
Sepertinya yang orang-orang sering katakan, "Waktu berjalan tak terasa, begitu cepat" dan tidak terasa, sudah 7 tahun berlalu sejak terjadinya sebuah tragedi paling mengenaskan dalam hidupku.
Karena tragedi itu juga, setiap malam selalu terbayang-bayang ke dalam mimpi. kobaran api dengan asap hitam tebal di depanku, orang-orang yang berteriak ketakutan, seluruh pakaianku yang hampir penuh dengan darah, berbagai mayat-mayat yang tergeletak di lantai ... semuanya selalu aku ingat dan terasa begitu nyata.
Aku tidak akan pernah bisa melupakan kejadian tersebut. Bersama dosa yang aku tanggung hingga saat ini, tidak mungkin bisa aku tebus. Sekalipun aku membantu banyak orang, sekalipun aku berubah menjadi lebih baik, dan sekalipun aku tak mengulanginya lagi, hal tersebut masih tidak cukup.
Saat pikiran dan mental ku sudah lelah, satu ide pikiran yang aku rasa sangat aneh terlintas begitu saja ... 'membuat cafe', suatu hal yang selama ini bertolakbelakang dengan kepribadian dan pekerjaanku.
Namun, dari ide aneh itu juga yang mendorong diriku untuk lebih berkeinginan memperbaiki diri dan menemukan tujuan hidup baru. akhirnya aku memutuskan membuatnya bersama teman-teman seperjuangan.
Awalnya mereka menolak mentah-mentah, setelah diskusi serius selama 5 hari berturut-turut ... merekapun setuju.
Ide tak biasa untuk membuat cafe, tidak pernah terbayangkan dapat menjadi kehidupan baru kami yang lebih baik. Belajar mengenai banyak hal, khususnya membuat kepuasan, kenyamanan, dan senyuman di wajah orang lain benar-benar membuatku merasa senang untuk pertama kalinya dalam hidupku. akhirnya aku melanjutkannya hingga saat ini.
Cafe yang aku dirikan ternyata menjadi terkenal, terlebih lagi dikalangan perempuan. aku melihatnya di media sosial, tangkapan mereka dominan positif, dan cafe kami mendapat gelar bintang 5 sebagai cafe favorit. Cafe Rembulan, aku yang memberi nama tersebut.
David, itu adalah panggilan dari nama lengkap ku, David Setyo. orang-orang mengenal ku sebagai manager di sebuah cafe, sebagiannya menganggap ku sebagai pelayan cafe, aku tidak masalah dengan keduanya.
Membuka toko di pagi hari pukul 6 sudah menjadi kebiasaan baruku, sejak 7 tahun yang lalu. menyapa dan merapihkan merupakan tugas umum yang pasti dilakukan. 10 karyawan di Cafe Rembulan ini, semuanya adalah teman seperjuangan dalam dunia gelap dulu, kami sudah pensiun.
25 tahun, merupakan usia yang masih muda untuk seorang lelaki sepertiku?
Hari ini hari kamis, pukul 11.26 adalah waktu saat ini, sebentar lagi tengah hari akan tiba? berbagai pelanggan sudah berdatangan meskipun belum terlalu ramai. ada orang tua, sepasang kekasih, pelajar SMA maupun SMK, dan ada juga yang sendiri. mereka sibuk dengan dunia masing-masing, begitu juga dengan aku yang sedang membersihkan gelas-gelas dengan sapu tangan.
"Hari ini seperti biasa, ya?"
"... Ya, tidak ada yang berubah."
Melihat sekeliling toko sejauh mata memandang, aku kemudian menjawab pertanyaan itu dari Zaidan di depanku yang baru saja meletakkan nampan bawaannya ke meja. ia baru kembali setelah memberikan pesanan pelanggan.
Zaidan adalah junior ku, orang yang paling humoris dan paling muda dari kami semua. penampilan luarnya dikatakan mirip, ia sudah meniru gayaku ketika cafe ini baru didirikan ... gaya rambut, pakaian, dan cara berjalan kami berdua sama, satu hal yang terlihat jelas berbeda yaitu nada bicara kami.
Nada bicaraku berat, sedangkan dia halus dan nyaring. Karena nada bicara dan tampangku yang dipadukan bisa menakuti pelanggan, aku sempat belajar kepadanya dalam teknis pernafasan suara halus agar bernada lembut dan berekspresi ramah. tapi tetap saja, aura mengintimidasi alami yang aku punya sejak lama tidak akan hilang seutuhnya.
Melanjutkan obrolan dengan duduk, posisi kami dipisahkan oleh bar, aku berada di dalam berdua dengan Dio yang membersihkan piring, ia lebih tua dari kami dengan usia 51 tahun.
"Rasanya ... keseharian begini sudah sangat melekat sampai-sampai, Gagak hitam yang tak pernah putih kini berubah menjadi putih."
Kata-kata isyarat dari Zaidan hanya dimengerti oleh kami. maksudnya, sisi gelap dan kejahatan yang kita lakukan tanpa ada kebaikan sedikitpun di dalamnya kini telah berbalik arah. Ya ... Roda kehidupan selalu berputar, sama seperti manusia dalam peribahasa.
Selagi masih bisa bernafas, tidak ada salahnya untuk kembali menjadi lebih baik walaupun sulit?
"Dari awal gagak juga tidak ingin dirinya hitam, tapi keadaan dan lingkungan yang membuatnya begitu. hingga takdir pun akhirnya merubahnya menjadi putih, karena usaha kerja kerasnya."
"Benar."
Dio menjadi yang pertama membalasnya, aku hanya mengangguk pelan dan berkata begitu.
"Faktor keadaan dan lingkungan memang suatu hal yang penting, ya? ... iya juga, sih. Tidak semuanya akan mampu membatasi dan mengeluarkan diri dari hal yang memaksa untuk melakukannya."
"Kesampingkan hal itu, apa kau tadi mendapatkan pesanan? aku melihatmu mengantongi sebuah kertas, apa itu pesanan khusus?"
"Ah, kertas itu? ... itu bukan kertas pesanan atau sejenisnya, kok."
"Lalu, apa?"
__ADS_1
Zaidan mencari kertas yang Dio maksud di dalam saku celananya sambil duduk, aku hanya diam memperhatikan dan kembali membersihkan gelas selanjutnya yang tersisa.
"Jeng-jeng! ... nomor telpon."
"Nomor telpon?"
Terdapat nomor di kertas yang ia tunjukkan, membuat Dio bingung termasuk aku. untuk apa?
"Ya-ya, benar. aku diberikan nomor telpon ini oleh perempuan cantik di sana."
Pandangannya mengarah ke orang yang dimaksud, kami berdua melihatnya. dari penampilan luarnya, ia terlihat seperti perempuan usia 35 tahunan yang awet muda. Zaidan bahkan memberikan lambaian tangan dengan senyum ramah, hal itu pun dibalas sebaliknya karena ia melihat ke arah kami.
"Dia perempuan yang cantik, bukan?"
Mereka saling pandang dan Zaidan menyangga setengah pipinya, menelengkan kepalanya.
"Iyaa ... keliatannya begitu." kata Dio.
"Dia tiba-tiba menghentikan ku ketika hendak kemari, lalu memberikan nomor telpon. jatuh cinta pada pandangan pertama ... pesona yang terpancarkan dariku pasti menembak ke hatinya."
Apanya yang pesona dari dirinya? penampilan luarnya meniru diriku, apa dia sudah lupa? Ya, meskipun seluruh pakaian pelayan saat ini semuanya memang sama, tapi secara kompleks penampilannya tersebut benar-benar seperti aku memiliki kembaran, wajah kami 10 - 12.
Kurasa diam adalah sesuatu yang harus aku lakukan, sambil memperhatikannya yang kali ini memberikan sebuah cium dari tangannya, cium tidak langsung jarak jauh. hal itu membuatku merasa jijik terlebih lagi saat si perempuan itu salah tingkah dan membalas cium tidak langsung darinya.
"Manisnya~ mungkin akhirnya takdir mempertemukan jodohku dengannya? Kami satu frekuensi, kurasa."
Menanggapi ocehannya sudah menjadi biasa, Dio hanya tersenyum tipis sambil menutup matanya dan menaruh piring-piring ke lemari di belakangku.
Tak selalu diam merupakan sikap terbaik, karena jika Zaidan dibiarkan berlanjut bisa berbahaya, aku memiliki firasat begitu. aku pun menegurnya dengan pelan.
"Aku tau itu, makanya malam ini kami sudah ada janji. Dia menulis alamatnya dibelakang tulisan nomornya. Espectacular!"
Aku sesaat mendengar senyum tawa kecil Dio di belakangku ketika dia membalas begitu dengan akhiran bahasa spanyol. Dan Zaidan baru sama melambaikan tangannya lagi dilanjut, say kiss good bye.
"Karena tingkahmu yang seperti itu, malam ini tidak diizinkan untuk memenuhi janji tersebut."
"Ehh..? yang benar saja?"
"Keputusan ini sudah mutlak. lagipula malam ini kita sudah ada rencana diskusi, apa kau lupa?"
"... ! ... Yahh, aku tau."
Wajah cerianya langsung berubah menjadi murung, ia terlihat kecewa dengan keputusanku dan menghela nafas. menaruh keningnya di antara tangannya di atas meja, kata-kata keluhannya pun keluar.
"Tidak~! aku gagal lagi bermain kucing-kucingan dengan perempuan cantik. ternyata ini sangat menyiksa dari kehidupan sebelumnya. aku telah salah berpikir ... aku rindu tidur di dua bantal khusus yang lebih lembut dari sutra. Aaa~"
Merengek nangis seperti anak kecil, aku tau dia sedang akting, ini bukan untuk pertama kalinya dia bersikap begini. aku bisa melihat dirinya yang diam-diam mengintip lalu kembali merengek berulangkali. Menghiraukannya dan berpura-pura tidak menyadari adalah pilihan terbaik, tak lama juga dia akan berhenti.
Disaat yang sama, Wawan datang meminta pesanan, ia seumuran dengan Dio.
"Ada yang memesan jus pasangan spesial dengan hamburger paket VIP. mereka juga meminta tambahan ceri di jusnya."
"Baiklah. Zaidan, daripada kau terus merengek begitu, sebaiknya bantu-bantu menyiapkan pesanan itu ke belakang bersama Dio."
Mengangguk paham, Dio langsung bergerak ke dapur belakang untuk membuat hamburger VIP. sementara, Zaidan tidak mendengarkan dan masih merengek, ia pura-pura tidak mengerti.
__ADS_1
"Zaidan, berhenti bercanda, kita ada pesanan. tugasmu hanya ke belakang mengambil ceri dan membuatnya di sini."
"... Padahal aku sudah menjadi lebih baik. apa tidak boleh bagiku untuk mendapatkan hadiah kecil seperti itu? Dua bantal, cukup dua bantal itu saja, aku ingin tiduran di sana."
Tangannya diangkat sejajar dadanya dengan lebar, wajahnya dibuat sedih bagaikan orang memohon, air matanya terlihat sangat palsu. Wawan di sampingnya yang melihat, memegang kedua tangan Zaidan dan meletakkannya ke dada besar yang kekar miliknya.
"Nih, hadiahnya, kan? Silahkan nikmati sepuasnya."
"Bukan yang itu!"
Menarik tangannya dengan cepat, ia terlihat kaget sedangkan Wawan tertawa. aku hanya menjadi pengamat.
"Jika kau bisa membuat pesanan 'jus pasangan spesial' dengan indah, aku akan membawamu malam ini ke tempat yang kau bayangkan. bagaimana?"
"Benarkah?!"
Kegirangan, aku bisa memastikan hal itu dari Zaidan saat ini. Ia mengusap air mata palsunya.
"Iya, jika kau berhasil ... malam nanti setelah diskusi kita selesai aku akan membawamu. David juga akan ikut."
"Uwahh!"
Seberapa besar rasa gembiranya sampai tersenyum lebar? beranjak dengan mata penuh semangat, ia pun memukul dan menempatkan tangan kanannya ke dada, bersikap gagah.
"Serahkan saja padaku! kepuasan pelanggan menjadi nomor satu!"
"Aku akan menunggunya."
Sebelum pergi ke belakang, ia sempat-sempatnya memberikan kedipan sebelah mata dan senyum kepada perempuan sebelumnya. aku menggeleng pelan dan memandang ke bawah, Wawan tertawa.
"Dia tidak pernah berubah"
"Begitulah, dia. Tapi, kau serius akan membawanya ke tempat begitu?"
"Tentu saja tidak. aku akan membawanya ke tempat bilyard."
Sudah aku duga, Wawan bukanlah tipe orang yang menepati ucapannya terkecuali dalam misi. Memanfaatkan kelemahan Zaidan saat ini pasti membuatnya puas hingga tertawa. Sejenak, setelah itu ... tatapan Wawan dan nadanya berubah menjadi serius ke suatu tempat.
"Hey, David! lihatlah ke arah sana."
Mengikuti perkataan Wawan, aku melihatnya ... aku melihat seorang perempuan kisaran 20 tahunan lebih sedang dikelilingi oleh gerombolan anak SMA. Mereka sedang tertawa dan si perempuan terlihat menunduk, pasti tertekan rasanya?
Menaruh gelas yang sedang aku bersihkan dengan lap, pandanganku tidak lepas ke arah mereka.
"Jika dibiarkan pasti akan terjadi sesuatu kepada perempuan itu. sekalipun mereka hanyalah kumpulan bocah tengik SMA, berurusan dengan mereka tentu akan merepotkan untuk seorang perempuan."
"Kau benar. Bar aku titipkan kepadamu. masalah ini biar aku yang menangani!"
"Dimengerti. Jangan terlalu berlebihan, David."
"Ya."
Berjalan perlahan ke arah mereka, aku tidak tau bagaimana wajahku saat ini? sebisa mungkin aku tidak ingin menunjukkan wajah serius yang bisa menakuti pelanggan lain.
...***...
__ADS_1