Jodohku Mafia 1000 Cerita

Jodohku Mafia 1000 Cerita
Kedatangan Sang Konglomerat


__ADS_3

5 menit telah berlalu, dan Sasa masih menangis.


Tapi tangisannya tidak sekencang sebelumnya, dia terdengar sesak. aku pun menjentikkan jari 3 kali sebagai isyarat, tak lama Zaidan membawakan air putih, aku mengambilnya.


"Sasa ... minumlah air putih ini dulu. nafasmu sepertinya sesak."


Perlahan-lahan dia melepaskan pelukannya, bagian dadaku benar-benar basah oleh tangisannya, aku tidak masalah.


Menuruti perkataan dengan mengangguk lalu meminumnya, Sasa mengatur pernafasannya. Dia memegang bagian dadanya, mengelus pelan dan menutup mata. sesaat dia batuk dan kembali sesak, aku sedikit khawatir.


"Sasa...?"


Hanya memanggilnya dengan pelan yang aku lakukan. dia membuka mata dan mengangguk-angguk pelan berulang kali, seperti memberikan isyarat bahwa dia tidak apa-apa.


"Ti-dak ... per-lu ... khawatir. a-ku, sudah ... biasa."


Kata-katanya terdengar terbata-bata dan wajahnya lebih pucat, pasti sulit untuknya berbicara dengan nafasnya yang sesak, rasa sakit di dada tentu menghantui.


Aku memberikan ruang lebih agar dia leluasa mengambil nafas. hanya memperhatikan Sasa bagaimana cara dia menstabilkan kondisinya saat ini.


Butuh waktu kurang lebih 4 menit bagi Sasa yang membuat kondisinya lebih baikan. dia hendak berdiri, namun masih lemas. aku membantunya berdiri perlahan, dia menatapku beberapa detik ketika hendak memegang juluran tangan yang aku berikan.


Kembali duduk di kursinya, Sasa mengucapkan terimakasih, aku membalasnya. Dia mengucek matanya beberapa kali, lalu barulah memakai kacamatanya lagi. aku pun duduk di kursi sebelumnya.


"Sudah lebih baik?"


"... Y-Ya. lumayan."


"Begitu, ya."


"...."


Dia terlihat grogi lagi dengan sedikit batuk-batuk, Zaidan kembali datang memberikan segelas air campuran madu.


"Saya membawakan air untukmu, nona. Ini adalah air yang sangat berkhasiat untuk meredakan peradangan. mudahan bereaksi dengan cepat."


Zaidan mengatakannya dengan lembut, dia memberikan senyuman hangat.


"Terimakasih banyak!"


"Terimakasih kembali. saya permisi."

__ADS_1


Salam sopan dengan menunduk, kemudian berjalan pergi meninggalkan kami berdua lagi. Zaidan tersenyum mencibir di belakang kami secara diam-diam.


"Apa yang tadi itu, adikmu?"


"Bukan, dia hanya teman. penampilannya memang mengikuti diriku, entah mengapa dia melakukan itu?"


Aku segera menyangkalnya, akan merepotkan jika dia menganggap kami adik Kaka.


"Emm ... ... kalian terlihat mirip."


"Begitu lah. Oh, ya ... ini hanya kesimpulan pribadi saja. setelah mendengar ceritamu tadi, sepertinya hal tersebut membuatmu pergi dari rumah dan bingung harus kembali atau tidak, benar?"


Dengan mengangguk pelan dia menjawabnya, kesimpulanku ternyata tidak salah.


"Aku khawatir, David."


"Khawatir?"


"Iya. aku khawatir untuk pulang. ini sudah malam sekali, pasti mereka akan memarahiku ketika sudah sampai. pertama kalinya aku belum pulang selarut ini tanpa izin 'pulang terlambat'. tapi, jika aku tidak pulang ...."


Terhenti secara tiba-tiba, mulutnya hendak berbicara tapi tertahan di tenggorokan, sepertinya sulit baginya untuk mengatakannya. aku berinisiatif melanjutkan kata-katanya sesuai yang aku pikirkan.


"Umm! ... itu dia, David."


"... mengambil keputusan yang hasilnya tidak beda jauh. kamu benar-benar kesulitan. kalau begitu, begini saja ...."


Sasa terlihat tertarik dan mulai menatapku lagi.


"Bagaima-"


Di saat bersamaan aku mendengar suara mobil baru saja berhenti di depan kafe yang membuat perkataanku berhenti di situ.


Aku menoleh ke arah suara tersebut, begitu juga dengan Sasa dan teman-temanku yang lainnya.


*TIT-TIT!!


Suara klakson pun terdengar di telinga, aku langsung mendecih.


"Mereka sudah datang kembali."


Aku segera berdiri tegak dengan tatapan tajam ke arah pintu. semuanya pun sama terkecuali Sasa yang menjadi bingung.

__ADS_1


"Si-siapa...?"


"Erwin Vincent dan komplotannya! si konglomerat yang menawarkan bisnis gelap kepada kami."


Aku membalas pertanyaan yang datang dari Sasa, nada bicaraku berubah menjadi seperti biasanya.


Sosok Erwin Vincent pun muncul, masuk ke dalam kafe dengan 3 bodyguard berkulit hitam dengan badan besar dan tinggi kisaran 2 meter. di belakangnya masih ada kurang lebih 16 orang lagi dihitung dengan sopir, 2 di antaranya menjaga di luar.


"Yoo! ... Aku dengar kau menutup kafe lebih awal dari pada 3 bulan terakhir. apa segitu takut dan enggannya kau menyambut diriku ini, David?"


Erwin mengatakannya dengan ciri khasnya yang arogan tapi dingin, dia tersenyum mendominasi.


Kehadirannya benar-benar menjadi sesuatu yang paling aku hindari, bukan karena takut, aku tidak ingin ada korban selanjutnya lagi di kafe rembulan ini.


Bahkan, seluruh teman-temanku sudah menunjukkan aura perang dan siap tempur. Ini merupakan situasi yang sangat berbahaya, terlebih lagi ada orang luar yaitu Sasa yang ikut terlibat secara tidak sengaja menyaksikannya. dia hanya diam di tempat dengan kebingungan, sekilas aku melihat tangannya bergemetar, ini tidak bagus!


"Oh, ya, siapa sangka. Kami kembali kedatangan tamu yang tidak biasa kali ini."


Aku merentangkan tangan ke samping dan memberikan sambutan, sambil memberikan isyarat tubuh agar Sasa bersembunyi di belakangku, untungnya dia mengerti dan nurut.


Kemudian aku dan Zaidan melakukan kontak mata, ia mendekat dan aku berbisik padanya.


"Bawa dan jaga lah dia ke tempat aman di gudang belakang! Urusan di sini serahkan saja kepadaku dan yang lainnya."


Menatap mataku dengan serius, aku mengangguk padanya. dia menoleh kepada yang lain sebelum membalas anggukkan paham dan pergi membawa Sasa.


Sasa yang masih tidak terlalu paham dengan keadaan berbahaya hanya melirik sekitar dan ikut bersama Zaidan.


"Ternyata masih ada penganggu yang tersisa. ku kira kau merencanakan sesuatu, tapi keliatannya hanya sekedar menghabiskan waktu dengan kekasihmu?"


"Dia tidak ada hubungannya dengan ini! jangan pernah kau berani melakukan sesuatu hal buruk kepadanya!"


"Kau pikir aku takut dengan ancaman seperti itu?"


Kami bertatapan selama beberapa detik, aku sambil berjalan mendekatinya hingga hanya beberapa langkah saja di hadapannya.


"Baiklah, baiklah, aku mengerti. sekarang berikan aku hidangan terbaik yang kau punya. kau tidak akan berkata, 'kami sudah waktunya tutup' begitu, kepadaku, 'kan?"


Erwin kembali tersenyum mendominasi, aku membalas senyumnya dan memberikan jentikan jari 4 kali sebagai kode pesan untuk menyiapkan hidangan. semuanya kembali bekerja dengan penuh waspada, mata mereka tidak bisa berpaling dari mereka, begitupun sebaliknya.


Kembali aku katakan, keadaan saat ini benar-benar berbahaya ....

__ADS_1


__ADS_2