
“Eh, Mbak Izzah.”
Kedua santriwati yang sekamar dengan Izzah menyapa ramah dengan senyum secara bersamaan. Namun, keduanya langsung keluar kamar, saat Izzah baru masuk.
Tentu saja, Izzah yang masih terheran dengan suasana pondok hari ini, menjadi semakin kebingungan. Karena ternyata, teman sekamarnya pun bersikap tidak biasa.
“Mbak Inayah, ada apa?” Izzah memutuskan bertanya.
Bukannya mendapat jawaban, dua santriwati yang sempat menoleh ke arah Izzah hanya tersenyum simpul, sembari menjawab, “Gak papa, kok, Mbak.” Yang kemudian, keduanya berlalu meninggalkan kamar.
Tentu saja, hal itu justru menambah rasa kesal Izzah. Kenapa semua hanya menatap aneh dan menyeringai, tanpa menjelaskan alasannya. Mungkin ia lebih baik bertanya saja pada Syifa, dia pasti tahu dengan apa yang tengah terjadi di pondok ini. Namun, sejak kakinya menginjak di pintu pondok putri hingga ke kamar, gadis bertubuh bongsor itu masih belum terlihat wujudnya.
Kepalanya serasa sudah pusing, melihat suasana pondok yang berubah drastis tanpa Izzah tahu apa penyebabnya. Sudah bertanya pada satu persatu mbak yang ia temui di jalan, namun jawabannya tetap sama, “Gak ada apa-apa, Mbak.”
Izzah menghela nafas panjang, mencari celah sedikit untuk melonggarkan rongga dadanya yang terasa sempit. Tak berselang lama, wanita yang Izzah nanti-nanti, akhirnya datang juga. Syifa yang sudah Izzah pandang dari kejauhan kini menghampiri keberadaannya di balkon lantai dua, tempat favoritnya.
“Mbak Izzah, sampean baru datang, ta?” Belum saja langkahnya terhenti, Syifa sudah bertanya. Nafasnya nampak tersengal-sengal.
“Mbak Syifa, ada apa, to? Sampean kayak habis dikejar-kejar maling gitu, loh.” Izzah menghentikan sejenak pertanyaannya, karena melihat Syifa tengah mengatur nafas. “Mbak Syifa, ada apa sebenarnya, Mbak? Mbak-mbak di bawah, kok, pada aneh pas lihat aku datang?” Ia kembali bertanya, setelah terjeda beberapa saat, berharap bisa segera menjawab rasa penasarannya.
“Sampean belum denger, ta, Mbak?”
“Denger apa, Mbak Syif? Yang jelas, to. Jangan bikin aku nambah penasaran!” ujar Izzah meminta kejelasan.
“Bentar, to, Mbak. Aku ini habis dari Ndalem kidul. Gara-gara denger sampean datang, aku langsung lari ke sini,” sahut Syifa yang sudah nampak bisa mengatur nafas.
__ADS_1
Syifa memang habis berlari dari Ndalem selatan yang jarak perjalanannya sampai 50 meter. Kedatangan Izzah membuatnya terburu-buru, untuk berjalan lebih kencang. Syifa merasa, Izzah harus tahu kabar dari dirinya sebelum dia mendengar langsung dari gosip mbak-mbak yang nantinya bisa melemahkan hati Izzah kembali.
Izzah lalu duduk di anak tangga kecil di balkon, menghampiri Syifa yang sudah duduk sedari tadi. “Memangnya ada apa, sih, Mbak?” tanya Izzah dengan perasaan tenang. Sengaja, supaya tidak membuat Syifa khawatir padanya.
“Tapi, sampean tenang, ya, Mbak?”
Izzah semakin penasaran melihat ekspresi Syifa yang selalu memastikan kondisi hatinya. Sebenarnya kabar apa yang akan mbak Syifa sampaikan, sampai-sampai dirinya harus tenang dulu. Meski begitu, Izzah memberi kepastian bahwa ia sudah baik-baik saja.
“Kang Adnan dijodohkan Abah Yai sama mbak Shofa, Mbak.” Syifa menatap lekat Izzah sembari memegang tangannya agar benar-benar dia tenang saat mendengar kabar itu.
Syifa sangat tahu perasaan Izzah pada kang Adnan. Pria itu begitu sangat Izzah harapkan, meski pada akhirnya ia yang lebih dulu dijodohkan. Dan, Syifa pun tahu jika hati Izzah untuk kang Adnan masih sama. Untuk itulah, ia harus hati-hati dalam memberi kabar yang kurang mengenakan itu.
Izzah terdiam cukup lama setelah Syifa berucap memberitahu. Sejujurnya, Izzah memang sangat terkejut mendengarnya. Ia tidak menyangka, hal buruk yang pernah dibayangkannya, kini benar-benar akan menjadi nyata. Kang Adnan benar-benar dijodohkan dengan mbak Shofa, teman satu angkatan yang dikenal judes dan keras.
Namun, kabar itu Izzah dengar lagi di saat ini. Ia yakin, bahwa itu bukanlah kabar burung tanpa alasan. Karena perjodohan kang Adnan pun, adalah dari Abah Yai sendiri.
“Mbak Izzah.”
Seruan pelan Syifa membuyarkan lamunan Izzah. Tanpa sadar, satu tetes air turun dari ujung netranya, menandakan bahwa Izzah merasa sedih dengan apa yang baru saja ia dengar. Izzah lalu mengusap buliran mata dengan satu jarinya, lalu menatap wajah kekhawatiran Syifa yang terus menghunus bola matanya.
“Aku gak papa, Mbak.” Izzah tersenyum memastikan dirinya baik-baik saja.
Kini, rasa penasaran Izzah terjawab sudah. Meski ternyata, hal itu menambah rasa sesak yang mendadak bersarang di dadanya. Ada rasa tidak rela di dalam sana, karena wanita yang akan bersanding dengan kang Adnan adalah Shofa.
“Mbak Izzah,” seru Syifa lagi memastikan jika Izzah benar baik-baik saja. Pandangannya masih fokus menatap kedua netra Izzah yang kembali meneteskan air mata.
__ADS_1
“Aku gak papa, Mbak Syif,” jawab Izzah singkat. Sejurus kemudian, ia melanjutkan kalimatnya lagi setelah beranjak dari duduknya, lalu menatap pemandangan hamparan sawah dari balkon. “Aku sudah ikhlas sebenarnya, Mbak, jika ternyata aku gak jodoh sama kang Adnan. Mungkin, dia bukan yang terbaik buatku. Tapi, rasanya, kok, berat saat mendengar kang Adnan dijodohkan, apalagi itu dengan mbak Shofa. Rela gak rela, Mbak.” Izzah menyunggingkan senyum keterpaksaan.
“Emang kenapa, Mbak, kalo kang Adnan sama aku? Gak trima, to?”
Suara lantang yang hadir dari arah belakang itu menyentakan tubuh Izzah dan Syifa. Keduanya seketika menoleh ke sumber suara. Mengetahui siapa yang tiba-tiba datang, Izzah dan Syifa saling pandang karena rasa terkejut.
“Kenapa, to? Kaget liat aku datang ke sini, ya?”
Izzah dan Syifa masih bergeming tanpa bersuara. Keduanya masih menatap heran ke wanita berusia 21 tahun, yang tak lain adalah Shofa itu. Ada rasa bersalah dalam benak Izzah karena ucapannya tadi. Namun, mendengar nada bicara Shofa yang lebih ramah dari biasanya, ia menjadi sedikit lega. Setidaknya, Shofa tidak memasukkan ke hati atas ucapan yang harusnya tidak keluar dari bibirnya.
“Aku maklumi, kok, Mbak Zah. Sampean mesti gak trima, kalo kang Adnan ternyata dijodohkan sama aku. Iya, to? Secara, dia pacar sampean.” Shofa berujar dengan senyum menyeringai. “Tapi, jangan khawatir, Mbak. Walaupun aku ini memang judes, tapi aslinya hatiku lembut, kok. Apalagi sama calon suami dambaan, yo, pasti lebih lembut dari yang sampean bayangkan,” lanjutnya lagi dengan pancaran wajah bahagia.
Tentu saja, perjodohan yang tidak hanya menyedihkan hati Izzah, tetapi juga menyedihkan hati kang Adnan tentunya. Namun, hal itu justru menggembirakan hati Shofa. Karena, siapa yang tak ingin bersanding dengan kang Adnan, kang santri putra yang menjadi idola di pondok putri khususnya. Tetapi, seorang Shofa justru seolah bernasib mujur. Namanya secara mengejutkan disebut oleh Abah Yai untuk bersanding dengan kang Adnan.
Terlebih lagi, Shofa sudah cukup lama menyimpan rasa pada kang Adnan. Lebih tepatnya, saat awal terdengar gosip akan perjodohan dirinya dengan kang Adnan dua tahun lalu. Sayangnya, apa yang ia dengar seperti hanya angan-angan semu saja kala itu. Membuat harapannya seakan pupus. Namun, saat ini bayangan itu benar-benar akan menjadi nyata.
“Ya, syukurlah, Mbak. Aku ikut seneng, kalo sampean ternyata baik.” Syifa menimpali. Meski sebenarnya ia tidak setuju dengan perjodohan kang Adnan dengan Shofa, namun mau bagaimana lagi. Mau tidak mau, dirinya harus bisa legowo. “Jaga baik-baik itu kakandamu,” lanjut Syifa lagi dengan nada sewot.
“Yo, mesti, lah.” Begitu pula dengan Shofa.
Sementara Izzah, masih bergeming menatap kosong ke arah hamparan sawah milik Abah Yai di hadapannya. Letaknya di belakang pondok putri, yang akan bisa lebih terlihat jelas saat berada di balkon lantai dua. Ia seakan tak perduli dengan obrolan dari Syifa dan Shofa.
“Mbak Izzah, itu—.” Syifa menepuk lengan Izzah yang membelakangi dirinya. “Mbak Izzah, itu kang—?”
“Kang Adnan, ya?” Shofa memotong kalimat Syifa yang belum selesai. (*)
__ADS_1