
Penangkapan Emily dan ibu kandungnya yang merupakan wanita yang pernah menculik Havana, membuat tuan Brian dan istrinya begitu berang. Mereka tidak menyangka telah memelihara seekor ular di dalam rumah mereka yang akan menghabisi putri kedua mereka Claire.
Tamparan keras dilayangkan oleh nyonya Kellen pada putri angkatnya Emily." Dasar gadis sampah..!"
Caci maki sumpah serapahnya pada Emily tidak berhenti. Sementara Havana yang menjadi saksi ikut datang ke kantor polisi itu dan melihat tampang wanita yang pernah menculiknya dan segera memberitahukan ibunya tentang wajah penculiknya.
"Mami...! Wanita itu yang telah menculik Havana saat itu." Unjuk Havana pada seorang wanita yang terpaut usia lima tahun dengan nyonya Kellen.
Nyonya Kellen melihat wajah wanita yang merupakan ibu kandungnya Emily yang bekerjasama dengan sindikat mafia perdagangan anak dibawah umur.
"Dia...?" Geram nyonya Kellen yang ingin membunuh wanita itu namun di tahan oleh tuan Brian yang langsung menyerahkan urusan mereka pada pihak berwajib.
"Tolong urus kedua wanita itu yang telah membuat putriku harus hidup terpisah dengan kami selama belasan tahun." Ucap tuan Brian.
Emily yang biasa manja pada tuan Brian berusaha meminta maaf kepada tuan Brian agar tuan Brian mau membebaskannya.
"Ayah....! Semua ini bukan salah Emily. Semua ini atas perintah ibuku dan aku hanya melakukan apapun permintaannya kalau tidak dia akan mengambil aku dari kalian dan aku tidak mau hidup di jalanan lagi." Ucap Emily gugup.
"Siapa ayahmu..?" Tanya tuan Brian sinis.
"Ayah .. maafkan aku. Ibuku telah menjebakku. Tolong jangan kirim aku di penjara ayah...!" Pinta Emily histeris.
"Apakah kamu sudah memikirkan akibatnya saat kamu ingin melakukan kejahatan dibawah perintah ibumu, hah? Apakah selama ini kasih sayang yang kami berikan kepadamu itu berkurang? Apakah kami membeda-bedakan antara kamu dan Claire dalam memberikan perhatian?" Tanya tuan Brian dengan suara parau.
Emily merasa terguncang mendengar pertanyaan ayah angkatnya itu. Rasanya ia ingin marah dengan dirinya sendiri karena ambisinya.
"Apakah ini balasan terimakasih mu kepadaku yang telah membesarkan mu dengan segenap hati kami?" Tanya tuan Brian makin membuat dada Emily terasa sesak.
Tuan Brian mengajak istrinya dan putrinya Havana meninggalkan kantor polisi dan kembali ke rumah mereka. Dalam perjalanan, ketiganya tampak dia dan tenggelam dalam lamunan mereka masing-masing.
Cobaan datang bertubi-tubi pada keluarganya membuat kedua orangtuanya Havana dan Claire ini merasa sangat tertekan.
Mulai dari kehilangan Havana karena penculikan, kecelakaan yang menimpa Claire hingga koma, kehilangan lagi Havana setelah di ketahui keberadaannya dan sekarang setelah menemukan Havana justru pernikahan Claire yang gagal makin membuat orangtua itu merasa terus menerus dirundung kesedihan.
Setibanya di rumah tuan Brian, terdengar suara lengkingan tangisnya cucu mereka. Aroma harum terasa lembut dari perlengkapan bayinya Claire yang berupa bedak bayi, minyak oles dan masih banyak lagi alat perawatan bayi itu yang menambah semarak ketenangan dalam rumah itu.
Claire yang melirik kedatangan Havana yang sudah duduk di sebelahnya tampak enggan memberikan komentar apapun. Ia lebih fokus menyusui bayinya yang baru saja ia mandikan.
__ADS_1
"Claire....! Kita harus bicara. Aku mohon jangan menolakku karena itu akan membuat jarak diantara kita yang sudah lama renggang karena keserakahan seseorang dan kembali terpisah karena keegoisan.
Mumpung orangtua kita tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya diantara kita, marilah kita selesaikan ini secara dewasa." Ucap Havana tulus.
"Apa yang kamu inginkan dariku?" Tanya Claire terdengar ketus.
"Maafmu dan juga kamu harus rujuk lagi dengan suamimu. Aku akui setelah mendengar penjelasan kamu dan Russell bagaimana diriku tampil sangat menjijikkan dengan menggoda suamimu dengan memanfaatkan tubuhmu, aku sudah membuat hubungan kalian hancur.
Yang salah jiwaku Claire bukan aku. Sampai saat ini, aku belum bisa mengingat apapun Claire tentang jiwaku yang menyusup pada tubuhmu itu dan aku berharap agar tidak diingatkan karena bisa jadi aku akan membenci diriku sendiri." Ucap Havana.
"Aku sudah memaafkanmu jika memang pengakuanmu itu benar adanya. Tapi untuk memaafkan ayah dari putraku, rasanya itu sangat sulit karena dia telah mengkhianati diriku." Tolak Claire.
"Claire....! Jangan naif sayang. ..! Setiap rumah tangga akan mengalami pasang surut dalam hubungan mereka. Ada yang di uji dengan berbagai cara. Entah melalui mertua, harta, saudara dan pasangan itu sendiri. Tapi, untuk mengembalikan cinta yang pernah retak itu, perlu adanya kesempatan kedua untuk memberikan pasangan kita memperbaiki diri selama dia masih memiliki cinta untuk pasangannya." Ucap Havana serius.
Claire nampak menangis. Rasanya hatinya tidak bisa lagi terbuka untuk Russell namun ia tidak melupakan kekasihnya itu.
"Itu terserah padamu Claire. Aku hanya ingin terbaik untuk kamu dan juga keponakanmu yang tampan ini." Ucap Havana lalu keluar dari kamar Claire.
Havana ingin memberikan waktu kepada gadis ini untuk berpikir yang lebih matang dari pada akan menyesal pada akhirnya nanti.
Havana pamit kembali ke kantornya pada keduanya orangtuanya. Nyonya Kellen memeluk putrinya itu penuh kasih sayang." Maafkan mami sayang. Karena mami hidupmu menderita." Ucap Nyonya Kellen.
Havana masuk ke mobil dinasnya karena sudah di jemput oleh sopir ibu menteri luar negeri.
...----------------...
Putranya Claire akan merayakan ulang tahun pertamanya di kediaman Oma opanya. Saat ini mereka sedang menunggu kedatangan Russell yang sedari tadi belum muncul juga.
Claire yang sudah tidak sabar, akhirnya memutuskan untuk merayakan ulang tahun putranya sendiri dengan keluarganya. Ia juga tidak ingin melihat anaknya kelelahan karena terlalu lama menunggu.
Acara itu akhirnya berakhir terasa hambar karena wajah Claire yang sedang menahan amarahnya 0ada suaminya yang lagi-lagi telah membohonginya.
Tidak lama kemudian ponselnya berdering dan tidak ada nama di panggilan itu. Claire tetap menerimanya.
"Hallo...! Apakah saya bicara dengan nyonya Claire?"
"Benar...! Saya sendiri Tuan! Ini dari mana?"
__ADS_1
"Kaki dari kepolisian, nona! Kami ingin menyatakan kalau saat ini tuan Russel sedang mengalami kecelakaan. Saat ini korban sudah di bawah ke rumah sakit dengan mobil ambulans. Silahkan nona ke rumah sakit!" Ucap bapak polisi Yansen dengan menyebut alamat rumah sakitnya.
Polisi mengakhiri percakapannya namun tidak dengan Claire yang hampir saja ambruk kalau tidak dipegang oleh ayahnya tuan Brian.
"Ada apa sayang?" Tanya tuan Brian menggiring putrinya untuk duduk di sofa. Sementara Havana menyerahkan segelas air putih untuk adiknya yang terlihat pucat.
"Ayah...! Tolong antarkan Claire ke rumah sakit, yah...hiks...hiks! Russel mengalami kecelakaan lalulintas." Ucap Claire sambil menangis.
Keluarga itu langsung kompak menuju ke rumah sakit bersamaan. Mereka juga ingin melihat keadaan Russell. Setibanya di rumah sakit, Russell sudah dipindahkan ke kamarnya setelah mendapatkan perawatan medis dengan memasang pen pada tulang betisnya ada yang patah.
Russel tergeletak lemah sambil menahan sakit. Claire menghamburkan tubuhnya dalam pelukan sang suami.
Melihat gelagat putri mereka, tuan Brian mengajak keluarganya untuk meninggalkan kamar itu.
Russel terlihat sangat bahagia karena mantan istrinya itu akhirnya mau rujuk lagi dengan dirinya.
"Apakah kamu masih mencintaiku, baby?" Tanya Russel dengan cemas.
"Aku sangat mencintaimu Russell. Jangan tinggalkan kami...hiks....hiks..!" Tangis Claire terdengar nyaring karena tidak bisa lagi membendung harunya.
"Tidak tidak sayang. Maafkan aku karena...-"
"Jangan di teruskan Russell karena aku. tidak ingin mendengarnya sayang. Aku ingin mengawali lagi hari baru bersamamu." Sela Claire.
Keduanya saling berciuman dengan mesranya dan Havana sedikit mengintip sambil tersenyum melihat adiknya mau menerima lagi Russell.
Enam bulan kemudian, Havana dan Claire sama-sama di nyatakan hamil oleh dokter. Kedua adik kakak ini sangat bahagia begitu pula dengan suami-suami mereka.
Cavin dan putra pertamanya Russell yang belum mengerti dengan kaya hamil hanya ikut tersenyum. Keduanya menepuk jidat mereka melihat tingkah lucu orangtua mereka.
Keluarga itu akhirnya menerima kebahagiaan mereka yang kembali sempurna. Namun tidak dengan Havana yang merasakan keanehan pada memorinya. Ia mulai mengingat dirinya pernah bercinta dengan Russel.
"Astaga... akhirnya aku mengingatnya." Batin Havana sambil melirik Russell yang terlihat mesra dengan istrinya, Claire.
Keluarga itu kembali ke kediaman mereka masing-masing. Havana mengajak suaminya untuk bercinta karena terpengaruh dengan pikiran liarnya. Begitu juga Claire yang sekarang sudah jago melayani suaminya do tempat tidur.
Russel makin mencintai istrinya dan menetapkan hatinya hanya untuk satu wanita dalam hidupnya yaitu Claire.
__ADS_1
TAMAT