Jodoh Untuk 'Izzah

Jodoh Untuk 'Izzah
Bab 6 (Menolak lamaran kang Adnan)


__ADS_3

“Sebelumnya, saya minta maaf yang sebesar-besarnya, Pak, Bu. Saya sangat menghargai kedatangan Bapak dan Ibu ke gubuk saya ini. Dan, untuk masalah lamaran, maaf sekali jika saya terpaksa harus mengatakan, saya menolak lamaran dari kang Adnan sekeluarga.”


Semua keluarga kang Adnan saling pandang, setelah mendengar ucapan tegas dari Izzah. Mereka saling berucap dengan kebingungan masing-masing, hingga terdengar jelas sebuah kalimat terlontar dengan lantang dari pria yang termasuk tetua dari keluarga kang Adnan.


“Apa maksudnya ini, Pak, Bu? Bagaimana bisa putri Anda menolak lamaran begitu saja? Bukankah, jika keluarga pihak laki-laki sudah datang, pertanda jika kedua pihak keluarga sudah saling sepakat? Tapi, apa ini?”


Tentu hal itu mengejutkan pak Yusuf dan istri, termasuk Izzah. Karena mereka tidak tahu menahu soal lamaran yang datang secara tiba-tiba ini. Bahkan, kang Adnan belum pernah membahas ini dengan Izzah sebelumnya.


“Saya—.”


“Kami minta maaf yang sebesar-besarnya, Pak. Sekali lagi, maaf sekali. Ada hal yang membuat kami harus menolak lamaran. Sekali lagi maaf sekali.”


Dengan sigap, Izzah menimpal kalimat ayahnya yang hendak terucap.


“Halah! Mentang-mentang cah ayu, pake milih-milih segala. Giliran jadi perawan tua, baru nyesel.” Wanita paruh baya di sebelah Adnan menggerutu dengan kerasnya. “Wes, Pak! Ayo, muleh ae! Wes jauh-jauh dibawakan seserahan, malah ditolak mentah-mentah,” lanjutnya lagi sembari membereskan seluruh barang yang dibawa untuk lamaran.


Bahkan, hingga sudah berada di luar rumah pun, mereka masih melampiaskan kemarahannya dengan menggerutu sepanjang aktifitas. Nampak juga, kang Adnan seperti tengah dimarahi oleh ibunya. Entah kalimat apa yang dia lontarkan, seperti terdengar menyalahkan kang Adnan karena salah memilih wanita.


Meski begitu, Izzah dan ayah beserta ibunya masih melempar senyum ramah dan kalimat hati-hati saat kendaraan yang mereka tumpangi perlahan meninggalkan halaman rumahnya.


***


Hati Izzah kembali merasa tertusuk saat mengingat kembali apa yang baru saja dialami dirinya dan kedua orang tuanya satu jam yang lalu. Bukan kalimat pedas yang diucapkan ibunya kang Adnan, akan tetapi karena ia merasa begitu bersalah dengan keluarga kang Adnan.


Memang, yang terjadi bukanlah murni kesalahannya, karena kang Adnan tidak memberitahukan sebelumnya perihal lamaran malam ini. Andai Izzah dikabari sebelum itu, tentu mereka tidak akan membuang waktu dan rasa lelah demi datang dari Purworejo ke Jogjakarta, yang akhirnya sia-sia, karena ia akan lebih dulu melarangnya.

__ADS_1


“Kenapa kamu ndak bicara jujur tadi, Nduk? Akhirnya, kita yang disalahkan sama keluarga kang Adnan. Dikiranya, kita yang mempermainkan mereka.” Aisyah menghampiri putrinya yang nampak gelisah. “Ibu juga merasa bersalah sama mereka. Kasian, mereka datang jauh-jauh, harus menerima resiko begini,” lanjut ibunya lagi bernada menyesal.


“Izzah ndak tega, Bu. Kalo mereka tahu karena kang Adnan ndak memberi kabar dulu, pasti kang Adnan dimarahi habis-habisan sama keluarganya.”


Saat Izzah terpaksa menolak lamaran kang Adnan, ia memang tidak bicara jujur soal alasannya. Ia hanya pasrah saja meski dikatai buruk, terutama oleh ibunya kang Adnan. Setidaknya, rasa bersalah atas penolakannya terhadap lamaran itu, sedikit terobati dengan melindungi nama kang Adnan di dalam keluarganya.


Karena yang Izzah tahu, kang Adnan sudah mendengar perihal perjodohan dirinya dengan kang Farid. Itu berarti, dia sudah tidak akan berani mendatangi rumahnya. Setidaknya, ada batasan agar dia lebih menjauh darinya. Namun anehnya, dia justru tetap memaksa diri melamar Izzah. Seolah, lamaran itu akan tetap diterima


Aisyah menghela nafas kasar, lalu berucap, “Ya, sudah, Nduk. Ibu hanya bisa berdo’a, semoga kang Adnan dijodohkan dengan wanita yang baik. Karena dia itu laki-laki yang sangat baik, pengertian.”


“Cuman kang Adnan yang didoakan?” protes Izzah tanpa menatap wajah gundah ibunya.


“Kamu itu, Nduk. Kamu anak ibu, ya pasti sudah ibu doakan setiap hari, to,” pungkas Aisyah.


Izzah hanya terkekeh melihat reaksi ibunya yang sengaja ia goda.


Izzah tersenyum, lalu mencium tangan ibunya yang melekat di pipinya. Saat-saat inilah yang selalu Izzah rindukan ketika di pondok. Di waktu kesendirian tanpa seorang tempat sandaran, hatinya selalu rindu akan sosok ibu di sampingnya, yang selalu menenangkan hati dan meneduhkan fikirannya.


***


Akhirnya, seminggu telah berlalu. Liburan pondok yang hanya sepuluh hari itu telah selesai. Semua santri akan kembali ke pesantren di satu hari sebelum awal ngaji dimulai, tak terkecuali Izzah. Itu sudah aturan. Jika dilanggar, akan mendapat pertanyaan detail dari Bu Nyai Khodijah.


“Ngopo wae ning omah, to, Mbak? Opo kurang akeh hari libure? Opo iseh pengin ngempeng karo mamak-e?”


Begitulah kalimat yang sering Izzah dengar saat baru jadi santri anyaran dulu, karena datang ke pondok di waktu hari mulai pembukaan pengajian. Maklum saja, santri baru yang tentu belum merasakan betah di tempat baru. Belum lagi membayangkan sosok ibu yang biasanya berada di sampingnya.

__ADS_1


Padahal, ini bukan kali pertama Izzah mondok di pesantren. Sebelumnya, ia sudah merasakan enam tahun di pondok juga saat masih sekolah dulu. Hanya saja, tempatnya mondok masih berada di satu daerah, sehingga ia bisa bolak balik ke rumahnya setiap istirahat atau pulang sekolah.


Sedangkan di pondok yang sekarang, baru ia merasakan jauhnya dari orang tua. Menjadi santri baru baginya adalah momen menyedihkan. Tapi sudah tidak untuk sekarang. Ia sudah menikmati rasa nano-nano yang terbiasa ia jalani.


“Wes siap, Nduk?” Pak Yusuf menengok Izzah yang masih di dalam kamar.


“Sudah, Pak,” sahut Izzah yang kemudian keluar dari kamarnya.


Ia hanya membawa tas kecil yang sebelumnya dibawa pulang. Jadi, tidak terlalu berat membawanya. Namun, ada dua kardus yang Izzah lihat di teras rumah. Dua kardus yang Izzah tidak tahu isinya itu dipindahkan ibunya, lalu dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Meski tidak tahu isinya, namun Izzah sudah menebak jika itu berisi makanan camilan, yang biasa orang tua bawakan ke pondok.


“Jangan lupa, dibagi-bagi ke semua temenmu, ya, Nduk.” Aisyah melirik putrinya sembari mengangkat satu kardus lagi ke dalam bagasi. “Yang ini, khusus buat kamu. Kalo ini, buat dibagi-bagi,” lanjutnya lagi menunjuk pada kedua kardus yang dipegangnya.


“Iya, Bu,” sahut Izzah meng-iyakan.


Izzah lalu bersiap masuk ke dalam mobil yang ternyata di dalam suda ada Nisa. “Loh, Adek gak sekolah?” tanyanya heran. Izzah mengira, adiknya itu sudah berangkat ke sekolah sejak tadi, karena tidak terlihat di matanya.


Nisa hanya tersenyum unjug gigi, sebelum akhirnya ia menyahut penuturan kakaknya, “Tadi ibu udah ijin ke Bu Shofi. Lagian, gak ada ulangan, kok.”


“Udah, yuk, berangkat!” Ibunya nampak masuk ke dalam mobil di jok depan, di samping Sang ayah. Sementara Izzah dan adiknya, duduk di jok belakang.


Hari ini, kedua orangtua Izzah sengaja menyempatkan waktu untuk datang ke pesantren Izzah menimba ilmu. Biasanya, jika hanya mengantar saja, paling hanya ayahnya. Namun pagi ini, semuanya ikut, termasuk Nisa—adiknya, yang biasanya dititipkan sementara saja ke bibinya karena tidak bisa meninggalkan pelajaran sekolahnya.


Kedua orangtua Izzah sengaja akan bersilaturahmi memenuhi panggilan Abah Yai dan Bu Nyai Khodijah yang dipesankan melalui putri mereka. Karena panggilan dari Ndalem, bukanlah panggilan sembarangan, yang tentu harus segera dipenuhi.


***

__ADS_1


Sesampainya di pesantren, Izzah sedikit terkejut. Ada pemandangan tak biasa yang ia rasakan, bahkan sejak awal masuk ke jalan dapur yang ia lalui saat baru masuk ke pondok. Dua mbak Ndalem yang tengah berada di dapur pondok putri, tiba-tiba menatapnya heran, bahkan tidak menyapa kedatangannya seperti biasa. Mereka lalu tersenyum setelah Izzah yang lebih dulu menyapanya.


Yang lebih mengherankan lagi, hampir seluruh mbak-mbak yang Izzah temui saat melewati jalan menuju kamarnya, menatap datar tanpa ekspresi juga ke arahnya. Pandangan mereka seperti sedang melihat santri baru. Lebih terkesan aneh. Hanya senyum hambar saja yang mereka lempar, mungkin karena demi menghormati kedatangan seorang ustadzah di pondok putri. Entah apa yang terjadi. Entah ada kejadian heboh apa, sehingga tatapan aneh Izzah dapatkan di hari pertama masuk ke pondok. (*)


__ADS_2