Jodoh Sang Dosen Muda

Jodoh Sang Dosen Muda
Part 7


__ADS_3

Sarah kaget mendengar devi yang masuk rumah sakit,


Sarah adalah ibu devi, ibu devi yang tinggal berbeda kota dengannya.


Pada saat selesai kuliah S3 devi memutuskan untuk menetap di kota jogja, sedangkan sarah tinggal di bandung.


…..


“Devi”


Kagetnya sarah melihat anaknya tertidur lemas diatas ranjang rumah sakit.


“ibu, kenapa ibu harus kemari?”, “ibu kenapa tidak istirahat saja dirumah”, jawab devi yang kaget ketika melihat ibunya berdiri didepan pintu.


“bagaimana ibu bisa tenang mendengar kabar kamu masuk rumah sakit”,”ibu takut tidak ada yang mengurusmu disini devi jadi ibu memutuskan untuk datang”.


Dalam keluarga mereka hanya tinggal mereka berdua saja, bapak devi sudah meninggal pada saat dia melanjutkan S2nya di Belanda. Itu yang membuat sarah sangat takut jika harus kehilangan satusatunya keluarga yang dia punya.


“tenang saja bu, devi tidak sendiri ada yang menemani devi disini”


Sarah mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan devi, dia bingung siapa yang menemani anaknya karena didalam kamar itu hanya devi sendiri.


“apakah perasaanmu baikbaik saja ?, ibu sangat sedih atas perpisahanmu sayang”


“aku baikbaik saja, itu adalah pilihan Mario biarkan saja dia bertanggung jawab atas pilihannya, aku hanya perlu menjalani hidupku sekarang dengan rasa bahagia” jawab sarah kepada ibunya


.


Percakapan antara anak dan ibu itu begitu serius, sehingga tidak sadar waktu sudah mulai sore. Sudah waktunya devi untuk makan dan minum obat.


“lalu siapa yang menjagamu nak ?” Tanya sarah kepada anaknya.


“ sebentar lagi dia akan datang bu “


Percakapan mereka dihentikan, karena sarah kaget dengan sosok tampan masuk kedalam kamar itu, sambil membawa banyak buah dan juga sekotak martabak.


“Hallo tante” sapa pria itu sambil tersenyum.

__ADS_1


Sarah hanya melihat gaby dengan raut muka yang bingung, “siapa dia ? tapi dia sangat tampan” “apakah dia pacar baru anakku, apakah selama ini devi juga berselingkuh ? jika benar devi berselingkuh kenapa harus dengan anak kecil ini?”, “ah tidak mungkin yang aku tau devi sangatlah mencintai Mario” “ ahhh situasi ini membuatku bingung sendiri” desis sarah dalam hatinya.


“saya gaby tante, anak bimbingannya bu sarah” kata gaby untuk memulai percakapan dengan sarah.


“oh, jadi kamu yang merawat anak saya ? terimakasih untuk bantuannya” jawab sarah sambil tersenyum.


“ tante sampe jogja jam berapa ? apakah sudah makan ? saya membawa martabak, silahkan tante makan dulu “


“ahh terimakasih banyak, kamu sangat baik” jawab sarah menanggapi percakapan dari gaby.


“gaby, kamu boleh pulang. Ibuku sudah disini biarkan beliau menjagaku” sambung devi dalam percakapan itu.


“lanjutkanlah skripsimu dirumah, setelah saya keluar dari sini saya berharap sudah ada progress yang baik dari kamu”. “dan terimakasih sudah mau menjaga saya disini gaby” jawab devi dengan tersenyum


“oke bu sippp, aku akan membereskan barangku dulu”


Sebelum pergi entah ada keberanian apa gaby menggenggam tangan devi untuk beberapa saat. Dan memainkan rambut dosennya itu.


“cepat sembuh yah, jangan sakit lagi saya pamit pulang”


“ tante saya pulang yah, kalau perlu sesuatu silahkan hubungi saya”


Disaat itu devi tiba-tiba membeku, memikirkan tingkah anak bimbingannya itu.


Devi merasa sentuhan itu tidak dilakukan oleh mahasiswa kepada dosennya.


“ah kenapa aku kepikiran yang dilakukan bocah ituuuuuu?, stoplah devi dia adalah mahasiswamuu jangan berpikir aneh” kata devi dalam hati namun sambil memukul kepalanya.


Sarah yang melihat tingkah anaknya seketika tau apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka. Tapi dia tidak ingin salah tangkap.


“Nak apakah kamu tidak mau menceritakan kepada ibu, siapa pria tadi ?”


“tidak ada yang harus aku ceritakan bu, dia anak bimbinganku. Dia seperti itu hanya sebatas rasa cemas mahasiswa kepada dosennya tidak lebih”


“ tapi ibu rasa dia sangat menyayangimu devi”


Perkataan sarah seperti pedang yang seketika menusuk hati devi.

__ADS_1


“apakah benar gaby menyukaiku? Padahal aku begitu keras padanya” Tanya sarah dalam hati.


Tiba-tiba HP sarah berbunyi, deringan itu adalah bunyi dari aplikasi WA miliknya.


...“Jangan lupa minum obat, makanlah buah yang banyak. Cepat sembuh dan jangan sakit lagi”...


Senyum devi merekah begitu saja, sejenak dia berpikir sudah hampir 1 bulan tidak menerima pesan seperti ini, pesan yang isinya menunjukkan berjuta kasih sayang yang tersirat.


Tidak terasa ini sudah hari ke 5 devi dirawat, dan berita bagusnya devi sudah boleh diijinkan pulang. Tapi selama sebulan dia harus melakukan kontrol dokter agar tidak kambuh lagi penyakitnya.


“Selamat siang tante, halo bu dev”


Devi terkejud dengan kedatangan gaby, tapi dalam hatinya entah mengapa devi merasa sangat senang melihat gaby berada berdiri didepannya.


“eh ngapain kamu kesini, saya hari ini sudah boleh pulang. Kamu cepatlah kembali siasia kalau mau jenguk” kata devi dengan gugup.


“ibu yang memintanya kemari devi, ibu tau kamu belum bisa menyetir sendiri dan juga ibu baru pernah datang ke jogja, ibu takut kalau nanti ada hal aneh terjadi pada saat perjalan pulang “ sahut sarah sambil mengemasi barang anaknya itu.


“jadi kali ini ibu tidak bisa mengusir saya, karena ini permintaan tante sarah hehehehe”sambung gaby setelah dijawab sarah


“ terserah kamu saja” devi kembali dalam mode dinginnya.


Sebenarnya dia sangat senang karena melihat gaby disitu, tapi dia tidak mau wibawanya sebagai dosen hilang begitu saja melihat keberadaan bocah tengil itu.


“mari kita pulang nak, semua barang sudah ibu bereskan” sambung sarah.


“sini tante biar saya yang pegang saja, pasti itu sangat berat” sambil mengambil semua barang dari tangan sarah, mereka menuju ke parkiran rumah sakit.


Sarah masuk duluan kedalam mobil, disusul devi yang membantu gaby membereskan barangnya di bagasi mobil. Setelah semuanya sudah beres gaby mencuri kesempatan untuk memegang tangan devi


“tolong jangan sakit lagi, aku akan terluka kalau kamu sakit, sesudah ini tolonglah kamu benar benar berbahagia“, ucap gaby sambil tersenyum.


Namun ditanggapi dingin oleh devi sambil melepaskan genggaman gaby “aku bisa mengurus diriku sendiri tidak usah terlalu khawatir”, tanpa basa basi devi masuk kedalam mobil yang dimana devi harus duduk di sebelah gaby karena dia yang menyetir.


Entah harus senang, bingung, devi tidak percaya jantungnya berpacu begitu cepat ketika gaby memegang tangannya. Tapi devi berusaha agar tetap terlihat dingin.


Mobil melaju begitu saja, meninggalkan keheningan yang terjadi.

__ADS_1


Raut gugup sangat terlihat pada muka gaby dan devi, muka seperti orang kebingungan mencari topik pembicaraan, karena selama ini yang mereka diskusikan hanya sebatas skripsi gaby tidak pernah lebih dari itu.


__ADS_2