Jodohku Adalah Pilihan Orangtuaku

Jodohku Adalah Pilihan Orangtuaku
Aku menyukainya


__ADS_3

Dari sudut kota Jakarta, malam hari masih tetap di banyak orang yang hilir mudik seakan tidak ada waktu istirahat bagi mereka.


Menikmati kesenangan yang di tawarkan oleh banyak tempat, salah satu penikmat malam ini adalah Alvaro Zidah Safford.


Dirinya terlihat sedang asik bercengkrama denga  teman-temannya di sebuah club malam, sembari asik bernostalgia karna dirinya sudah cukup lama tidak tinggal di Indonesia.


Malam ini Alvaro di temani oleh tiga sahabatnya, yaitu Nando, Dicky dan Rian.


Mereka sudah berteman sedari Sekolah Menengah Atas, cerita pertemuan mereka pun rupanya tidak kalah mengasikan. Dimana saat pertama kali masuk sekolah, mereka adalah tiga siswa yang pintar dan populer tetapi mereka saling bermusuhan. Mungkin gengsi yang merasa tidak ingin terkalahkan, hingga suatu ketika pada saat sekolah mengadakan perlombaan internasional, merekalah yang menjadi perwakilannya. Maka mau tidak mau mereka akhirnya menjadi satu kelompok dan membuat mereka saling mengenal satu sama lain.


Alvaro bercerita kepada ke tiga kawannya, jika dia sedang mencoba mendekati seorang perempuan.


“Bro, gue lagi suka sama seseorang, tapi gue gak tau siapa namanya, dia tinggal di mana dan kapan gue bisa ketemu lagi dengannya” ungkap Alvaro


Ketiga temannya sontak tertawa.


“loe ketemu perempuan jadi-jadian? Masa semuanya loe gak tau. Iya gak?” Jawab Nando sembari mengarahkan padangannya pada Rian dan Dicky.


Segera di jawab dengan anggukan oleh mereka berdua.


“Eh gue serius, gue ketemu dia di jalan. Gue gak sengaja nabrak dia sampe handphonenya jatoh”. Jawab Alvaro memberikan penjelasan.


“Susah juga kalo gitu, gak mungkin loe ketemu lagi sama tuh perempuan. Jakarta kan luas bro. Atau loe suruh orang aja buat cari tentang infonya” saran Rian.


Alvaro hanya terdiam tidak memberikan reaksi apa-apa atas saran yang di berikan.


Waktu telah berlalu dengan cepat hingga akhirnya mereka pun berpisah.


***


Ke-esokan hari Alvaro sudah bersiap untuk mengantar sang kaka Cindiyana untuk cek kontrol kehamilannya, segera di jemput sang kaka dari rumah dan langsung menuju rumah sakit tempat dokternya berada.


Alvaro dan Cindiyana duduk mengantri menunggu giliran, meraka duduk di deretan kursi yang telah di sediakan.

__ADS_1


Saat tiba waktunya pemeriksaan, Alvaro hanya mendengarkan apa yang dokter sampaikan, jika kondisi janin sang kaka baik-baik saja dan tidak lupa dokter tersebut menyampaikan untuk selalu menjaga kesehatan bagi sang ibu dan calon bayinya.


Setelah selesai pemeriksaan, ternyata ada obat yang tidak bisa langsung di ambil karna harus di pesan, maka itu Alvaro dan Cindiyana pulang dan berniat kembali lagi esok hari untuk mengambilnya.


***


Setelah pihak farmasi rumah sakit menginfokan, jika obat yang di pesan sudah datang dan bisa di ambil, Alvaro sendiri yang datanh untuk mengambilnya. Setelah itu, dirinya di kagetkan dengan sesosok perempuan yang begitu di kenalnya, karna hampir setiap hari selalu di ingatnya.


Ya, itu adalah perempuan yang telah lama di carinya, perempuan cantik yang di tabraknya. Sepertinya dia sedang bersama temannya, tapi karna Alvaro tidak ingin membuang-buang waktu segera di hampiri wanita itu.


“Hai ketemu lagi kita” Sapanya.


Perempuan itu menjawab sapaannya walau jelas terlihat raut kaget di wajahnya. Bagaimana tidak, jelas semua perempuan akan merasakan apa yang mungkin dia rasakan jika tiba-tiba seseorang menariknya dari belakang.


Akhirnya Alvaro mengetahui apa yang selama ini di carinya, yaitu mengetahui jika nama perempuan tersebut adalah Putri, begitu perempuan tersebut memperkenalkan diri. Serta dirinya bekerja di rumah sakit ini. Sungguh kebetulan yang luar biasa.


Tidak ingin melewatkan kesempatan ini, segera Alvaro menanyakan kapan Putri selesai kerja, karna ingin sekali dirinya mengantarnya.


Tapi Putri sepertinya belum mau langsung mempercayainya, tentu saja mana ada perempuan yang langsung mau begitu saja di antar oleh orang asing yang baru pertama di temuinya.


***


Alvaro yang masih tidak ingin menyerah, terus saja datang mencoba kembali tapi masih diterimanya jawaban yang sama.


Hari demi hari terlewati, Alvaro masih tetap setia datang untuk mencoba menjemput tapi masih tidak digubris olehnya. Yang ada malah beberapa wanita yang datang untuk mencoba ber-usaha mendekatinya.


Hingga satu minggu telah di lewatinya, Putri masih belum juga menerima tawarannya.


kemuadian pada suatu ketika, di sore hari yang cerah, angin bertiup lembur melewati pipinya dilihatnya seorang perempuan berjalan menghampirinya dan mengatakan jika dirinya bersedia untuk si antarnya pulang.


Alvaro merasa senang tentu saja, pengorbanannya selama satu minggu menunggu Putri menerima ajakannya akhirnya berhasil juga.


Akhirnya Putri mau menerima tawarannya untuk di antar pulang kerumahnya.

__ADS_1


Di hari yang sudah di janjikan, Alvaro menunggu seperti biasa hinggu waktu menunjukan untuk saatnya pulang kerja, raut wajahnya sudah tidak menentu seperti seseorang yang perasannya sudah tidak karuan antara perasaan gugup atau senang hingga tidak tau mana yang harus di tunjukan.


Selama di perjalanan Putri hanya diam dan sesekali menjawab pertanyaan yang Alvaro ajukan.


Di saat yang bersamaan, Alvaro juga merasa penasaran dengan alasan Putri tinggal di hotel tetapi sepertinya Putri tidak ingin teralu jauh membahasnya.


Sesampainya di sana, Alvaro mencoba menawarkan kembali untuk menjeputnya. Tetapi jawaban putri sunggu di luar perkiraannya.


Putri berpikir jika dirinya telah memili istri.


“Istri? Pacar aja gak punya. Apa lagi istir?” gumam Alvaro.


“Kenapan dia pikir gue punya istri.” Gumamnya lagi.  


Alvaro masih tidak habis pikir, bagaimana putri mengatakan jika dia telah memiliki istri.


Segera Alvaro mendatangi kakanya untuk bercerita, mereka memang sangat dekat sebagai adik dan kaka.


“Kak, tau kan kalo aku lagi suka sama seseorang.” Tanya Alvaro.


“Iya kaka tau, lalu kenapa?” tanya Cindiyana kembali.


“Kak, dia berpikir kalau aku sudah punya istri. Sepertinya dia melihat kaka dan beranggapan kaka istriku” jelas Alvaro sembari menyenderkan bahu ke kuris yang di tempatinya.


“Kok bisa? Kapan dia lihat kaka?” Cindiyana merasa terkejut.


“Sepertinya saat aku menemani kaka berobat ke dokter kandungan” gumam Alvaro.


“jika begitu, segera beri dia penjelasan.” Saran kak cindiyana.


Alvaro terdiam, dirinya seperti memikirkan sesuatu yang mesti di perbuatnya.


Dirinya rasa, Putri tidak akan langsung mempercayainya jika hanya menjelaskan tanpa buktinya.

__ADS_1


“Kak, mau langsung aku kenalin ke dia gak?” Tanya Alvaro, sembari bangun dari kursi dan menghadap Cindiyana.


Cindiyana hanya membalas pertanyaan Alvaro dengan anggukannya sembari tersenyum lembut ke arah adik tercintanya.


__ADS_2