
Pria SMA yang menggodaku, mereka semuanya, menoleh dan melihat ke arah suara itu. salah satu di antaranya, yang perkenalan dirinya terpotong pun menjadi orang pertama yang membalasnya.
"Ada apa....?!"
Ia tidak terguncang sedikitpun dan malah menatapnya. orang umum mungkin akan langsung tunduk dan meminta maaf, tapi sepertinya dia lebih berani. Mungkin, dia seseorang yang sering terlibat dalam kekerasan?
Sekalipun itu benar, perbedaan usia dari wajah dan tinggi badan mereka sangat nampak. Suara seruan tadi ternyata dari seseorang yang menggunakan pakaian pelayan, tentunya ia seorang pelayan.
Dia mengambil beberapa langkah ke depan dan berhadapan dengan pria SMA itu, saling tatapan mata pun tak bisa dihindari.
Atmosfer yang berdesakan menetap di antara kami, menghasilkan tekanan yang memaksa keheningan.
Sementara aku diam dan berdoa, perlahan-lahan memberanikan diri untuk melihat ke arah mereka, tapi hanya setengah badan. itu saja sudah membuat gemetar hampir di seluruh badan.
"Mohon maaf, tuan-tuan. Apa kalian bisa meninggalkan perempuan di sana? Keliatannya dia merasa terganggu, ini demi kenyamanan bersama."
"Hah? ... Aku pikir tidak begitu. jika dia merasa begitu, seharusnya dari awal menolak atau pergi meninggalkan kami. Tapi dia tidak melakukan hal-hal seperti itu?"
Apakah ingatannya begitu, buruk? ... sudah jelas aku mengatakan "tinggalkan aku sendiri!" sebagai bentuk penolakan yang aku berikan. Dan juga, sejak tadi aku hanya diam menunduk tanpa menjawab panjang, semua orang pun harusnya paham bahwa, itu bentuk penolakan dan ketidaknyamanan.
Melihat ke arahku sesaat dan membalas pertanyaan pelayan tadi seperti itu, rasanya ini seperti pemaksaan secara tidak langsung. bukankah, begitu?
Pelayan tersebut pun melihat diriku, aku kembali menundukkan pandangan ke bawah, dadaku masih terasa sakit dan panas. mendengar nada bicara mereka yang bagiku tinggi, itu kasar dan menyakitkan. gangguan yang aku miliki memang sensitif, aku mengakuinya.
"... Maaf, Itu pemikiran yang keliru. Semua orang pun tau bahwa perempuan di sana tidak nyaman dengan keberadaan kalian yang mengganggunya."
"Hah~!"
Pusat pandangan sekeliling mengarah kepada mereka, dan tentu juga kepadaku. Pria SMA tersebut mendecih dengan raut wajah kesal, teman di sampingnya memegang bahunya, memberikan saran.
"Hei, kawan. Jangan kau lanjutkan lagi, sebaiknya kita pergi saja."
"Aku setuju."
"Jika kau egois, kami juga akan ikut kena imbasnya. kau pikir hanya dirimu yang akan menanggungnya?"
Saran yang bijak, memang itulah keputusan terbaik sejak awal. jika kalian tidak nekat mendekatiku, mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi.
Meskipun begitu, pria itu terlihat tidak ingin mengikuti saran mereka semua, ekspresinya menggambar seperti itu. menatap si pelayan dengan sinis, sikapnya seperti sudah siap untuk bertarung.
"Aku tidak bisa begitu saja pergi dengan kondisi seperti ini. harga diriku dipertaruhkan, aku merasa dihina. padahal, jika aku mau ... aku bisa membeli cafe ini dengan orang-orangnya sekalipun."
__ADS_1
Balasan darinya membuat teman-temannya, aku, si pelayan, bahkan pelayan-pelayan lainnya dan sebagian pelanggan yang mendengar, terkejut dari ekspresi. bukan karena apa-apa, tapi justru perkataannya itu merupakan sebuah penghinaan besar yang menusuk. Aku rasa si pelayan sudah mencoba untuk membantuku dan berbicara halus sesuai fakta tanpa merendahkannya. Tapi, mengapa ia malah berpikir demikian sambil menghina?
pelayan-pelayan yang sedang membawa, dan hendak memberi hidangan berhenti sesaat ... mereka memandang pria SMA itu dengan tatapan sinis. aura intimidasi masing-masing terkumpul menjadi satu, tapi tidak menggentarkan keberanian pria SMA itu.
Apakah ia memiliki kartu andalan seperti, profesional dalam berkelahi? atau, karena orangtuanya memiliki kekayaan dan wewenang besar seperti yang barusan ingin dia sampaikan?
"... Maaf, tuan! aku masih memberikan waktu untuk menarik kata-kata tersebut. sebaiknya, jangan terlalu memandang kami sebelah mata ... ... Dan kami tidak ingin ada kekerasan, demi kenyamanan bersama!"
Siapa yang tidak tersinggung jika harga diri mereka disandingkan dengan uang. sekalipun ia (Maaf) seorang PSK, harusnya tujuan dan harga diri mereka masih ada selagi tidak berpatokan untuk selamanya, begitu?
Itulah yang si pelayan tersebut juga rasakan dan ia sampaikan mewakili seluruhnya. Ekspresinya itu terlihat dingin dengan tatapan mata yang tajam, dahinya yang mengkerut, dan pertengahan antara alisnya yang menekuk.
"Oi, oi. kau ingin membawa kami ikut ke dalam masalah ini? jangan bercanda, aku tidak mau."
"Hentikan niat dan tindakan gegabah mu saat ini. kau tidak akan menang!"
"Lagipula, tujuan awal kita hanya mengajak gadis di sana ikut dengan kita."
Dia menunjuk dengan jari telunjuk ke arahku.
Mengajak aku bersama mereka? ... aku tidak habis pikir mereka bisa berpikir begitu optimis.
Mulai dari sini, aku merasakan firasat buruk. dadaku yang berdenyut semakin kencang adalah isyarat tersebut. sekalipun aku sudah menahan dan merasakan rasa sakit serta perih sejak awal, kali ini berbeda. mungkin ini reaksi tubuh saat memberikan sinyal bahwa ... sesuatu yang berbahaya akan terjadi, tak lama lagi.
Benar saja, firasatku tidak meleset. Dengan nada tinggi dan arogan, pukulan kanan pun diberikan secara tiba-tiba kepada si pelayan.
itu membuatku takut, aku reflek menutup telinga dan kepalaku dengan tangan, meskipun aku memang tidak melihatnya secara penuh seluruh tubuh. ini sering aku lakukan ... tidak, pasti aku lakukan ketika ada pertengkaran lebih lanjut yang terjadi.
Dengan santai, si pelayan menahan pukulan itu menggunakan telapak tangannya, lalu mengepal tangan si pria SMA itu.
"Aku mohon, tuan terhormat! jangan akhiri ini dengan kekerasan. jika memang saya membuat ketidaknyamanan, saya meminta maaf---"
Rendah hati masih dilakukan oleh si pelayan, untuk menghindari kejadian tidak diinginkan terjadi. Dari sini terlihat bahwa, si pelayan tersebut memiliki rasa empati dan dewasa, menahan amarahnya demi kenyamanan yang lainnya adalah hal yang luar biasa.
Pusat seluruh pandangan mengarah kepada mereka, akan menjadi masalah jika dia bertindak kasar sekalipun dirinya benar. mau, tidak mau ... begitulah jalan tempuh menjadi seorang pelayan yang menghormati pelanggan.
Tapi, si pria SMA itu tetap tidak menerimanya dalam keadaan arogan. Mungkin, hal ini normal untuk remaja yang beranjak dewasa? sifat labil dan egois mereka masih tinggi dan sulit dikontrol, jika tidak dilatih dan dibiasakan.
Pria SMA itu langsung memotong dan membalasnya sambil kembali memberikan serangan, kali ini dengan tendangan sabit.
"Akan aku maafkan jika kau berlutut di bawah sepatuku."
__ADS_1
Menahan serangannya tadi, balasan katanya membuat si pelayan semakin serius, wajahnya mengatakan seperti itu. Penghinaannya lebih kejam dari sebelumnya, apa dia seorang bangsawan? hanya karena masalah kecil, dirinya menjadi sangat arogan. Jika dia pikir bisa mendapatkan diriku dengan sifat seperti itu yang dia punya, itu pasti sebuah kekeliruan besar ... yang benar saja.
Bahkan, pelayan-pelayan cafe yang lainnya ada yang menghancurkan sebuah minuman kaleng yang ia bawa ditangannya, ada juga yang hendak mendekat maju, tapi ditahan oleh pelayan lain di sampingnya sambil menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan perlahan.
"... ... Tuan! ... aku sudah berusaha untuk menghindari keributan dan kekerasan seperti, ini? tapi sepertinya, anda kurang belajar tentang sopan santun!"
"Kgh!"
Cengkraman tangannya kepada tangan si pria SMA yang ia tahan semakin diperkuat, mendesaknya hingga kesakitan menahannya.
"Akan saya peringatkan, ini untuk yang terakhir kalinya! ... sebaiknya tinggalkan perempuan di sana dan kembali ke tempat duduk kalian, sekarang! saya tidak akan tanggungjawab jika terjadi hal yang tidak diinginkan terjadi. paling tidak, saksi mata dan CCTV akan menjadi bukti."
Si pelayan mengatakannya dengan masih bernada rendah. ia masih memiliki kesabaran yang luar biasa, aku sangat apresiasi.
Seperti itulah laki-laki yang aku inginkan, paling tidak untuk sifat sabarnya dan tidak asal main tangan. Sebagian, tidak, tapi seluruh perempuan pasti menginginkan laki-laki yang akan menjadi suaminya berharap memiliki sifat begitu, benar?
Teman-teman pria itu menelan ludah dan paham akan ancaman tersebut. mereka mencoba untuk mengajak kembali, ke tempat mereka sebelumnya.
"Oi, oi! hentikan sampai di sini, Akmal!"
"Kami tidak akan membantumu jika kau bertindak gegabah, lebih dari ini."
"Nekat juga, seharusnya ada batasnya."
"Berisik! ... pecundang seperti kalian tidak akan mengerti."
"H-Hahh~"
Nama pria SMA itu yang sejak tadi berargumen bersama si pelayan ternyata, Akmal.
Merasa semua temannya tidak memberikan dukungan, Akmal menoleh pada mereka dan membalas seperti itu.
Setelahnya, ia malah menjadi lebih agresif dengan langsung memberikan hook dari kiri, dan upper cut dengan satu tangan kiri, hal itu membuat si pelayan menghindar dan menahan serta melepaskan cengkeramannya dan mundur beberapa langkah, ia tidak terluka.
Dilanjut dengan ancang-ancang seperti pemain boxing, ia menerjang maju dan memberikan beberapa gerakan kombinasi. pertama, upper ... 1, 2 bergantian menggunakan tangan kiri dan kanan sebanyak 3 kali, semuanya ditepis dan dihindari oleh si pelayan, sambil memastikan tidak mengenai pelanggan lainnya, sekalipun jarak mereka dikatakan aman dengan pelanggan terdekat.
Tak cukup sampai disitu, ia melanjutkannya dengan Upper 1, 2 lagi, lalu body, body, dan upper 2 kali ... lagi-lagi serangannya tidak berhasil mengenai si pelayan, ia sangat lincah dan cekatan serta matanya terus mengamati gerak-gerik Akmal.
Ekspresi Akmal terlihat kesal, sedangkan teman-temannya yang menyaksikan mengkritiknya dengan pelan. tidak ada yang memisahkan mereka, bahkan pelayan yang lainnya malah terlihat tersenyum ... mungkin mereka menantikan adegan tersebut?
"Oi, oi. Apa hanya aku yang berpikir bahwa, dia sudah gila?" kata Rio
__ADS_1
"Tidak, bukan hanya kau, aku juga berpikir begitu." kata Vicky.
"Dia memang keras kepala dan arogan. sifatnya memang merepotkan." kata Tristan.