Jodohku Mafia 1000 Cerita

Jodohku Mafia 1000 Cerita
Bocah Tindik


__ADS_3

Dari sekian banyaknya aku menangani bermacam-macam orang dalam 25 tahun, mereka hanyalah bocah yang baru pubertas, aku pikir ini bukan suatu hal yang sulit ditangani. tapi, tidak pernah terpikirkan bahwa salah satu dari mereka akan sangat lancang dan berani.


Meminta mereka untuk meninggalkan perempuan itu, kurasa aku sudah mengatakannya dengan baik dan pelan bernada rendah. tapi bocah yang bertindak itu ... membalasnya dengan kata-kata yang di luar dari apa yang aku bayangkan.


"Jika aku mau ... aku bisa membeli kafe ini dengan orang-orangnya sekalipun."


Ketika mendengar kata tersebut dengan arogan dari bocah bertindak satu di bagian telinga kirinya. aku sedikit terkejut, tapi ekspresi luarku tidak nampak begitu. Zaidan dan Dio yang baru kembali lebih terkejut, Wawan sendiri memegang minuman kaleng dengan tatapan tajam, hasrat petarung mereka ... aku dapat merasakannya sekalipun tidak melihatnya.


Membeli kafe-ku dan orang-orangnya ... dia maksud, aku? jangan bercanda, sekaya apapun keluargamu tidak akan mampu membelinya. apa dia berpikir aku hanya seorang pelayan biasa? harga diri kami melebihi kekayaanmu, bocah tindik.


Dia belum tau saja kalau aku memiliki 100 ribu bitcoin? Jika aku mengatakannya semua orang pun akan kaget. Meskipun ingin rasanya membalikkan kata-katanya itu, tapi menjaga kenyamanan bersama lebih utama dibandingkan egoisme semata. tidak, dia harus menarik kata-katanya!


"... Maaf, tuan! aku masih memberikan waktu untuk menarik kata-kata tersebut. sebaiknya, jangan terlalu memandang kami sebelah mata ... ... Dan kami tidak ingin ada kekerasan, demi kenyamanan bersama!"


Seharusnya dia mengerti tentang apa yang aku maksud. bocah SMA sekalipun kau dari orang kaya, jangan terlalu arogan kepada orang lain. bagaimanapun, adab lebih berharga daripada uang. walaupun aku memang tidak cocok untuk mengatakannya.


Berbeda dengan si bocah tindik, teman-temannya lebih dewasa dan mengajak untuk mengakhiri pertikaian ini, aku apresiasi kepada mereka yang bisa memahami kondisi.


Sayangnya si bocah tindik ini ... ia benar-benar ingin mati?


"Siapa yang peduli dengan itu. daripada aku menarik kata-kata ku, lebih baik aku memukulnya!"


Serangan tiba-tibanya setelah berkata begitu terasa sangat lambat, 5.700 kali lebih lambat dari peluru senjata api. dengan santai aku menahannya menggunakan telapak tangan dan mengepal tangannya.


Jika aku masih menjadi diriku yang dulu, tanpa ragu aku pasti akan menghajarnya hingga sekarat, membuatnya mati terlalu enak untuknya. tapi untungnya aku sudah berubah, diriku yang dulu memang masih ada, tapi aku pendam.


"Aku mohon, tuan terhormat! jangan akhiri ini dengan kekerasan. jika memang saya membuat ketidaknyamanan, saya meminta maaf-"


Berusaha untuk menghindari perkelahian karena banyak pelanggan, aku bersikap dermawan dan rendah hati. si bocah tindik ini malah langsung menyangkal perkataanku dengan memberikan tendangan, aku menahannya.


"Akan aku maafkan, jika kau berlutut di bawah sepatuku."


"... !! ..."


Aku terdiam sejenak.


Selama 25 tahun aku hidup, momen ini, perkataannya itu, adalah salah satu dari yang paling buruk dan paling menghina yang pernah aku dapatkan.


Mendengar kata-kata hinaan itu dengan jelas, Wawan menghancurkan minuman kaleng yang ia pegang, Zaidan terlihat ingin menghampiriku dengan niat membunuh, Dio yang di sampingnya menghentikan tindakan tersebut.


"... ... Tuan ... aku sudah berusaha untuk menghindari keributan seperti ini? tapi sepertinya, anda kurang belajar tentang sopan santun!"


Kesadaranku hampir terlahap sampai aku mencengkram tangannya dengan kuat. Karena latihan mengontrol emosi sudah aku kuasai, aku akhirnya mencoba kembali memperingatinya dengan harapan pikirannya berubah.


"Akan saya peringatkan, ini untuk yang terakhir kalinya ... sebaiknya tinggalkan gadis di sana dan kembali ke tempat duduk kalian, sekarang. saya tidak akan tanggungjawab jika terjadi hal tidak diinginkan terjadi. paling tidak, saksi mata dan CCTV akan menjadi bukti."


Cara teman-temannya menatapku, ucapan, dan cara memilih kata-kata mereka ... Bagaikan sedang diancam, yang kebenarannya aku hanya memperingatkan saja. mereka tidak bisa menyembunyikan wajah emosi akan kegelisahan sepenuhnya masing-masing.


"Oi, oi! hentikan sampai di sana, Akmal!"


"Kami tidak akan membantumu jika kau bertindak gegabah, lebih dari ini."


"Nekat juga, ada batasnya."


"Berisik! pecundang seperti kalian tidak akan mengerti"


Balasan yang terduga keluar lagi dari mulutnya, si bocah tindik ini sudah siap merasakan kesakitan yang luar biasa? baiklah, akan aku wujudkan keinginanmu itu.


Serangan-serangan yang ia berikan membuatku harus berpura-pura menghindari, menangkis, dan menahannya. sejujurnya aku bisa langsung membuatnya habis dalam satu pukulan, tapi aku menunggu momen yang lebih bagus dan membuatnya mengeluarkan seluruh kemampuan hingga titik kepercayaan dirinya di puncak. saat momen itu terjadi ... akan aku hancurkan dia!


Perlu aku akui, gerakannya memang lumayan baik untuk seorang bocah SMA, ia bisa melakukan berbagai kombinasi boxing, tapi semuanya terasa lambat.

__ADS_1


Saat di kombinasi gerakan hook, aku menahannya dan memberikan balasan berupa tendangan ke betisnya. ini serangan balasan pertama yang aku berikan, tapi pertahanannya sudah roboh begitu saja?


Bangkit dengan cepat dengan tatapan penuh kesal dan amarah, memberikan pertanyaan yang tidak masuk akal bagiku menggunakan nada bicara tinggi.


"Sialan~! berani-beraninya, berani-beraninya kau ... melakukan seperti ini kepadaku?!"


Dia serius bertanya begitu kepadaku, David Setyo? sebagian teman-temanku ada yang tersenyum tipis dan menahan tawa.


"Untuk apa saya, tidak berani? saya sudah memberi peringatan!"


Kurasa jawaban seperti itu sudah lebih dari cukup, iapun terprovokasi dan melanjutkan serangannya, sedikit meningkat tapi tetap lambat.


"Kena kau!!"


Wajahnya terlihat puas yang serius, kepercayaan dirinya pasti sudah di puncak. dari gerakannya ... aku sudah tau dia berniat memberikan fake jab ke arah wajahku, 2 jari saja sudah cukup untuk menahannya, wajahnya berubah drastis menjadi sangat kaget.


Cukup 2 serangan juga, aku akan pastikan ia menderita. pertama, memberikan tebasan lurus ke bahu kanannya, dan terakhir ... memberikan tendangan lutut ke area setiga emasnya. itu akan membuatnya menyesal karena tidak belajar sopan santun dan arogan.


Si bocah tindik tersungkur kesakitan setelahnya. teriakan heboh sejauh mata memandang menyoraki kami dengan gembira, kebanyakan para lelaki. ada juga yang terdengar seperti yang merasa kasihan, mereka adalah wanita.


Melihat kondisinya, ketiga teman-temannya juga merasa prihatin. tentu saja, bagi seorang lelaki rasa sakitnya sekarang merupakan sesuatu yang paling mengerikan, mimpi buruk lelaki yang menjadi nyata.


"... ... Twolhong ... A- ... A- ... Akhuhh!"


Suara permohonan tolongnya membuatku tidak tega, sisi manusiaku masih ada dan aku menolongnya berdiri, memanggil teman-temannya.


"Kalian bertiga di sana."


"Hihh~!"


Apa-apaan reaksi mereka, melihatku dengan ketakutan bagaikan melihat seorang pembunuh atau syaitan? dua di antaranya sampai berpelukan, aku bersikap acuh tak acuh.


Ketakutan memang suatu hal yang manusiawi bagi manusia, tapi jangan jadikan ketakutan tersebut sebagai kelemahan. kau tidak akan bisa berani jika kau tidak melawan rasa takut yang sedang kau rasakan. satu hal yang perlu diketahui, orang yang sudah mengendalikan rasa takutnya akan menjadi berani, ada titik teratas setelahnya. rendah hati seperti biasa atau arogan seperti di bocah tindik ini.


"Y-yah~ dia bukan teman kami."


"Aku juga bahkan tidak mengenal dengan orang itu. kami hanya kebetulan bertemu untuk pertama kalinya."


Wajar mereka berkata begitu, akupun membalasnya.


"Tidak, kalian temannya, kan? ... bisa tolong bawa dia ke rumah sakit? berikan dia penanganan terbaik."


Kompak mengangguk paham, respon mereka sangat cekatan untuk mendekat menopang temannya.


Sekalipun teman tindiknya yang salah, aku juga tetap salah karena sudah membuat kondisinya begitu. meminta maaf hanya bisa aku lakukan, jika mereka tidak memanfaatkan maka aku siap untuk menanggungnya.


"Saya benar-benar memohon maaf atas ketidaknyamanan yang sudah terjadi. saya harap, permohonan maaf saya dapat diterima."


"Tidak-tidak. justru kami yang harus meminta maaf atas keributan yang telah dilakukan oleh teman kami ini."


"Tadi kau bilang, 'bukan temannya'?"


"Diamlah, aku sedang panik saat ini!"


Seseorang yang keliatan paling tinggi dan dewasa di antara yang lain, merangkul kepala mereka bertiga, semuanya menjadi menunduk kepala. Dia berkata sesuatu yang membuatku respect.


"Kami memohon maaf dengan sangat penuh untuk kejadian ini. kami yang bersalah, dan terima kasih untuk kemurahan hatinya."


Kembali menaikan pandangan, aku melihat mereka yang seperti itu. Tak lama mereka pun pamit pergi meninggalkan cafe untuk membawa teman tindiknya ke rumah sakit, seperti yang aku katakan.


Yang aku pikirkan saat itu adalah tanggapan pelanggan setelah melihat kejadian tadi, kecewa dan merasa takut tidak akan membuatku heran. namun, mereka justru bertepuk tangan, akulah yang terheran-heran melihat sekeliling memasang senyuman ramah.

__ADS_1


Jadi begitu, kah? ... inilah yang dinamakan respect sesama manusia? tidak pernah terbayangkan hal tersebut terjadi kepadaku, seorang mantan Mafia yang penuh dosa.


Kemudian, aku melangkah mendekat kepada perempuan yang tadi sedang di goda, dia langsung menunduk. menanyakan apakah dia baik-baik saja, responnya hanya mengangguk. aku lalu menawarkan panggilan jika dia kembali kesulitan.


"Umm! ... ... T-terima kasih, tadi sangat membantu."


"Sama-sama. sudah menjadi tugas kami sebagai pelayan untuk memastikan kenyamanan pelanggan."


Mengatakan rasa terima kasih, dia menggaruk pipinya dengan satu telunjuk, sepertinya dia grogi atau ketakutan? aku menjawabnya dan mencoba memberikan senyuman, ia justru terdiam sesaat. senyumanku pasti menakutinya.


"... ... emm~ ... si-siapa namanya?"


Dia bertanya dengan gugup.


"... kamu bertanya tentang nama saya?"


"Umm!" dia mengangguk.


"Saya David Setyo. panggil saja David."


"... Kak David?"


Kak David? mengapa dia memanggilku dengan tambahan 'kak'? Padahal umur kita ... paling tidak beda jauh beberapa tahun. postur tubuh dan wajahnya terlihat cantik dewasa.


"David saja sudah cukup, tidak perlu tambahan 'kak', itu membuat saya lebih nyaman. Lagipula, umur kita sepertinya tidak beda jauh dari satu sampai ... tiga tahunan?"


Lagi-lagi dia terdiam sesaat dan kemudian menjawab dengan anggukan pelan. aku yakin, ini karena nada bicara dan tatapan mataku. sejak awal ketika dia digoda, nada bicara bocah-bocah SMA tadi juga bernada berat dan tinggi. inisiatif untuk kembali bertanya pun aku lakukan, kemampuan mengubah nada suara yang aku pelajari dari Zaidan pun aku realisasikan.


"Kalau kamu sendiri ... bolehkah saya mengetahui namamu, nona~"


Suatu hal yang membuatnya kaget, wajahnya menggambarkan seperti itu meskipun menunduk. aku melihatnya sebagian, pipinya agak memerah, ternyata aku berhasil. Karena melihat keberhasilan, akupun tentu melanjutkannya untuk membuat dia lebih nyaman dan mudah berbicara.


"Sa---"


"Sa? ... namamu, Sa?"


"S-Sasa ... Sasa Ziera."


"Ahh~ Sasa Ziera? itu nama yang indah. salam kenal, nona Sasa. Semoga nona puas dengan pelayanan yang kami berikan dan menjadi langganan di sini."


Keberhasilan yang aku kira lebih baik, ternyata tidak terlalu berpengaruh. ia kembali diam dan mengangguk pelan. paling tidak, aku sudah memastikan kalau dia tipe orang yang kurang bisa diajak bicara dengan nada berat.


Itu bukan salahnya, pasti terjadi sesuatu yang membuatnya seperti itu. melihatnya datang seorang diri ke cafe ini merupakan sebuah bukti bahwa dia ingin mencoba melawan rasa takutnya, aku menyimpulkan seperti itu.


Dia tidak mengatakan apa-apa lagi setelah apa yang aku katakan sebelumnya, tak lama aku izin pamit untuk melayani yang lainnya.


Saat itu juga, aku menyadari bahwa dia memandangku dari belakang secara diam-diam, melihat dari pantulan kaca botol minuman memberikan aku jawaban tersebut.


"Tadi itu menghibur sekali, David," kata Wawan.


"Rasa kesalku langsung terbalaskan olehmu," kata Zaidan.


"Dia pasti tidak akan berani macam-macam lagi. jika tetap tidak berubah dan justru ingin balas dendam ... kita tinggal hancurkan telurnya sampai tidak ada sisa sedikitpun!" kata Dio.


Mereka menertawakan bocah tindik sok kuat tadi. dibalik wajah mereka yang terlihat merasa puas, aku melihat Zaidan yang menancapkan pisau ditangannya, bekas cakaran baru yang terlihat di samping lemari yang tidak lagi oleh sebab Dio, dan minuman kaleng yang remuk di bawah Wawan. Seandainya mereka lebih mengedepankan hasrat emosional seperti dahulu, gambaran korban sudah terbayangkan dipikiranku.


"Dia hanyalah seorang bocah, aku masih bisa memaafkannya, lupakan saja. kita sudah berubah ... jangan sampai pencapaian kita sekarang ini hancur begitu saja, hanya karena bocah!"


Memperingati mereka dengan tegas, semuanya mengangguk paham.


Perkataan lancang tak bermoral dari bocah tindik tadi, hampir membangunkan kembali jati diri gelap mereka, termasuk aku. meski pekerjaan kami sekarang sebagai pelayan kafe, jangan main-main, soal adu kekuatan dan pengalaman kami lebih unggul.

__ADS_1


...***...


__ADS_2