
Kafe tutup sekitar jam 20.30 malam, dan sekarang sudah jam 20.11 malam.
Hanya tinggal hitungan jari saja pelanggan yang masih menetap, kami menunggu mereka semua keluar untuk menutup kafe. Hari ini ada sebuah diskusi bersama seluruh karyawan, membahas tentang sebuah strategi pembalik ancaman, ada beberapa masalah yang harus diselesaikan.
Duduk di depan bar bersama 5 orang lainnya, Dio di dalam bar, sekitar 2 orang ada di dapur dan seorang lagi masih melayani pelanggan yaitu Zaidan, dia sangat aktif dengan wajah ramah penuh ceria.
"Sebentar lagi kita akan tutup, ya?"
"Hanya tinggal beberapa menit lagi saja."
"Aku memiliki firasat kurang baik dimenit-menit terakhir ini."
Wawan yang memulai pembicaraan, orang yang pertama kali menjawabnya adalah Raihan, dan sambung oleh Denra yang memegang dadanya dengan wajah seperti gelisah. usia mereka berdua (Raihan, Denra) berada di 30 tahunan.
"Tenang, jangan terlalu dikhawatirkan, masalah seperti ini harusnya sudah biasa untuk kita semua? biarkan takdir berjalan sesuai yang telah di tentukan, kita akan tetap kepada pendirian."
Aku berkata demikian ketika melihat Denra yang seperti itu. Denra mengangguk paham dan lebih santai.
"Sejujurnya aku bukan khawatir, tapi aku bingung."
"Bingung karena apa?"
Memberikan penjelasan, Aku mempertanyakan hal yang Denra maksud.
"... kalian tau, kan? ... aku, mungkin saja ... bisa mencabik-cabik mereka dengan brutal lagi seperti waktu itu? aku bingung akan seperti apa diriku kali ini dalam berurusan dengan mereka jika membangkang?"
Matanya yang melotot dengan tatapan kosong dan keringat dingin, membuat tekanan memaksa keheningan, lalu kembali membayangkan kejadian yang ia maksud.
Tepat 3 bulan yang lalu, seorang konglomerat datang ke kafe ini dengan pengawalnya, kurang lebih 20 orang berbadan besar-besar. itu bukan kali pertama mereka datang melainkan untuk yang ke 3 kalinya, menawarkan pengedaran narkotika dan alkohol di kafe ini.
Dalam kedatangan pertama, mereka menawarkan dan kami menolak lalu pergi menitip salam akan kembali. kedatangan kedua pun tidak beda jauh, tapi keuntungan yang dia berikan semakin meningkat, para gadis pun ditawari akan mereka berikan sebanyak mungkin. kami tetap menolaknya dengan baik namun tegas, mereka lalu pergi.
Surat pun ditinggalkan yang berisikan poto dan bukti diri kamu yang dulu memang terlibat ketika masih menjadi Mafia.
Tujuan mereka bukan hanya mengedarkan narkotika di kafe kami, lebih dari itu yang mengajak untuk bergabung dengan mereka dibisnis gelap, mereka benar-benar menginginkan kamu karena beberapa alasan yang masih belum terungkap seluruhnya.
Puncaknya ada di kedatangan ketiga, saat mereka mengatakan akan mengancam menggusur dan menghancurkan kafe ini, menyebarkan informasi diri kami semua kepada publik, itu sudah termasuk pelanggan dalam dunia Mafia. cara mereka memaksa kami melakukan perjanjian bisnis membuat rasa muak serta amarah yang terpendam bangkit.
Denra menjadi orang pertama yang menyerang mereka dari bodyguard paling besar dengan tangan kosong, ia meremukkan organ dalam tepatnya bagian jantung, lalu mengambil m7 untuk menyerang. pertempuran sengit pun terjadi hingga kamu terpaksa tutup 2 Minggu untuk menghilangkan jejak.
Meskipun kamu telah berhasil memojokkan mereka, bahkan membuatnya tidak bisa menyebarluaskan informasi data diri kamu yang dulu. Tapi rencananya si konglomerat bernama Erwin Vincent itu, akan datang malam ini.
Untuk itulah kami membuat rencana diskusi untuk menghindari korban jiwa lagi.
"... Seperti apapun dirimu, apapun yang akan kau lakukan, aku akan menahanmu agar tidak brutal kembali. kau percaya padaku, kan?"
Menepuk bahu Denra di sampingnya, Ono berkata begitu dan tersenyum meyakinkan. dia berusia 34 tahunan.
__ADS_1
"Tentu aku percaya, Ono."
"Begitulah seharusnya."
Balasan Denra membuat Ono senang dan menepuk bahunya lagi, kami terkecuali aku senyum sesaat.
"David."
"Ya?"
"Perempuan yang kau tolong siang tadi masih ada ditempatnya. keliatannya dia memiliki masalah."
Dio memberitahukan hal itu dengan pandangan ke arah perempuan yang di maksud, aku pun berbalik badan untuk melihatnya.
Benar saja. Seorang perempuan bernama Sasa Ziera yang sempat aku tolong masih ada seorang diri di sana. wajahnya terlihat sedang muram, bagaikan seseorang yang tidak tau caranya mengambil keputusan.
"Aku akan menemuinya."
"Sebisa mungkin biarkan dia bercerita."
"Aku mengerti."
Beranjak dari tempat duduk setelah berbicara dengan Dio.
"Kau mau kemana, David?"
Memberikan petunjuk dengan anggukan ke depan, Wawan langsung mengerti.
"Begitu, ya. semoga berhasil."
"Hati-hati memandangnya dengan serius, itu akan menakutinya."
"Benar, karena tatapanmu itu membuat lawan bicara bisa bergemetar jika tidak biasa."
"Kami akan memantau dari sini."
Aku mengacuhkan perkataan mereka dan berjalan mendekati Sasa. mereka yang lainnya memperhatikan dari belakang.
Melamun dengan tatapan kosong, dia menyangga pipinya. penuh kebimbangan yang sedang dia alami, apa mungkin dia butuh teman bicara?
"... Permisi. apa saya boleh ikut duduk?"
" ... !! ..."
Kaget, terlihat seperti itu saat aku berkata. badannya seketika langsung tegak sesaat, membenarkan kacamatanya dan menundukkan pandangannya.
"Y-y-yaa ... tentu."
__ADS_1
"Terimakasih!"
Duduk berhadapan di depannya, wajah yang terlihat lesu tadi sudah berubah menjadi gugup, aku menyimpulkan begitu. Keheningan sejenak tak dapat dibiarkan, aku berusaha untuk memulai pembicaraan dengan nada lembut.
Berpikir hal tersebut akan lebih membuatnya nyaman dalam berkomunikasi, mengambil nafas dalam merupakan hal pertama yang aku lakukan.
"Apa telah terjadi sesuatu kepadamu, nona? Kelihatannya ada kesulitan?"
Perlahan mulai melihat ke arahku dan memandangku, tubuhnya bergetar. aku berusaha untuk merubah sorotan mataku yang tajam, berhasil tapi tidak terlalu, hanya 40% saja masih terlihat seperti tatapan biasanya.
"S-Sasa saja."
Kembali menundukkan pandangan, aku paham maksudnya. penambahan kata "Nona" mungkin terlalu menganggu untuknya?
"Kalau begitu ... Sasa?"
"I-iya."
"Jika ada kesulitan jangan sungkan untuk bercerita, aku akan membantu."
"Tidak apa. tidak ada yang bisa aku ceritakan. maaf!"
Bohong dia berkata begitu, sejujurnya pasti dia sulit untuk mengungkapkannya kepada orang yang baru bertemu dan berkenalan tadi siang.
"Memikul semuanya sendiri pasti berat. tidak ada salahnya untuk meringankan sesuatu itu bersama. aku tidak akan macam-macam. melihatmu seorang diri sampai tengah malam begini membuatku khawatir."
"... ... maaf!"
Aku menjadi diam sejenak untuk berpikir, Sasa merasa bersalah dari ekspresi wajah sekaligus nada bicaranya. niatku hanya ingin membantu tapi, sepertinya dia beranggapan bahwa dirinya merepotkan?
Untuk menyelesaikan ini dengan baik, aku tidak bisa berkomunikasi dengan sudut pandang diriku saja, aku harus berpikir juga seperti dirinya.
Pengolahan dalam kosakata sebelum diutarakan menjadi poin penting, tipe orang sepertinya harus diperlakukan selembut mungkin. Ketika seseorang merasakan kenyamanan, maka tidak akan mengherankan jika sekedar berbagi cerita.
"Terkadang seseorang akan merasa lebih baikan ketika sudah bercerita. Aku bersedia mendengarkan semuanya jika kamu berkenan."
"... ..."
"... Pelan-pelan saja, aku akan menunggu di sini. lebih baik begitu, selagi kamu nyaman."
"... ... Kamu, yakin? Tidak keberatan jika aku ... Bercerita kepadamu?"
Dari matanya, ia meminta kepastian yang jelas dari semua perkataanku. Khawatir dan tidak enak, hal yang wajar untuk semua orang?
Membalasnya dengan mengangguk pelan, aku pun berkata dengan lembut.
"Dengan senang hati, aku tidak keberatan sedikitpun. Dunia akan lebih baik ketika dirimu tersenyum."
__ADS_1
Sedikit merayunya, aku mencoba merubah suasana hatinya terlebih dahulu agar tidak canggung. Dia pun langsung tersenyum manis dan agak tersipu.