JIWA ISTRIKU YANG TERTUKAR

JIWA ISTRIKU YANG TERTUKAR
22. Pengakuan


__ADS_3

Wajah pucat Havana terlihat jelas saat melihat kedatangan Russell yang hampir membuat jantungnya saat ini ingin lompat keluar.


"Siapa yang mengijinkan kamu ke rumah kakak ipar mu itu?"


"A...iya. Aku di minta mami untuk menjemput Cavin karena Romy mau keluar kota dan dia terlihat terburu-buru, jadi tidak punya waktu untuk mengantar Cavin ke rumahnya mami." Ucap Havana memberi alasan.


"Maafkan saya Russell...! Saya pikir mami akan ke sini mau menjemput Cavin, tidak tahunya yang datang adalah Claire." Ucap Romy menguatkan alasan Havana.


"Baiklah. Bawalah Cavin bersamamu dan kita akan antar ke rumah mami."


"Baik..! Terimakasih Russell." Ucap Havana lalu pamit ke Rommy.


"Mami..! Kita mau ke mana? Tanya Cavin saat mereka sudah di dalam mobil."


"Kita mau ketemu Oma sayang."


"Tapi, Cavin mau sama mami, tidak mau sama Oma." Ucap Cavin.


Havana melirik Russell yang tidak begitu suka Cavin memanggil istrinya dengan sebutan mami.


"Apakah kamu meminta anak ini memanggil kamu mami?" Ketus Russell.


"Russel, apa salahnya dia memanggil aku mami. Kasihan dia tidak punya ibu dan ibunya adalah kakak kandungku." Protes Havana.


"Kita akan punya anak sendiri dan aku tidak mau anak lain memanggil kamu dengan sebutan mami."


"Dia masih terlalu kecil untuk aku larang memanggilku mami. Kamu boleh posesif dengan orang lain, tapi jangan pada anak kecil apalagi dia juga bagian dari hidupku." Sahut Havana.


Setibanya di rumah nyonya Kellen, Russell tidak ikut turun. Dia hanya menunggu istrinya di mobil. Havana merasa lega karena ia takut rahasianya akan terbongkar. Beruntunglah, Cavin sudah terlelap jadi ia bisa meninggalkan bayinya pada ibunya.


"Claire...! Mengapa kamu tiba-tiba sudah bersama Cavin? Apakah kamu sengaja ke rumah Rommy?"


"Iya mami."

__ADS_1


Havana menceritakan bagaimana ia dan Rommy sedang bersandiwara agar tidak di curigai oleh Russel.


"Baiklah. Ikuti apa maunya suamimu. Mungkin kehamilan mu yang menyebabkan suamimu menjadi pencemburu." Ucap nyonya Kellen.


"Tapi Russel sudah kelewat posesif, mami. Ya sudah aku pulang dulu sebelum ia turun dari mobil."


Havana mengecup pipi ibunya dan buru-buru masuk ke mobil.


"Aku harap ini terakhir kalinya kamu ke rumahnya Romy. Aku tidak suka dengan Abang ipar mu itu. Aku tidak suka cara dia melihatmu. Itu bisa membuat aku bisa membunuhnya."


"Sudahlah Russell. Cukup bersikap posesif kepadaku. Ada yang harus aku jelaskan kepadamu. Aku tidak tahu memulainya dari mana, tapi aku tidak bisa diam saja karena kamu bisa kehilangan Claire." Ucap Havana dengan kalimat ambigu.


"Apakah kamu saat ini sedang lupa ingatan, Claire?" Tanya Russel tidak mengerti.


"Aku bukan Claire. Aku adalah Havana."


Duarrrr...


Russel menginjak rem mobilnya secara mendadak membuat Havana hampir terjungkal ke depan kalau tidak ia tahan dengan bantal mobil untuk melindungi tubuhnya.


"Tubuh ini adalah milik Claire tapi jiwa yang masuk dalam tubuh Claire adalah aku, Havana." Ucap Havana lugas dengan tatapan mata terlihat sangat tegas lagi serius.


Tidak ada kebohongan di matanya. Ia ingin meyakinkan Russell bahwa kata-katanya barusan adalah sebuah pengakuan yang butuh keberanian.


"Kamu tidak sedang bercanda dengan aku kan Claire? Kamu tahu kalau aku tidak suka dibohongi? Hal paling benci di dunia ini adalah kebohongan. Kamu tahu itu bukan?"


"Tidak...! Aku tidak sepenuhnya memahami dirimu dengan benar karena aku bukan Claire. Yang sangat mengerti dirimu hanya Claire bukan aku."


Wajah Russell makin terlihat bingung. Rasanya ia ingin membentak istrinya saat ini namun di lihat dari mata Claire yang menatapnya serius membuat ia mau tidak mau harus mendengarkan apa yang akan disampaikan wanita yang ada dihadapannya saat ini.


"Katakan yang sebenarnya. Aku ingin mendengar mu jika kamu adalah jiwanya Havana yang ada ditubuh Claire."


"Akulah yang menyusup dalam tubuh Claire saat koma. Karena hanya tubuhnya yang bisa aku masuk. Di hari itu, aku tidak sengaja bertemu dengan Romy dan putraku Cavin di lift rumah sakit saat aku ingin kabur di rumah sakit itu." Havana menceritakan semuanya pada Russell bagaimana ia bisa keluar masuk dari tubuh Claire hingga ia mengalami alergi makanan yang merupakan makanan kesukaan Claire.

__ADS_1


"Apakah kamu tidak ingat saat aku menyapa ibu menteri luar negeri saat kamu memenuhi undangan presiden. Di saat itu Aku ingin bekerja lagi sebagai sekertarisnya.


Aku juga yang bisa memuaskanmu di ranjang hingga kamu mengkritik permainan Claire yang terkesan monoton dan membosankan. Itu karena belum berpengalaman.


Akulah yang bisa melakukannya seperti yang kamu inginkan. Sekarang kamu bisa bedakan antara jiwa Claire dan juga jiwaku." Lanjut Havana.


Perkataan Havana barusan membuat Russell mengakui kebenarannya. Ia bisa melihat perbedaan mencolok antara Claire dan Havana. Jika bicara tentang ilmu pengetahuan, Havana sangat jago membahasnya. Beda dengan Claire yang tidak suka memikirkan hal-hal yang terlalu berat.


"Apakah kamu bisa mengembalikan jiwa istriku? Mengapa kamu tidak kembali lagi pada tubuhmu kalau seandainya kamu memang masih ada di dunia ini." Ucap Russell.


"Justru ini yang aku ingin membahasnya denganmu. Tolong antar aku dan suamiku ke tempat di mana jasadku saat ini sedang berada di rumah sakit di salah satu negara bagian Amerika." Pinta Havana.


"Baiklah. Tapi tidak hari ini. Mungkin besok aku baru bisa mengantarkan kamu dan Romy." Ucap Russell.


Russel memutuskan untuk pulang ke mansion. Entah mengapa usai mendengar pengakuan Havana, ia merasa ada yang hilang dari dalam dirinya. Hatinya seakan mengatakan tidak ingin berpisah dengan Havana.


Apa yang ada dalam diri Havana justru itu yang ia butuhkan.


"Apakah Havana nanti mengingat percintaan panas kami setelah jiwanya kembali lagi ke dalam tubuhnya?" Batin Russell.


Havana masuk ke kamarnya dan bersikap seperti biasa seakan ia adalah istrinya Russell. Terlebih lagi saat ini ia justru sedang menanggalkan pakaiannya di depan Russell untuk mengganti baju santainya.


"Havana!"


"Hmmm!"


"Apakah saat kamu melayani aku di ranjang, kamu menyukaiku?" Tanya Russel penasaran.


Deggggg...


Havana terdiam. Ia bingung harus menjawab apa pada Russell. Ia juga tidak menepikan perasaannya pada Russell terutama saat mereka bercinta. Russel lebih membuatnya gila karena permainan panas Russell.


"Apakah kamu mencintaiku Havana?"

__ADS_1


Russel mendekati tubuh Havana yang saat ini hanya memakai bikini. Ia menangkup wajah itu dan Havana tidak mampu menolaknya saat Russel sudah memagut bibirnya.


"Havana...!" Aku mungkin sedang jatuh cinta pada sosok mu." Ucap Russell lalu menggendong tubuh Havana membawanya ke tempat tidur.


__ADS_2