Jodoh Untuk 'Izzah

Jodoh Untuk 'Izzah
Bab 8


__ADS_3

“Mana, Mbak Syif? Kang Adnan, ta?” Shofa menengok kanan kiri, memastikan kang santri yang disebut Syifa.


“Apa?! Bukan, lah,” sahut Syifa tegas. “Kang Adnan itu sekarang lagi sibuk merenung, Mbak Shofa. Merenungi nasib, karena akan bersanding sama sampean,” lanjutnya lagi dengan nada meledek.


“Apa, sih, Mbak Syifa? Iri bilang, Bos! Karena gak bisa bersanding dengan laki-laki tampan sepondok putra.” Shofa hanya melirik tajam, menandakan ia tidak terima dengan ujaran Syifa. Ia lalu berlalu meninggalkan Syifa yang nampak kesal padanya.


“Mbak Izzah, itu kang Farid, Mbak.” Syifa yang memang sedari tadi menyadari kehadiran kang Farid, terus menatap tanpa berkedip. Kang santri itu terlihat baru saja keluar dari arah dapur pondok putri. Seperti habis mengambil sesuatu di sana.


Izzah yang juga penasaran, ikut memandangi kang Farid yang sudah melangkah jauh dari area pondok putri. Tatapannya tak juga beralih hingga sosok kang Farid hilang dari pandangannya setelah tertelan bangunan rumah milik warga yang menghalangi.


“Keren banget iku, Mbak Izzah.” Syifa berucap tanpa menatap lawan bicaranya, karena terus memandangi sosok kang Farid yang sudah tak lagi terlihat.


“Apanya yang keren, Mbak Syif?” tanya Izzah dengan nada datar. Meski sebenarnya ia juga merasa terhipnotis dengan kehadiran kang Farid baru saja. Namun, ia lebih memilih menyimpan perasaannya dalam hati.


“Kang Farid itu, loh. Lebih keren dari kang Adnan malah, Mbak. Langkahnya, postur tubuhnya, tampilannya.” Syifa mendeskripsikan sosok kang Farid yang baru saja ia lihat dengan ekspresi kekaguman. Hatinya merasa tidak menyangka, kang Farid yang selama ini dianggap ngeri oleh mbak-mbak pondok putri, ternyata memiliki karisma yang begitu menawan. Padahal, ia hanya memandanginya dari kejauhan di balkon.


Di sela-sela obrolan ringan Izzah dan Syifa yang masih berlangsung, terdengar suara adzan Dzuhur yang seketika menghentikan percakapan keduanya. Mereka saling pandang, seperti tengah kebingungan.


Ya, suara lantunan adzan itulah yang mendadak mengejutkan Syifa dan Izzah. Lebih tepatnya, suara adzan yang mereka dengar adalah suara kang Adnan. Yang mendadak seakan menghentikan aliran darah Izzah. Namun, justru mengencangkan detakan di jantungnya.


Ah, pria itu masih belum bisa sirna dari bayangan Izzah. Dia justru seperti sedang memancing kehadirannya. Padahal, tidak biasanya kang Adnan melantunkan adzan di waktu Dzuhur. Jadwal dia biasanya shubuh dan maghrib.


“Sabar, Mbak Zah.” Syifa mengusap-usap punggung Izzah, menenangkannya selama adzan berlangsung.

__ADS_1


Izzah pun hanya menunduk, menahan rasa yang tidak bisa ia ekspresikan itu. Maklum saja. Suara emas kang Adnan yang sebelumnya menggembirakan hati Izzah, kini justru lebih terasa menjadi beban untuknya. Butuh waktu entah sampai kapan Izzah akan melupakan kang Adnan, sedangkan posisinya masih berada di pondok pesantren. Tentu, ia tidak bisa menghindari kehadiran kang Adnan meski melalui suara yang tak pernah absen ia dengar.


***


“Nduk, bapak sama ibu pamit, ya.”


Izzah mengangguk sembari menyalami kedua orang tuanya. Sebenarnya ada hal yang ingin Izzah tanyakan perihal yang dibicarakan di Ndalem, namun Izzah urungkan. Untuk saat ini, ia lebih baik pasrah saja dengan apa yang akan dilaluinya nanti.


“Oh, ya, Nduk. Persiapkan dirimu seminggu lagi, ya. Bapak dan Abah Yai sudah membicarakan ijab qobul kamu dengan kang Farid.”


‘Deg’


Seketika, degupan jantung Izzah berdetak sangat cepat. Baru saja ia berfikir untuk menghindari bayangan rencana perjodohannya, tetapi ayahnya sudah lebih dulu memberitahu. “Se-seminggu lagi, Pak?” tanya Izzah yang tidak bisa mengontrol rasa gugupnya.


Izzah hanya bisa bergeming menatap kedua orangtuanya yang nampak bersemangat dengan rencana pernikahan dirinya. Mungkin, mereka sudah melihat sosok kang Farid. Entah seperti apa dia, hingga bisa menghipnotis ayah dan ibunya secepat itu.


“Apa gak terlalu cepat, to, Pak, Bu? Seminggu lagi itu—,”


“Abah Yai yang sudah merencanakan, Nduk. Bapak hanya tinggal menjalankan saja.”


Seketika Izzah terdiam. Ayahnya benar. Ia tidak bisa lagi memprotes keputusan yang sudah diambil Abah Yai. Mau tidak mau, ia harus menjalani apa yang sudah menjadi tugasnya, yakni seorang santri yang harus manut gurunya.


Lima menit obrolan ringan Izzah dan orangtuanya berlalu, tiba-tiba datang seorang laki-laki dengan tampilan hem putih panjang dan sarung hitam motif bagian bawahnya, serta peci hitam melekat di kepalanya. Izzah yang tidak paham dengan sosok pria itu, hanya menatap heran, karena dia menghampiri kedua orangtuanya dengan santai.

__ADS_1


“Eh, kang Farid.”


Seketika Izzah terkejut, mendengar nada seruan Sang ayah yang menyebut nama pria itu. Ternyata, dia adalah sosok pria yang akan menjadi pendamping hidupnya nanti. Kang Farid Abdillah, kang santri yang sebenarnya masih asing di pandangan mata Izzah. Itulah kenapa ia tidak mengenal saat dia tiba-tiba menghampiri baru saja.


Dengan degupan jantung yang semakin kencang detakannya, Izzah menunduk seketika. Ia khawatir jika nantinya bertemu pandang dengan kang Farid. Matanya seperti belum siap menatap laki-laki yang dikenal angkuh itu.


“Kang Farid ganteng juga, ya, Nduk.”


Bisikan lirih ibunya mendadak membulatkan bola mata Izzah. Ia semakin gugup untuk bersikap di depan calon suaminya itu. Antara malu dan takut. “Ibu,” protesnya lirih.


“Ya sudah, Nduk, Bapak sama ibu pamit, ya.”


Kalimat pamit dari Sang ayah untuk kedua kalinya, membuyarkan lamunan Izzah. “I-iya, Pak, Bu.” Nada gugupnya begitu jelas Izzah ucapkan, membuatnya merasa semakin malu di depan kang Farid. “Hati-hati,” ucapnya lagi melanjutkan. “Ini, juga. Sekolah yang bener, ya, Nduk.” Izzah lalu mengusap kasar rambut adik perempuannya yang terbalut jilbab berwarna hijau tosca.


“Iya, Pak, Bu. Hati-hati di jalan.”


Lagi-lagi, nada suara kang Farid mendebarkan jantung Izzah untuk ke sekian kalinya. Nada itu terdengar begitu lembut dan ramah. Sama sekali jauh dari kata orang tentang sifat tak baik yang kang Farid miliki. Namun tetap saja, penilaian orang terdekat juga penting didengarkan. Ia masih lebih percaya dengan kata orang.


“Mari, Mbak Izzah, saya duluan.” Kang Farid lalu berpamitan pada Izzah. Kali ini, nada itu terdengar datar. Dia berucap tanpa menatap wanita yang akan menjadi istrinya itu.


Bibir Izzah yang masih bergeming, seolah terkunci untuk menjawab kalimat dari kang Farid. Ia benar-benar menjadi kaku dibuatnya. Namun, Izzah tetap mengangguk tanpa menatap sosok kang Farid yang sudah melangkah cukup jauh.


Setelah merasa kang Farid tidak lagi terlihat di pandangannya, Izzah langsung menghempaskan nafas kasar. Merasa lega, karena bisa kembali mengatur nafas yang seperti sesak. Bergegas, ia berlari kembali menuju pondok putri yang berjarak 30 meter dari jalan tempatnya berdiri.

__ADS_1


“Keren, sih. Tapi, dingin kayak es. Benar kata orang, dia angkuh,” gumam Izzah yang kemudian berbalik arah lalu melangkah menuju pondok putri. (*)


__ADS_2