Jodoh Untuk 'Izzah

Jodoh Untuk 'Izzah
Bab 2 (Bertemu kang Adnan)


__ADS_3

“Mbak Izzah, ada yang pengin ketemu sama sampean, Mbak.” Syifa memberitahu kabar pada Izzah.


Tentu saja, hal itu membuat Izzah penasaran. Siapa yang ingin bertemu dengannya. Padahal, sebelumnya tidak pernah, termasuk kang Adnan. Dia pasti akan menemui dirinya hanya saat di rumah orang tuanya saja. Itupun dengan ditemani adik atau ibunya.


“Siapa, Mbak?” tanya Izzah penasaran.


“Kang Adnan.”


‘Deg’


Jawaban Syifa seketika mengencangkan degupan jantung Izzah. Tentu saja, karena yang Izzah tahu, kang Adnan sudah pulang ke rumahnya saat awal liburan kemarin. Bagaimana bisa dia saat ini sudah berada di pondok lagi?


Dan, ini kali pertama juga kang Adnan berani meminta bertemu dengannya di pondok. Mungkin karena suasana libur juga, kondisi sedang sepi, jadi dia memberanikan diri. Jika waktu ngaji normal, dia tidak akan mungkin melakukan itu. Namun, Izzah tetap merasa heran. Untuk apa lagi dia mengajaknya bertemu.


“Memangnya mau apa, ya, Mbak? Kok, kang Adnan ngajak ketemu?” tanya Izzah lagi ingin tahu.


Barangkali, Syifa mengetahui niat Adnan sebelumnya. Karena yang Izzah tahu, Syifa cukup dekat dengan Adnan. Dekat karena rumah keduanya berada di satu kota, dan lebih sering pulang bersama dalam satu bis ke kampungnya. Bisa jadi, sebagai teman yang cukup dekat dengan Izzah, kang Adnan akan mempercayakan urusan pribadinya pada Syifa.


“Temuin dulu ajah, Mbak. Kali ada yang penting,” sahut Syifa memberi saran. “Aku temani, Mbak. Ayo!” Syifa mengajak Izzah yang nampak masih bimbang.


Tanpa bertanya lagi, Izzah mengangguk dan mulai melangkah untuk segera menemui kang Adnan yang kata Syifa berada di halaman belakang, tepatnya di belakang dapur pondok putri.


Di satu sisi, Izzah begitu bahagia bisa kembali bertemu dengan kang Adnan. Ada secercah rasa rindu dalam benaknya, yang cukup lama terpendam. Namun, di sisi lain, dirinya seolah sudah tidak punya hak lagi untuk bertemu dengan dia saat ini, atau bahkan sampai seterusnya. Dilema, antara sedih dan merasa bersalah.

__ADS_1


“Mbak Izzah, aku ning kene ae, yo. Kono, sampean ketemu sek,” ujar Syifa yang membiarkan Izzah berjalan sendiri menghampiri kang Adnan yang nampak sudah menunggu di dekat pagar. Dirinya hanya menunggu saja dengan jarak empat meter dari Izzah dan kang Adnan berdiri.


“Assalamu’alaikum, Kang. Maaf, ada apa, ya, Njenengan manggil saya?” Izzah membuka obrolan tanpa menatap lawan bicaranya.


Seperti biasa, Izzah hanya menunduk menghadap ke bawah saat menemui kang Adnan. Saat di rumahnya pun demikian. Itulah ilmu yang Izzah amalkan selama mengaji bertahun-tahun di pesantren, dan enam tahun terakhir di pondok ini.


“Wa’alaikumussalaam, Mbak Izzah. Sampean gimana kabarnya?”


“Alhamdulillaah, baik, kang,” sahut Izzah pendek.


“Gini, Mbak Izzah. Saya diminta ibu sama bapak, katanya sampean disuruh pulang ke kampung dulu,” terang kang Adnan menjelaskan.


Berbeda dengan Izzah yang hanya menunduk, kang Adnan justru seakan tidak berkedip saat Izzah berada di hadapannya. Ia terus menatap lekat wajah manis Izzah sembari tersenyum.


Izzah terkejut mendengar penuturan kang Adnan. Ternyata, dia sudah berkunjung ke rumahnya selama liburan ini. Lalu, jika dirinya diminta untuk pulang segera, untuk apa? Apakah mungkin, kang Adnan sudah bercerita mengenai perjodohan itu? Perjodohan yang bukan menyangkut Izzah dengan kang Adnan, melainkan dengan laki-laki lain.


“Oh, iya, Kang. Insya Allah besok saya akan pulang.”


Izzah sengaja tidak menanyakan alasan dirinya diminta pulang. Ia hanya menghindari perbicangan yang panjang lebar saja dengan kang Adnan. Dengan meng-iyakan saja, tentu pembicaraan bisa selesai. Biar bagaimanapun, meski dirinya merasa berat untuk menerima perjodohan dengan kang Farid, merasa berat pula jika akhirnya ia harus berpisah dengan kang Adnan, namun Izzah harus tetap menjaga harga dirinya. Meski itu dengan kang Adnan sekalipun.


“Ya, sudah, Kang. Saya pamit dulu. Assalamu’alaikum.” Izzah segera berlalu meninggalkan kang Adnan yang masih terpaku. Bahkan, salamnya pun dijawab setelah jeda cukup lama.


Izzah menyadari, jika kang Adnan pun merasa berat berlepas dari dirinya. Rasa cinta dan sayang kang Adnan, sangat tergambar di raut wajah bahagia setiap kali bertemu dengan Izzah. Entah itu di pondok saat berpapasan di jalan, atau saat berkunjung ke rumahnya meski ditemani keluarga yang lain.

__ADS_1


Izzah segera kembali ke lantai dua pondok putri. Langkahnya begitu cepat, hingga beberapa kali hampir menabrak tembok dan pintu. Pertemuan dengan kang Adnan baru saja, membuat Izzah kembali menangis. Hatinya kembali perih, saat membayangkan harus benar-benar berlepas dari kang Adnan.


Melihat temannya sedikit bermasalah, Syifa segera menyusul dan menghampirinya. Ia tahu, Izzah sedang tidak baik-baik saja.


“Mbak Izzah,” seru Syifa lembut setelah sampai di balkon. Kedua tangannya melekat ke pundak Izzah, menguatkan teman yang nampak lemah itu.


“Mbak Syifa ...!”


Izzah berbalik badan menghadap Syifa, dan langsung memeluknya erat. Memecahkan tangisnya, dan meluapkan semua rasa yang masih tertahan di dada. Berkali-kali Izzah menangis sesenggukan sambil terus menyebut nama kang Adnan. Tangisan yang sempat mereda di satu hari ini, kini kembali memecah.


“Menangislah, Mbak! Jika dengan menangis bisa buat sampean tenang.” Syifa terus menenangkan hati Izzah yang memang sedang berkecamuk.


Syifa memang belum tahu persis masalah yang dihadapi teman dekatnya itu. Yang ia dengar bahwa Izzah memang akan dijodohkan dengan kang Farid. Itupun hanya ia dengar samar-samar saja dari Mbak Ndalem. Masalah benar atau enggaknya, Syifa belum tahu. Karena selama liburan, Syifa diminta membantu mbak Ndalem selatan. Jadi, ia belum bertanya langsung pada Izzah, karena memang baru bertemu di hari ini.


Hanya saja, melihat Izzah yang begitu sedih dan terus menangis, membuat Syifa paham bahwa berita itu ternyata memang bukan gosip belaka. Karena biasanya, apa yang dibahas Mbak Ndalem memang banyak benarnya. Hanya saja, dirinya merasa kurang percaya jika belum bertabayun langsung dengan yang mengalami.


“Berarti bener, Mbak, kalo sampean itu dijodohkan sama kang Farid?” Syifa membuka obrolan, saat melihat Izzah sudah merasa tenang bersandar di pangkuannya.


Izzah mengangguk. Ia lalu terbangun, menyapu sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipinya. Lalu bertanya, “Sampean tahu dari mana, Mbak Syif?”


“Sudah rame, Mbak, kabarnya.”


“Hah?” Izzah terkejut. Ia mengira, berita itu belum menyebar, karena kondisi pondok sedang sepi setelah awal liburan kemarin.

__ADS_1


“Enggak, Mbak. Banyak, kok, mbak-mbak yang pada mutusin liburan di pondok. Malah ada mbak Shofa juga,” ujar Syifa saat Izzah menanyakan santriwati yang masih tinggal di pondok. (*)


__ADS_2