
Ini sudah hari ke tujuh tetapi belum ada satu pun pesan dari orang tuanya, perasaan was-was sudah menghantuinya namun Claudia masih tetap teguh dengan pendiriannya untuk tidak pulang kerumah.
Uang cash seratus juta yang Claudia bawa pada saat keluar rumah sudah semakin berkurang atau bahkan sudah hampir habis.
Semua uang tersebut telah digunakan untuk membayar hotel H selama menginap, membeli makanan, baju-baju dan keperluan lainnya.
Bagaimana bisa sudah selama itu orangtuanya tidak mencari dimana keberadaannya.
Tentu saja ini adalah masa terberat bagi Claudia, tidak pernah terbayangkan olehnya yang seorang anak tunggal dari pemilik perusahaan PT. FOODSTAR, yaitu salah satu perusahaan terbesar di Indonesia.
Dimana yang biasanya dia tak perlu khawatir akan segala kebutuhannya, segala sesuatu selalu ada untuknya tanpa perlu berpikir berapa harga dari barang-barang yang diinginkan atau di kenakannya, lalu sekarang dia harus menghemat semua uang itu.
“Hemh aku sungguh bosan.” Gumamnya
Kemudian Claudia di kagetkan oleh suara bel pindu di kamar, pertanda ada seseorang di luar sana yang ingin menemuinya.
Sesaat di buka ternyata itu adalah Nadia dan Lutfi, sahabatnya serta kekasih sahabatnya.
“Hai, kirain siapa.” Seru Claudia sambil membukakan pintu untuk mereka.
“hoo emangnya loe lagi nunggu siapa?” tanya Nadia dengan ceriga.
“Ya engga ada juga sih.” Jawabnya sambil tertawa.
“engga bosen loe di sini terus, gak mau pulang emang. Om Surya atau Tante Mariam masih belum juga ngehubungin?” Nadia bertanya kembali sambil mengambil makanan dari kulkas.
Lutfi yang sedari tadi hanya diam mendengarkan mereka berdua, akhirnya merasa penasaran dengan pertanyaan yang Nadia ajukan pada Claudia.
“Eh, emang ada apaan sih ini?”
“Sayang, memangnya aku belum cerita ya?” Jawab Nadia.
“Belum sayang, kamu kan cuma bilang kalo Claudia pergi dari rumah, tapi gak bilang penyebabnya.” Lutfi menjawab sambil memeluk Nadia dari belakang punggungnya.
Claudia yang melihat kearahnya tentu sudah terbiasa dengan tingkah laku mereka.
“Ehem, kok gue gerah ya. AC nya nyalah loh padahal.”
Claudia berbicara sambil melirik kearah mereka berdua.
Lutfi segera melepaskan pelukannya dan duduk di sofa dengan di ikuti oleh Nadia.
“Lagian loe harusnya seneng dong bakal di jodohin sama orangtua loe, jadi loe gak akan kegerahan lagi liat kita berdua, iya kan sayang?” Ledek Nadia.
__ADS_1
Lutfi yang kaget mendengarnga langsung bertanya
“Loe mau di jodohin?”
“Iya.., makanya gue kabur dari rumah." Jawab Claudia menjelaskan.
“Wah gue jadi penasaran, siapa cowo yang yang di setujuin Om Surya buat jadi menantunya.” Lutfi menimpali.
“Kok kamu malah penasaran sih sayang, bukannya kasihan?” selidik Nadia merasa heran.
“Ya aku penasaran aja sayang, kamu tau sendiri waktu kuliah dulu, Claudia banyak yang deketin tapi gak ada satupun yang di setujuin sama Om Surya.”
“Terus inget gak waktu..” Lutfi melanjutkan kembali dengan berusaha mengingatnya
“Itu loh, siapa tuh yang setiap hari datang Cuma buat minta ijin om Surya, ngajak Claudia jalan?” tanya Lutfi kembali.
“Oh iya sayang aku inget, itu Devan sayang.” Timpal Nadia
“oh iya Devan. Kamu tau sendiri kan dia itu cowo ganteng sekampus yang dikejar sama semua cewe, termasuk kamu.” Lirik Lutfi ke arah Nadia.
“Ih kenapa juga loe ngebahas Devan sih.” Claudia merasa kesal atau mungkin rindu.
Devan adalah salah satu dari sekian banyak pria yang mendekatinya, tapi tidak ada satupun yang bisa mengambil hati papahnya. Padahal wajahnya tampan, prilakunya sopan dan juga dia adalah anak dari pemilik saham terbesar di kampus tempat Claudia kuliah. Tapi ayahnya tetap saja tidak menyetujuinya, sedangkan Claudia memiliki rasa padanya.
“yah intinya, gue penasaran. Seberapa hebat orang tua dari cowo yang mau di jodohin ke loe." Jawab Lutfi.
Karna teralu asik mereka bersama, tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 21.45 WIB, Nadia dan Lutfi pun pulang dari hotel tempat Claudia menginap.
Seperti biasa Claudia menonton televisi yang sebenarnya tidak pernah benar-benar dia tonton, itu hanya salah satu caranya untuk menghilangkam kebosanannya.
Kemudian Claudia keluar kamar menuju lobi hotel di bawahnya, berencana untuk datang ke restoran yang berada tepat di samping hotel nya berada.
Sambil berjalan, Claudia asik melihat status teman-temannya di ins***ram, lalu seketika di kagetkan oleh seorang pria yang menyenggol bahunya.
hal tersebut membuat handphone yang dia pegang, jatuh dari genggamannya. dan seketika Claudia melihat orang tersebut.
"Sorry.. sorry, gue gak sengaja" Pinta pria tersebut sambil mengambil handphone Claudia yang terjatuh.
Claudia hanya terdiam, terpesona oleh wajah tampan rupawan pria itu.
"girl, are you ok?" tanya pria tersebut keheranan, karna Claudia hanya diam dan tak menjawab pertanyaannya.
"oh maaf, tadi loe nanya apa?" Claudia tersadar dan dengan cepat mengambil handphone yang di berikan oleh pria itu.
__ADS_1
merasa malu akan tingkahnya, mungkin saja pria itu akan melihat pipi Claudia yang mungkin saja berwarna merah tomat.
"Iya, gue minta maaf. handphone loe gimana, ada masalah gak?" tanya pria itu.
Claudia segera mengecek dan semuanya masih berfungsi secara semestinya.
sebenarnya dia agak kecewa karna handphonenya baik-baik saja. padahal jika ada sesuatu yang salah, mungkin saja dia bisa meminta nomor kontak pria tersebut dengan alasan untuk bertanggung jawab.
"Aman kok" jawab Claudia cepat.
"baguslah, sekalilagi sorry yah" pria itu mengulangi permintaan maaf nya.
"it's okay" jawab Claudia.
kemudian mereka sama-sama saling bertatapan dengan diam sampai di kejutkan oleh seseorang yang memanggil dari ujung sebrang jalan.
"Al.. aku disini" seru wanita tersebut dari kejauhan.
membuat Claudia dan pria tersebut tersadar dan menoleh kearah suara itu datang.
pria tersebut segera menghampiri wanita itu, meninggalkan Claudia yang masih mengikuti kemana arah perginya.
"Hemh udah ada pacar toh" gumamnya
Claudia kembali melanjutkan perjalanan-nya menuju restoran yang sedari tadi ingin dia datangi.
sesampainya disana segera memesan semua makanan yang sudah Claudia pikirkan selama dalam perjalanan, tidak lupa memesan banyak makanan untuk di bawa pulang ke hotelnya.
sesaat setelah membayar, Claudia dikejutkan dengan sisa uang yang ada di dalam tasnya.
"Oh my god" serunya..
Sekali lagi Claudia Putri, seorang anak tunggal dari pemilik perusahaan PT. FOODSTAR, tersadar kembali dengan kondisi keuangannya.
sesampainya di hotel, segera dia hitung kembali sisa uang yang ada padanya, ternyata itu tidak lebih dari dua puluh juta.
"Ini hanya cukup untuk aku makan beberapa kali lagi" Gumam Claudia dengan panik.
"Okay, let's see. Kamar hotel udah gue booking buat dua minggu kedepan. berarti gue masih ada tempat tinggal. tapi tetep aja segini gak cukup buat makan gue selama tinggal disini." Claudia berusaha menenangkan diri walaupun sebenarnya dia sudah cukup panik.
"Gak bisa gini, gue mesti cari jalan keluar" Gumamnya
kemudian dia mengambil handphone dan mencari-cari pesan yang pernah dibacanya.
__ADS_1
"Ketemu" serunya dengan raut wajah gembira.