
Pagi ini, Izzah memutuskan untuk pulang ke rumah, menjalankan pesan yang kang Adnan sampaikan kemarin. Tadinya, ia berniat liburan di pondok untuk mencari ketenangan. Akan tetapi, di sini pun ternyata banyak yang tidak pulang. Sehingga sedikit menambah beban dalam otaknya. Juga karena pesan kang Adnan yang membuatnya tidak tenang.
Sejak awal liburan, Izzah memang jarang sekali turun ke lantai bawah, selain jika ada kepentingan saja. Terlebih lagi, karena kondisinya yang tengah datang bulan, membuatnya tidak mengikuti sholat berjamaah di mushola di lantai bawah. Itulah kenapa ia tidak tahu siapa-siapa saja yang masih tinggal di pondok.
“Sampean jadi pulang, Mbak?” Syifa yang baru saja naik ke lantai atas, menghampiri Izzah yang nampak tengah beberes di kamarnya.
Kamar Syifa sebenarnya berada di lantai bawah, tepatnya di kamar An-Nur yang letaknya berada di samping tangga berbatas dengan jendela kaca. Hanya saja, sejak dekat dengan Izzah dua tahun lalu, ia lebih sering pergi ke lantai atas untuk sekedar mengobrol dengan Izzah, atau menemani hafalan. Terlebih lagi, karena usia keduanya terbilang seumuran, jadi sudah seperti sahabat yang bisa saling memahami.
“Iyo, Mbak. Barangkali ada yang penting di rumah,” jawab Izzah.
Raut wajahnya masih sendu, namun sedikit lebih tenang. Setelah bermunajat malam, setidaknya hatinya lebih bisa meredakan emosinya. Tidak lagi seperti kemarin. Rasa sedihnya pun mulai berkurang.
“Ikhlas, ya, Mbak? Jangan nangis lagi!” titah Syifa menyarankan dengan nada candaan khas seperti biasanya.
“Aku kalo gak jadi sama kang Adnan, sebenarnya gak papa, Mbak Syif.” Izzah menjeda ucapannya, lalu menatap lekat teman yang kini duduk manis di hadapannya. Sejurus kemudian, ucapan itu berlanjut. “Tapi—,”
“Tapi, masalahnya karena sama kang Farid itu. Ya, kan?” Syifa tiba-tiba nyeletuk memotong kalimat Izzah yang belum selesai.
Seketika, bibir Izzah merekah dengan manisnya, yang berlanjut dengan tertawa terkekeh. Ia merasa terhibur dengan perkataan Syifa yang sebenarnya menggodanya. Tapi, memang betul apa yang dikatakan Syifa. Izzah sudah mulai rela jika dirinya tidak berjodoh dengan kang Adnan. Akan tetapi, yang menambah beban fikirannya adalah bayangan kang Farid yang kini menari-nari di otaknya.
Pengurus pondok putra yang lebih sering disebut lurah killer itu menciutkan niatnya sebelum bertindak. Wajahnya yang nampak tegas, dengan alis tebal yang bertengger di atas kelopak matanya. Baru dibayangkan saja sudah menggetarkan tubuh Izzah, merasa bergidik ngeri.
__ADS_1
Syifa yang sedari tadi mendengarkan dengan seksama tutur kata Izzah, seketika tertawa terkekeh. Harusnya ia bisa merasakan kesedihan Izzah. Namun, apa yang Izzah ceritakan membuatnya tidak bisa menahan tawa.
Seorang kang Farid Jamal memang hanya terkenal keangkuhannya. Entah benar atau tidak, tapi memang sebagian santriwati yang pernah berpapasan dengan kang Farid, membenarkan semua itu. Sementara Izzah, ia hanya sekali saja bertemu pandang tanpa sengaja dengan kang Farid. Jadi, wajah khasnya itu sudah cukup ia ketahui, namun tidak untuk karakternya.
“Sudah, to, Mbak! Mbak-mbak yang dijodohkan sama Abah, itu emang asli sukses, loh, Mbak. Gak sembarangan.” Meski Syifa sendiri merasa tidak kuasa jika berada di posisi Izzah, namun ia sebagai teman tetap menenangkan hati sahabatnya itu.
Izzah hanya tersenyum menanggapi akhir kata godaan dari Syifa, sebelum akhirnya ia memeluk erat tubuh bongsor temannya itu. Lalu mencium pipinya yang chubby karena rasa gemas dan sebagai bentuk rasa terima kasihnya. Karena selama ini, hanya Syifa lah yang selalu ada di sisi Izzah di berbagai kondisi.
“Sampean sudah pamit Ummi, Mbak?”
Izzah hanya menggeleng. Rencananya memang mendadak saja, karena tadinya sudah merasa nyaman di sini. Namun, pesan kang Adnan juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Setidaknya, mungkin ia akan merasa lebih tenang dengan sepatah dua patah kata dari bapak di rumahnya, seperti yang biasa ia dengarkan saat diberi wejangan.
“Tolong sampekan sama mbak Rahma, ya, Mbak, kalo aku mau pamit Ummi.” Izzah meminta tolong agar Syifa menyampaikan pesan pada mbak Rahma—mbak Ndalem Utara—santri putri yang mengabdikan diri untuk Ndalem selain kegiatan mengaji.
Pun juga harus pamit pada Ummi Ndalem selatan setelah ini. Di sana, ada Bu Nyai Aisyah yang merupakan istri kedua dari Abah Yai Luthfi. Juga ada mbak Ndalem yang bertugas di sana. Baik Ummi Khodijah ataupun Ummi Aisyah, keduanya sama-sama berperan penuh dalam kemaslahatan pondok.
Bergegas, Syifa turun lagi ke lantai bawah untuk segera menuju Ndalem menemui mbak Rahma. Disusul pula oleh Izzah beberapa menit setelahnya. Tak berselang lama, Syifa kembali menemui Izzah yang sudah duduk di anak tangga menunggu panggilan.
“Sebentar lagi katanya, Mbak,” ucap Syifa sambil melangkah menghampiri Izzah.
Izzah pun mengangguk pelan. Seperti biasa, saat sudah meminta ijin pada mbak Ndalem pun, santriwati harus menunggu terlebih dahulu sampai mbak Ndalem kembali memanggil untuk mempersilakannya masuk.
__ADS_1
Namun kali ini, Izzah tidak terlalu menunggu lama. Nampak mbak Rahma dari kejauhan sudah memberi kode pada Izzah agar segera masuk saja. Dengan langkah cepat, Izzah berjalan menuju Ndalem dan langsung duduk menempati tempat di dekat pintu.
“Sampean mau pulang, to, Mbak Izzah?”
Izzah yang sudah merasakan kedatangan Ummi pun hanya menjawab pendek, “Iya, Mi.”
“Bilang juga sama ibu dan bapakmu, ya, Mbak. Kapan-kapan, silaturahmi ke sini,” titah Ummi lembut.
‘Deg’
Mendadak seperti ada benda yang mengejutkan masuk ke rongga dada Izzah. Cukup terkejut, namun tetap santai menjawab dan meng-iyakan. Karena Izzah sudah menebak, jika Ummi meminta orang tuanya silaturahmi, menandakan akan ada sesuatu yang penting yang dibahas. Apa lagi jika bukan mengenai perjodohannya.
Cukup lama Izzah berada di Ndalem. Selain berpamitan, Ummi juga memberi banyak wejangan khusus untuk Izzah. Dan ternyata, apa yang tengah Izzah rasakan selama empat hari ini pun dibahas di dalamnya. Ummi seakan memiliki mata batin yang bisa membaca isi hati santrinya. Tanpa bercerita pun, Ummi seperti sudah mengetahui.
Tentu Izzah tidak terkejut. Ia sudah paham sejak lama, sejak awal masuk ke pondok ini. Justru dirinya yang merasa sedikit malu, karena ternyata kegundahannya selama ini sudah diketahui Ummi. Rasanya seperti santri yang tidak bisa mengamalkan ilmu tawakal dan ikhlas. Apalagi, posisinya yang seorang hafidzoh, yang harusnya menjadi contoh untuk yang lain.
Setengah jam berada di Ndalem, Izzah pun keluar. Ia melangkah kembali ke kamarnya, untuk berkemas menurunkan tas berisi pakaian. Hanya tas kecil saja, berisi dua baju serta jilbab untuk berganti sementara.
Sambil menunggu jemputan yang sudah Izzah hubungi sejak pagi, ia menghabiskan waktu berbincang dengan Syifa di dekat dapur pondok. Perbincangan ringan dengan gelak canda tawa seperti biasa.
Tak berselang lama, suara seorang laki-laki terdengar cukup lantang. “Mbak Izzah, dijemput!” Suara itu bersumber dari balik tembok yang mengelilingi area dapur dan halaman belakang.
__ADS_1
Biasanya, itu suara santri putra yang memberitahukan kepada santri putri, jika dijemput atau sedang ditunggu keluarganya di depan.
Mendengar itu, Izzah segera berlalu meninggalkan pondok setelah drama pelukan dengan Syifa selesai. Namun, saat Izzah melangkah ke keluar lewat pintu pagar dapur menuju jalan depan, ia melihat dari kejauhan pria yang tak asing di pandangannya. Dengan seksama, ia terus menatap hingga terlihat jelas wajah pria itu, yang tak lain adalah kang Adnan. Dia tengah berbincang dengan ayahnya, sambil sesekali terkekeh di sela-sela obrolan. (*)