
Sejak dulu, sejak Naomi mengenyam pendidikan di bangku kelas 1 SMP, Naomi sudah mengetahui tentang latar belakang Barra, saat itu Barra sudah kelas 2 SMA. Ia begitu kagum pada sosok Barra yang mandiri. Sosok yang terkenal santun, jujur, tegas, dan berwibawa sesuai dengan perawakannya yang tinggi, atletis,serta berkulit putih. Memiliki wajah yang tampan sesuai pula dengan wajah orientalnya. Sudah sangat jarang ditemui sosok seperti ini.
Sepengetahuan Naomi, Barra berasal dari keluarga sederhana. Menurut informasi yang Naomi ketahui dari teman-teman pramuka nya dulu, Ayah Barra adalah seorang pebisnis rumah makan seafood sedangkan ibunya adalah seorang guru sekolah dasar. Entah seperti apa rupa mereka Naomi pun tidak tahu persis.
Informasi terakhir Naomi juga mengetahui bahwa Barra adalah satu-satunya pribumi asli dari Kabupaten tempat tinggal mereka yang saat itu lolos murni mengikuti test masuk pendidikan kepolisian. Kebetulan kebupaten tempat tinggal Naomi tergolong daerah baru berkembang. Merupakan kepulauan Sumatera rumpun Melayu yang baru beberapa belas tahun ditetapkan menjadi provinsi kepulauan. Terasa wajar jika akses serta peluang masih terbuka lebar untuk mendapatkan pekerjaan. Pun selama ini diketahui Barra juga sangat patuh dan aktif di Saka bhayangkara, aktif juga di Paskibra, OSIS dan lain-lain sehingga ia menjadi salah satu sosok kebanggaan daerah setempat kala itu. Semakin mempermudah kesempatannya untuk mengikuti tahapan seleksi karena sedikit banyak telah tahu seluk beluk ilmunya.
Tapi apa yang dilihatnya hari ini seperti membuat Naomi merasa ragu. Sebenarnya Barra benar seorang polisi, security atau supirnya polisi?? Penampilannya benar-benar tidak begitu meyakinkan. kok gak pake seragam lengkap gitu kayak polisi kebanyakan. Sungguh lugu Naomi menyimpulkan.
Ganteng sih, masih tinggi, rapi, wangi, berwibawa. Tapi... Ahhh bodo amat lah. Yang penting sekarang aku harus konsentrasi penuh. Jangan sampai ketiduran diruang tunggu ini nungguin pesawat dateng. Kan gak lucu! Ntar dibangunin petugas pemeriksa tiket sedangkan akunya masil ileran. Hihihi Naomi tertawa dalam hati. Tiba tiba..
Ting....
Sebuah pesan chat masuk.
"Jangan lupa untuk selalu waspada diperjalanan. Safe flight ya.
~Barra~"
__ADS_1
Deg....
Naomi sejenak tertegun. Pria itu ternyata langsung menghubungi meski lewat chat singkat. Harus jawab apa ya? Naomi gusar, agak kebingungan. Baru kali ini ia dikirimi chat pesan dengan lelaki yang berusia 4 tahun jauh lebih tua darinya.
"Siap 86 ,kak!" Jawaban yang lebih singkat pun dilayangkan. Duh, kaku weiiii kakuuuu. Naomi menutup wajah dan tersenyum merona dibalik kedua telapak tangan.
Disimpannya nomor itu dengan nama, "Body Guard Tamvan". Bodo amat lah ya, orangnya gak tau juga kalo dibilang body guard disini, hihihiii... Naomi tertawa geli dalam hati.
Naomi memang awam, tidak terbiasa berbalas chat sok akrab dengan pria. Biasanya ia hanya chat dengan bang Juan, papa, atau sama Derr, sahabatnya disekolah.
Ting...
Dibukanya isi pesan chat itu, dan...
"Kalau sudah siap, jangan lupa baca doa selama perjalanan. Kabari aku jika sudah sampai tujuan."
ini kenapa jadi agak maksa suruh kabarin ya? emang aku siapanya dia? barusan ini juga kita ngobrol lagi semenjak lama gak bertemu. dalam hati Naomi berkata, apa memang seperti ini gaya percakapan dengan orang lebih dewasa darinya. Lebih sok perhatian, biar lebih akrab. dihh... segitu amat. Padahal kalau pakai tutur bahasa yang biasa-biasa saja, chatnya pun tetap akan dibalas juga oleh Naomi.
__ADS_1
Naomi pun mengetik chat balasan..
"Insyallah selalu. Gak perlu mesti buat laporan ke kakak juga kan? hmm... sepertinya aku mencium aroma kekhawatiran berlebihan nih, hahhaha"
Lama menunggu balasan akhirnya datang juga sahutan dari Barra.
"Berlebihan atau tidak ya terserah. Aku hanya menanyakan apa yang mesti ku tanyakan. dan kamu harus menjawabnya agar aku tenang."
Diihh, mulai gombal ini. gombal gembel lah ini nih namanya! Naomi nyengir sendirian. Ntar jadi jatuh cinta sama aku baru rasa! Gumam Naomi kepedean didalam hati. Lalu dibiarkan begitu saja chat itu tanpa niat membalasnya.
45 menit pun berlalu, pesawat tiba dan siap dimasuki penumpang. Naomi beranjak dari kursi tunggu dan segera melewati petugas pemeriksaan tiket. Melewati garbarata cukup melindungi para penumpang dari rintik hujan. Secara tiba-tiba saja cuaca berubah dari terik menjadi hujan. Naomi mencari terus menelusuri kursi sesuai dengan boarding pass yang ia miliki. Seat 12 A akhirnya ia temukan sesuai dengan boarding pass miliknya. Ia susun tas bawaan keatas bagasi.
Naomi duduk sambil memangku bungkusan berisi gorengan pemberian bang Juan. Dibukanya sedikit lalu dicuil makanan itu walau sedikit tetap ia makan. Tersembul gurat air mineral kemasan mini dari dalam bungkusan. Naomi tersenyum. Bang Juan biar sering jahil, tapi suka inget kalau Naomi doyan gorengan dan air putih. Biasanya sering beli gorengan abang botak depan pengkolan yang letak lokasinya tak jauh dari rumah Naomi. Tapi hari ini sepertinya bang Juan lebih berbaik hati, karena gorengan yang diberikan justru buatan mbak Anis, pacar bang Juan. Spesial katanya biar si adek semangat buat kuliah. Hahaha sesederhana itu membuat Naomi bahagia.
Tak lama kemudian menyusul dua penumpang lain duduk disebelahnya. Sepasang suami istri yang usianya seperti sudah lebih dari separuh baya. Naomi pun menyapa mereka dengan senyuman ramah.
"Permisi bapak, ibu.. mau gorengan?" Tawar Naomi sambil mengunyah. Mulutnya penuh, namun ia tetap menyodorkan gorengan dalam bungkusan. Mereka tersenyum lucu melihat Naomi. Baru kali ini mereka menemui anak muda yang ramah ketika di dalam pesawat.
__ADS_1
"Sudah, nak. Dimakan buat sendiri saja. Nanti klo bapak sama ibu ikutan makan juga, kamu jadi gak kebagian makan lagi. Soalnya si ibu kalo ditawarin gorengan suka lupa diri, dimakan sampe habis gak bersisa." Ledek si bapak sambil menggoda istrinya yang kontan mencubit mesra dan tersenyum malu. Duh, kakek nenek ini beneran romantis oiii.. semoga aja kelak kalo sudah tua nanti aku bisa lebih romantis dari mereka ini. Harap Naomi dalam hati.
Tanpa disadari Naomi sudah mengobrol banyak dengan pasangan suami istri tadi. obrolan tentang kue, kuliner kesukaan, anak si bapak dan si ibu, perjalanan cinta mereka sampai menikah dan memiliki anak hingga cucu. Secara singkat begitu cepat dilontarkan dalam satu obrolan asyik antara ketiganya. sangat seru dan penuh gelak tawa. Sampai sampai penumpang disebelah mereka merasa risih atas kegaduhan kecil obrolan yang mereka buat. Saat pesawat mulai meninggalkan landasan baru lah kemudian mereka menghentikan obrolan. Naomi mencoba memejamkan mata menenangkan diri. Menikmati perjalanan yang sebelumnya ia takuti. Tak lupa ia memasang headset ditelinga, seraya berujar dalam hati. Bismillah, Jogja i'm coming!