KaJo Taka LaNa(Kalau Jodoh Takkan Lari Kemana)

KaJo Taka LaNa(Kalau Jodoh Takkan Lari Kemana)
Aset menarik simpati


__ADS_3

You got me like


igeon amu gamdong eopsneun


Love Story


eotteon seollemdo eotteon uimido


negen mianhajiman


I’m not sorry


oneulbuteo nan nan nan


bichi naneun sollo


bichi naneun sollo


I’m going solo lo lo lo lo lo


I’m going solo lo lo lo lo lo


Lagu pengiring yang jadi backsound k-pop dance Naomi bersama teman-teman barusan masih terus terngiang dan acap kali dinyanyikan nya secara spontan. Sebenarnya ia tidak begitu mengerti makna secara utuh, namun berkat penjelasan dari teman-teman, lagu itu mengisahkan tentang seorang yang hidupnya sendiri dan sangat penuh percaya diri. Seperti bangga akan hal itu bahkan setelah putus dengan sang kekasih, seseorang dalam lagu tersebut tetap percaya diri.


Begitu mendapat penjelasan itu Naomi auto berkaca pada diri sendiri. Lagu Solo dari Jenny Blackpink seolah sama seperti situasi nya saat ini. Ia benar-benar merasa nyaman menjadi bebas begini daripada menjadi pribadi yang palsu. Tidak harus mengorbankan banyak hal agar dicintai orang lain. Tidak harus memaksakan menarikan tarian tradisi sembarangan waktu dan tempat, sementara ilmu nya saja dia belum paham.


Walhasil ketika menarikan koreografi dadakan tadi ia pun jadi lebih menjiwai untuk mengungkapkan kepercayaan dirinya. Walaupun sebenarnya dia juga belum pernah merasakan bagaimana sakitnya putus cinta, yang penting esensi percaya diri sama-sama bisa ia tularkan untuk mengungkapkan kepercayaan diri.


Pentas mereka pun diakhiri sorak sorai yang gegap gempita penuh kehebohan. Sampai ada yang berlarian menuju kearah panggung memberikan beberapa kuntum mawar merah sebagai apresiasi mereka. Ya, meski penampilan mereka paling beda, tapi mengasah kepercayaan diri itu hal yang utama.


Naomi lupa kepada siapa tadi ia menyerahkan hp untuk dimintai tolong rekam live aktivitasnya di medsos. Pandangan matanya disusuri dari ujung kiri sampai ujung kanan mencari objek tersebut. Tertuju lah pada sosok seseorang yang wajahnya seperti tidak asing lagi. Orang itu melambaikan tangan memberi kode kearahnya.


Apaaaaa?? Perasaan tadi minta tolongnya sama perempuan, ini kenapa hp nya berpindah ditangan laki-laki??? Aaaaaaghhhhrrr...


Seketika Naomi ingin menjerit.


Buru-buru dihampiri laki-laki itu dan ingin segera merampas ponsel nya. Tapi tangan mungil Naomi kalah kuat, ditepis cepat oleh lelaki yang tidak lain bernama Dirga. Ya, si asisten dosen yang sok oke itu.


"Bentar..bentar.. pamitan dulu nih. Nah gengs, gimana pentas barusan? Tengkyu ya buat yang sudah anteng nonton live akun ini sejak tadi. Banyak juga yang nonton ya.. hihi..


Nih ownernya juga udah dateng. Saya Dirga pamit undur diri dan langsung kita kembalikan ini pada sang owner."


Cepat disambar oleh Naomi ponselnya yang ternyata masih aktif siaran langsung itu. Tak lupa Naomi pun berterima kasih. Segera ia akhiri siaran langsung tersebut, lalu menatap lekat pada lelaki asdos itu. Berharap mendapat penjelasan langsung darinya proses bagimana kronologi ponselnya berpindah tangan.


Tapi yang ditatap bungkam pura-pura lugu tidak mengerti. Cuma sesekali melihat kearahnya sambil tersenyum. Orang itu sibuk ngobrol dengan banyak para mahasiswi kampus. Seperti idola bertemu dengan para fans saja, lelaki itu terus dikerumuni banyak wanita. Naomi jengah, dan cepat mebalikkan badan mencari tas miliknya kemudian berlalu meninggalkan kerumunan itu.


"Nomi!!!!! Siniiii..."


Panggil seseorang dari jauh. Ternyata tim dance nya sudah sejak tadi berkumpul menjauhi tempat pentas. Naomi bergegas mendekati.


"Uuuuhh kita sukses bebbbbbhhh mentas hari ini.. Alhamdulillah, seneeeeng banget! Padahal kalau dipikir-pikir baru latihan koreo cuma berapa jam aja tadi. Suprise, gak nyangka bakal lancar begini."


Memey heboh sambil menyambut dengan pelukan.


Naomi tersenyum puas. Ternyata ia tidak sendiri. Teman-teman satu grup juga ikut merasakan hal serupa. Memang basic kemampuan mereka hampir sama rata, jadi secara kebetulan bisa saling menyatu ketika dihadapkan dalam satu keadaan genting seperti tadi. Otak mereka otomatis encer dan chemistry diantara mereka langsung dapat mengalir begitu saja menjadi klop.


Diambilkan botol minuman isotonik dari saku tas. Naomi meneguknya hingga separuh botol tersisa. Sesekali ia menolehkan pandangan kearah tempat pentas. Masih tampak Asdos sok sok an itu disana. Dan ehh.... Melambaikan tangan? Sama siapa? Naomi mencoba sedikit menoleh kesamping kanan kiri lalu ke belakang, barangkali saja lambaian tangan itu bukan tertuju untuknya.


Memey menyikutkan lengannya menyenggol Naomi. Memberi kode bahwa si Asdos itu sedang melambaikan tangan kearah mereka. Bola mata Naomi memutar ke atas, ia lelah. Masih belum ingin berkata apa-apa. Nampaknya Memey sudah dapat membaca situasi itu.

__ADS_1


"Naomi. Si Asdos kece itu dari tadi kayaknya merhatiin kamu deh. Kamu kenal deket ya sama dia?"


"Ia kayaknya tadi hp kamu dia yang pegang lho, kok bisa sih?"


"Aahh diam-diam kamu rupanya udah ada cemceman disini ya, uhukkkk uhuuukkkk .."


"Pantesan kamunya mau masuk kampus ini ternyata sudah ada target tujuannya, hihihi".


Tanpa harus ditutup-tutupi, tim dance Naomi asik menggibah langsung didepan objeknya. Bikin Naomi gusar dan auto menyatukan alisnya pertanda bingung. Heran juga, secepat itu mereka ngeh mengerti situasi. Cepat-cepat ia mencoba meluruskan praduga tak bersalah grup menarinya itu.


"Gak kenal aku woiii.. nih first time aku merantau, baru kali ini aku nginjekin kaki kesini. Itu artinya aku juga baru ketemu dia di kampus ini."


Naomi jengkel, deterjen masa perkuliahan ternyata tidak jauh berbeda dengan deterjen masa sekolah menengah pertama.


Mereka cekikikan melihat Naomi nampak jengkel dan murka oleh ulah godaan. Wajah putihnya merona. Tidak dipungkiri, jika menurut pengakuan teman masa SMAnya, Naomi termasuk kategori cewek cantik idaman para lelaki. Matanya bulat, hitam dan berbulu lentik. Rambut hitam, panjang bergelombang. Pipinya yang berlesung terasa manis sekali bersanding dengan gigi ginsul disebelah kiri. Ditambah Hidungnya yang bangir bertipe Duchess menyempurnakan penampilan wajahnya. Yang memiliki jenis hidung tipe ini biasanya adalah orang yang spontan dan sangat kreatif, mereka dikenal dapat membawa kebahagiaan ke mana pun mereka pergi. Ya, cukup sesuai dengan kepribadian Naomi.


Naomi berusaha mengalihkan topik pembicaraan menjadi lebih serius. Ia mencoba mengajak membahas masalah projek tugas selanjutnya. Belum juga dimulai pembahasan tiba-tiba hp nya berbunyi. Sekilas dilihatnya pesan yang masuk, ternyata dari Barra. Diabaikan sementara pesan chat itu, kembali ke topik pembahasan bersama teman-temannya.


Sore hari sampai diakhir pertemuan, acara perkenalan mahasiswa baru tahap pertama akhirnya telah dilaksanakan. Naomi dan teman-teman merasa puas dengan hasil kerja sama mereka. Tinggal menunggu pengumuman teknis selanjutnya untuk persiapan perkenalan mahasiswa baru tahap kedua.


Naomi menunggu taxi melintas dihadapannya, barangkali ada yang kosong bisa ia tumpangi dengan cepat. Ia sedang kehabisan pulsa reguler untuk melakukan pemesanan taxi online. 10 menit asik menungu taxi, sebuah mobil putih mendekatinya dari arah belakang. Tak lama muncul wajah lelaki Asdos itu dari balik kaca mobil.


"Ayo naik, nunggu taxi kelamaan ntar keburu maghrib." Ajak Dirga.


Dasar lelaki aneh. Nyapa baik-baik dulu kek apa kek, ini langsung aja nyuruh-nyuruh. Bikin takut ah, lagian gak kenal.


Batin Naomi memberontak, dan Dirga pun tertawa. Sepertinya tau gelagat Naomi yang sempat terlihat sedikit bergidik ngeri.


"Udah, ayo naik aja. Gue gak bakal ngapa-ngapin lu, tenang aja. Naik mobil ini jauh lebih aman ketimbang naek taxi yang lu sama sekali gak kenal siapa yang nyetir."


Naomi tercekat mendengar ucapan lelaki Asdos itu, ada benarnya juga. Lagi pula jika dia ikut mobil itu, ia jadi lebih cepat sampai dan segera melakukan sholat maghrib tepat waktu.


"Yakin ni gak apa-apa? Ntar jadi diburu netijen, gak sanggup gue dicaci maki!" Sahut Naomi ketus.


Dirga tampak tersenyum. Sepertinya lelaki itu masih punya lebih dari ratusan stok senyum. Sambil terus menyetir mobil dengan cepat, sesekali ia tersenyum pada Naomi saat pandangan mereka saling bertemu di kaca spion depan.


"Sorry ya tadi hp nya sengaja gue pegang. Soalnya..."


"Nah ini... Ini yang dari tadi mau ditanyain. Kok bisa?" Naomi memotong cepat.


Dirga menoleh sesaat dan kembali sibuk menyetir.


"Tadi pas aku baru duduk disebelah mbak yang awalnya pegang hp kamu tuh, dia ijin minta tolong gantian pegang. Soalnya dia bilang kebelet mau ke toilet. Eh ternyata malah gak balik-balik. Ya udah sekalian aku pandu saja biar kayak nge-vlog artis. Hahaha..."


Deg...


Kenapa tiba-tiba berubah gitu bahasanya jadi aku, dan kamu? Gak biasa seperti sebelumnya.. pantesan yang liat juga lebih banyak. Rupanya karena dipandu oleh lelaki Asdos ini.


Naomi mengangguk-angukkan kepalanya memahami penjelasan Dirga.


"Kost mu sebelah mana? Masih jauh?"


"Didepan sana ada perempatan lampu merah, nanti aku turun saja disitu. Jalan kaki deket kok." Naomi turut merubah memakai aku kamu. Seketika Dirga menoleh kearahnya. Tebakan Naomi mungkin Dirga merasa canggung juga mendengar bahasan aku kamu.


"Aku antar sampai depan kost. Tunjukin saja kemana arahnya." Rupanya si Asdos itu keukeuh tetap ingin mengantarkan sampai di depan kostan. Naomi pun pasrah, lagi pula memang ia sudah terlalu lelah karena aktivitas seharian di kampus tadi. Sempat pula ia memejamkan matanya, tapi segera ingat pesan papa. Jangan tidur disembarang tempat, bahaya!


Dari perempatan lampu merah tersebut, mereka langsung belok kearah timur sebelah kanan. Kira-kira 600 meter dari sana, tidak sampai lima menit mereka telah tiba di depan gang kecil bertuliskan gang keluarga. Dirga begitu cekatan mengemudi stir mobil hingga memasuki gang kecil tersebut dengan sangat mudah.


Akhirnya tiba juga mereka tepat didepan gerbang kostan megah bak rumah gedongan eropa yang sedang terbuka lebar. Sepertinya pemilik kost sedang kedatangan tamu dirumahnya. Ada sebuah mobil hitam terparkir juga disana.

__ADS_1


"Alhamdulillah, sampai. Terima kasih ya, sudah mengantarkan sampai depan kostan." Naomi segera berpamitan dan segera membuka gagang pintu mobil. Tapi Dirga menahannya dengan cepat.


"It's okay. Ini sebagai permintaan maaf ku atas insiden percikan air kotor dijalan beberapa waktu lalu. Aku minta maaf, gak sengaja." Dilepaskan genggaman nya dan ia langsung keluar dari pintu membukakan segera pintu dari sebelah kiri Naomi duduk. Naomi merasa tersanjung diperlakukan seperti ini lalu ikut keluar dari mobil.


Tampak pak Munir dan istrinya keluar dari dalam rumah menyambut kedatangan mereka dengan suka cita. Dibelakang terlihat dua orang laki-laki mengikuti dari belakang. Mata Naomi terbelalak kaget. Sejak kapan kak Taufan dan temannya disana?


"Baiklah bu, pak.. saya pamit nggih. Wassalamualaikum."


Dirga segera undur diri berpamitan dengan sopan kepada pak Munir, istri pak Munir, kak Taufan dan temannya kak Taufan. Dirga juga berpamitan dengan Naomi yang sedang terpaku tak berdaya ternyata kak Taufan harus melihatnya sedang diantar oleh seorang pria. Ia khawatir kak Taufan akan menyampaikan kejadian sore ini kepada bang Juan. Apa yang harus ia katakan nanti jika ditanya bang Juan?


Naomi mengalihkan ketegangan dihatinya dengan cepat-cepat membuka hp. Ia memeriksa satu persatu pesan chat ternyata ia telah banyak melewatkan pesan chat termasuk dari Barra dan juga dari kak Taufan. Ia menelan ludah, siap menerima ceramah panjang malam ini.


"Mbak Naomi, ayo kakak nya diajak ikut masuk aja duduk dikursi depan kamar kost, boleh kok." Saran bu Munir dengan ramah. Dibarengi anggukan kepala dari pak Munir tanda menyetujui ucapan istrinya.


"Kasian udah nungguin lebih dari setengah jam tadi disini ngobrol sama kami. Lagi pula, sebentar lagi maghrib tiba." Tambah bu Munir sambil mempersilahkan mereka lalu segera memilih masuk kembali ke dalam rumah.


Naomi merasa canggung takut dimarahi kak Taufan. Ia lalu mempersilahkan mereka masuk ke kamar kost, tapi ditolak oleh kak Taufan.


"Gak usah dek, kakak masih mau ke masjid disebelah ini. Adek siap gih mandi bersih-bersih dulu trus solat. Ntar ikut kakak main kemana gitu, kita cari hiburan sekalian jalan-jalan malam. Mumpung lagi free time hari ini."


Mata Naomi berbinar ketika diajak jalan-jalan malam ini. Naomi sebenarnya memang senang jalan-jalan, hanya saja dia masih belum hapal arah jalan dan belum mempunyai kendaraan sendiri. Ia menyetujui dan bergegas masuk kamar untuk bersiap-siap.


Sambil menenteng handuk di bahu, Naomi segera meraih hp nya membuka isi pesan dari Barra.


"Tariannya bagus, hanya saja aku kurang begitu menyukai gaya pemandu sorak mu tadi. Terlalu berlebihan."


Hah? Pemandu sorak tadi??


Siapa??? Pasti yang dimaksud Barra itu Dirga! Teganya sampai bilang Dirga seperti cheersleaders, pemandu sorak yang berlebihan.


Benar saja tebakan Naomi, saat tangannya kembali berseluncur membuka lagi tayangan ulang dari medsos miliknya. Ada hampir 900k folowers yang sudah melihat siaran tadi termasuk Barra.


Harus diakui juga, dengan adanya lelaki seperti Dirga masuk dalam video siaran langsung tadi menjadi daya tarik tersendiri. Sedikit menguntungkan Naomi dengan semakin banyak followers yang mengikuti akun nya.


"Jangan gitu, dia itu aset untuk menarik simpati banyak followers." Sambil tersenyum, Naomi pun membalas pesan itu.


Tak lama kemudian datang balasan chat dengan cepat.


"Sudah pulang? Kenapa lama sekali membalas? Kalau mau lebih banyak followers, kamu upload saja foto ini biar viral."


Dan terpampang lah sebuah screenshot gambar dirinya sedang tertidur dengan kondisi mulut menganga.


Aaaaaaaaaaaaaa....!!!!!! Mata Naomi membelalak kaget bercampur malu.


Kapan kejadiannya ini?????? Kenapa dia tidak tahu pernah berada dalam panggilan video dengan Barra tapi dalam kondisi terjelek seperti itu??


"Jahat! gak lucu ihhh... Awas saja ya klo disebar apalagi sampai keseringan diliat, ntar sakit jiwa gak bisa sembuh baru tau rasa!" Jawaban pesan Naomi ketus dan seketika membuat Barra terkekeh tanpa Naomi menyadarinya.


*


*


*


*


*


Ya, Pasti sudah sering dilihat lah. Salah sendiri suka tidur sambil video call-an. Naomi.. Naomi... Ada-ada saja tingkahnya. Buat para pembaca yang sering melakukan panggilan video saat masa penjajakan, jangan seperti Naomi, ya! Sering lupa memperhatikan kondisi sendiri juga keadaan sekitar yang menjadi lokasi latar belakang panggilan.

__ADS_1


Jangan sampai fokusnya mengalahkan topik pembicaraan. Apalagi sampai di screen shot dan di upload ke medsos menjadi bukti jejak digital yang terkadang sulit untuk dihapus. Bebahaya!


Tapi untungnya Barra tidak sampai berbuat jauh seperti demikian. Mengingat karier nya lebih penting dan perlu dijaga dengan baik bahkan sebaik mungkin.


__ADS_2