
“Nduk, kamu mau kemana?”
Kedatangan ibu memecahkan suasana hening Izzah di dalam kamarnya. Ia memang sudah bersiap akan pergi. Dengan tampilan atasan panjang berwarna putih, serta bawahan sarung bermotif batik tuban, dengan jilbab biru muda yang senada dengan warna sarungnya. Rencana yang sudah ia niatkan sejak malam, kini akan terlaksana.
“Izzah mau ke pondok lagi, Bu,” sahut Izzah sambil memperbaiki jilbabnya.
Sejujurnya, hati Izzah merasa kecewa dengan sikap ibunya yang tidak bisa mengerti akan kondisinya. Andai ia bisa meminta, mungkin dirinya juga tidak mau menolak lamaran kang Adnan. Akan tetapi, pengabdiannya sebagai murid sekaligus santri di pondok, juga tidak bisa mengabaikan pesan gurunya begitu saja. Abah Yai Luthfi bukanlah orang sembarangan. Dia lah guru sekaligus orang tua yang pantas Izzah hormati sama seperti kedua orang tuanya.
“Kok, cuman sebentar di rumah, Nduk?”
Nampak, ibu sudah duduk di tepi ranjang Izzah yang tertata rapi. Namun, Izzah masih fokus dengan aktifitasnya sendiri.
“Nduk, ibu minta maaf, yo, sama sikap ibu semalam.”
Izzah belum menanggapi ucapan ibunya, namun ia masih mendengarkan dengan seksama. Kalimat permintaan maaf itu setidaknya akan menjadi awal obrolan yang baik.
“Ibu cuman bingung, Nduk. Gimana kalo kang Adnan datang lagi, dan meminta kepastian. Besok atau lusa, dia pasti balik ke sini. Apalagi kemarin dia serius melamar kamu.”
Perlahan, Izzah menghampiri ibunya. Ia menatap sayu wajah teduh ibu yang sudah mulai berkeriput. Namun, ia belum bisa menjawab apapun. Hanya mendengarkan dari jarak lebih dekat. Karena Izzah merasa, kalimat ibunya masih belum selesai terucap semua.
“Tapi, Nduk. Semua memang tergantung keputusan kamu. Ibu tetap menghargai. Kalo kamu lebih menerima laki-laki yang Abah Yai jodohkan, ibu sudah ridho. Dan, ibu akan merestui,” ucap ibu lagi melanjutkan.
Dan kali ini, Izzah bisa bernafas lega. Kalimat terakhir itulah yang ia harapkan. Izzah lalu tersenyum dan memeluk ibunya.
“Bu, do’akan saja Izzah, supaya yang dipilhkan Abah Yai memang benar terbaik untuk Izzah. Hanya itu yang saat ini Izzah harapkan.”
Meski dirinya belum menerima penuh kang Farid sebagai pendamping hidupnya nanti, namun Izzah tak kuasa berkata jujur soal apa yang ia rasakan pada ibunya. Andai dia tahu, bukan hanya dirinya yang merasa sakit, ibunya juga pasti tidak rela jika tahu putrinya menerima karena rasa terpaksa. Izzah tidak ingin memperpanjang drama hidupnya.
“Kamu gak berangkat ke pondok sekarang, to, Nduk?” Ibu memastikan kembali rencana Izzah.
Karena hari ini hari ayahnya tengah bekerja, tentu tidak bisa mengantarkan putrinya ke pondok dengan posisi jarak yang jauh. Sementara ibunya pun tidak akan rela melepas Izzah begitu saja untuk berangkat ke pondok sendiri.
__ADS_1
“Enggak, Bu. Izzah gak kemana-mana, kok. Tadi, emang mau pergi, tapi niat pergi ke rumah Nayla,” sahut Izzah dengan candaannya.
“Oalah, Nduk. Kamu bohongin ibu, to.” Ibu pun terkekeh menanggapi candaan putrinya.
***
‘Ting’
Terdengar bunyi ponsel yang cukup nyaring. Letak benda itu tidak terlalu jauh dengan Izzah, hanya setengah meter saja. Namun, Izzah yang tengah beraktifitas rutin setelah magrib, tidak menyadari bunyi ponselnya. Ia sibuk dengan lanjutan hafalan yang harus dideresnya setiap hari.
“Mbak Izzah, itu hapenya bunyi.”
Izzah menoleh ke arah Nisa—adik perempuannya yang berusia sembilan tahun, namun dengan bibir yang masih bergerak berkomat-kamit. Hanya menganggukkan kepala saja, tanda ia mendengarkan.
Sejak mondok di pesantren, Izzah memang tidak terlalu mementingkan ponsel. Baginya, benda itu hanya sekedar hiburan semata saat waktu luang, itupun hanya bisa ia nikmati ketika masa liburan saja di rumah. Sedangkan di pondok, tidak mungkin. Akan ada sanksi besar jika seorang santri putri ketahuan membawa ponsel.
Bahkan, meski sudah di rumah pun, ia masih tidak perduli dengan keberadaan ponselnya. Benda itu, lebih sering dipakai adiknya untuk menonton video YouTube.
Izzah yang terheran, bergegas meraih ponsel dari atas kasurnya. Dilihatnya sebuah nama yang memanggil, ‘Kang Adnan’. Panggilan itu tidak langsung Izzah angkat. Karena rencana Izzah memang akan menghindari kang Adnan mulai dari sekarang. Dengan begitu, sosok wajah kang Adnan pasti akan hilang secara perlahan.
Namun, panggilan itu masih belum berakhir. Dua kali sudah panggilan kang Adnan masuk.
“Halo, Assalaamualaikum ....” Izzah akhirnya mengangkat, setelah panggilan masuk yang ke tiga kalinya.
“Wa’alaikumussalaam ... Alhamdulillaah, akhirnya diangkat juga, Mbak Izzah.”
Terdengar lembut suara kang Adnan di seberang telepon, membuat degupan jantung Izzah kembali berlomba berdetak.
“Sampean di rumah, to, Mbak?” tanya kang Adnan memastikan.
“I-iya, Kang. Kenapa, ya?”
__ADS_1
“Syukurlah. Gak papa, Mbak. Tadi saya kirim pesan ke sampean, tapi ndak dibales, jadi saya langsung nelepon saja. Maaf , ya, Mbak, barangkali ganggu sampean.”
“Oh, iya, Kang. Gak papa.”
“Ya, sudah, Mbak. Cuman itu saja. Assalaamu’alaikum ....”
Panggilan itu tertutup setelah Izzah menjawab salam akhir kang Adnan. Namun, setelah panggilan dari kang Adnan itu, Izzah justru melamun. Hanya merasa heran. Kenapa kang Adnan menanyakan keberadaan dirinya di rumah atau tidak. Ada apa?
Ia lalu membuka pesan WhatsApp dari kang Adnan, membaca isinya yang belum Izzah ketahui.
[Mbak Izzah, lagi di rumah, to?]
Hanya itu isinya, sama dengan pertanyaan kang Adnan di telepon. Namun Izzah masih bertanya-tanya, kenapa kang Adnan menanyakan keberadaannya, seolah dia sedang membutuhkan jawaban pastinya saat ini.
“Nduk.”
Izzah tersentak saat sebuah tangan menepuk pundaknya tiba-tiba. “Astaghfirullooh ..., Bapak,” ucapnya gugup.
“Lah, kamu kenapa, Nduk? Bapak panggil sampe tiga kali kamu masih diem saja, loh.”
“Masa, sih, Pak?” Izzah terkejut tentunya.
Karena sejak tadi, fikirannya hanya tertuju pada sosok kang Adnan saja. Rencana untuk menghindar dari dia, kini kembali terasa berat.
“Ada tamu, Nduk,” ucap ayahnya lirih. Namun, wajahnya datar, lebih terlihat gelisah.
“Siapa, Pak?” Izzah hanya menatap ayahnya ingin tahu.
“Izzah.” Kini, tinggal ibunya yang datang ke kamarnya, lalu menatap lekat putrinya. “Kang Adnan datang,” lanjutnya lagi menjelaskan.
Seketika, Izzah gugup. Degupan jantungnya kembali berlomba-lomba untuk berdetak. Entah kenapa, saat mendengar nama kang Adnan disebut, hatinya berkecamuk, Antara bahagia dan bingung.
__ADS_1
“Kang Adnan datang sama keluarganya, Nduk,” timpal ayahnya menegaskan. (*)