
Kedekatan hubungan mereka terus terlihat setiap harinya. Bahkan Keisha tak segan-segan untuk membawa Julian ke rumahnya. Julian di sana juga diterima baik oleh sang ibu. Dan selalu saja ditawarkan makanan yang enak-enak dan lebih diperhatikan ke banding anaknya sendiri yaitu Keisha.
Kisah sampai bingung sebenarnya anak kandung di sini siapa? Kenapa Julian lebih diperhatikan sementara dirinya selalu saja di nomor 2 kan.
Seperti saat ini, sang Ibu sangat asik berbicara dengan Julian. Sementara Ia hanya ditugaskan untuk membuat minuman tanpa boleh ikut bergabung. Kata Mita agar ia terlihat rajin di rumah ini.
Keisha pun mengantarkan minuman yang telah Ia buat ke ruang tamu. Dia memperhatikan ibunya yang terus berbincang dengan Julian.
"Mama sama Julian dari tadi ngomong terus. Kenapa aku nggak diajak mama?"
"Kamu mau ngomong apa? Mama kan lagi nanyain tentang Julian, Kenapa kamu sih?" Julian yang tahu jika Keisha sangat kesal pun hanya bisa menyunggikan senyumnya untuk menyemangati Keisha dari jauh.
"Tante, Tante tidak boleh seperti itu kepada anak tante. Kita gak tahu bagaimana perasaan Keisha saat ini. Jadi kita hargai Keisha. Keisha sini duduk di samping gue."
Keisha pun mengangguk dan mendudukkan bokongnya di samping Julian. Sang ibu pun terlihat sangat tidak suka dan meneguk ludahnya.
"Kan mama sudah tahu kalau tentang kamu. Di sini Mama nanyain tentang Julian biar mama lebih mengenal Julian lagi. Kamu harus tahu tentang Julian lebih dalam."
Dalam hati Keisha ingin sekali muntah. Bahkan dirinya sangat tahu mengenai Julian. Sebab Julian selalu saja menceritakan tentang dirinya kepada Keisha dan semua masalahnya di keluarganya.
"Iya deh mah, kalau gitu keisya pergi ke kamar aja. Kalian berdua ngobrol. Gue nggak masalah kok."
Jujur saja, Keisha benar-benar merasa sakit hati dengan tanggapan sang ibu. Walaupun niat ibunya hanya bercanda tapi Keisha menganggapnya serius.
__ADS_1
Keisha pun berjalan masuk ke dalam kamar dengan wajah yang sangat kesal. Melihat hal tersebut lantas membuat Julian tak enak dan berbincang dengan ibunya Keisha dengan perasaan tak nyaman.
_____________
"Lo marah sama gue? Karena tadi gak bisa berhentiin Mama lo?" Keisha menggelengkan kepalanya. Karena sama sekali ia tak merasa seperti itu.
"Nggak apa-apa sih. Lagi pula itu biasa aja bagi gue, Mama emang kayak gitu. Kalau ada orang pasti anaknya dilupain. Di rumah aja Mama lebih utama in Rossa daripada gue. Gue juga nggak ngerti kenapa Mama bisa kayak gitu."
"Sabar aja kali. Mungkin Mama lo ingin yang terbaik buat lo. Jujur kayaknya mama lu mau jadiin gue mantu." Sontak saja Keisha memandang ke arah Julian yang berbicara dengan seenak jidatnya.
Ia sama sekali tak pernah berpikir jika Julian akan menjadi pasangan hidupnya. Entah kenapa Keisha merasa sangat jijik membayangkan hal tersebut. Padahal apa yang dikatakan oleh Julian tadi adalah sebuah kode. Tapi Keihsa yang sama sekali tak mengerti dengan kode itu.
Julian yang sadar pun jika dirinya secara tak langsung tertolak hanya bisa mendengus panjang. Laki-laki tersebut mungkin bisa mendapatkan hati Keisha lain waktu.
Karena Julian sudah sering datang ke rumahnya maka keishalah yang akan datang ke rumah cowok tersebut.
"Boleh juga kalau mau ngajakin gue."
"Ya udah gue antar ke rumah. Mama juga nggak ada di sana, Papa juga. Kalau pun pulang palingan mereka cuman sebentar," ucap Julian dengan sangat sedih. Laki-laki tersebut berusaha untuk terlihat kuat di depan Keisha.
Ia menjalankan mobilnya menuju ke rumahnya. Laki-laki tersebut juga meyakinkan Keisha jika di rumahnya tak berbahaya.
"Intinya nggak apa-apa di rumah gue, lo jangan takut aja."
__ADS_1
"Lagian siapa juga yang takut ke rumah lo?"
"Siapa tahu kan kalau lu takut gitu. Soalnya kan gue juga sering ke ceritain keadaan rumah gue gimana."
Keisha menjadikan bahunya karena menurutnya Julian terlalu berlebihan. Bahkan dari tadi tak pernah terpikirkan di benaknya bahwa di rumah Julian akan sangat menakutkan.
"Kalau misalnya ada Mama lo di rumah, gimana ya reaksi Mama lo?"
"Kalau dia tahu siapa lo dan lo anak temennya mungkin nggak juga. Tapi Entahlah karena gue nggak bisa nebaknya."
Keisha menganggukkan kepalanya dan menatap ke arah depan lebih tepatnya ke arah jalanan yang saat ini sangat padat. Banyak kendaraan yang sedang melintas di depan mereka.
Kemacetan menjadi hal yang wajar di ibukota ini. Maka dari itu mereka terlihat santai-santai saja, sambil menikmati perjalanan datang ke rumah Julian.
"Julian, kira-kira lo pernah nangis nggak?"
Dari dulu Keisha sangat penasaran akan hal ini. Ia sangat ingin tahu Apakah Julian pernah menangis sebab permasalahan Julian tampaknya lebih cukup berat dari dirinya.
"Lo nggak usah nanya Sa, soalnya gue malu mau jawab." Keisha terkejut dan melirik ke arah Julian. Jadi benar jika Julian pernah menangis, Kenapa setiap kali ia memandang wajah Julian perasaannya sangat tidak percaya jika laki-laki tersebut juga pernah menangis. padahal Julian adalah seorang manusia dan sifat itu wajar dimilikinya.
_________
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA