Jodoh Untuk 'Izzah

Jodoh Untuk 'Izzah
Bab 4


__ADS_3

Hari ini, di waktu menjelang siang, Izzah dan ayahnya sudah dalam perjalanan menuju Jogjakarta—kampung halamannya. Jaraknya dari pondok cukup jauh, sekitar 200 kilometer. Jadi, memakan waktu hingga tiga jam lamanya di perjalanan.


Biasanya, ayahnya datang bersama ibunya, baik untuk acara rutinan Ahad manis, ataupun hanya untuk menjemput Izzah saja di pondok. Namun hari ini tidak. Kata ayahnya, “Ibu lagi rewang di rumah Bu Dhe Rita, Nduk.” Begitu ucap Pak Yusuf—ayah dari Izzah, saat putrinya menanyakan ketidakikutsertaan ibunya.


Sepuluh menit berlalu, Izzah hanya terdiam di dalam mobil Avanza berwarna silver keluaran lawas itu. Pandangannya kosong, menatap ke arah jendela di sisi kiri. Beberapa kali ia menghela nafas, hingga sedikit menganggu pendengaran ayahnya.


“Ada apa, to, Nduk? Kok, tumben wajahnya sedikit kesel gitu?” Sambil fokus mengemudi, ayahnya bertanya karena rasa heran.


Hati Izzah memang belum sepenuhnya normal seperti sebelumnya. Perasaannya masih labil, terkadang tenang, terkadang pula gundah dan gelisah. Pertemuan tidak sengajanya dengan kang Adnan saat akan masuk ke mobil tadi, masih terbayang di otak Izzah. Ia melihat ketidakrelaan kang Adnan yang tersirat di balik guratan senyumnya. Membuat Izzah terasa berat menatapnya.


“Gak papa, kok, Pak. Cuman capek ajah, pengin cepet sampe,” sahut Izzah tanpa menatap wajah heran Sang ayah.


“Kemarin, kang Adnan datang ke rumah, Nduk.”


Cetusan ayahnya tiba-tiba memecah kegundahan Izzah, membuat wajahnya seketika menoleh ke arah Sang ayah di sampingnya, namun ia tidak menjawab. Ia hanya tengah menunggu kalimat yang masih terdengar menggantung itu. Namun, bibir ayahnya masih menjeda ucapannya cukup lama.


Karena tak sabar, Izzah akhirnya bertanya, “Terus?”


“Dia melamar kamu secara serius,” terang pak Yusuf datar.


‘Deg’


Dada Izzah kembali bergemuruh tiba-tiba. Detakannya seketika berdegup dengan sangat kencangnya. Tubuhnya pun begitu sangat gelisah, tidak tenang. Lalu, Izzah menundukkan pandangannya, sambil sesekali menghembuskan nafas secara perlahan. Agar sesak di rongga dadanya kembali lancar.


“Serius, Pak?” tanya Izzah kembali memastikan.


Ayahnya pun tersenyum mengangguk, membenarkan ucapannya. “Kamu seneng, to, Nduk?” tanyanya sembari menatap putrinya sejenak, lalu kembali fokus menatap jalanan.

__ADS_1


Karena yang pak Yusuf tahu, Izzah begitu mengharapkan berjodoh dengan kang Adnan. Selain baik hati dan ramah, dia juga pengertian. Lagi pula, sejak niat kang Adnan mengutarakan keseriusannya beberapa bulan lalu, putrinya nampak sangat bahagia.


Namun untuk Izzah? Entah apa yang harus ia rasakan sekarang, senang atau kah justru sedih? Padahal, saat-saat inilah yang Izzah tunggu setelah sabar menanti satu tahun lamanya. Niat yang sudah matang-matang ia bayangkan sebelumnya, bahwa kang Adnan benar-benar akan melamarnya, lalu akan ada acara meriah setelah itu, kini bayangan itu mendadak sirna.


Izzah masih bergeming. Ia belum bisa menjawab, karena merasa bingung, apa yang harus ia jawab. Tebakannya yang mengira jika kang Adnan sudah bercerita tentang perjodohan dirinya dengan kang santri lain, ternyata salah. Kunjungan kang Adnan ke rumahnya bukanlah itu, melainkan meminang dirinya secara serius.


“Bapak menerima lamaran kang Adnan?” Izzah bertanya dengan perasaan sedikit gugup, karena detakan kencang di jantungnya masih cukup terasa.


“Ya belum, Nduk. Bapak belum berani memutuskan itu. Bapak hanya bilang sama kang Adnan, nanti saja menunggu kamu pulang. Karena itulah bapak minta dia sampekan supaya kamu pulang dulu. Kita bicarakan dengan tenang di rumah.”


Izzah sedikit lega mendengarnya. Setidaknya, ia tidak memberi harapan yang belum jelas keputusannya. Ia pun belum berani menceritakan yang sebenarnya pada Sang ayah. Kondisi saat ini masih belum mendukung untuk membahas hal serius.


***


“Nduk, kamu itu kenapa, to? Sejak pulang ke rumah, kayak gak ada semangat.”


“Kalo masih pengin di pondok, mbok, yo, ngomong ajah sama bapak, biar gak usah dijemput,” ujar ibu lagi dengan nada lembut.


Mendengar ucapan ibunya, Izzah sedikit merasa bersalah. Benar apa yang ibu katakan. Baru kali ini, Izzah pulang ke rumah dalam kondisi hati yang tidak baik. Tentu menjadi berpengaruh pada sikapnya, berubah dingin dan kurang ceria. Tidak seperti biasanya. Bahkan saat baru sampai pun, Izzah akan langsung berkunjung ke teman-teman lamanya di kampung, atau mengajak Nisa—adiknya jalan-jalan sore.


Namun hari ini, sangat berbanding terbalik. Wajar saja jika ibunya menanyakan.


“Izzah mau ngomong, Bu,” ucap Izzah terbata. Ia tidak berani menatap ibunya. Ada rasa bersalah di hati kecilnya.


“Ngomong ajah, to, Nduk!”


“Mungkin, Izzah ndak bisa terima lamaran kang Adnan, Bu.”

__ADS_1


Izzah terdiam setelah itu, menunggu tanggapan ibunya yang juga masih bergeming. Namun, nada suara ibu tidak juga terdengar meski sudah cukup lama ia berucap. Pandangan Izzah yang sedari tadi menatap kosong ke beberapa tanaman bunga di depannya, perlahan beralih menatap ibunya berada.


Ternyata, di sana sudah ada ayahnya tengah berdiri di sebelah ibunya duduk. Tatapan keduanya kini berbeda dari tatapan yang biasa Izzah lihat. Nampak menyiratkan rasa kecewa mendalam, terutama ibunya. Dia menjadi berubah diam.


“Memangnya kenapa, Nduk?” tanya pak Yusuf yang kemudian menghampiri putrinya, dan duduk di sebelahnya.


Belum sempat Izzah menjelaskan alasannya, ia merasakan berlalunya ibu dari tempat duduknya. Izzah reflek menoleh, lalu melihat ibunya yang lebih memilih masuk ke dalam rumah, dari pada mendengarkan kejujuran jawabannya. Namun, Izzah memakluminya. Wajar jika ibu kecewa. Karena selama ini, dia begitu menyambut hangat setiap kedatangan kang Adnan ke rumah ini.


“Izzah sudah dijodohkan sama Abah Yai, Pak,” lirih Izzah menjelaskan.


Meski awalnya Izzah melihat pancaran kekecewaan di raut wajah Sang ayah, namun kini tidak lagi. Setelah dengan pelan ia menjelaskan alasannya, ayahnya mulai paham dan memaklumi. Bahkan, Sang ayah memberi beberapa nasehat agar Izzah menerima ikhlas perjodohan itu. Karena titah dan pesan seorang guru, benar-benar sangat bermanfaat bagi santrinya.


Akhirnya, Izzah bisa bernafas lega setelah itu. Setidaknya, beban di pundaknya sedikit berkurang. Karena sejujurnya, menjelaskan ini bagi Izzah teramat berat. Kedua orang tuanya sudah sangat menyetujui dan berharap penuh jika kang Adnan yang menjadi menantunya. Terlebih lagi, kang Adnan setiap berkunjung selalu membawa buah tangan yang tidak sedikit. Sering pula membantu pekerjaan ayahnya memperbaiki apa-apa yang rusak. Belum lagi sering mengantar ibu ke sana kemari. Seolah, kang Adnan sudah menjadi menantu di rumah ini.


Kang Adnan memang hanya berkunjung setiap liburan saja, karena hanya memiliki waktu di rumah di saat itu. Dan, selama liburan pula dia selalu datang hingga empat kali dalam seminggu. Orang tua mana yang tidak senang jika calon menantu sudah nampak sebaik itu?


***


“Gimana, to, Pak? Njenengan setuju kalo Izzah gak jadi sama kang Adnan?”


“Lah, gimana lagi, Bu. Izzah sudah dijodohkan Abah Yai, kok. Bapak, juga gak bisa ngomong apa-apa.”


Waktu sudah hampir menjelang tengah malam. Namun Izzah masih belum tidur. Ia memang lebih sering insomnia sejak mendengar kang Farid di telinganya. Dan, seperti biasanya, saat Izzah terasa sulit untuk tidur, ia akan melanjutkan deresan Qur’an yang sempat tertunda.


Saat ia akan pergi kamar mandi untuk berwudhu, tiba-tiba langkahnya terhenti tepat di depan kamar kedua orang tuanya. Suara riuh obrolan di dalam kamar itu memancing Izzah untuk menguping sejenak.


Dari kalimat awal yang ia dengar, sudah cukup membuatnya sedikit tersayat. Ternyata, bebannya belum berkurang. Ibu masih kurang setuju jika dirinya menolak lamaran kang Adnan. Terdengar jelas juga jika ibu pun tidak suka Izzah dijodohkan dengan laki-laki lain.

__ADS_1


Pada akhirnya, kegundahan dan kegelisahan Izzah yang mengira akan menjadi tenang saat di rumah, kini justru semakin bertambah, membuatnya semakin bingung. (*)


__ADS_2