KaJo Taka LaNa(Kalau Jodoh Takkan Lari Kemana)

KaJo Taka LaNa(Kalau Jodoh Takkan Lari Kemana)
Ternyata dia adalah....


__ADS_3

Hari senin yang cerah. Udara lembab masih terasa. Disekitar pinggiran jalan banyak pepohonan menggugurkan bunga dan dedaunan hingga berserak. Sepertinya semalam telah turun hujan deras di kota ini.


Naomi bersemangat melangkahkan kaki nya menuju kampus. Kali ini ia harus berjalan kali menuju tempat dimana ia akan menimba ilmu. Sedang asik berjalan sambil menikmati suasana pemandangan, tiba-tiba sebuah mobil honda civic putih melaju begitu cepatnya. Tanpa disadari sudah menyerempet ke genangan air dihadapan Naomi. Walhasil baju dan celana yang ia pakai menjadi kotor terkena cipratan.


"Woooiii !!!!!!! Kurang ajar kau, ya! Jalanan udah sekecil gini masih gak sadar diri pake ngebut pulak! Dasar, Gak ada otakkkk!!" Murka Naomi dibuatnya. Dibersihkan percikan kotor itu dari pakaiannya.


Namun sepertinya percuma. Kemeja putih berbahan tissue yang ia kenakan sudah terlanjur kotor karena air bercampur tanah. Terlebih lagi sepatu dan celana jeans nya. Aahhh.... Sial!


Tak terduga, mobil itu berhenti dan berjalan mundur mendekati. Naomi yang semula sibuk membenahi diri pun tersadar dan akhirnya berjalan mendekati mobil tersebut.


Tokk..tokk..tokk!!!


Naomi mengetuk kaca mobil sebelah kanan pengemudi. Tak harus menunggu lama, turunlah kaca mobil itu yang langsung menampakkan rupa seorang pria berkacamata hitam. Mungkin usianya sekitar 20 tahunan.


"Hai, sorry ya! Gue gak sengaja tadi buru buru dan.. oh god!! Im so sorry.. baju loe sampe kotor lusuh gitu." Ujar pria itu seraya menepuk jidat. Naomi merasa ilfeel melihatnya. Masih terlalu pagi untuk dia berdebat dengan laki-laki sok kebule-bulean!


"Laen kali kalo lewat jalan sekecil gini gak usah sok sok an ngebut, woi! Punya perasaan dikit napa?! Tau juga yang lewat disini ada pejalan kaki, bukan cuma mobil loe doang!"


"Oke, sorry. Gue lagi buru-buru nih. Gak bisa bahas lama disini. Gini aja, lu catet deh nomer hp gue. Kalo mau loe minta ganti rugi atas ketidaksengajaan ini, silahkan. Hubungi aja nomer gue. Nih!" Lelaki itu menyodorkan kartu nama.


Naomi merasa terlalu malas dan bertele tele jika harus banyak bicara dengan pria itu. Tanpa banya kata, diambilkan nya kartu itu dan... dilemparnya kembali kedalam mobil sebelum kaca itu naik tertutup dengan sempurna.


Naomi berbalik arah berlarian kembali ke jalan pulang menuju kostan. Ia tidak memperdulikan lagi tentang lelaki sombong barusan. Yang ia pikirkan sekarang hanyalah cara tercepat pulang dan berganti pakaian sebelum benar-benar terlambat masuk kelas.


Sampai dikostan Naomi segera membersihkan diri dan cepat mengganti pakaian. Untung didepan masih ada mbak Grian yang kebetulan mau berangkat kerja.


"Mbak, aku ikut nebeng sampe depan gerbang kampus ku boleh gak?" Tanya Naomi dengan terpaksa. Sebenarnya ia tidak terlalu suka merepotkan orang lain. Tapi berhubung kali ini urgent banget. Mau tidak mau akhirnya ia katakan juga.


"Lha, aku pikir tadi kamu udah berangkat loh dari tadi. Ayo lah, kita barengan. Deket sini juga." Ajak mbak Grian sambil men-start motor bebek hitamnya. Naomi pun segera naik motor mengikuti arahan.


Selang beberapa menit kemudian sampai juga Naomi didepan gerbang kampus. Ia turun dan mengucapkan terima kasih pada mbak Grian atas pertolongannya pagi ini. Mbak Grian segera berlalu, Naomi pun dengan segera memasuki area kampus. Ternyata memang sudah ramai.


Di beberapa spot tempat terdapat saung kecil sudah terisi segerombolan mahasiswa yang sedang duduk bercengkrama. Entah mahasiswa baru atau lama, Naomi tidak bisa mengira.


Cukup lama diperhatikan olehnya ternyata kampus ini sangat artistik sekali. Arsitektur bangunannya sangat berseni dan nampak etnik. Sungguh khas dan tidak membosankan dipandang oleh mata.


Naomi segera bertanya dimana kelasnya dengan salah satu gerombolan mahasiswa didekat pendopo besar.


Rupanya kelas yang dimaksud berada dilantai 2 dan sudah dimulai sekitar 15 menit yang lalu. Dengan sekuat tenaga tersisa Naomi pun berlari menuju tempat yang sudah ditunjuk barusan. Ini awal yang benar benar memalukan rasanya. Belum genap sehari mahasiswa baru ini sudah terlambat datang.


Tok tok tok..Brakkk...!!


Dengan napas terengah-engah Naomi membuka pintu kelas. Semua pandangan tertuju padanya.


"Selamat pagi. Maaf pak, saya terlambat." Sapa Naomi ramah. Dosen itu pun mengangguk menyetujui dan melanjutkan orientasi seputar kampus dan pembelajaran mata kuliah yang diampunya.

__ADS_1


Naomi memilih duduk di sudut kiri paling belakang. Karena hanya tinggal kursi itu saja yang tersisa. Naomi masih mengatur napas pelan pelan. Berlari sejauh tadi sampai naik ke tingkat dua gedung ini rasanya lumayan bikin betisnya terasa tebal.


Hampir 45 menit berlalu, sambil terus memijat pijat betis kanan nya, Naomi masih memperhatikan keadaan disekitar kelas. Oh begini rupanya suasana saat menjadi mahasiswa. Tidak jauh berbeda dengan SMA, hanya saja di perkuliahan ini benar-benar sangat individual. Memori ingatan nya pun memutar kembali rekaman suasana belajarnya waktu di SMA. Tanpa disadari, Naomi merasa ada yang memanggil-manggil dengan keras nama lengkapnya.


"Naomi Adelia Putri," ternyata itu panggilan yang kedua kali untuknya.


"Ya, saya pak!"


Naomi berangkat dari duduknya.


"Ambil kartu absensi yang ada pada Asisten saya dan isi data sesuai KRS mu." Pak Zainal menjelaskan sambil menunjukkan ke arah seorang laki-laki yang duduk diujung kursi tak jauh dari dosen itu berdiri.


Naomi berjalan mendekati arah yang dimaksud. Seperti tidak asing lagi dengan wajah sosok asisten dosen itu. Oh Astaga..


Pria menyebalkan dijalan tadi!!


Tanpa membuang waktu diraihnya kartu tersebut dari tangan pria itu. Naomi mendengus kesal, membuang tatapan malas nya ke arah lain. Terlalu menjengkelkan jika harus mengingat kejadian kecipratan air kotor pinggir jalan.


"Oh nama kamu ternyata Naomi?!" Sapa pria itu ramah. Apa?? Kamu?? Tadi aja pake gue elo! Sok sok an banget mentang-mentang lagi dilingkup akademisi. Cih.... Naomi semakin enggan menggubris sapaan, malah langsung jalan kembali menuju kursi duduknya.


Pria itu tampak masih sibuk dengan tugas-tugas yang dilimpahkan pak Zainal, Dosen mata kuliah managemen seni. Tampak mahasiswi lain banyak yang mengerumuni asisten dosen itu. Mungkin sengaja mendekati mencari-curi kesempatan agar tampak sangat akrab. Secara fisik pria itu memang masih muda, terlihat ganteng dan charming. Hanya Naomi dan beberapa mahasiswa laki-laki yang tidak begitu peduli dengan pesona pria Asdos itu.


"Anak-anak, selama 6 minggu bahkan mungkin 2 bulan kedepan saya ada perjalanan tugas ke Belgia. Seluruh tugas dan materi pembelajaran sudah saya serahkan kepada asisten saya, Dirga. Saya harap, kalian dapat mengikuti perkuliahan dengan sebaik-baiknya. Tugas-tugas dapat dikerjakan tepat waktu. Saya akan terus memantau semua aktivitas yang berhubungan dengan mata perkuliahan yang saya ampu. Jika kalian mengabaikannya, saya tidak bisa menjamin nilai mid semester kalian aman." Pak Zainal tersenyum sambil memberi kode ke arah pria Asdos itu.


"Sekian, sampai disini dulu pertemuan kita hari ini. Tolong absensi nya dikumpul kembali pada Dirga." Pak Zainal berlalu meninggalkan kelas. Seluruh mahasiswa diruangan itu ikut beranjak dari duduk dan berjalan mengerumuni Dirga untuk mengumpulkan kartu absensi. Tak terkecuali Naomi. Sengaja ia mengumpulkan paling akhir, karena posisi duduknya pun paling belakang pojok. Sangat susah jika harus menerobos duluan.


"Permisi, mau ngumpulin absen." Naomi berusaha bersikap baik. Tiba-tiba tangannya ditahan oleh Asdos itu. Eh, Naomi kaget.


Ditariknya kembali agar tidak terlalu lama dipegang.


"Naomi, saya minta waktu mu sebentar. Tapi tunggu, saya harus merapihkan seluruh tugas saya dulu."


Seketika pandangan semua beralih ke arah Naomi. Seakan-akan ia habis melakukan kesalahan hingga dicurigai dan ditatap sinis oleh banyak pasang mata dalam ruang kelas itu. Canggung rasanya, untung saja hp Naomi saat itu berdering. Ternyata panggilan video dari Body Guard Tamvan. Naomi angkat dan segera membalikkan badannya menjauhi kerumunan.


"Masih sibuk kuliah?"


Barra tampak memakai kaos berkerah warna hitam yang berlogo kepolisian diseberang sana. Wajahnya terlihat cerah sekali. Ia sedang berada diruang kerja. Hp-nya seperi diletak di atas meja kerja.


"Gak, ini kelasnya barusan kelar. Belom full juga sih belajarnya. Ada apa kak? Tumben rajin telpon." Naomi tersenyum seolah menggoda.


Mata Barra mendelik sesaat, ia lalu tersenyum lebar.


"Tiap hari juga emang udah kerajinan telponin kamu, atuh neng.... Neng nya aja yang gak peka."


Naomi menepuk jidatnya sendiri. Ia benar-benar lupa sekarang sepertinya pria ini sangat intens menghubungi lewat panggilan video. Seperti tak ingin melewatkan sehari pun tanpa melihat wajahnya.

__ADS_1


"Hahhaha... Iya kah? Mungkin aku anemia kak.. jadinya lupa."


"Lupa tuh amnesia kali, dek. Kalo amenia sih tinggal minum obat tambah darah aja. Nih, bila perlu minumin darah dari sini nih sekalian." Sambil tertawa dan menunjuk ke arah batang lehernya.


"Dih.. apaan sih, kak. Emangnya aku Vampir." Naomi ngambek lalu berkaca membenahi tatanan rambutnya lewat kamera depan. Ia juga membersihkan sela ujung matanya dari kotoran. Yah, kadang Naomi begitu cuek dengan kelakuannya sendiri. Tidak peduli dengan siapa dia sedang bicara saat ini.


Dari seberang sana Barra pun terus menatapnya dengan senyuman. Tapi kemudian ekpresi wajah Barra tiba-tiba berubah. Tampak seorang laki-laki yang sejak tadi seperti sedang mondar mandir kadang ikut memperhatikan obrolan virtual mereka di belakang Naomi.


Naomi pun menyadari perubahan raut wajah Barra, langsung menoleh dan membalikkan badan nya ke arah belakang..


Hup.. kaget!


Hampir saja bertumburan dengan dada bidang pria Asdos. Sudah berapa lama ia berada dibelakang situ?


"Apa kita sudah bisa bicara?"


Tanya pria Asdos yang bernama Dirga itu sopan. Naomi menyadari ia sedang bertelponan dengan Barra, akhirnya mematikan segera panggilan tersebut tanpa berpamitan.


"Ya, ada apa?" Naomi menjawab tegas.


"Gue minta maaf soal pagi tadi. Bikin loe telat masuk kelas." Nah.. sudah hilang lagi bahasa formal si Asdos ini.


Naomi mengkerutkan dahinya dan tersenyum sinis. "Udah lah, udah lewat juga." tangan Naomi menepis angin didepan wajahnya sendiri.


"Tapi gue gak bisa terima kalo loe nolak ajakan pertemanan kali ini seperti loe ngebuang kartu nama gue tadi. Sekali lagi gue minta maaf." sahut si Asdos cepat dengan uluran tangannya ke hadapan Naomi.


Ah, males banget kek gini nih..! pasti ujung-ujungnya kayak cerita FTV. lebay! gerutu Naomi dalam hati.


"Ya, udah.. gak susah, tinggal salaman doang kan." jawab Naomi asal dan menyambar cepat menyalami uluran tangan si Asdos.


Sang Asdos itu pun tampak menghela napas lega. Tampak ada beberapa mahasiswi yang masih tinggal didalam kelas jadi berbisik-bisik melihat kedekatan mereka berdua. Naomi sadar dan merasa malu sendiri dibuatnya. Ia bergegas pergi meninggalkan si Asdos itu tanpa sepatah katapun.


Tangan Asdos itu baru saja ingin menghentikan, namun gagal. Hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Sepertinya baru kali pertama bagi Dirga diperlakukan kurang ramah oleh seorang wanita.


"Baiklah, Naomi Adelia Putri." Ujar Dirga dengan tatapan penuh arti.


*


*


*


*

__ADS_1


_____________________________________________


__ADS_2