
Siang kali ini panas terik sangat menyilaukan mata. Dilirik jam yang bertengger dipergelangan tangan kanan menunjukkan jam 1 siang. Naomi menghela napas. Seakan malas melangkahkan kaki keluar dari mobil. Ia baru saja sampai ke halaman parkir bandara. Ya, hari ini hari keberangkatannya menuju Yogyakarta. Ia akan meneruskan sekolah strata satu nya disalah satu universitas favorite disana.
"Dek, mama dan papa gak bisa lama-lama anter sampai kedalam ya. 15 menit lagi kami mau menemui rekan papa terkait pasokan alat berat di bengkel kemarin." Mama Lea memeluk erat anak bontotnya dengan sangat sayang. Dicium dan dikecupnya berkali kali pipi kening anak bungsunya itu dengan gemas. Naomi meringis.
"Aahh mamaaaa... Nomi kan bukan anak kecil lagi ihh maluuu kan maa.." Naomi merengek tanpa perlawanan. Tampak papa tersenyum melihat dua wanita kesayangannya terlibat masalah sepele.
"Ya namanya juga sayang sama anak, mana kuliahnya jauh lagi kan. Bakalan lama nanti mama kesepian dirumah gak ada anak yang bisa mama ajak main sambil mama kerjain." Mama cekikikan melihat tingkah anak gadisnya yang tanpa disadari kini sudah menginjak usia 17 tahun.
"Sudah jam berapa ini? Dedek, buruan gih sana masuk kedalam. Hati-hati tetap waspada diperjalanan ya, jangan sembarangan tidur kayak putri salju, Hp juga jangan di silent, tas jangan ditinggalin sembarangan!" Papa menengahi mengingatkan sambil merapihkan tata rambut Naomi dengan sayang. Dikeluarga mereka memang sudah mengetahui kebiasaan buruk Naomi jika sudah tertidur, ia susah terjaga. Tidur seperti orang mati, diganggu diguncang-guncang pun masih susah dibangunkan. Kecuali diisengin bang Juan, kakak sulung semata wayang Naomi. Kaos kaki busuk sering menjadi senjata ampuh untuk membangunkan Naomi. Yeeekkksss.. Naomi bergidik geli sendiri mengenangnya.
"Iya iya.. dedek masuk nih ya.. papa mama baik-baik disini. Kalo ada apa-apa juga dedek cepet dikabari. Salam buat abang, laen kali kalo adek nya mo pamit tuh dianterin, bukannya ditinggal main!" Gerutu Naomi sambil meraih menciumi punggung tangan mama dan papa bergantian.
"Abang gak main dek, ini abang dah dateng. Bawain cemilan buat kamu." Suara datang dari arah belakang. Tampak napas bang Juan terengah saat mendekati adik perempuannya.
"Jaga diri dek disana, ntar kalo kerjaan abang agak longgar disini abang jenguk kesana ya. Temen abang udah abang hubungi kok buat jemput kamu nanti di bandara." Sambil menepuk-nepuk pundak adiknya, ia menyerahkan bungkusan ke tangan Naomi.
"Nih apa bang?" Tanya Naomi polos.
"Gorengan abang botak!" Kekeh bang Juan jahil. iihh abang suka banget ngegodain, males juga bawa bawa gorengan kedalam pesawat, ga elit banget oleh-olehnya gorengan. Batin Naomi sambil mengintip mengendus bau dalam bungkusan.
__ADS_1
"Jangan menggerutu dibawain gorengan, itu buatan mbak Anis kok. Bukan buatan abang botak, paling agak botak dikit gorengannya bekas abang gigit dikit tadi." ujar bang Juan tertawa.
Syuuutt! Tangan Naomi melesat cepat mencubit pinggang bang Juan. Matanya melotot melihat abangnya meringis sambil tertawa puas.
Naomi meraih tangan bang Juan, sembari berpamitan lagi mencium tangan kedua orangtuanya. Ia lalu berjalan melalui koridor sampai berbelok memasuki area batas pemeriksaan tiket. Sambil tiket dicek petugas, sesekali Naomi melihat kearah mama, papa dan bang Juan yang masih setia mengawasi dari kejauhan. Mama melambaikan tangan kode perpisahan, da daaahhh!
Ini keberangkatan kedua Naomi menuju Yogya setelah beberapa minggu lalu ia sempat pergi ditemani mama untuk registrasi perkuliahan. Kali ini ia harus memberanikan diri berangkat sendirian demi melanjutkan sekolah tanpa ditemani. Papa, mama, bang Juan sibuk dengan urusan pekerjaan. Sehingga Naomi langsung diamanahkan untuk bertemu jemputan teman bang Juan, Taufan yang katanya sudah stay lama di Yogyakarta.
Setelah melalui pintu pemeriksaan metal detector, Naomi check-in ke meja petugas untuk mendapatkan boarding pass &nomor bagasi, tiba-tiba hasrat untuk buang air kecil pun melanda. Naomi berpikir, apa dia harus keluar lagi mencari toilet diluar saja agar dapat bertemu dengan mama papa dan bang Juan. Sebab hatinya masih terlalu berat meninggalkan orang-orang tercinta yang selama ini selalu ada disisinya. Naomi sulit membayangkan bagaimana nasibnya hidup sendiri diperantauan jauh dari pantauan keluarga. Semoga berjalan dengan baik.
"Gdbrruukkk!!"
"Lho?! Naomi? Kamu gak pa pa?" Pria itu mengulurkan tangan niat menolong. Naomi menolak, ia mampu berdiri sendiri. Dikebas kebaskan celana jeans sembari merapikan kaosnya.
"Gak pa pa, kak. Bisa sendiri." Jawab Naomi singkat. Lama tak bertemu membuat Naomi merasa canggung. Terakhir kali bertemu saat upacara hari pramuka 14 Agustus tiga atau empat tahun lalu. Entah kenapa hari ini mereka dipertemukan kembali namun dalam keadaan berbeda. A.N Barrathayuda, begitu tulisan nama yang tertera di name tag seragam slim fit safari pria yang berada dihadapannya.
"Maaf, gak sengaja. Kamu juga jalannya nunduk aja gak liat kedepan. Mau berangkat kemana?" Tampaknya pria itu memulai percakapan. Dilepaskan kacamata yang sejak tadi bertengger dihidung mancungnya. Baru kemudian Naomi menyadari jika ia harus menjawab pertanyaan pria itu.
"Ke yogya, kak. Lanjut kuliah disana. Kakak apa kabarnya? disini ngapain? kerja ya? kerja dimana, kak? Bagian apa? Udah lama juga lho ya aku gak liat kakak."
__ADS_1
Yang ditanya hanya tersenyum kecil. Sambil menggarukkan kepala. Buset dah, nih anak lagi nanya apa muntah? Banyak bener. Masih comel ceriwis aja kayak dulu.
"Gak lagi kerja, cuma lagi nunggu aja. Mau jemput bos, nanti bentar lagi tiba pake penerbangan dari jakarta." Jawab pria itu cool.
"Oh, begitu ya." jawab Naomi santai sambil membuka ponsel yang berdering karna grup chat.
"Iya udah lama juga ya gak liat kamu. Tau-tau udah selesai aja sekolah SMA nya." Tiba tiba Barra melanjutkan perbincangan.
"Oh ya, hampir lupa. Kakak minta nomer hp mu, boleh? Dah lama juga gak ngobrol sama kamu." Sambil menyodorkan HP nya pada Naomi. Duh, nih orang to the point banget, bikin deg-deg an. Diambikan hp itu oleh Naomi sambil ia ketik sendiri nomer Hp nya.
"Nih, kak. Aku masuk dulu ya. Semoga kita ada kesempatan bertemu lagi nanti. Daaahhh..." Naomi pun berlalu.
Tinggal lah Barra terdiam menatap kepergian sosok mungil yang barusan pergi dari hadapannya. Ada getar syahdu mengalir hingga membuat jantungnya berdebar lebih cepat. Akhirnya, senyum tipis pun menetralkan perasaan yang entah apa maknanya.
*******
Halo, perkenalkan saya LeeZha. Pendatang baru disini. Semoga tulisan ini dapat menghibur dan menambah khazanah dunia perbacaan di NovelToon.
Selamat membaca.
__ADS_1