
Aku dan Erwin sedang duduk berhadapan, semua hidangan terbaik ada di depan kami berdua.
Dalam komplotannya bersama komplotanku masih tidak terlihat tanda-tanda perdamaian, kecurigaan dan kewaspadaan serta kebencian terasa menusuk. seperti apapun ke depannya, pertarungan yang sama harus dihindari demi keselamatan semuanya.
"Wajahmu terlalu serius untuk reunian kita yang kesekian kalinya."
"Reuni...? kita bahkan belum pernah bekerja dalam satu tugas yang sama."
"Ya, ya. kau terlalu kaku. dalam satu tugas mungkin belum pernah, tapi dalam satu bidang kita pernah. naif jika kau berpura-pura suci dan berniat menebus seluruh dosa yang tidak akan bisa terbalaskan."
Perkataan mendominasinya memang tidak salah, aku tidak bisa menyangkalnya.
"Lagipula aku masih heran. untuk apa kau melakukan semua sandiwara ini? mungkinkah pikiranmu begitu kacau sehingga ingin mengalihkannya ke yang lain. menyimpang dari sosok aslimu."
Erwin lanjut berkata begitu, dia tersenyum mencibir. berusaha untuk memprovokasi diriku, kah?
Ketika aku hendak membalas kata-katanya, sebuah pisau melesat di depan mata dan menancap di samping tangan kanan Erwin yang ada di atas meja. Kamu berdua menoleh ke arah sumber, ternyata itu dari Denra yang wajahnya terlihat begitu kesal, Ono memegang erat dirinya dengan Wawan.
__ADS_1
Para komplotan Erwin mengeluarkan senjata tajam dan api mereka masing-masing dan hendak menyerang, hal itu di hentikan oleh Erwin sendiri.
"Hentikan! ... kita masih belum berbicara lebih banyak, dan akan disayangkan untuk menghamburkan makanan. aku paham akan perkataanku yang menyinggung. tahanlah ... para pejuangku!"
Merasa tidak percaya bahwa Erwin mengatakannya dengan tegas kepada para komplotannya, mereka langsung tunduk mengikuti perintah. lalu dia mencabut pisau yang tertancap itu dan bercermin di sana, senyuman jahat sekilas terlihat.
"Perutku sudah lapar, bagaimana jika kita mulai makan terlebih dahulu?"
"Ya. bukan ide yang buruk."
Menghabiskan semua hidangan yang tersedia, Erwin sambil bercerita sedikit tentang kesulitannya akhir-akhir ini hingga tertawa sebentar, aku hanya mendengarkan saja dan tidak menjawab sampai selesai makan.
"Begitu, ya."
"Ya, itu benar-benar merepotkan. aku bahkan jadi menodai kesucian istrinya dihadapan suaminya hingga terkena mental. wajahnya yang begitu kaget dan frustrasi masih terbayang-bayang diingatkanku. Hahaha!"
Tertawa puas hingga dia terbatuk karena tersedak, dia memukul dadanya sendiri untuk meredakan.
__ADS_1
"Ahh~ maaf, aku terlalu berlebihan. tampangmu sampai terlihat muak begitu kepadaku. hohoo~!"
Sekalipun aku berusaha menyembunyikan emosiku dengan seluruh kemampuan terbaikku, tapi itu tidak benar-benar dapat disembunyikan dengan sepenuhnya.
Bahaya, tujuannya saat ini kemungkinan memancing diriku untuk memulai pertengkaran?
Melihat ke atas, menenangkan pikiran dan menghela nafas, ekspresi luarku kembali seperti sebelumnya. decihan kecil dari mulut Erwin terdengar samar, dia pasti kesal karena tidak berhasil memancing keluar emosi penuh yang aku kontrol.
Namun itu tidak berlangsung lama, senyuman jahat, mencibir yang penuh kecurigaan terpasang kembali diwajahnya. Dia memiliki rencana lain?
"Yahh, kau berhasil menahan diri, itu patut diapresiasi dan diberikan hadiah."
"Kau pikir aku membutuhkan sesuatu seperti itu?"
"Siapa yang menyangka begitu? aku akan tetap memberikan kau hadiah berupa ... ... kedua pasangan suami-istri itu bernama Faisal dan Viola. aku membunuh mereka setelah berbuat jahat yang merusak mental masing-masing."
Suara rendahnya tanpa perasaan bersalah, diakhiri dengan senyuman penuh yang memuakkan. aku ingin langsung memukul dan menghabisinya, tapi keadaan mengharuskan diriku untuk menahan keinginan begitu. orang yang tadi Erwin ceritakan merupakan seseorang yang pernah terikat denganku dalam suatu misi. aku tidak menyangka mereka berdua berakhir tragis di tangan Erwin?
__ADS_1