
Wajah Sasa kali ini terlihat lebih baikan dari sebelumnya, sedikit rayuan biasa dariku ternyata berguna.
Sesaat mata kami bertatapan selama 3 detik, dia kembali menundukkan pandangan. Menatap mata lawan bicara memang buat suatu hal yang mudah untuk sebagian orang, terlebih lagi jika tidak biasa, aku memakluminya.
"Aku bingung mau mulai darimana ...."
"Yang mana saja akan tetap aku dengarkan dengan baik, Sasa."
"... Baiklah. Mungkin dari kejadian awal."
Mengangguk merupakan balasan yang aku berikan, Sasa mulai bercerita dan menyimak dengan baik merupakan tugasku saat ini sebagai pendengar.
"... Aku tinggal bersama paman dan tanteku, ada sepupu perempuan dan juga anak perempuan mereka serta seorang nenek. perempuan yang paling muda adalah aku, hanya tinggi badanku yang di atas mereka. Minggu lalu, aku sedang mengepel lantai. karena baru saja dipel, tentu lantainya masih basah dan licin. nenek berjalan dengan begitu saja di depan mataku padahal beliau tau lantainya baru sekali aku pel, kakinya pun terpeleset karena buru-buru dan jatuh ke lantai. Berteriak kesakitan lalu memarahi, dan mencaci maki dengan kata-kata menusuk membuatku hanya terdiam 'meminta maaf' ... bahkan kata 'maaf' dariku pun beliau marahi. 'Bisanya cuman minta maaf, kalau bersih-bersih yang bener. udah gede, jangan kayak orang bego!' aku ingat semua kata-kata yang dilontarkan kepadaku. aku hanya diam dan berusaha tidak menangis di depan nenek ... apa aku memang bersalah!?"
Aku memang memintanya untuk bercerita, tapi aku tidak menyangka Sasa bisa bercerita dengan lancar dan panjang begitu, ini langkah yang bagus. Aku perlahan mulai mengerti kenapa dia merasa takut dengan suara bernada tinggi dari sekitar termasuk diriku, ini hanya kesimpulan pribadi.
Semua perkataannya terdengar nyata dan langsung terbayangkan di benakku, aku merasa kasihan dan ingin mengelap air matanya yang keluar, dia berusaha menutupinya meskipun sudah terlambat. Luka yang selalu berhasil dibendung, pasti akan ada saatnya tak bisa ditampung lagi.
Aku hanya memberikan tisu kepadanya dan berkata lembut. latihan bersama Zaidan benar-benar membantu untuk kondisi seperti ini.
"Kamu tidak melakukan kesalahan, Sasa. Sikap diam yang kamu pilih sangatlah tidak biasa orang lain lakukan, itu membuatmu terlihat rendah hati dan penyabar. Nenek, beliaulah yang bersalah dari kejadian yang kamu ceritakan. Jika ada aku di saat itu, aku pasti akan di pihakmu. tapi kita saja baru bertemu dan berkenalan, hahaha."
Tertawa secara tiba-tiba karena perkataanku sendiri, aku merasa tidak seperti diriku yang biasanya. Bahkan teman-teman yang melihat di belakang, terkejut. wajar saja, aku sudah lama tidak tertawa sejak 4 tahun terakhir sekalipun tertawa biasa seperti tadi, kalau tersenyum masih aku lakukan.
"Tolong, pukul aku jika ini mimpi!"
*BUK!
"Sensasi ini terlalu nyata, tidak mungkin ini mimpi."
Ono benar-benar langsung memukul pipi Denra sesuai permintaannya. Denra langsung memegang pipinya dan sedikit diusap.
"Benar. rasa ini asli," kata Denra.
"Jangan bilang, David jatuh cinta?"
"... !! ..."
"Aku tidak yakin untuk hal itu. tapi, mungkin takdir mereka berdua terikat dan membawa perubahan."
Pertanyaan yang datang dari Raihan, dijawab pertama kali oleh Wawan. Dio pun yang berada di sana ikut berkata.
__ADS_1
"Selagi perubahan tersebut baik, tidak ada salahnya jika kita mendukungnya. perhatikan saja dari sekarang."
Sasa mengambil tisu yang aku berikan dengan mata yang agak melotot saat aku tertawa, ia tersenyum yang disembunyikan. merasa senang, merupakan gambaran yang aku simpulkan dari senyumnya itu.
"Aku suka!"
Suaranya terdengar sangat kecil sehingga aku meminta kejelasan kepadanya.
"Kamu mengatakan sesuatu?"
"T-Tidak ... mu-mungkin kamu salah dengar."
"Begitu, ya."
"...."
Terjadi keheningan selama beberapa detik.
"A-Aku lanjut, boleh?"
"Silahkan."
Dia menyatukan tangannya dan memainkan jari jempol satu dengan yang lain, mengelusnya perlahan. grogi adalah sesuatu yang terlihat darinya, bukan suatu masalah. aku kembali menyimak dengan baik.
Sasa tiba-tiba saja terdiam, mengusap bagian matanya menggunakan jempol. Aku mengerti situasinya, dia membutuhkan waktu untuk melanjutkan cerita. diam, pilihan terbaik sebagai pendengar yang baik ketika orang lain masih bercerita.
Beberapa orang terkadang juga, ada yang hanya membutuhkan pendengar yang baik untuk ceritanya tanpa memberikan saran. itu tidak masalah, mereka hanya ingin dihargai dan didengarkan untuk melepaskan perasaan yang telah dipendam.
"Lalu ... aku kaget, melihat Zea sudah jatuh di kamar mandi. keningnya terkena bagian tumpul keramik, terdapat lah goresan sejengkal dari dahinya yang robek. dia sadar dan memegangnya, kemudian berteriak memanggil Tante Dewi, aku langsung turun karena tidak terdengar dari atas. beliau langsung bergegas, dan ketika sampai melihat Zea membuat beliau menangis. kami bertiga mengangkatnya, lalu menanyakan kejadiannya. Zea menuduhku sengaja membuat lantai menjadi licin ... aku terdiam kaget di tempat. dadaku langsung bereaksi sesak."
Suaranya terdengar terisak-isak, dia kembali menangis dengan menunduk.
"Aku tidak bisa membantah, hanya menggelengkan kepala. Rita menyalahkan aku karena tidak langsung membantunya berdiri keluar, mana mungkin aku kuat? aku saja panik dan langsung turun untuk memberi tau. Tante Dewi pun sama, menatapku dengan sinis tanpa berkata-kata. aku menahan rasa ingin nangis, nenek yang baru datang menambahkan tuduhan dan cacian. tidak ada yang menginginkan keberadaan ku di sana."
Aku membiarkan Sasa menangis untuk sesaat.
"Bahkan ... bahkan! paman tidak membelaku dan meminta untuk menemaninya. aku menemaninya dua hari di rumah sakit. aku tidak melawan, aku tidak berniat jahat, aku ... aku hanya ingin ada yang percaya dan mendukungku. semua di rumah sama saja. aku merasa seperti babu saja di sana .... kemarin ketika baru pulang pun, Zea berusaha menghambat pekerjaan rumahku. memanggilku berulangkali hanya untuk hal-hal kecil yang tidak terlalu penting, seperti menanyakan 'Dimana remot AC' yang padahal ada sejauh matanya memandang. itu pasti sangat disengaja sangking tidak sukanya dengan aku...!?"
Emosinya lebih meluap dari biasanya, dia bahkan menatapku untuk memastikan pertanyaan darinya. Tak lama, dia kembali melanjutkan cerita dimana yang semua bendungan selama ini, hancur tak bisa menahan.
"Tengah malamnya ... aku turun mengambil minum di dapur. kemudian, tak sengaja mendengar paman dan tante sedang bertengkar. Sekilas aku mendengar namaku disebut dan langsung menutup telingaku. aku takut ... aku tidak ingin mendengarnya! aku muak, aku lelah! aku sudah berusaha keras untuk memberikan yang terbaik, tapi tidak ada yang mengerti! terus aku harus bagaimana, David!"
__ADS_1
Dia berkata dengan tegas sambil melotot yang berlinang air mata. lalu, ia merasa seperti baru sadar dan langsung menunduk meminta maaf karena perlakuannya.
"Maaf! Aku minta maaf! ... aku malah meluapkan emosiku kepadamu. aku menekan dirimu dengan buruk, padahal kita baru kenal ... padahal kamu sudah bersedia mendengarkan ceritaku dengan sukarela. maaf, maaf, maafkan aku...!"
Sasa merasa bersalah dan menangis syahdu. aku tidak membalas perkataannya secara langsung, dan mengabaikan hal itu sambil berdiri dan melangkah, mendekati dirinya.
Ketika sudah berada di sampingnya, aku langsung berlutut dan memandang yang sedang menangis. teringat membawa sapu tangan di saku, aku langsung mengeluarkannya dan izin untuk mengusap air matanya.
"Permisi ...."
"... !! ..."
Sasa, terlihat pasrah sedikit kaget saat aku melakukan hal tersebut. kamipun bertatapan dengan diriku yang masih mengusap air matanya.
"Tidak perlu meminta maaf. kamu sudah melakukan yang terbaik, dan aku tidak merasa ditekan. mendengar cerita darimu telah membuat aku tersadar akan ujian yang kamu hadapi."
Aku lalu memegang pipinya dengan lembut, dia tidak mempermasalahkannya. tentu saja, keadaannya saat ini pasti membuat hatinya luluh.
"Kamu sudah hebat bisa menahannya. kerja bagus, untuk semua kerja keras yang kamu lakukan, Sasa!"
Beberapa detik kami bertatapan dalam diam. mata Sasa sangat berkaca-kaca dengan wajah sayu terharu. dia membuka kacamatanya dan langsung turun memelukku dengan erat, menangis kencang yang selama ini dia pendam sendirian, aku memeluknya kembali sambil mengelus kepadanya dengan perlahan-lahan.
"UWAAHH!!! AAAA...!! HUAAHAAA ....!!"
"Ya. begini, tidak apa-apa. kamu boleh bersikap seperti perempuan pada umumnya. Keluarkan saja semuanya."
Memberikan sedikit dorongan kepadanya, Sasa menjadi semakin mengeratkan pelukannya hingga kami berdesakan. Dia tidak peduli kami berdua sedekat apa, bahkan meskipun tubuhnya begitu menempel.
Aku mencoba merubah posisinya yang menangis di bahu ku, menjadi di dada ku. Sebelumnya dia melihatku sebentar, aku sengaja menutup mata.
Tangan kanan ku memegang bahunya, dan tangan kiri ku memegang pinggangnya ... Beberapa saat kemudian aku kembali mengusap kepala rambutnya dengan pelan-pelan.
Untungnya pelanggan yang lain sudah tidak ada selain, Sasa. Dan waktu juga sudah menunjukkan pukul 20.32 malam, waktu yang seharusnya kami menutup kafe. tapi kali ini, aku menghiraukan. mana mungkin aku tiba-tiba memintanya keluar atau menutup kafe di keadaan begini.
Teman-teman karyawan yang lainnya memperhatikan dari jauh di belakang, aku sedikit canggung karena menyimpang dari diriku yang biasanya. 9 orang, seluruhnya menyaksikan kejadian ini dalam satu tempat di dekat bar. Zaidan malah ikut menangis kepada Dio yang mengusap punggungnya, entah asli atau hanya disengaja. yang lainnya hanya tersenyum sebagai pengamat.
Tidak heran jika setiap manusia memiliki masalah yang berbeda-beda. Yang orang lain rasa biasa saja, belum tentu bagi sebagian orang lain terasa biasa, kita tidak boleh meremehkan hal tersebut.
Sebesar maupun sekecil apapun masalah yang sedang orang lain terima, sedikit membantu meringankannya bukanlah suatu hal yang buruk, justru bagus. Meskipun kadang, orang yang dibantu menolak dan enggan hingga membentak ... sejujurnya dia hanya tidak ingin merepotkan orang lain dan memutuskan untuk menyelesaikannya sendiri, tanpa melibatkan yang lain.
__ADS_1
...***...