Jodoh Untuk 'Izzah

Jodoh Untuk 'Izzah
Bab 9


__ADS_3

Di tengah perjalanan menuju pondok putri melalui pintu dapur, Izzah dikejutkan dengan sosok pria yang tengah bersender di tembok yang membatasi dapur dengan halaman belakang. Seketika, langkah Izzah terhenti tepat di depan pintu masuk.


Sosok pria itu tidak asing, membuat Izzah yang setengah gugup memaksa diri untuk menyapa, “Kang Adnan menunggu seseorang?”


“Iya, Mbak Izzah.” Pria yang tak lain adalah kang Adnan itu lalu tersenyum ramah.


Izzah yang sengaja menyapa hanya untuk basa basi, lalu memutuskan masuk ke dalam setelah mengangguk yang diiringi jawaban, “Oh” panjang. “Ya, sudah, Kang. Saya pamit mau masuk dulu,” tukasnya tanpa menoleh, lalu kembali melanjutkan langkah.


“Mbak Izzah.”


Langkah Izzah kembali terhenti, saat kang Adnan kembali memanggil namanya. “Iya, Kang. Ada apa?” tanyanya ingin tahu alasannya.


“Bisa kita bicara sebentar, Mbak?”


“Maaf, Kang Adnan. Bukan saya tidak mau, tapi rasanya gak etis jika kita berbincang berduaan di sini. Apalagi—,”


“Cuman sebentar, Mbak Zah.” Kang Adnan meminta dengan nada memelas.


Sejujurnya, Izzah merasa bimbang saat sosok kang Adnan hadir kembali di depan matanya. Antara merasa bersalah dan sedih, karena harus berada di situasi yang dilema berat.


Di satu sisi, ia tidak bisa membohongi perasaannya yang masih tertulis nama kang Adnan di dalam hatinya. Namun, di sisi lain kang Adnan juga dirinya, sudah sama-sama memiliki calon pasangan sendiri. Tentu, apapun gejolak dalam hatinya, harus bisa ia kontrol.


“Tapi, Kang—?”


“Tolong, Mbak Izzah. Sebentar saja!”

__ADS_1


Izzah yang sedari tadi hanya menunduk, kini perlahan menolehkan wajah ke arah kang Adnan yang berada di belakangnya. Namun, pandangannya masih tetap menunduk seperti biasa. Ia hanya memberi kesempatan yang mungkin untuk obrolan terakhir sebelum keduanya dipisahkan secara sah oleh akad nikah.


Izzah lalu melangkah keluar dari pintu dapur, dan menghampiri kang Adnan dengan jarak yang cukup jauh, dua meter. Ia lalu menanyakan perihal yang ingin kang Adnan sampaikan.


“Dik Izzah, apa kamu sudah yakin untuk menerima kang Farid jadi suamimu? Dia galak, Dik. Dia keras, angkuh dan dingin. Aku tidak rela jika kamu nantinya tidak bahagia dengan pengurus killer itu.” Kang Adnan menjelaskan panjang lebar perihal tujuannya menemui Izzah.


Izzah masih bergeming, mencerna kalimat kang Adnan yang ia sendiri tidak pahami. Bukan apa. Tapi, kalimat itu tidak Izzah sangka akan keluar dari bibir kang Adnan. Meski dirinya juga belum menerima kang Farid, namun mendengar apa yang kang Adnan utarakan, membuatnya terkejut.


“Dik. Kita masih punya waktu untuk bisa tetap bersama, menjadi pasangan yang serasi dan bahagia. Jujur, aku tidak rela kamu menikah dengan laki-laki lain, Dik.” Kang Adnan melanjutkan ucapannya.


Izzah yang belum selesai berfikir, semakin dibuat terkejut. Ternyata, kang Adnan masih belum ikhlas dengan perjodohan dari Abah Yai, guru yang harus ia hormati. Dia bahkan berani mendatangi dirinya lagi, dan mengajaknya hidup bersama.


Dengan perasaan yang berkecamuk, Izzah lalu berucap tegas, “Maaf, Kang. Sekarang, kita akan melaksanakan tugas kita masing-masing. Kita sudah punya calon sendiri, Kang. Gak etis kalo kita bertemu seperti ini.”


Izzah menjeda sejenak ucapannya, hingga kang Adnan kembali menimpali. Namun, dengan sigap Izzah melanjutkan, “Oh, ya, Kang. Untuk yang lamaran Njenengan kemarin, saya minta maaf jika membuat keluarga Njenengan jadi marah besar.”


“Kang, jangan begitu. Kita tidak boleh dibutakan oleh cinta. Mungkin, kita memang tidak berjodoh. Kita bisa apa?”


“Kita bisa lari, Dik. Kita bisa kabur dari pesantren ini, dan menikah meski tanpa restu dari Abah Yai.”


“Kang Adnan, berhenti! Stop!” Izzah mulai merasa ketakutan dengan sikap kang Adnan yang terus mendekati dirinya. Hanya sudah berjarak setengah meter saja, bahkan kurang dari itu.


Suasana sore hari, selepas adzan ashar berkumandang, membuat kondisi area luar pondok tampak sepi. Semua santri mulai sibuk melaksanakan sholat berjamaah yang dilanjut dengan wirid dan deresan Qur’an. Tentu, tidak ada satupun yang mengetahui pertemuan Izzah dan kang Adnan.


“Dik, ayolah! Kita keluar dari pondok ini. Aku janji akan membuat hidupmu bahagia.” Kang Adnan mulai berani memegang erat tangan Izzah. Meski ditepis dengan kencangnya, namun tenaga seorang pria seperti kang Adnan tidak mudah Izzah kalahkan.

__ADS_1


“Kang Adnan, apa ini? Njenengan kenapa berani begini?” Izzah menatap tajam bola mata kang Adnan yang nampak memerah.


“Ini karena kamu, Dik. Kamu yang buat aku jadi begini.”


“Kang, lepaskan! Jangan sampai saya teriak dan ketahuan sama yang lain,” lirih Izzah masih dengan kuat melepas genggaman tangan kang Adnan. “Aku tidak menyangka, ternyata aku salah mencintai laki-laki. Mungkin, perjodohan dari Abah Yai memang benar-benar baik buatku,” ucap Izzah melanjutkan. Kini, tangannya sudah terlepas.


Bergegas, Izzah berlalu meninggalkan kang Adnan yang nampak tengah memukul-mukul batang pohon di hadapannya. Sempat Izzah menatap aktifitas kang Adnan, dan ingin menghentikan apa yang dia lakukan. Namun, ia khawatir jika sikap kang Adnan akan lebih mengerikan dari yang sudah ia dapatkan baru saja.


Dengan perasaan bercampur aduk, Izzah melangkah cepat menuju kamarnya di lantai dua. Hatinya masih tidak percaya dengan apa yang ia alami tadi. Sosok kang Adnan yang ia kenal lembut, ternyata memiliki sisi yang tidak pernah ia sangka. Lebih tepatnya, sisi mengerikan.


Tanpa sadar, buliran bening jatuh dari ujung netra Izzah. Raut wajah ketakutan pun masih tergambar di sana. Ia benar-benar merasakan trauma mendalam dengan sosok kang Adnan. Pria yang sempat ia cintai itu seketika membuat perasaannya berubah 180 derajat. Rasa cinta itu mendadak sirna dari benaknya. Tak ada lagi nama kang Adnan yang tertulis di hatinya.


“Mbak Izzah!”


Tubuh Izzah mendadak tersentak mendengar panggilan singkat dari seseorang yang baru masuk ke dalam kamarnya. Ia yang tengah duduk, perlahan mengangkat wajahnya yang sedari tadi ia tutupi dengan tangannya.


“Eh, Mbak.” Izzah berusaha ramah menanggapi sapaan teman sekamarnya yang berjumlah empat santriwati itu. “Udah selesai, sholatnya?” tanyanya lagi sesantai mungkin.


“Sudah, Mbak,” sahut salah satu dari mereka sembari meletakan mukena ke tempatnya.


“Mbak Izzah lagi haidh, kah?” tanya yang lainnya menatap Izzah heran.


Tentu saja Izzah semakin gugup. Rasa bersalah dan takut itu masih menyatu memenuhi rongga dadanya. Khawatir, jika ada salah satu santriwati yang melihat kejadian tadi, atau ketakutan jika kang Adnan berbuat semakin nekat padanya.


“I-iya, Mbak. Eh, e-enggak. Tadi, ketiduran ajah.”

__ADS_1


Nayla, Siti, Inayah dan Fatimah adalah teman sekamar Izzah. Mereka yang masih sibuk merapikan diri itu menjadi saling pandang mendengar jawaban mbak senior yang sangat terdengar gugup. Rasanya mengherankan. Tidak biasanya mbak Izzah seperti itu. Dia selalu mengarahkan atau berucap tegas tanpa berbelit.


“Saya tinggal dulu, Mbak. Mau ke kamar mandi,” ucap Izzah berpamitan. Ia menyadari sikapnya yang membuat teman sekamarnya heran. (*)


__ADS_2