
Sudah empat hari, Izzah nampak murung. Tidak ada satupun guratan senyum terlihat dari wajah ayunya. Tidak pula kalimat ceria yang keluar dari bibir manisnya, yang biasa ia lakukan. Mata hitamnya pun lebih sering terlihat sembab dengan lingkaran mata yang sedikit menghitam. Tidak ada aktifitas yang dia lakukan, selain melamun di balkon lantai dua pondok putri—Pondok Pesantren tempatnya menimba ilmu selama enam tahun terakhir.
Bahkan, kegiatan rutin deresan Qur’an yang menjadi tugasnya setiap hari, terpaksa terhenti sejenak. Bukan karena sengaja, namun otaknya merasa tidak mampu karena kekacauan dalam hati yang Izzah rasakan saat ini. Untung saja, kegiatan mengaji di pondok sedang libur setelah selesai masa ajaran tengah semester tepat di 11 Robbiul Awwal kemarin. Jadi, tugas Izzah sebagai ustadzah yang mengajar di pondok putri pun libur.
Biasanya, Izzah akan pulang ke rumah di kampungnya, jika masa liburan pondok dimulai. Namun tidak untuk saat ini. Ia merasa, jika pulang pun untuk apa. Bertemu orang tua? Sudah sering. Karena ibu dan ayahnya sering berkunjung ke pondok setiap acara rutin pengajian alumni Ahad manis. Rindu rumah? Sudah tidak terlalu. Karena bagi Izzah, pondok tempatnya menimba ilmu ini sudah seperti rumah sendiri. Sudah kerasan di dalamnya. Terlebih lagi, banyak teman yang sering menghibur.
“Mbak Izzah, sampean mau saya jodohkan sama kang Farid, yo? Orangnya baik. Sampean jangan khawatir. Itu anak tekun, Insya Allah, sampean bahagia sama dia.”
Kalimat yang empat hari lalu dihaturkan Abah Yai padanya itu, masih terngiang-ngiang jelas di telinga Izzah. Karena kalimat pesan itu pula, yang membuat hati Izzah mendadak kacau balau hingga beberapa hari lamanya. Segala aktifitas rutin yang sudah menjadi tugasnya, menjadi tertinggal pula. Rasanya seakan hatinya hancur berkeping-keping. Seolah hidupnya tidak lagi berarti.
Pagi itu, tepatnya pada tanggal 11 Robbiul Awwal, sehari sebelum liburan dimulai, Izzah mendadak mendapat panggilan dari Ndalem Utara—Ndalem Ibu Nyai Khodijah. Waktu itu, semua santri baik putra maupun putri, baru saja selesai mengaji tafsir Qur’an dan kitab Ta’lim Muta’alim yang diajarkan langsung oleh Abah Yai Luthfi. Karena panggilan itu sudah terbiasa Izzah dapatkan, ia tidak terlalu terkejut mendengarnya. Hanya saja, ia bertanya-tanya, ada apa dipanggil di waktu yang masih pagi?
Biasanya, jika ada panggilan dari Ndalem, pasti ada berita khusus yang akan disampaikan. Entah itu oleh Bu Nyai Khodijah, atau langsung dari Abah Yai Luthfi—Kyai Pengasuh Pondok Pesantren.
Tentu Izzah yang mungkin saja sudah ditunggu di Ndalem, segera menghampiri dengan berjalan ngesot dan menunduk, saat sudah sampai di pintu Ndalem. Di sana, nampak sudah ada Ummi Khodijah, yang mempersilakan Izzah untuk duduk di sebelahnya. Sementara di ruangan yang dihalangi penutup kayu, terdapat kursi khusus yang biasa untuk duduk Abah Yai saat akan menyampaikan pesan pada santrinya.
Seperti yang diketahui, Ndalem adalah sebutan terhormat khusus untuk rumah keluarga pengasuh pondok pesantren. Ciri khas dari Ndalem pondok ini adalah tidak terdapat kursi untuk para tamu ataupun santri. Semua yang akan sowan menghadap Kyai atau Bu Nyai, akan duduk lesehan di lantai dengan beralaskan tikar tebal yang sudah disediakan.
__ADS_1
Sebelumnya, tidak ada firasat atau perasaan khusus yang Izzah fikirkan waktu itu. Hanya menunggu wejangan dari Abah Yai, yang ia harapkan barokahnya. Lima menit menunggu, Abah Yai pun rawuh dan duduk di kursi khususnya. Sementara Izzah, masih di posisi sama setelah duduk, hanya menunduk sebagai bentuk takdzim di depan guru.
Saat Abah Yai mulai bertutur kata, Izzah begitu mendengarkan dengan seksama. Seperti tidak ada kalimat khusus untuk Izzah amalkan, selain taat dan patuh kepada Allah swt, juga menghormati pada orang tua, serta mendo’akan agar ilmu yang didapat menjadi manfaat dunia dan akhirat.
Hingga tibalah kalimat yang sedikit menggetarkan hati Izzah kala itu.
“Mbak Izzah, sampean itu umurnya sudah cukup untuk berumah tangga. Sampean juga sudah selesai hafalan Qur’annya. Tinggal dijaga secara istiqomah. Ya?!”
Mendengar kalimat Abah Yai yang sudah menyangkut usia kedewasaan santrinya, Izzah mulai menyadari bahwa alur pembahasan yang Abah Yai sampaikan tidak lain adalah tentang rumah tangga dan segala bekal yang harus disiapkan untuk menjalankannya. Itu menandakan, jika dirinya memang sudah direstui untuk menjalankan rumah tangga dengan seorang pria yang Abah Yai pilihkan.
Kang Adnan, seorang santri berusia 25 tahun yang terkenal paling tampan dan berkulit putih, ditambah suaranya yang bagaikan emas, yang selalu dinanti-nanti oleh santri putri khususnya saat acara barzanji akan dimulai. Selain itu, kang Adnan juga terkenal ramah dan sopan, juga murah senyum. Sehingga membuat para “Embak-embak” dari santri putri seolah jatuh cinta pada saat bertemu pandang dengannya.
Sementara Izzah, dikenal dengan kecantikan alami wajahnya, serta kelembutan tutur katanya, ditambah lagi dia seorang hafidzoh sekaligus ustadzah, yang tentu menjadi dambaan banyak santri putra. Tak sedikit santri putra yang sempat meminta ijin pada Abah Yai, untuk meminang Izzah. Namun, kala itu Izzah masih belum mendapatkan restu dari Abah Yai. Terlebih lagi, hati Izzah kini hanya berlabuh pada kang Adnan saja, tentu harapan para Kakang pondok putra sebelumnya menjadi sirna.
Keduanya memang tidak berpacaran secara khusus. Tidak pernah pula bertemu berduaan di tempat lain, atau jalan layaknya orang pacaran pada umumnya. Hanya saja, kang Adnan yang sudah menaruh rasa suka dan serius pada Izzah, membuktikannya dengan langsung mendatangi kedua orang tua Izzah di kampungnya—di Jogjakarta. Sikap keseriusan itu pula lah yang membuat hati Izzah lambat laun luluh menerima kang Adnan jika berjodoh dengannya kelak.
Lambat laun pula, hati Izzah ditumbuhi rasa cinta dan sayang yang seolah tidak bisa terganti dengan pria siapapun. Bagi Izzah, kang Adnan sudah seperti belahan jiwanya yang belum menyatu dengan raganya.
__ADS_1
Satu tahun menjalani hubungan yang masih terbatas belum halal, Izzah berusaha sabar hingga tiba waktunya akan direstui Abah nantinya. Karena rencana Izzah, setelah acara Haflah Akhirussanah di pondok yang kurang lebih lima bulan lagi, ia akan meminta ijin bermukim (menetap di kampung setelah menuntut ilmu di pesantren) sekaligus meminta restu untuk berumah tangga, tentu dengan kang Adnan.
Namun sayang. Ternyata, pria yang Abah Yai sebutkan untuk mendampingi hidup Izzah, bukanlah kang Adnan, melainkan kang Farid—santri yang sudah lama ditugaskan menjadi pengurus di pondok putra. Selain sebagai pengurus, santri putra berusia 28 tahun itu pun lebih dikenal dengan orang sombong dan angkuh. Sehingga banyak santri yang tidak menyukainya.
Tentu saja, hati gadis bernama lengkap Lailatul ‘Izzah seketika hancur berkeping-keping. Seolah masa depan yang ia bayangkan menjadi hancur tiba-tiba. Di saat yang sama, buliran mata jatuh dari kedua ujung netra Izzah. Ia menangis. Menahan rasa kecewa yang tak disangka sebelumnya.
Namun, Izzah tidak bisa menolak atau bahkan membantah pilihan dari Abah Yai itu. Bagi Izzah, Abah Yai sudah menjadi orang tua kedua selain orang tua kandung. Apapun titah yang disampaikan beliau, pasti sangat berharga dan bermakna. Meski tak bisa dipungkiri, kesedihan yang Izzah rasakan tidak bisa ia tepis dengan mudah. Terasa sangat menyayat hati.
“Mbak Izzah.”
Suara lembut seorang wanita yang tidak asing bagi Izzah tiba-tiba membuyarkan lamunannya. Ia menoleh ke arah sumber suara yang berada di belakangnya. Dia nampak tengah melangkah menaiki anak tangga terakhir.
“Mbak Syifa, ada apa?” tanya Izzah ingin tahu.
Syifa—santriwati yang usia sepantaran Izzah perlahan menghampiri balkon tempat Izzah berada. Raut wajahnya sedikit tegang, seperti akan ada yang ia sampaikan pada Izzah. Gadis yang baru tiga tahun mondok di sini itu ternyata juga tidak pulang. Ia memutuskan untuk menghabiskan waktu liburan di pondok saja setelah tahu jika Izzah juga demikian.
“Mbak Izzah, ada yang ingin ketemu sampean,” sahut Syifa lembut. (*)
__ADS_1