JIWA ISTRIKU YANG TERTUKAR

JIWA ISTRIKU YANG TERTUKAR
26. Membuktikan


__ADS_3

Russel menarik lengan Havana untuk masuk ke dalam mobilnya. Walaupun Havana berontak untuk mengikuti adik iparnya ini, Russell tetap memaksakan kehendaknya.


"Aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja Havana. Kamu sudah terlalu jauh masuk ke dalam hidupku. Maka aku tidak akan berhenti mencintaimu.


Bahkan aku ingin membuktikan sesuatu kepadamu bahwa kamu dan aku telah berjanji untuk saling mengingatkan jika suatu waktu diantara kita saling melupakan, maka hanya janji ini yang bisa aku buktikan kepadamu." Ucap Russell memperlihatkan video rekaman Havana yang mengaku mencintai Russell.


Havana melihat rekaman itu dan iapun tercengang mendengar pengakuannya yang terdengar sangat fulgar untuk sebuah janji yang diucapkannya kepada Russell.


"Jika kamu tidak masuk ke dalam tubuh Claire, aku mungkin tidak akan segila ini padamu. Karena kamu sendiri yang mengatakan keberadaan jasad mu, itulah sebabnya aku mengajak suami dan keluargamu untuk menjemputmu.


Sekarang bagaimana bisa aku harus melupakanmu setelah aku terlalu dalam mencintaimu Havana. Saat kau meninggalkan tubuh Claire, aku mulai frustasi dan kesepian hingga kamu masuk lagi ke dalam tubuhnya dan aku mulai merasakan hidupku kembali sempurna. Tolong Havana apakah tidak ada sedikitpun yang kau ingat tentang aku?"


Russel menatap mata Havana yang memandangnya aneh. Havana sedikitpun tidak tersentuh apapun yang dikatakan Russell padanya.


"Aku mencintai suamiku dan putraku. Cintaku hanya untuk mereka. Aku tidak bisa memaksakan diriku saat ini untuk mengingatmu. Jika apa yang pernah kukatakan kepadamu sebuah kebenaran, aku mohon lupakan saja, Russell!


Mungkin saat itu jiwaku sedang tersesat dan aku tidak bisa menggunakan logikaku untuk membedakan mana yang baik dan salah. Aku tidak berani mengkhianati keluargaku." Ucap Havana penuh permohonan.


Russel menatapnya dengan nanar. Rasa kecewanya dengan kerinduan yang membuncah pada Havana tidak mampu tertampung lagi di hati dan benaknya.


Jika ia terlalu memaksakan kehendaknya pada Havana, yang ada hukum akan bergerak menuntutnya karena telah melecehkan Havana. Russel terpaksa mengalah dan memberikan ruang untuk Havana berpikir.


"Baiklah. Aku akan mengantarkan mu pulang." Tawar Russell.


"Tidak. Aku tidak butuh apapun darimu. Aku ingin kembali lagi ke kantor kementerian luar negeri di mana mobil yang aku tinggalkan di sana. Sebaiknya kamu harus mencintai Claire karena adikku sangat tulus mencintaimu.

__ADS_1


Jangan mengadu domba antara kami sebagai saudara kandung. Pernikahan ku lebih penting daripada memikirkan dirimu yang pernah membuat aku tergila-gila padamu karena jiwaku yang bodoh." Ucap Havana panjang lebar untuk menasehati adik iparnya yang terlihat egois.


"Ok. Kita akan kembali ke sana untuk mengambil mobilmu. Berhentilah menceramahi ku." Imbuh Russell yang mulai kesal.


Benda mewah itu kembali bergerak menuju kantor kementrian luar negeri. Sepanjang perjalanan keduanya terlihat diam. Havana yang tidak begitu mempedulikan perasaan Russel sibuk dengan urusannya mengutak-atik ponselnya. Sementara Russell hanya menahan kesal sepanjang jalan.


Setibanya di tempat tersebut, Havana turun dari mobil Russel tanpa sepatah katapun. Russel hanya memperhatikan Havana membawa mobilnya dan pulang ke rumahnya.


"Apa jadinya kalau Claire mengetahui perbuatan suaminya kepadaku. Bisa-bisa aku dituduh selingkuh oleh dirinya. Apakah benar aku pernah menyusup dalam jiwa Claire selama aku dalam keadaan koma? Itu sangat menjijikkan hingga aku bisa selingkuh dengan Russel." Batin Havana gusar.


Tidak lama kemudian, mobilnya sudah masuk ke halaman rumahnya. Ia turun dengan wajah lelah dan kesal menghadapi adik iparnya yang sangat terobsesi kepada dirinya.


Tapi, saat ia membuka pintu rumahnya ia sudah mendapati Claire yang tanpa bertanya terlebih dahulu langsung menamparnya dengan keras membuat ibu satu anak ini jatuh tersungkur karena posisinya tidak siap menerima tamparan keras dari Claire.


"Heiii...! Apa yang kamu lakukan Claire? Apa salahku?" Tanya Havana tidak mengerti.


"Kamu boleh marah padaku kalau itu ada sangkut pautnya dengan apa yang di katakan Russell barusan padaku. Tapi, aku sama sekali tidak mengerti semua ini!" Bentak Havana tidak terima dengan sikap arogan adiknya.


Glekkk...


Mata Claire melebar saat mengetahui suaminya nekat menemui Havana. Api cemburunya makin membakar hatinya saat ini.


"Kalian benar-benar sampah!" Maki Claire membuat Havana balik menamparnya.


"Apa katamu? Sampah? Berani sekali kau menghina aku di dalam rumahku sendiri. Andapun yang dikatakan Russell itu benar adanya kalau aku memanfaatkan tubuhmu untuk menggodanya, apakah kamu sudah berpikir mengapa dia lebih tertarik kepadaku daripada dirimu. Itu berarti ada yang salah dari dirimu dan ada yang kurang ia dapatkan dari dirimu.

__ADS_1


Kenapa tidak kau tanyakan kepada suamimu itu bagaimana caranya kamu menyenangkan dirinya di atas ranjang daripada kamu mendatangiku dan menyalahkan diriku yang tidak tahu apa-apa." Jelas Havana membuat Claire menatap tajam wajah sang kakak tanpa gentar sedikitpun.


"Untuk saja kamu sedang hamil Claire, kalau tidak, aku juga bisa berbuat kasar kepadamu. Sekarang keluar dari rumahku, cepattt!" Teriak Havana histeris.


"Baik. Jika sekali lagi aku melihat kalian berdua bersama, aku akan membunuhmu dan diriku sendiri!" Ancam Claire beranjak keluar dari rumah Havana.


Havana membanting pintu rumahnya sekeras mungkin. Ia mulai menjadi gila dengan keadaan ini. Sumpah demi apapun, rasanya ia tidak mau terhubung lagi dengan Claire dan Russell.


Sementara itu di tempat yang berbeda, Emily yang sejak tadi membututi Claire sedang memanfaatkan pertengkaran adik kakak ini agar saling bertengkar. Dengan cara itu ia ingin membunuh Claire agar bisa mendapatkan Russell.


"Baiklah Claire, Havana. Setelah sekian lama kalian dipisahkan oleh ibuku, dan bertemu lagi. Aku akan membuat kalian saling bermusuhan. Dengan begitu aku akan membuat Claire terbunuh dan Havana adalah pembunuhnya." Ucap Emily sambil menyeringai seperti iblis.


Setibanya di mansionnya, Claire yang sedang menunggu kepulangan suaminya sedang melihat Russel yang baru pulang kerja menghampiri Russell dengan melontarkan pertanyaan secara beruntun.


"Apa yang sedang kalian lakukan di luar sana tanpa sepengetahuan ku? Apakah kalian sedang bercinta di mobil untuk menyalurkan hasrat kerinduan kalian, hah?"


"Claire...! Siapa yang sedang kamu bicarakan?" Tanya Russel pura-pura tidak tahu.


"Tentu saja kau dan Havana. Bukankah kamu masih penasaran dengan Havana?"


"Berhentilah cemburu pada kakak mu itu. Dua sama sekali tidak mengingatku dan kau jangan sekali-kali menyakitinya!"


"Jika aku ingin membunuhnya, kau mau apa?"


"Menceraikanmu!" Ucap Russell membuat Claire tercengang.

__ADS_1


Ia tidak menyangka Russel tega mengucapkan kata itu padanya." Baiklah, ceraikan aku! Aku juga tidak sudi hidup bersamamu dibawah bayang-bayang perempuan itu di dalam pernikahan ku." Ucap Claire lalu pergi lagi dari rumahnya membawa mobil sendiri.


__ADS_2