
Saking kesalnya Claire pada Russell yang lebih memilih membela Havana daripada istrinya membuat Claire merasa tidak berarti lagi untuk suaminya.
Claire menyetir mobilnya sendiri dan musuh orang suruhan Emily membuntuti mobil gadis ini dan mencari tempat yang sepi untuk menghabisi Claire.
Namun sayang, niat jahatnya Emily sudah terbaca oleh anak buahnya Russell dan mereka sengaja membiarkan penjahat itu memburu istri majikan mereka supaya mereka bisa mendapatkan bukti dari aksi kejahatannya Emily.
Walaupun saat ini hati Russel terbagi dua antara Havana dan istrinya, namun ia tetap meminta anak buahnya untuk mengawasi Claire, ke manapun gadis itu pergi. Anak buahnya Russell melaporkan kepada bos itu tentang aksi orang suruhannya Emily.
"Hentikan mobil itu secepatnya sebelum mereka menyakiti istriku. Saat ini istriku sedang hamil muda. Cepat lakukan atau kepala kalian akan aku tebas!" Ancam Russell yang tidak ingin istrinya celaka.
"Baik bos. Kami akan menghalangi kejahatan orang itu." Ucap salah satu anak buahnya Russell.
Entah saat ini saat ini Russell sedang memikirkan keselamatan bayinya atau memang kuatir dengan nasib istrinya yang sedang cemburu berat padanya, namun Russell juga tidak mengerti dengan perasaannya sendiri sejak kehilangan Havana.
"Apa artinya dengan hidupku jika ia lebih mencintai Havana daripada aku istrinya." Gumam Claire yang langsung menambah kecepatan mobilnya di atas 130 km/ jam membuat anak buahnya Russell seketika panik.
"Bagaimana keadaan nona Claire jika ia ngebut seperti itu." Ujar Rambo ketakutan.
Lelaki bertubuh besar ini mencoba untuk mendahului mobil musuh karena tidak ada lagi jalan lain kecuali menghalangi mobil musuh untuk tidak memperparah keadaan Claire yang saat ini sedang frustrasi.
Russel yang mengetahui aksi nekat istrinya mulai menyesal dengan perkataannya yang telah membuat amarah Claire, memuncak. Andai saja dia lebih sabar mungkin dia tidak akan menghadapi situasi seperti ini.
"Claire....! Ayolah sayang! Aku minta maaf kalau aku telah menyakiti hatimu. Hentikan aksi gilamu...! Kamu boleh membunuhku tapi jangan anak kita." Ucap Russell bermonolog sendirian di rumah.
Sementara itu Rambo dan kawannya bisa menghentikan mobil penjahat sehingga Claire sudah aman dari kejaran musuh. Dua mobil temannya berhasil mengejar mobil musuh dan sekarang giliran Rambo mengikuti mobil Claire yang sudah hilang dari pandangan mereka.
"Astaga....! Di mana mobil istrinya sang bos?" Tanya Rambo pada temannya yang saat ini sedang mengacak GPS Claire.
__ADS_1
Sekitar lima kilo meter lagi kita bisa mencapai mobilnya nona Claire. Ternyata gadis itu sudah tidak peduli pada nyawanya." Gumam Lori.
Baru saja mereka mau mendekati mobil Claire rupanya gadis mengulangi lagi kesalahan yang sama yang pernah membuat dirinya celaka. Dalam sekejap mobilnya tertabrak oleh mobil lain saat berada lintasan lampu merah.
Claire sengaja menerobos lampu merah dan kendaraan lain spontan menabrak mobil sedan merahnya itu dengan benturan keras membuat mobil Claire terseret beberapa meter.
Dalam sekejap istri dari Russel ini tidak sadarkan diri dengan mengalami luka berat. Claire segera dibawah ke rumah sakit saat ambulance tiga tepat waktu menolong gadis malang ini.
Telepon Russell kembali berdering. Pria tampan ini langsung syok mendengar kabar buruk dari anak buahnya Rambo tentang isterinya.
"Maafkan kami bos...! Kami telah berusaha sekuat mungkin untuk menghentikan mobil nona Claire tapi istri bos itu nekat menerobos lampu merah." Ucap Rambo penuh penyesalan.
"Astaga Claire...! Kenapa kamu tega membunuh anak kita?" Ucap Russell terlihat frustasi.
Ia segera berangkat ke rumah sakit di mana saat ini Claire sedang ditangani oleh pihak dokter. Walaupun tubuhnya mengalami luka berat namun kandungan Claire yang berusia enam bulan itu selamat.
Russel dan kedua mertuanya terlihat menunggu di depan ruang IGD dengan perasaan gelisah. Dokter keluar menemui keluarga itu dan menyampaikan tentang keadaan Claire.
Russel terlihat makin bersalah pada Claire. Ia menyesali perbuatannya yang membuat Claire ingin mengakhiri hidupnya.
"Apakah aku bisa menemuinya dokter?" Tanya Russel tidak sabaran.
"Silahkan Tuan!"
Kedua orangtuanya Claire memberi kesempatan kepada menantu mereka untuk bicara berdua dengan putri mereka Claire. Mereka bersyukur tidak kehilangan Claire.
Di dalam sana Claire terlihat sedang menangis sendirian. Saat melihat wajah tampan Russell, ia langsung memalingkan wajahnya dengan hati perih.
__ADS_1
"Siapkan surat perceraian untuk kita. Aku akan menandatangani surat perceraian itu." Ucap Claire.
"Claire...! Aku mengakui kesalahanku yang telah menyebabkan kamu menderita dan hampir kehilangan nyawamu. Tapi ijinkan aku untuk menebus kesalahanku dan berikan aku kesempatan untuk memperbaiki diriku dan memulai lagi dari awal." Ucap Russell terlihat sendu.
"Aku. tidak mencintaimu lagi. Aku bisa membesarkan anakku sendiri tanpa dirimu. Aku tidak akan pernah memaafkan mu dan tidak ada lagi kesempatan itu. Sekarang tinggalkan aku sendiri.
Aku butuh kedua orangtuaku di sini bukan dirimu. Cinta yang kau berikan kepadaku hanya sebuah kepalsuan. Keluar.....!" Usir Claire penuh amarah.
"Claire....! Aku sudah mengakui kesalahanku. Apakah tidak ada kesempatan kedua untukku?" Pinta Russell sambil memelas maaf pada Claire yang terlihat sangat terluka saat ini.
Mungkin luka pada tubuhnya tidak seberapa yang ia rasakan saat ini dibandingkan luka hatinya yang tidak bisa ia obati dengan penyesalan Russell yang terus menerus mengucapkan beribu maaf padanya.
"Aku sudah sering memberimu kesempatan untuk memperbaiki diri. Tapi kamu telah terbuai dengan cinta pada jiwa Havana. Ia tidak lagi mengingat dirimu. Tapi kamu terus memaksa dirinya untuk mengingat dirimu. Aku bahkan merendahkan diriku sendiri pada dirinya yang sudah lupa apa yang terjadi pada kalian berdua. Bahkan ia terlihat sangat mencintai keluarganya.
Tapi kamu, kamu masih saja mengejar cintanya yang sudah berlalu pergi menjauh bersama tubuhnya yang sudah kembali menjadi dirinya sendiri. Cintamu hanya sebuah angan pada jiwa saudara ku seperti mimpinya yang sudah ia lupakan. Tinggalkan aku dan kita cerai." Ketus Claire.
Russel tidak bisa lagi memaksakan kehendaknya pada Claire yang saat ini benar-benar terluka. iapun meninggalkan ruang IGD itu sambil mengecup perut besar istrinya dengan tangisan tertahan.
Claire juga ikut menangis saat berhasil menyampaikan perasaan kecewanya pada suaminya." Aku tidak bisa hidup berdua lagi denganmu Russell karena kamu hanya mencintai kakakku Havana bukan aku." Lirih Claire.
Kedua orangtuanya Claire segera menemui putrinya saat Russel pergi dengan wajah muram.
"Claire sayang ..! Bagaimana keadaanmu nak? Mengapa kamu harus membawa mobil sendiri saat dalam keadaan hamil besar seperti ini sayang?" Tanya tuan Brian.
"Karena aku sedang marah pada Russell yang sudah mengkhianati cintaku, mami." Ujar Claire apa adanya.
"Emangnya apa yang terjadi Claire?"
__ADS_1
"Dia mencintai wanita lain mami, ayah. Dan aku akan segera bercerai dengannya." Ucap Claire membuat kedua orangtuanya sangat syok.
Duaaarrr....