
Claudia yang merasa tidak tertarik dengan pesan tersebut, langsung mematikan Handphonenya dan segera bersiap untuk tidur.
Keesokan hari Claudia terbangun, seperti biasa dia segera mandi dan bersiap sarapan dengan keluarganya.
Claudia berjalan ke arah meja makan dengan diam, sambil memperhatikan kedua orangtuanya yang sudah sedari tadi berada di sana.
Claudia duduk dan mengambil segelas jus jeruk berikut sandwich yang telah di siapkan oleh mamahnya mariam dan segera memakannya dengan diam. Claudia tidak berani bertanya mengenai kelanjutan kejadian semalam pada mereka berdua.
Dengan segera, Claudia menghabiskan makanannya dan bersiap untuk kembali ke kamar sampai di kejutkan dengan ayahnya yang berbicara
“Tanggal pertunanganmu sudah kami tentukan, kamu tidak ada pilian untuk menolaknya.”
Seru Surya sambil tetap membaca koran yang berada di tangannya.
Tentu saja Claudia terkejut, langsung saja Claudia menghampiri Papahnya dengan keterkejutan luar bisa.
“Pah…” Serunya memelas sembari masih tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
“Papah yakin dia anak yang baik nak, dia pasti akan mencintai dan menyayangimu. Papah tahu betul dengan om Tomi, pasti dia membesarkan putranya dengan baik. Papah yakin.” Jawab Surya dengan mengalihkan pandangannya ke putri sematawayangnya itu.
Claudia masih tidak percaya dan segera menghampiri Mariam untuk meminta pembelaan
“Mah, Claudia gak mau. Please.” Sambil menatap wajah mamahnya dengan penuh harap.
“Sayang, kami yakin dia yang terbaik untukmu.” Mariam sambil mengelus kepala anaknya.
“Kenapa sih papah dan mamah gak mau dengerin Claudia, Claudia gak mau pak, mah.” Serunya sambil berlari menuju kamar.
dengan dipenuhi rasa kesal, Claudia berpikir bagaimana caranya agar dia bisa menggagalkan pertunangannya ini.
dia segera melihat handphone dan menghubungi seseorang.
***
Waktu sudah menunjukan pukul 01.45 WIB, Claudia menuruni tangga dengan membawa sebuah koper besar yang di dalamnya telah berisi baju-baju dan semua keperluannya.
Claudia berjalan perlahan tapi pasti, sambil sesekali melihat sekelilingnya.
Di depan gerbang sudah ada Pak Nono sebagai petugas Security yang sedang berjaga di temani pak Tono di sampingnya.
Claudia memperhatikan sambil mencari cara agar mereka pergi dari tempatnya, tetapi sesaat kemudian mereka berjalan menuju samping gerbang sembari memperhatiakn apa ya terjadi di sana. Tentu saja Claudai tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut, segera saja dirinya keluar dari rumah melewati Pak Tono dan Pak Nono yang tidak memperhatikan kepergiannya.
__ADS_1
Sebuah kendaraan Lamborghini Huracan sudah terparkir tepat di samping rumahnya kemudian seseorang melambaikan tangan ke arah Caludia yang sedang berjalan cepat kearah mobilnya.
“Gila nekat banget loe.” Seru wanita yang sedang mengendarai kendaraannya tersebut dengan di barengi tawaya.
“Ya gimana gak nekat gue, yakali gue mau di suruh nikah sama orang yang gak jelas.” Serunya kepada Nadia.
Sebelumnya…
Di dalam kamar Claudia yang masih merasa kesal dengan orang tuanya, lantas berpikir bagaimana agar dia bisa menggagalkan perjodohan tersebut.
Claudia segera menghubungi temannya, tak lama terdengan suara jawaban di ujung telpon tersebut.
“Halo Laudi?” ucap wanita tersebut dari kejauhan.
“Halo Nadia, loe bisa bantu gue gak? Please.”
“Bantu apaan? Tumben banget”
“Loe malem ini bisa jemput gue gak? Jam 1 atau jam 2 an mungkin.” Tanya Claudia dengan ragu.
“Mau ngapain gue jemput loe di jam segitu? Ada apaan sih?” Nadia bertanya dengan heran.
“Hah perjodohan? Masih ada ya yang begituan”. Seru Nadia dengan Kaget lalu di lanjut dengan tertawa.
“Iya gitulah, makanya loe bisa gak jemput gue nanti malem?”
“Iya bisa, nanti gue kabarin kalo udah sampe rumah loe yah.”
Sekarang…
“Jadi apa rencana loe sekarang? Kalau mau, loe bisa tinggal di apartement gue.” Tanya Nadia
“Engga deh Nad, thank you. Lagian gak enak dong sama Lufti.” Jawab Claudia tanpa ragu.
Tentu saja Claudia akan menolak ajakan sahabatnya itu, bukan karna dia tidak menyukai tinggal bersama Nadia, tapi bagaimana mungkin dia akan menerima untuk tinggal disana jika ada kekasih sahabatnya tersebut yang juga tinggal disana.
“Gue mau tinggal di hotel aja, lagian pasti mereka akan segera membatalkan pertunangan ini dan minta gue balik lagi kerumah.” Ucap Claudia kembali dengan penuh keyakinan.
“Jadi loe mau nginep di mana?” Tanya nadia kembali
__ADS_1
“Anterin gue ke hotel H aja yaa.”
Sesampainya di sana, Claudia pergi dan tentu saja dia berterimakasih kepada sahabatnya tersebut dan meminta Nadia untuk merahasiakan dimana dia tinggal. Jika tidak begitu, tentu saja orang tuanya akan datang dan memaksanya untuk pulang.
***
Seperti biasa Mariam membuat sarapan dan Surya tentu saja duduk di meja makan dengan korang yang sedang di bacanya, tak lupa di temani oleh secangkir kopi penyemangat harinya.
Waktu sudah menunjukan pukul 10.00 pagi dan Claudia belum juga turun dari kamarnya.
Mariam akhirnya meminta salah satu pegawainya untuk membangunkan Claudia yang tentu saja segera di laksanakannya.
“Anu nyonya, non Claudia sudah tidak ada di kamarnya” segera Mbo Sumi menyampaikan setelah kembali ke ruang makan.
Marian tentu saja kaget dan dia memandang wajah suaminya yang di tatap kembali oleh Surya dengan penuh tanda tanya.
”Sudah cek di toiletnya mbok?.” Tanya Mariam.
“Sudah Nyonya, tapi tetap tidak ada.” Jawabnya.
Mariam segera mengecek kamar Claudia yang tentu saja kosong sesuai yang di katakan mbok Sumi.
Mariam mencari ke seluruh tempat tersebut tapi tidak menemukan apa-apa, sampai akhirnya Mariam mengecek lemari putrinya tersebut.
“Pah.. Papah..cepat kemari, cepat pah.” teriak Mariam.
Surya yang kaget dengan teriakan sang istri, segera saja menyusulnya untuk mengecek apa yang terjadi.
“Ada apa sih mah, teriak-teriak?” tanya Surya dengan heran.
“Lihat ini pah.” Pinta Mariam
Surya pun melihat selembar kertas putih dengan tulisan di atasnya, segera mengambil kertas dari tangan istrinya dan dia baca.
“Papah, mamah. Aku pergi dari rumah, aku gak mau di jodohkan dengan teman papah atau siapapun itu. Aku gak akan pulang sebelum kalian membatalkan pertunangan ini”
Surya membaca surat itu dengan diam, lalu tergurat raut kekecewaan di wajahnya. Masih tidak mengerti kenapa putrinya begitu tidak menginginkan perjodohan ini.
“Kita harus batalkan perjodohan ini pah, aku gak mau anaku diluar sana tidak jelas tinggal di mana, ini semua karna kamu terus saja memaksa perjodohan ini. Claudia anaku pah” ucap Mariam disertai tangisnya
“Kamu pikir dia hanya anakmu saja? Dia anaku juga mah. Mana mungkin aku memberikan jodoh yang buruk untuknya. Aku lakukan ini karna aku juga menyayanginya.” Jawab Surya sembari memeluk istrinya berusaha menenangkannya.
__ADS_1