.


Deggggg...


"Apa maksudmu, Claire? Sejak kapan aku mengkhianatimu?"


"Mungkin saja ada wanita yang bisa memuaskanmu di ranjang dari pada aku yang baru amatiran." Jelas Claire.


Glekkk....


Russel seakan ketangkap basah mendengar serangan dadakan dari istrinya." Apakah kamu melihatku bercinta dengan seorang gadis, Claire?"


"Aku tidak perlu melihat percintaan panas kalian. Karena kamu sendiri yang bisa menjawab setiap pertanyaan dariku."


"Apa yang kamu pikirkan tentang aku Claire? Jika aku mau mengkhianati mu, kenapa tidak dari dulu saja aku menikah dengan wanita lain saat kamu sedang koma di rumah sakit." Ucap Russell membela diri.


"Ya ..Aku memang mengakui kesetiaan mu menanti ku. Tapi, semenjak aku tampil bukan diriku sendiri, bukan kau sedang menikmati jiwa orang lain yang ada dalam diriku, Russell?" Tembak Claire tepat pada sasarannya membuat suaminya gelagapan sendiri.

__ADS_1


Duaaarrr....


__ADS_2