
Dalam pikiran gaby, apakah benar ada wanita secantik ini ? mengapa dia tidak menjadi model saja dari pada susah-susah harus mengajar dan selalu dikejar deadline, pertanyaan demi pertanyaan timbul dikepala gaby, namun kemudian segala pertanyaan itu harus buyar.
“hei, apa yang kamu lihat kerjakan skripsimu tuan artefak, kata devi dengan bola mata yang berputar”
Setelah 2 jam berlalu, “saya sudah capek mungkin hari ini cukup sampai disini, saya lelah ingin pulang” devi berkata sambil membereskan barang – barangnya diatas meja.
“arghhh bodoh sekalii, aku lupa tidak membawa mobil, dan kenapa kartu ATMku juga tertinggal, tingkah bodoh seperti apa ini yah Tuhann, dan bagaiamana aku pulanggg, diingatkan kembali bahwa terhitung mulai hari ini dia sudah sendiri”.
Gaby yang yang dari tadi tersenyum melihat tingkah dosennya hanya bisa menyarankan bantuan. “Bu Dev, mau barengan sama saya gak ? kan searah jadi saya bisa mengantar ibu”.
Tawaran itu dipikirkan 2x kali oleh devi bagaimana tidak, dia tidak mau ada yang melihat dia pulang harus di antar mahasiswanya, dan pula dia baru saja bercerai pasti ada pembicaraan buruk tentang dirinya.
“tidak perlu, saya bisa jalan kaki saja” sahut devi, “Ibu yakin, jarak rumah ibu lumayan jauh, dan juga ini sudah hampir malam tidak baik wanita cantik pulang sendiri” jawab geby sambil tersenyum.
__ADS_1
“ ah benar juga kata gaby, gumang devi dalam hati”, baiklah kamu tunggu 10 menit aku harus menganti pakaianku terlebih dahulu.
“ayok jalan sebelum benar-benar malam”, kata-kata devi memecah konstrasi gaby, bagaimana tidak, sosok slama ini yang dilihatnya tegas menjadi sosok yang sangat gaull, dengan baju kaos putih, dan celana jins biru serta hanya menggunakan sandal, membuat devi terlihat 20 tahun lebih muda.
“disini saja, terimakasih sudah mengantarkan saya”, devi kemudian masuk dan berlalu kedalam rumah begitu saja. Dan gaby hanya membalas dengan senyuman!.
Malam ini devi tidak bisa tidur, karena selama 4 tahun dia selalu mendapatkan pelukkan mesrah didalam kamar itu, dan hari ini hanya ada bantal yang bisa menemani dia.
“apakah kamu tidak merindukan ku Mario ?”
“mengapa harus dengan sahabatku”, “kenapa kalian berani memperlakukanku seperti ini ?”
“apakah selama bersamaku kau tidak bahagia Mario ?”
__ADS_1
“sekarang aku harus apa ? 10 tahun ku habiskan bersamamu, dan kali ini kau menghukumku untuk membenci 10 tahun ituu?”
“kenapa pada akhirnya aku yang harus mengalah pada perempuan yang baru kamu kenal belakangan ?”
Pertanyaan yang data begitu banyak memenuhi kepala Devi, semakin larut tangisan itu semakin terdengar keras.
Lambat laun tangisan itupun hilang diganti dengan suara keheningan malam, bagaimana tidak hari ini merupakan hari yang berat untuk devi sehingga membuat dia tertidur pulas seperti tidak ada beban pikiran.
Pagi itu alarm bebrunyi menunjukkan waktu pukul 5 pagi,
Dengan kebiasaanya devi bangun membuatkan sarapan untuk 2 orang, dan menyiapkan air panas untuk penghuni rumah ituu, setelah semua selesai dia bertujuan untuk kekamar membangunkan pria yang dia cintai itu, namun langkahnya terhenti dan air matanya mengalir begtu deras, dia bahkan sampai lupa bahwa dia sudah bercerai.
“ sudah saatnya aku menerima kenyataan bahwa aku bukan lagi bagian penting dalam hidup Mario”, sambil menyeka air mata yang terus jatuh devi bersiap-siap ke kampus, karena di hari ini dia mempunyai jadwal mengajar dan juga bimbingan.
__ADS_1