Jodohku Mafia 1000 Cerita

Jodohku Mafia 1000 Cerita
MONOLOG SASA ZIERA (3/END)


__ADS_3

Meskipun aku takut, tapi aku mencoba untuk menyaksikan adegan mereka berdua. perlahan aku melihat mereka sambil menutup telinga, nafas dan detak jantungku di luar batas normal.


Aku melihatnya, aku ... aku melihat betapa kerennya si pelayan itu mengatasinya, namun berubah sekejap karena ekspresinya yang bagiku seram, tatapannya tajam.


Pria SMA bernama Akmal melanjutkannya lagi, dengan Jab, upper, body, dan hook. serangannya kali ini di tahan saat hook, dan dibalas dengan tendangan ke betisnya, posisi pertahanannya roboh, tapi segera bangkit dengan perasaan penuh perasaan kesal dan amarah.


"Sialan~! berani-beraninya, berani-beraninya kau ... melakukan seperti ini kepadaku?!"


Amarahnya meledak, sementara si pelayan terlihat tidak berubah seperti biasanya, ia stabil dan tenang dengan tatapan mata tajam. beberapa dari yang menyaksikan ada yang malah bertaruhan dengan uang. pelayan-pelayan yang lain pun terlihat bersemangat sambil melakukan beberapa gerakan isyarat untuk memukulnya.


"Untuk apa saya, tidak berani? saya sudah memberikan peringatan!"


Akmal yang merasa diprovokasi melanjutkan serangannya.


1, 2 --> weaving, straight, mundur dan 1, 2 ... semuanya tak ada yang berhasil meraih si pelayan. lalu, ia meningkatkan agility dengan melakukan step jab, jab lagi, kemudian straight dan hook, terus straight.


"KENA KAU!"


Teriak dengan percaya diri, dia berusaha melakukan fake jab yang bertujuan mengincar kepala si pelayan, naif ... serangan itu tertahan dengan 2 jari kanan saja, hingga membuatnya kaget. si pelayan pun memberikan serangan balasan berupa tebasan tangan lurus ke bahu Akmal, membuatnya tersungkur ke bawah. Namun, sebelum ia benar-benar tersungkur, selangkangannya terkena tendangan lutut kaki dari si pelayan.


"... ! ... EUGHAHH!!"


Suara sakit yang Akmal terima dari hasil serangan balasan itu dan jatuh tersungkur ke lantai.


Seluruh pelayan yang ada dan beberapa pelanggan dari yang menyaksikan berteriak heboh dengan berekpresi puas disertai kaget.


"YEAAHH~!!" teriak mereka yang terhibur.


"Nice kick!" teriak pelayan.


"Pecah deh itu telur." kata pelayan lainnya, ekspresinya terlihat prihatin.


"Uhhh~!" kata mereka, termasuk aku yang merasa kasian, aku sampai menutup mata dengan tangan sebentar.


Setelah menerima kombinasi sempurna itu, tentu Akmal langsung setengah sadar sambil memegang area yang terkena dampak tersebut.


"Ahh~ itu miris sekali." kata Rio.


"Kasian, padahal masih muda, tapi masa depannya mungkin sudah hilang." kata Vicky.


"Aku juga jadi kasian kepadanya, tapi ini salahnya." kata Tristan.


Mereka memasang wajah memprihatinkan, mata mereka terlihat berair, dan entah mengapa ... mereka memegang, menutupi area yang sama dengan yang Akmal pegang.


Area yang dikatakan segitiga emasnya pria baru saja terkena serangan fatal. jika dalam pandangan sebagai Akmal, rasa sakit itu pasti akan terus terbayangkan. paling tidak, sampai ... 7 hari 7 malam. mimpi buruk akan selalu menghantuinya, khususnya tentang penyebab sakitnya itu.


Hanya pada satu titik serangan, tapi yang terlihat dari Akmal bagaimana seseorang yang 206 tulangnya remuk seketika. sebagian lelaki mungkin tau, atau dapat membayangkan sakitnya.


"... ... Twolhong ... A-- ... A- ... Akhuhh!"


Melihat dari cara bicara, nada, dan ekspresinya, dia pasti sangat menderita saat ini, kedua matanya ia tutup setelah mengatakan itu. si pelayan lalu membantu Akmal bangkit, dan menoleh kepada teman-temannya.

__ADS_1


"Kalian bertiga di sana."


"Hihh~!"


Mereka terkejut seakan-akan baru saja melihat syaitan, di siang hari? bahkan Rio dan Vicky sempat berpelukan, takut menjadi sasaran selanjutnya.


"K-Kami tidak ikut-ikutan. sungguh!"


"Y-yah~ dia bukan teman kami."


"Aku juga bahkan tidak mengenal dengan orang itu. kami hanya kebetulan bertemu untuk pertama kalinya."


Kebohongan yang mereka buat-buat itu, terlihat sangat jelas. Mereka ketakutan dan tidak ingin bernasib sama, si pelayan acuh tak acuh dengan balasan mereka.


"Tidak, kalian temannya, kan? ... bisa tolong bawa dia ke rumah sakit? berikan dia penanganan terbaik."


Semuanya kompak mengangguk paham dan langsung mendekat, mereka menopang Akmal bersama-sama.


Responsif mereka cepat sekali, sepertinya tidak ada alasan untuk menolak atau berpaling, daripada nantinya mendapatkan hal-hal mengerikan yang mereka bayangkan dan ingin dihindari.


Lalu, si pelayan itu tiba-tiba memegang dadanya dengan satu tangan dan menunduk kepalanya. bagaimanapun, ia terlihat merasa bersalah dan meminta maaf sambil memberikan hormat begitu.


"Saya benar-benar memohon maaf atas ketidaknyamanan yang sudah terjadi. saya harap, permohonan maaf saya dapat diterima."


Merenung, dia benar-benar merasa begitu.


"Tidak-tidak. justru kami yang harus meminta maaf atas keributan yang telah dilakukan oleh teman kami ini."


Vicky menyenggol dengan sikutnya kepada Rio yang berkata begitu.


"Diam lah, aku sedang panik saat ini!"


Tristan berinisiatif merangkul kepala mereka bertiga, ia yang paling tinggi dari mereka dan tangannya panjang sehingga mampu melakukannya. lalu, membuat kepala mereka semua termasuk dirinya, ikut menunduk dan meminta maaf.


"Kami memohon maaf dengan sangat penuh untuk kejadian ini. kami yang bersalah, dan terima kasih untuk kemurahan hatinya."


Si pelayan mengangkat pandangannya dan melihat ke arah mereka, iya tidak mempermasalahkan hal tersebut. mereka pun pergi meninggalkan cafe untuk membawa Akmal ke rumah sakit.


Pelanggan beserta pelayan yang menyaksikan menuai senyuman dan rasa respect hingga memberikan tepuk tangan. si pelayan melihat sekeliling, dan aku hanya memandangnya ... aku merasa terpana.


Rasa sakit di dada yang aku rasakan pun perlahan sudah reda, ada perasaan lain yang aku rasakan saat ini, aku kurang paham, tapi mungkinkah itu .....?


Tak lama, ia menoleh kepadaku dan berjalan menghampiri. aku yang kaget langsung menunduk, memalingkan pandangan ke bawah. Tapi, sepertinya pipiku sempat memerah merona, aku tidak bisa melihatnya secara langsung tanpa cermin.


"Apa kamu baik-baik saja?"


Pertanyaan dilontarkan kepadaku, mengangguk adalah hal pertama yang aku lakukan untuk menjawabnya.


"Syukurlah. jika kamu terluka atau butuh sesuatu, jangan sungkan untuk memanggil saya."


Aku mencoba melihat ke arahnya, ekspresi dan perkataannya itu seperti bertolakbelakang. bukan berarti aku mengatakan dia tidak tulus, sikapnya menunjukkan keseriusan dari mata yang membuat hatiku bergetar, aku takut.

__ADS_1


Jika di kesampingkan hal tersebut, dia sudah membantuku banyak, aku harus berterimakasih.


"Umm! ... ... T-terima kasih, tadi sangat membantu."


Berterimakasih kepadanya terlepas dari segalanya, aku rasa itu hal yang biasa ... tapi aku merasa malu dengan menggaruk pipi menggunakan jari telunjuk.


"Sama-sama. sudah menjadi tugas kami sebagai pelayan untuk memastikan kenyamanan pelanggan."


Berusaha memberikan senyuman, ia melakukan hal tersebut. tapi karena matanya yang selalu tajam di wajahnya menjadi agak menakutkan untukku, gangguan trauma yang aku punya memang merepotkan.


"... ... emm~ ... si-siapa namanya?"


"... kamu bertanya tentang nama saya?"


"Umm!" aku mengangguk.


"Saya David Setyo. panggil saja David."


"... Kak David?"


"David saja sudah cukup, tidak perlu tambahan 'kak', itu membuat saya lebih nyaman. Lagipula, umur kita sepertinya tidak beda jauh dari satu sampai ... tiga tahunan?"


Ya ... aku mengerti. dia pasti mengira begitu karena tinggi badanku. apa dia akan kaget jika aku mengatakan bahwa "Aku berusia 16 tahun", seperti itu?


Tapi kalau begitu, jika dipikir-pikir kembali ... mengapa kelompok pria SMA tadi berani menggodaku? ... harusnya mereka juga berpikir seperti David, yang menganggap aku dengannya hanya berbeda beberapa tahun. Apa tipe mereka semua adalah perempuan yang tinggi dan lebih dewasa? entahlah, aku tidak ingin terlalu memikirkannya.


Untuk membalas David, yang aku lakukan hanya kembali mengangguk pelan. Aku tidak berani mengatakan fakta sebenarnya, ini masalah trauma dan juga kami baru berjumpa.


"Kalau kamu sendiri ... bolehkah saya mengetahui namamu, nona~"


Aku kaget, kaget karena nada bicaranya bisa selembut itu. pipiku pasti memerah, aku yakin meskipun tidak melihatnya.


"Sa---"


"Sa? ... namamu, Sa?"


"S-Sasa ... Sasa Ziera."


"Ahh~ Sasa Ziera? itu nama yang indah. salam kenal, nona Sasa. Semoga nona puas dengan pelayanan yang kami berikan dan menjadi langganan di sini."


Nada bicaranya benar-benar berbeda ....!


Satu hal yang aku lakukan lagi dan lagi, aku hanya mengangguk tanpa membalasnya. karena itu juga, tak lama David izin pamit untuk melayani pelanggan yang lain.


Aku perlahan-lahan mencuri-curi pandang untuk melihatnya dari belakang, sambil hendak meminum kopi yang sudah aku pesan, aku belum meminumnya sedikitpun karena konflik tadi.


Sejak kejadian itu, aku merasa pangeran yang sesungguhnya telah datang menjemput. tapi aku masih ragu, karena mata yang David miliki terlihat seram bagiku. Bukan berarti aku mengejeknya, ini karena gangguan psikologis dari trauma yang aku punya, meskipun aku tak bisa lari dari fakta terhadap pesona ketampanan dan keterampilannya.



__ADS_1


__ADS_2