
Barra POV.
Sejak bertemu kembali dengan gadis mungil bernama Naomi di bandara, hatiku merasa seperti ada angin segar yang berhembus mengisi relung hati. Sudah lama sekali ia tidak merasakan perasaan yang entah apa namanya ini. Tiba-tiba merasa sangat bahagia dan ada terselip rasa ingin terus mendekati nya. Tapi aku tidak tahu pula bagaimana cara menunjukkannya.
Gadis itu memang berbeda dari gadis kebanyakan. Sudah lama juga ku tahu Naomi begitu supel dalam pergaulan. Dia adik didik ku di organisasi pramuka. Style nya tidak begitu girly. Agak sedikit tomboy, masih sama seperti dulu. Tapi kenapa kali ini dia begitu membuatku penasaran? Kenapa tidak terpikirkan dari dulu saja ku dekati dia? Ahh..Mungkin saja karna dia dulu masih ku anggap seperti anak-anak. Jadi tidak pernah sedikitpun terlintas untuk ku memikirkannya.
Kemarin sengaja ku tabrak dia di lorong menuju toilet. Mungkin memang dia tidak menyadari bahwa sejak keluar dari ruang check-in, sudah ku awasi dia dari kejauhan. Ku hampiri lalu ku senggol sedikit hingga membuatnya terpental dan jatuh. Ku pikir-pikir, jadi kasihan juga.
Niat ku ingin menolong, tapi ternyata dia menolak uluran tanganku. Mungkin merasa sungkan karena memang sudah lama sekali kami tidak bertemu. Aku semakin dibuat penasaran, langsung saja ku todong dia agar menuliskan nomer kontaknya di ponsel ku. Bagai gayung bersambut, ternyata dia mengabulkan permintaanku.
Rasanya pagi ini aku masih ingin tertawa saja. Terkenang pasal cabe semalam. Aku melihat begitu jelas memang ada kok cabe merah yang tersangkut di giginya.
Sebetulnya ku anggap itu hal biasa saja, sama seperti yang sering ku katakan pada Selly disaat jam makan siang di kantin. Lagi pula, menegurnya bukan berarti mempermalukan, ya kan?
Bukan kah sebaiknya kita memberitahu kebenaran meskipun kebenaran itu terkadang menyakitkan?
Tidak pernah ku duga karna hal itu, membuat Naomi merasa sangat terkejut hingga memunculkan rona merah diwajahnya pertanda ia benar-benar malu. Entah mengapa tapi hatiku puas. Aku puas, sudah dapat melihat wajah yang menggemaskan lagi semalam. Meskipun hanya sebentar lewat video call yang berujung dimatikan tanpa ada kelanjutan obrolan di whatsapp.
Sepagi ini pun ku rasa tidak begitu masalah jika harus melihatnya tersenyum lagi dengan cabe merah di giginya. Karna bagiku, gadis itu baru saja membuat ku candu. Ada rasa ingin terus melihatnya meski hanya dari panggilan video jarak jauh. Apa sebaiknya ku telpon lagi saja dia sekarang.
Ahh.. nanti sajalah, cegah ku. Aku bergegas melangkah menuju meja makan. Ku ambil roti, dan meletakkan nya di piring serta mengoleskan selai cocho nutt diatasnya. Tidak harus menunggu lama, langsung dapat ku nikmati sarapan ku dengan perlahan. Tapi mata dan tangan ku tetap fokus ke layar ponsel.
Tuuuuuuttt.....
Beberapa kali ku dengar suara tuuuuttt... Telpon ku belum juga ada jawaban. Ku coba ulangi panggilan sekali lagi.
Tuuuuuuuttt.... Masih dengan suara yang sama.
Aahhh, sebenarnya dia sedang apa sih? Kok gak juga menjawab panggilan video ku. Aku penasaran. Pikiran ku sudah penuh dengan berbagai macam dugaan. Masih marah kah dia atau....
Panggilan tersambung, tapi pemandangan dilayar ponselku hanya menampakkan atap kamar berwarna putih saja yang muncul disana. Tak lama kemudian tampilan gambar seperti terguncang kesana sini dan buram kadang menghitam. Seperti tersentuh tertutup jari yang sedang meraba-raba, lalu...
"Baru bangun?" Aku menyapa nya.
Ku lihat Naomi masih berbaring sambil berusaha membuka mata. Lama ia melihat kearah ponsel, tapi beberapa kali pula matanya terpejam lagi. Sesaat kemudian terbuka, lalu menyipit kembali.
__ADS_1
Digusal-gusal mata dan seluruh wajahnya. Pertanda baru saja Naomi terbangun dari tidur lelapnya. Cukup lama tidak ada jawaban dari sana, kecuali gambar wajah bantal Naomi yang sepertinya belum menunjukkan kesadaran 100%.
Diluar dugaan, ternyata dia kembali merebahkan pipinya ke bantal, sedangkan ponselnya masih berada dalam genggaman. Panggilan video pun masih berlangsung, merekam begitu saja dekat kearah wajahnya. Deg... Tak disangka, begitu cantik dan natural sekali gadis itu sekarang.
10 menit berlalu dan kami masih berada dalam panggilan video yang sama. Cukup lama aku tertegun. Gadis itu benar-benar membuatku gila. Enak saja dia tertidur dihadapanku dengan mulut menganga seperti itu. Kalau saja dekat, mungkin sudah ku ***** bibir mungilnya itu agar cepat terbangun.
Aah... Pikiran macam apa ini, Barra!
Aku pun menepis pikiran itu dan hanya bisa menahan senyum ku.
Ckreekkk...!
Sengaja ku screen shot tampilan panggilan kali ini. Mana tahu bisa jadi bukti untuk menggodanya di lain kesempatan.
"Halo, dek..! Bangunnnnn... Bangunnnnn... Banguuunnnn! Sudah siang lho. Kamu gak ke kampus???" Tanyaku dengan suara lantang.
Mungkin agak sedikit mengejutkan dan membuat kaget. Hingga tak sengaja smartphone pun terlepas dari genggaman disana, dan langsung melayang mendarat keras diwajah Naomi.
"Aww...."
"Hatchiiiiihh!!!!
Huuuuuaaaa.... Hhhaaaa.... Hhhaaaaa.....
Hhhaatchiiiihhh!!!!!"
Ku lihat dia bersin berulang kali. Mungkin karena benturan tadi yang membuatnya menjadi bersin.
Ku ulangi lagi menyapa. "Halo.. apa yang disana sudah terbangun?!"
"Iya, kak..." Sahutnya.
Terdengar suara masih berat dari sana. Baru saja aku ingin mengajaknya bicara, tiba-tiba panggilan terputus.
Aiihh... Tak bisa ku tahan senyum ku sambil memalingkan wajah kearah cermin. Lalu ku rapikan rambutku keatas berulang kali dengan jari. Pasti sekarang dia sudah benar-benar sadar dari tidurnya, gumamku.
__ADS_1
Ku tuliskan sebuah pesan singkat.
"Kenapa ditutup? Padahal baru saja mau bicara. Sebaiknya kamu segera bersiap berangkat ke kampus. Kamu gak ingin melewatkan hal penting disana, kan?"
Ting...
Tak ku sangka ternyata ia mau membalas chat dariku dengan cepat.
"Sejak kapan menelpon ku, kak? Maaf, aku terlalu jelek pagi ini untuk video call - an sama kakak." Aku tersenyum membacanya. Jelek katanya? bagiku tidak.
"Sepuluh menit saja rasanya sudah terlalu lama bagiku cuma untuk memandang kamu yang lagi tidur. Nyenyak sekali, kok bisa ya tidur sambil telponan begitu?"
Kali ini aku berdusta. Kenyataannya, 10 menit tadi terasa begitu cepat berlalu. Rasanya ia masih ingin melihat gadis itu terus tertidur didepan ponselnya.
"Makanya sengaja tadi ku keraskan suara agar kamu cepat terbangun. Ini sudah hampir jam 7. Selamat beraktifitas pagi, ya. Inyallah, saat istirahat makan siang nanti aku telpon lagi."
Ku tunggu dalam hitungan mundur, berharap gadis itu menjawab isi pesan ku.
5 ...
4 ...
3 ...
2 ...
1 ...
Hmmm...Sepertinya memang sudah tidak ada lagi jawaban chat dari sana.
Ada perasaan hangat yang kurasakan. Ada apa ini? Kenapa aku begini?
Ku biarkan saja perasaan bahagia ini mengalir apa adanya. Tanpa kusadari sepagi ini, gadis manis itu sudah jadi mood booster untukku. Aku merasa lebih bersemangat menjalani hari. Bekerja sebagai pengayom masyarakat sekaligus ajudan yang setia mengawal komandan besar.
*****
__ADS_1