
Namaku, Sasa Ziera. seorang gadis di bawah umur yang dianggap dewasa karena tinggi badan yang aku punya. 171cm ... sepertinya itu tinggi untuk seorang gadis?
16 tahun sudah aku jalani, Aku merasa kehidupan yang telah aku jalani itu "Menyedihkan" dan "Menyenangkan". keduanya adalah sesuatu hal yang bercampur aduk menjadi satu, tapi lebih dominan ke arah "Menyedihkan".
Siang hari yang cerah, aku pergi meninggalkan rumah setelah menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah.
Biasanya aku tidak akan mungkin dan tidak akan berani untuk melakukan hal tersebut, tapi, karena beberapa konflik yang sedang terjadi membuatku muak dan ingin menenangkan pikiran ke luar. sekalipun mungkin nanti aku akan terkena marahan saat pulang, aku merasa tidak peduli untuk saat ini.
Disebuah cafe, Ini adalah kafe yang populer dikalangan perempuan, terutama di jalan-jalan, tempat ini menjadi trending pertama sebagai cafe favorit bintang 5, yang kebanyakan orang mengomentarinya di website dan di map serta di Instagram dan Twitter.
Jus, kopi, dan susu cangkirnya cukup tinggi bagi seorang siswa SMA, itu bukan sesuatu yang bisa kau minum kapan saja. Jika seorang siswa SMA biasa yang banyak waktu kegiatan, mungkin hanya akan mengunjungi beberapa kali dalam sebulan, entah bersama teman maupun pasangannya.
Harga setiap hidangan disini relatif lebih murah bagiku, dibandingkan dengan cafe-cafe yang pernah aku datangi. Jadi, tidak mengherankan kalau itu akan ramai setiap hari dengan pelayanan yang memuaskan serta pelayan yang tampan-tampan.
Dan, ini pertama kalinya aku datang seorang diri tanpa ditemani siapapun yang aku kenal.
Namun, karena tempat ini masih belum begitu ramai untuk saat ini, aku lebih percaya diri sekalipun masih merasa takut jika berhadapan dengan laki-laki, terkecuali pelayan, mereka sangat ramah dan lembut, ada juga yang tampangnya menyeramkan, tapi dia baik.
Memikirkan berbagai hal dalam kapasitas otakku yang terbatas, sudah menjadi aktivitas harian yang pasti aku lakukan. kepalaku tiba-tiba pusing karenanya.
Sesaat aku memegang kening, menarik ke atas kedua alis, hingga terbentuk kerutan kening di wajah.
"Sakit ..... aku tidak tahan. ini menyakitkan."
Penglihatan mataku menjadi agak samar-samar, rasa pusing menimpa menekankan kepada rasa sakit sampai nafasku tergesa-gesa.
Waktu yang tidak pas datang, beberapa siswa SMA yang keliatan nakal dari penampilannya menghampiriku. hanya ada satu bangku kosong yang disediakan di depanku, dua di antara mereka berinisiatif membawa bangku dan yang satunya terpaksa berdiri.
Jika dilihat dari wajah mereka, sepertinya mereka berempat berniat menggoda dan menjahili ku. aku mencoba untuk bersikap normal dan mengesampingkan rasa sakit yang sedang aku rasakan.
Bagaimana pun aku menahannya, mungkin itu masih bisa ditangani, tapi ..... sisi lemahku yang trauma dengan laki-laki membuatku ketakutan dan tubuhku bergetar saat mereka semakin dekat.
Pembicaraan dimulai, aku hanya menunduk sepanjang mereka berusaha menggoda, tak berani menatap mata mereka yang membuat dadaku semakin sesak, aku menahannya ... aku menahannya.
"Sendirian aja nih, cantik?"
"Temen-temennya pada kemana? sedang ke toilet, atau memang datang sendirian?"
"Anak perempuan sebaiknya tidak sendirian. nanti ada orang aneh yang akan datang menggoda."
Tawa kecil bersama.
Bukankah yang dikatakannya itu adalah mereka sendiri? apakah itu sebuah sindiran, atau memang peringatan? aku kurang mengerti.
Sok akrab, mereka bertiga langsung duduk dan bertingkah seakan-akan berniat baik untuk menemani.
Tapi hal itu jelas terlihat, sebaliknya .... nada bicara dan tingkah mereka sangat mengganggu, tapi aku tidak bisa mengusirnya, bahkan pergi meninggalkan. Badanku membeku, trauma yang aku alami membuatku tak mampu berbuat apa-apa, hanya bersikap cuek seperti perempuan pada umumnya.
"Kita temenin deh, kalau gitu, biar gak kesepian?"
Satu diantaranya mereka berempat yang belum duduk mengatakannya, merangkul teman di samping kiri dan kanan yang sudah duduk.
"... Gilaaa! Jika diperhatikan lebih dekat, kamu cantik luar biasa."
"Apa kamu sudah memiliki pasangan?"
__ADS_1
"Sangat disayangkan perempuan secantikmu kalau belum memiliki pasangan. aku bersedia, jika kau mau?"
Melirik-lirikku tanpa izin, bukankah itu tindakan tidak sopan?
Dari ekspresi wajah mereka, tidak ada rasa bersalah sedikitpun, itu mengerikan, menjijikkan. mereka tersenyum seakan-akan pujian tadi membuatku senang?
Bahkan tanpa dikatakan pun aku sudah tau, banyak yang sudah bilang begitu, tapi mereka hanya melihat penampilan luarku saja. jika mereka tau aku sepenuhnya, aku ragu ada yang akan bersedia menjadi pendampingku.
Itu sudah jelas .... sisi buruk kita tidak akan ada yang mau menerimanya, terkecuali Yang Maha Penguasa. atau mungkin seseorang yang pikirannya bermasalah?
Untuk sementara waktu, setelah diam beberapa detik, aku membalasnya dengan cuek, tanpa menoleh.
"Ga perlu. tolong, tinggalkan aku sendiri!"
Berharap kata-kata tersebut membuat mereka terdiam dan pergi, tapi aku terlalu naif ... mereka justru menertawakan saling bertatapan.
Diam adalah responku untuk tindakan lebih lanjut, berurusan dengan mereka memang merepotkan.
Di satu sisi, akibat tawa mereka entah mengapa membuat sesak di dadaku lebih terasa sakit.
"Oi, oi. Kamu menarik sekali. siapa namamu?"
Orang yang masih berdiri berkata demikian. menarik? harusnya mereka sadar kalau aku merasa terganggu.
"....."
"Hmm? kenapa kamu diam? aku bertanya namamu siapa?"
"Mungkin dia tidak tertarik dengan kau. dia pasti akan menjawab jika aku yang bertanya."
"Tolong berkaca lah sebelum berkata begitu, teman sehaluan-ku yang berharga."
Merasa dirinya direndahkan, mereka berdua saling pandang dalam keseriusan.
"Paling tidak ketampananku di atas dirimu. siapa yang seharusnya berkaca di sini?"
Mendengarnya, aku rasa semuanya yang harus berkaca. kekanak-kanakan sekali, padahal aku kira mereka lebih dewasa, tapi itu pemikiran yang salah.
Bertengkar saat menggodaku, harusnya mereka malu. tapi hal tersebut, sepertinya tidak berlaku.
Karena perkataan tersebut, membuat temannya tidak bisa berkutik dan mendecih dengan wajah kesal.
"Hentikan! kalian berdua membuatnya menjadi takut."
"Mungkin kali ini kita bisa gagal karena pertengkaran kanak-kanak kalian berdua tadi."
Meminta maaf hanya kata-kata yang keluar dari dua diantaranya mereka sebelumnya. aku tak acuh akan hal itu, mereka berbahaya.
Bahkan mendengar nada bicara yang cukup tinggi dan berat dari bibir mereka, dadaku sesak tak tertahan, nafasku tergesa-gesa, tapi tetap .... aku mencoba menahan dan menyembunyikannya.
Ini merupakan rahasia yang harus aku jaga, paling tidak dari orang-orang terdekat dan orang-orang sembarangan.
"Maaf, ya, untuk yang tadi. mereka berdua aslinya baik, kok."
"Benar, tidak perlu meragukan hal tersebut."
Justru kata-kata "Baik" tersebut yang membuatku ragu.
__ADS_1
Seorang yang selalu bersikap tenang sejak awal meminta maaf begitu, dilanjutkan oleh teman di sampingnya, terlihat senyuman di wajah.
"Ya."
Hanya kata itu yang dapat aku katakan. berbicara terlalu banyak membuat nafasku semakin sesak, juga akan membuat mereka lebih berharap.
"Kenapa, ya? rata-rata perempuan cuek itu, cantik dan imut?"
Gombalan dalam pujian kembali dilontarkan, itu dari temannya yang berdiri, membalas dan melanjutkan pujian, semuanya sama saja.
"Iya benar, benar, tepat sekali."
"Mungkin karena hawa pembawaannya begitu mempesona."
"Banyak diam dan tidak mudah didekati, itu adalah impian perempuan yang setiap laki-laki inginkan."
"Benar-benar, aku setuju."
"Terlebih lagi hal tersebut membuatnya semakin menarik dan misterius."
"Siapa coba yang tidak, mau? kalau tanya kepada diri sendiri, tentu saja sangat mau!"
Cekikikan kecil dan tersenyum, lirikan mata mereka tidak berpaling dan membuatku semakin takut serta tak nyaman, rasanya ingin pergi dan menangis.
"Sepertinya aku akan memanggilmu 'Sayang', karena kamu belum mengatakan namamu."
"Hey~ tunggu ..... sepertinya kita juga belum memperkenalkan diri kepadanya."
Merasa baru sadar, ekspresi mereka mengatakan seperti itu, dilanjut dengan tawa kecil sesaat.
"Begitu, ya. Ini masalahnya. Pantas saja kamu diam tanpa menjawab pertanyaanku tadi, ya?"
"Tak kenal, maka tak sayang. perkenalkan, aku Vicky, calon pangeranmu tersayang."
Menunduk kepalanya dan menjulurkan tangan, berperan seperti seorang pangeran sungguhan.
Jujur, meskipun dia memang cukup tampan, tapi .... rasa jijik dan takut yang hanya aku rasakan, entah kenapa.
"Oi, oi. kau mendahuluiku, sialan ... Taman mini di Tanggerang, aku Rio, kekasihmu tersayang."
"Kau terlalu berimajinasi tinggi. dia bukan kekasihmu, tapi calon ratu kekasihku."
"Tidak ada yang tau di masa depan itu seperti apa? jika prediksiku tidak salah, itu bukan suatu hal yang tidak mungkin. kau, tau?!"
Tidak, aku rasa itu sesuatu yang sangat mustahil terwujud, sekalipun takdir berkata, aku akan menolak dirinya. takdir seperti itu, paling tidak masih bisa diubah, kecuali kematian.
Mereka berdua lagi dan lagi saling bertatapan dengan hawa saling mengintimidasi. kedua teman lainnya tak acuh dan justru lanjut memperkenalkan diri.
Aku hanya bisa berdoa dan memohon ... seseorang, selamatkan diriku dari situasi seperti ini?!
"Selanjutnya, adalah aku. seorang pria tampan dengan jutaan penggemar, sang mentari yang menjelma menjadi manusia, dan calon suami yang akan selalu bersedia mendengarkan seluruh keluh kesah istrinya. yaa, aku .... aku adalah ~"
Perkenalkan dirinya panjang dan lama sekali, berkata begitu sambil melakukan berbagai gerakan yang menyesuaikan. bukannya terlihat keren, malah terlihat membosankan dan menggelikan yang menggambarkan seseorang yang sering berhalusinasi. hanya itu yang dapat aku simpulkan.
Di saat yang tepat, seseorang memotong perkenalannya dengan tegas.
"Hey, kalian!"
__ADS_1
Nada bicaranya yang berat terasa menusuk, aku langsung terdiam syok. dadaku pun seakan berhenti sesaat, sebelum berdetak lebih cepat dari batas normal.
Aura mengintimidasi yang ia bawa terasa, sekalipun aku tidak melihatnya, sekalipun aku hanya mendengar seruannya, dan sekalipun aku hanya mendengar langkah kakinya yang mendekat, hatiku terguncang.