
Usai melahirkan putranya setelah tiga bulan, akhirnya Claire bersedia mengajukan cerai pada suaminya Russell. Beribu-ribu kali Russell memohon maaf kepada Claire, namun hati Claire sudah mati untuk suaminya.
Ia ingin hidup sendiri bersama putranya karena tidak ingin menghadapi kemunafikan suaminya lagi. Russel tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyetujui perceraian yang di ajukan istrinya.
Di rumah orangtuanya Claire, gadis ini menandatangani surat perceraian diikuti oleh Russel yang terlihat sangat kacau saat ini. Hanya demi kesenangan sesaat bersama sang kakak iparnya, ia rela menyingkirkan isterinya Claire dari pikirannya.
"Claire, apakah kamu yakin bisa membesarkan putra kita sendirian tanpa aku di sisi kalian?" Tanya Russel untuk membuat perasaan Claire labil.
"Aku bukan satu-satunya wanita single parent di dunia ini yang akan membesarkan anaknya sendiri," sahut Claire ketus.
Ia sudah mantap ingin bercerai dari Russell yang terlihat termenung entah apa yang dipikirkan lelaki tampan ini. Semua usahanya untuk merayu lagi wanita yang pernah ia cintai bertahun-tahun harus digantikan sosok wanita lain yang tidak lain adalah kakak kandung Claire sendiri.
Gagal meyakinkan Claire untuk kembali kepadanya, Russell akhirnya pergi dari kediaman mertuanya dengan perasaan kecewa dan menyesal. Begitu suara deru mobil milik Russell pergi, Claire baru menangis sejadi-jadinya.
Kalau bilang masih cinta, jujur saja ia sangat mencintai Russell dengan segenap jiwanya. Tapi untuk apa memiliki cinta itu, hingga pada akhirnya ia sendiri terluka.
Nyonya Kellen yang baru turun dari lantai atas sambil membawa cucunya Marco nampak sedih mendengar kisah cinta putrinya harus kandas, entah apa masalahnya, Claire sendiri tidak ingin terbuka padanya.
Sambil memberikan cucunya pada Claire, nyonya Kellen ingin tampil bijak layaknya seperti orangtua yang sudah banyak pengalaman berumahtangga selama tiga puluh tahun.
"Hal yang tersulit dalam hidup ini saat kita merelakan orang yang kita cintai tapi kita masih mencintainya. Kalau pas akhirnya membuat kamu sakit, lebih baik batalkan perceraian itu untuk menyelamatkan hatimu sendiri Claire, bukan alasan karena anak." Ucap nyonya Kellen bijak.
"Mami...! Aku sudah berusaha bertahan sampai detik ini untuk memikirkan lagi baik buruknya untuk Keluargaku, tetap saja hatiku menolaknya." Sahut Claire sambil menyusui putranya.
"Itu terserah padamu nak, biasanya keputusan yang salah itu datangnya dari logika bukan hatimu. Karena hati selalu bicara kebenaran dan rasa." Imbuh nyonya Kellen.
"Sudahlah mami. Tidak usah di bahas lagi karena semuanya sudah berakhir." Timpal Claire yang terlihat lelah menghadapi biduk rumah tangganya karena hadirnya orang ketiga.
Sementara itu, Russell menyetir mobilnya dalam keadaan ngebut sambil memukul-mukul setir mobilnya. Ia tidak tahu siapa yang harus ia salahkan dalam hal ini. Yang jelas ia baru menyadari kalau dirinya saat ini sangat merindukan istrinya Claire.
__ADS_1
Tiba di perusahaan, Russell terlihat gelisah. Apapun yang dikerjakannya tidak bisa ia selesaikan dengan tenang karena dunianya seakan kiamat kini.
Sekertaris Marry, terlihat gugup saat ingin masuk ke ruang kerja bosnya tapi ia juga butuh tandatangan Russell dan juga membacakan beberapa jadwal pertemuan yang akan dilakukan oleh ayah dari satu putra ini.
"Tuan...!" Panggil Marry dengan suara lembut namun di sahut oleh Russel dengan deheman dan terdengar sangat datar dan tidak berminat.
"Hmmm!"
"Satu jam lagi anda ada janji dengan tuan Luther di hotel biasa, tuan !"
"Apakah hanya itu?" Tanya Russel lalu menatap wajah sekertarisnya itu.
"Masih ada. Hanya saja...!" Sekertaris Marry menghentikan perkataannya hingga memancing emosi Russell yang terlihat sangat suntuk saat ini.
"Apakah saat ini mulut kamu sedang sariawan, hah?" Bentak Russel membuat sekertaris Marry terperanjat kaget.
"Ada tamu untuk Tuan?"
"Kakak ipar Tuan, yaitu nona Havana." Ucap sekertaris Marry hati-hati.
Hati Russell langsung gugup dengan jantung yang berdetak kencang mendengar nama itu." Mau apa dia ke sini?" Sinis Russell mencoba membuang kenangan dirinya bersama Havana.
"Tidak tahu Tuan!"
"Suruh dia masuk dan siapkan minuman untuk kami."
Deggggg.....
Havana masuk ke ruang kerjanya Russel dengan tampilan yang terlihat sangat memukau. Mungkin ia sudah bekerja lagi di departemen pemerintah yang menuntutnya tetap tampil cantik dan elegan.
__ADS_1
Sebenarnya ia datang ingin meminta Russell untuk tidak menyetujui perceraian itu. Walau bagaimanapun, perasaan Claire pasca melahirkan mengalami sindrom membuat ia mudah marah dan juga gegabah.
"Silahkan duduk Havana!" Titah Russell tidak seramah saat mereka pertama kali bertemu. Sikap datar Russell di maklumi oleh Havana karena ia juga bertanggungjawab dengan keadaan rumah tangganya Russell dan Claire.
"Terimakasih Russell! Maaf kedatanganku mengganggumu. Aku sebenarnya prihatin dengan nasib rumah tangga mu yang sulit untuk di selamatkan, tapi ku mohon kamu juga jangan nekat memenuhi permintaan Claire karena sesungguhnya ia sangat mencintaimu." Ucap Havana.
"Ini bukan urusanmu dan aku tidak butuh nasehatmu. Silahkan keluar dari sini karena aku banyak pekerjaaan." Ucap Russell mengusir Havana tanpa perasaan.
"Baiklah. Aku hanya ingin menengahi permasalahan kalian, jika aku terlalu ikut campur urusan kalian, aku minta maaf." Ucap Havana lalu mengambil tas tangannya keluar dari ruang kerja Russell.
Sementara itu, polisi datang ke tempat kerjanya Emily untuk menangkap gadis ini karena menjadi otak pembunuhan berencana yang dilakukan gadis ini beberapa bulan yang lalu hingga hampir menewaskan Claire dan bayinya saat itu.
Selamat siang nona Emily!"
"Siang...!" Sahut Emily dengan wajah pucat.
"Kami membawa surat perintah penangkapan untuk anda atas keterlibatan anda dalam rencana pembunuhan terhadap nona Claire beberapa bulan yang lalu." Ucap polisi itu sambil mengeluarkan borgol dari ikat pinggangnya.
"Apa yang kalian lakukan padaku? Mama mungkin aku mencoba membunuh adikku sendiri?" Bantah Emily yang begitu malu pada rekan kerjanya yang menatapnya dengan tatapan yang menjijikkan.
"Anda bisa menjelaskannya di kantor polisi dan anda berhak didampingi pengacara." Ucap petugas polisi itu sambil menggiring Emily keluar dari perusahaan tempatnya bekerja.
Aktifitas perusahaan itu sempat terhenti karena mereka sedang menyaksikan penangkapan Emily.
"Itulah perbedaan saudara kandung dan saudara angkat, di mana saudara angkat merasa menjadi anak kandung." Ucap adiknya mendiang Adel yang merupakan sahabatnya Claire.
Renata memang sudah curiga kalau mobil milik Claire sengaja disabotase oleh Emily hingga mobil itu mengalami kecelakaan empat tahun yang lalu yang menewaskan kakak kandungnya Adel.
"Aku akan membongkar kedok mu, Emily. Tidak semua rahasia kejahatannya yang kamu simpan rapi akan terjamin kerahasiaannya. Ada saatnya tupai harus jatuh dan di makan buaya karena ia tidak secerdik yang kita tahu." Sinis Renata melihat Emily sudah di bawah pergi oleh kepolisian setempat.
__ADS_1
"Hei....! Kembali bekerja!" Bentak sekuriti membubarkan kerumunan para karyawan perusahaan tersebut.