KaJo Taka LaNa(Kalau Jodoh Takkan Lari Kemana)

KaJo Taka LaNa(Kalau Jodoh Takkan Lari Kemana)
3. Mutiara Merah


__ADS_3

Turun dari pesawat membuat Naomi merasa khawatir. Matanya terus memperhatikan tumpukan tas yang keluar dari bagasi pesawat. Ia harus cepat mencari dan mendapatkan tas koper miliknya. Dilihat satu persatu tas yang melintas dihadapan. Lalu ia menyesuaikan ciri tas miliknya dengan nomer bagasi yang ada ditangan nya. Hup, Dapat! Naomi meraihnya dan membawa dengan segera menuju keluar area kedatangan.


Naomi menghidupkan hp nya yang sejak tadi off selama didalam pesawat. Jarinya terus berselancar memeriksa setiap pesan chat dan panggilan tak terjawab yang masuk. Banyak sekaliiiiiii... Naomi mengerutkan dahi. Terus di scroll , dibuka satu per satu chat dari mama, papa, bang juan, derr, juga beberapa teman sekelas, kak taufan dan.. heiii??? Body Guard Tamvan itu lagi. Ah sudahlah.


Diabaikan saja olehnya semua itu kecuali pesan chat dari kak Taufan. Naomi hanya terus berpikir bagaimana cara menemukan sosok kak Taufan yang belum begitu ia kenal dan sudah dijanjikan bang Juan akan menjemputnya dibandara.


Naomi menoleh kesana kemari memperhatikan satu per satu orang yang menunggu jemputan disitu. Ada yang menanti jemputan sambil memegang tulisan nama seseorang, ada yang sambil melambai-lambaikan tangan memberi kode, ada pula yang sudah saling bertemu dan bercipika cipiki ria.


Pukul 8 malam. Naomi menghela napas panjang sesaat kemudian terdengar suara sahutan telpon dari seberang sana.


"Assalamualaikum, dek. Udah nyampe yah? Tunggu sebentar ya disitu. Ini udah diperjalanan menuju bandara. Kena macet dikit disini, 15 menit lagi sampai kok." Hmmm...Pantesan lama...


Hampir sepi disini. Yang berjanji menjemput pun belum juga kelihatan batang hidungnya. Ternyata orang itu memang belum datang. Mau bagimana lagi, akhirnya Naomi memutuskan untuk mencari tempat duduk yang nyaman sambil menunggu kak Taufan datang menjemputnya.


Dering Hp mengejutkan Naomi.


"Waalaikumsalam, iya kak gak pa pa. Adek duduk aja di depan sini sampe kak Taufan datang. Oh gitu. Baiklah, Di depan kios donat ya." Jawab Naomi tak bersemangat.


Ditutuplah sambungan telpon. Naomi celingak celinguk melihat sekitar. Duh, makin sepi aja. Meski masih ada beberapa manusia yang berseliweran disekitar tapi sepertinya mereka memang pekerja di area bandara. Tinggal dirinya sendiri mungkin yang belum ada jemputan.


"Sudah ada jemputan, mbak? Mari saya antarkan. Antar kemana ya?" Sapa seorang bapak yang ramah. Naomi menoleh kearah suara. "Maaf pak, saya sudah ada yang jemput." Tolak Naomi halus sambil tersenyum ramah.


"Sejak tadi saya lihat mbak sendirian disini seperti sudah lelah menunggu terlalu lama. Ayo mbak, saya antarkan saja sekalian. Kebetulan saya mau pulang juga. Rumah mbak nya dimana?" Naomi mengira-ngira sepertinya bapak itu menyediakan jasa Taxi gelap. Tampak tidak memakai seragam seperti supir taxi legal kebanyakan. Belum sempat Naomi menjawab, kak Taufan sudah menghampiri didekat mereka.


"Maaf pak, ini saya mau menjemput adik saya." Kak Taufan berkata sopan kepada bapak sopir taxi. Bapak itu memahami dan segera undur diri. Naomi pun menghela napas lega, akhirnya yang ditunggu datang juga. Tampak kak Taufan langsung sibuk membantu membawa tas koper dan bawaan lain Naomi yang lumayan banyak.


"Ayo, dek. Mobilnya disana." Ajak kak Taufan sambil berlalu. Naomi langsung mengikuti dari belakang.


Selama perjalanan, Naomi tak henti hentinya berdecak kagum dalam hati. Ia terpesona melihat keindahan kota Yogyakarta pada malam hari yang sangat artistik penuh kemerlap cahaya lampu warna warni disepanjang jalan mereka lalui. Sangat jauh bila dibandingkan dengan kampung halaman Naomi di Bangka. Hanya tampak asri saat siang saja karna keindahan alam pantai yang menjadi andalan disana.


"Adek lapar? Kita makan dulu ya. Maaf lho tadi menjemputnya kelamaan. Kami sebetulnya sore tadi masih ada kerjaan di Solo. Trus kakak mu telpon, minta tolong menjemputmu di bandara. Khawatir aja soalnya kakakmu bilang ini pertama kalinya kamu sendirian ke Jogja. Iya kah, dek?" Tanya kak Taufan sambil menoleh kebelakang. Naomi mengangguk, mengiyakan.


Bapak supir disebelah kak Taufan yang barusan Naomi ketahui bernama Mardi itu pun menimpali. "Iya, dik. Maaf kalau menjadi lama menunggu. Ditambah macet jalanan tadi jadinya makin lama kami sampai. Hehehe" pak Mardi tampak lebih ramah dengan logat Jawa nya.

__ADS_1


Pak Mardi itu ternyata rekan kerja di kantor kak Taufan. Mereka sama-sama bekerja di sebuah perusahaan provider penyedia layanan selular. Entah diposisi apa mereka bekerja Naomi sepertinya tidak begitu mengerti saat mendengar perbincangan serius antar mereka berdua tentang trayek pemeriksaan tower entah di daerah apa tadi? Masih asing dipendengaran Naomi. Ia belum bisa secara langsung mencerna, menghapalkan nama daerah yang disebut kak Taufan barusan.


Tidak lama kemudian, mereka bertiga akhirnya turun di warung tenda biru pinggir jalan yang menyediakan nasi pecel lele. Sepertinya semua merasakan kelaparan yang teramat sangat. Sehingga begitu hidangan itu datang, masing-masing tampak serius menikmati.


Pak Mardi menyukai oleh-oleh kretek getas makanan khas Bangka yang diberi Naomi saat didalam mobil tadi. Dimakannya lah bersamaan dengan nasi yang dipesan. Sangat lahap. Pak Mardi tertawa sendiri melihat Naomi yang seperti tak percaya melihat dirinya makan begitu cepat. Sebentar saja langsung ludes nasi pecel lele dimakan pak Mardi.


Sambil berdiskusi masalah pekerjaan, sesekali kak Taufan membersihkan kacamata tebalnya yang berembun terkena uap makanan. Lalu kembali meneruskan makan dengan lahap. Kak Taufan memberitahu kalau kost an tempat tinggal untuk Naomi sudah dia carikan dilokasi yang strategis. Tak jauh dari kampus, dan tak pula jauh dari pusat kota. Jadi malam ini pun Naomi bisa langsung menempati kost an itu.


Kak Taufan ternyata teman akrab bang Juan semasa kuliah di Politeknik UNSRI. Naomi pikir kak Taufan sudah menikah. Ternyata dari obrolan singkat mereka bertiga tadi, diketahui kalau kak Taufan masih dalam tahap pacaran jarak jauh dengan pasangannya di Palembang. Itu berarti Naomi harus pandai-pandai menjaga sikapnya nanti agar pacar kak Taufan tidak merasa cemburu kepadanya.


Hari semakin larut. Sampai juga mereka di rumah kost an tempat Naomi akan tinggal. Tampak sepasang pemilik kost menyambut dengan ramah kedatangan mereka. Segera ditunjukkan pula kamar dimana Naomi nanti akan tinggal. Rupanya kak Taufan sudah menyiapkan berbagai keperluan untuk Naomi di kost itu. Sprei, handuk, ember, gayung, sikat dan pasta gigi, sabun serta keperluan mandi lainnya lengkap sudah dipersiapkan. Sepertinya benar-benar bertanggung jawab dengan amanah yang diberikan oleh bang Juan.


"Kakak pamit ya. Udah malem, gak enak lama-lama. Ntar kalo ada sesuatu yang penting, langsung kabarin aja. Insyallah nanti kakak samperin." Pamit kak Taufan langsung masuk mobil, duduk disebelah pak Mardi. Tak harus menunggu lama, mobil pun segera meninggalkan halaman kost an baru Naomi.


Sepeninggal kak Taufan dan pak Mardi, Naomi langsung kembali menuju ke kamarnya. Dibukalah pintu kamar itu dan segera masuk. Tampaknya memang masih harus ditata-rapikan isi kamar ini. Di beberapa sisi bagian kamar memang sudah ada meja, kursi, kasur single tanpa sprei di ranjang, cermin dan wastafel yang terletak disana. Hmm...Benar-benar nyaman berada didalam ruangan yang bernuansa vintage itu.


Tiba-tiba Hp Naomi berdering. Mama melakukan panggilan video untuk menghubunginya. Di swipe up layar ponsel dan langsung telihat video gambar mama yang sudah menggunakan piyama tidur disana.


"Hai sayang, udah sampe? Dari tadi mama tunggu balasan chat tapi gak dibales." Naomi tersenyum, lalu langsung saja ia menceritakan dengan semangat apa saja yang dialaminya selama perjalanan. Ia menceritakan tentang kak Taufan dan pak Mardi yang sudah menyambutnya dengan baik di Jogja. Mama pun mendengarkan cerita Naomi dengan seksama, sambil setia menemani putrinya membereskan tempat tidur. Mereka saling bertukar cerita tentang pengalaman masing-masing hari ini.


Didalam khusyuknya berdoa, Naomi meminta semoga saja ia selalu berada dalam perlindungan Allah. Sesungguhnya Naomi tetap saja merasa takut salah melangkah jika berjauhan dari orang tua. Selesai melakukan sholat, belum sempat Naomi melepaskan mukenahnya, Hp pun berdering tanda ada panggilan masuk. Cepat diraih dan dilihatnya siapa yang menelpon. Mata Naomi terbelalak tak menyangka. Body Guard Tamvan yang memanggil.


Naomi mengigit bibir bawahnya. Sampai deringan ketiga masih belum berani ia sambut. Haruskah dijawab panggilan video dari Barra? Jantung Naomi sedikit berdebar. Karna sejak sore tiba di Jogja, sampai saat ini berada dikamar, memang tak satu kali pun ia merespon chat dari Barra. Ahh, pria ini bikin jantung jadi dag dig dug jderrrr.


Hampir dipenghujung dering panggilan, barulah Naomi menjawab panggilan video tersebut. Dan...


Tampak full wajah charming Barra yang sedang serius menatap ke kamera. Omo... astaga tampan sekali gambar lelaki dilayar ponselnya ini. Putih, bersih, terang, tampil serasi dengan kaos putih yang dikenakan nya.


Naomi merasa canggung. Memalukan sekali jika Barra harus melihat wajahnya yang pucat polos tanpa makeup. Ia lalu menutup wajahnya sambil mengintip dari sela jari. Bagaimana ia bisa bicara bebas jika wajahnya saja terus tertutup telapak tangan begini.


Dengan cepat lalu Naomi gantikan tangannya dengan ujung mukenah yang dibuatnya menyerupai cadar. Tinggal mata Naomi saja yang masih tampak dan mengerjap kerjab memandang layar ponsel.


Barra tersenyum. Duhhh... Cakep! Batin Naomi menjerit. Mimpi apa dia kemarin, hingga hari ini dapat rejeki ditelpon pria tampan. Barra memulai percakapan dengan serius.

__ADS_1


"Habis sholat? Malam banget. Emang sampai disana jam berapa?"


Naomi berdehem sedikit. Mencoba rileks agar bisa menjawab pertanyaan Barra dengan tenang.


"Seharusnya sih udah sampai sekitar jam 6 sore. Tapi kan masih harus nunggu mau ambil tas dari bagasi, trus yang paling membosankan disana itu yah nunggu dijemput sama kak Taufan."


Tampak video dari seberang mengangguk-anggukan tanda memahami penjelasan Naomi. Selama menjelaskan, Naomi tidak menyadari cadar yang dibuat instan olehnya tadi merosot jatuh kebawah.


"Habis itu kita mampir makan dulu. Aku ngisi perut sampe dua kali nambah lele bakarnya biar kenyang. Soalnya beneran aku gak bisa tidur nyenyak kalo nih perut masih lapar. hihihi... Sampai di kost an sekitar jam setengah sepuluh. Mana masih harus beres-beres kamar juga tadi, sampe akhirnya yaahh.. baru sekarang ini bisa fokus ke ....."


"Dek, sorry. Ada cabe tuh di gigimu." Barra memotong pembicaraan. Sontak mata Naomi terbelalak, ia merasa malu bukan kepalang. Dengan sigap tangan Naomi mengklik simbol telpon warna merah dilayar ponselnya. Panggilan video pun seketika terputus.


Naomi segera berlari menuju cermin wastafel dan langsung memeriksa apakah benar yang dikatakan Barra barusan.


Haiisshhh...Ternyata itu benar!


Naomi meringis. Ingin rasanya dia teriak lalu sembunyi di lubang semut begitu tahu bahwa serpihan cabe merah memang masih tertinggal disana. Serpihan itu pasti karna sisa makan sambel pecel lele tadi. Akibat terburu buru mau sholat, Naomi melupakan kewajiban menyikat gigi. Walhasil, masih bertenggerlah dengan manis mutiara merah itu di sela gingsul kirinya. Aaagggrrrrrhhhh! Malunyaaaaa.......


Besar pulak kan cabe nyaaaaa....!!!


Ting...


Sebuah pesan chat masuk. Dari Body Guard Tamvan dan Naomi segera membukanya.


"Kenapa telpon dimatikan?"


"Malu, lah. Apa-apaan, lagi asik ngobrol malah bahas cabe di gigi." balas chat Naomi. Dia mendengus kesal.


"Lalu memangnya kenapa? Biasa saja. Aku masih mau ngobrol lewat vicall."


"Sayangnya aku sudah tidak menginginkan nya lagi." Naomi membalas semakin sengit.


"Kita tidak sedang berkencan. Jadi untuk apa malu? Ya sudah, istirahatlah. Pastikan kamu sudah benar-benar membersihkannya saat aku telpon lagi besok pagi."

__ADS_1


Naomi terpaku membaca isi pesan itu. Seketika memutarkan pandangan matanya keatas, kesal. Maksud pria itu apa? Dengan mudah membuatnya tersenyum dan dengan mudah pula mempermalukan. Dihempaskan tubuh Naomi kearah tempat tidur. Sungguh, ia tidak ingin membahas apapun lagi di ponsel itu malam ini. Raga dan jiwanya lelah butuh diistirahatkan. Tentang cabe di gigi itu, biarkan saja. Anggap bunga tidur yang tak harus Naomi ingat kembali.


*****


__ADS_2