
"Sa..tu.. Du..a.. Ti..ga.. Em..pat.."
Terdengar suara hitungan dari masing-masing mulut mahasiswa yang sedang berlatih menari di pendopo besar. Mereka secara mandiri langsung membentuk kelompok untuk persiapan menggelar sebuah pertunjukan. Informasi tersebut telah diumumkan langsung oleh ketua himpunan mahasiswa fakultas seni pertunjukan, prodi tari. Setiap mahasiswa diwajibkan menunjukkan kemampuan menari dalam rangka orientasi perkenalan kampus untuk mahasiswa baru.
Naomi sedikit gugup. Bukan takut karena tidak bisa, akan tetapi ia sedikit minder dengan kemampuannya. Apalagi dilihatnya semua yang berlatih disitu sepertinya akan mempertunjukkan tarian tradisi asal daerah masing-masing. Ada tarian dari Aceh, Lampung, Bali, Bandung, Surabaya, Tarakan, Yogya, Jakarta, bahkan dari Sumbawa dan Papua pun ada dipersiapkan para mahasiswa disana. Anye dan Imelda nampak sudah menggabungkan diri ke grup tari Aceh. Desi pun telah memilih ikut bergabung di grup tarian sunda.
Sementara Naomi kurang begitu mendalami tarian tradisinya sendiri. Selama ini ia lebih menyukai tarian modern, pop dance. Merasa sedikit kurang percaya diri akhirnya. Ia masih celingak celinguk menunggu teman lainnya yang belum kebagian membentuk grup.
"Hai, udah dapet kelompok belum?" Sapa seorang wanita. Naomi terperangah, melihat wanita didepannya sungguh cantik sekali. Tinggi, putih, rambut hitam panjang bergelombang dan tentunya dia tampil modis dengan gelutan cardigan dari kain tenun troso. Tampak etnik dan elegan sekali
Orang itu lalu menggerakkan tangan nya ke kiri dan ke kanan tepat didepan wajah Naomi. Naomi pun tersentak, kaget langsung sadar dari lamunan. Ia tersenyum malu sendiri.
"Iya, gimana mbak? Nanya apa tadi?" Naomi mencoba untuk menghilangkan kegugupannya.
"Kenalin, aku Memey dari Kaltim. Kamu udah dapet kelompok buat pentas nanti? Aku boleh gabung gak?" Tanya wanita yang mengaku bernama Memey itu ramah.
"Oh, ya. Aku Naomi, anak kepulauan Babel. Kebetulan aku juga belum dapet kelompok nih. Bingung aja dari tadi liat anak-anak disini udah pada sibuk ngebentuk grup sendiri. Bagusnya, ntar kita bawain tarian apa ya?" Naomi tersenyum bingung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Nah, itu dia.. Sama kita berarti. Sama-sama bingung mau bawain tarian apa. Hahahha"
"Kamu basic nya apa? Aku agak gak jelas nih.. hahha sukanya nge-pop dance aja. K-pop an gitu juga okelah. Tapi klo ditanyain tari tradisi, agak nyerah gitu. Hahaha.. karena tidak begitu memahaminya."
Naomi berusaha menjelaskan. Memang diakui sebenarnya dia tidak begitu memahami bahkan bisa dikatakan buta tradisi daerah sendiri. Mengetahui ternyata ada sekolah seni khusus tari di Indonesia saja, dia sudah takjub sekali. Karena untuk di daerah luar pulau Jawa seperti di Sumatera, seni tari itu sepertinya memang belum familiar dan masih kurang diminati. Seni terkesan seperti tidak memiliki masa depan yang baik bagi pandangan orang-orang disana.
"Ah, cocok! Aku juga gak gitu ngerti nari tradisi dan gak mau sok mengada-ada. Ntar begitu disodorin banyak pertanyaan dari senior tentang tarian itu, kita bingung sendiri mau ngejawab apa." Memey langsung menanggapi dengan senang.
Ternyata beberapa orang yang berdiri tidak jauh dari mereka ikut mendengar obrolan rencana menari tarian modern itu. Mereka langsung mengerumuni Memey dan Naomi. Sekitar 7 orang jumlah mereka yang akhirnya sepakat untuk langsung berlatih koreografi bersama disudut pendopo. Tanpa membutuhkan waktu yang lama, satu jam kemudian akhirnya mereka selesai berlatih. Tinggal menunggu sesi pertunjukan dimulai setelah jam istirahat siang.
Memey berinisiatif mengajak seluruh teman satu grup nya makan siang di kantin. Tapi Naomi menolak, karena lokasi kantin agak jauh di belakang kampus. Ia khawatir nanti mereka akan terlambat dan melewatkan waktu pertunjukan. Akhirnya mereka pun sepakat untuk makan di pinggiran tak jauh dari pendopo, yang biasanya sudah ada tukang bakso gerobak nangkring secara ilegal disana.
Setelah makan dengan antrian bakso yang cukup panjang. Naomi dan teman-teman akhirnya berhasil makan dengan waktu singkat. Memang dasar namanya kakak senior, selalu membuat jadwal dadakan untuk mengerjai para adik junior. Diawal perjanjian, pelaksanaan pertunjukan akan mulai pada pukul 2 siang. Namun benar saja, kekhawatiran Naomi menjadi kenyataan. Untungnya mereka kompak dan sigap. Makan secukupnya dan dilokasi tempat yang dekat dengan pendopo utama, tempat dimana pelaksanaan pertunjukan pengenalan mahasiswa baru akan digelar.
Jantung Naomi kian berdegup kencang. Ia benar-benar gugup. Ini kali pertama ia pentas dengan waktu latihan yang singkat. Memey menyadari hal itu akhirnya buka suara.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Nervous ya? Udah biasa aja, anggap lagi dikerjain kakak tingkat doang. Harus semangat meskipun aku juga merasakan hal yang sama. Hahahhaa." Tawa Memey berusaha mencairkan suasana. Naomi tergelak ikut tertawa, sambil sesekali ia mengepalkan dan menyatukan kedua tangannya didepan mulut. Kadang ditiup kuat-kuat agar rasa gugupnya sedikit berkurang.
Tiba-tiba suara ponsel berdering dari balik tas sandang milik Naomi. Segera diperiksa siapa yang menelponnya saat sedang berada dalam situasi menegangkan seperti ini. Ternyata Body Guard Tamvan itu lagi yang memanggil dengan panggilan video.
"Aaaaiiihhhh... Apaan lagi sih ini orang. Gak tau suasana lagi genting begini, duuhhh..." Gerutu Naomi dalam hati. Pada deringan ke empat sengaja panggilan itu baru ia terima.
"Iyaaaaa.. lagi prepare nih bentar lagi mau pentas."
"Jadi aku udah ganggu? Ya udah ditutup aja kalo gitu telponnya."
"Yee.. gitu aja ngambek. Ya ini masih belum dimulai juga kok. Masih bisa lah kita ngobrol sebentar. Kek yang kangen aja lama gak nelpon, diiiiiih...." Naomi mencibir menggoda.
"Emang kangen. Kangen liat mulut kamu komat kamit kayak mbah dukun kalau lagi vicall." Barra terkekeh lalu tersenyum manis sekali. Sehingga Naomi sedikit lupa bahwa rasa gugupnya separuh sudah mulai berkurang.
"Diiihhh... kalo aku mbah dukun, berarti kamu harus lebih hati-hati dan waspada, kak... karna akan ku pastikan nanti kakak terkena santet jadi cinta mati sama aku. Hahahha.." jawab Naomi asal-asalan.
Sambil melakukan vicall , ia berbenah memoles wajahnya dengan bedak agar tidak tampak berminyak. Memasangkan lipcream pada bibir mungilnya dengan gaya ombre ala-ala korean style. Menebalkan ukiran alis dan tidak lupa membubuhkan cream blush on perona pipi diwajahnya. Semua dilakukan Naomi nampak mengalir begitu saja tanpa terpikirkan rasa malu dengan siapa ia sedang berbicara.
"Kenapa warna lipstiknya jadi kayak orang panas dalam begitu?" Tanya Barra polos. Naomi tertawa mendengar pertanyaan itu.
"Ya lebih suka aja pake model beginian, biar kayak orang korea gitu." Naomi menjawab sambil memonyongkan bibirnya kekanan kekiri secara bergantian. Barra tertawa, menggelengkan kepala dan mengusap wajahnya. Seakan tidak sanggup untuk berlama-lama melihat kecentilan Naomi dari layar ponsel. Takut nantinya benar-benar terhipnotis santet alami wanita kecil yang sudah semakin tumbuh dewasa itu.
Suara intruksi panitia pelaksana dari pengeras suara sudah terdengar begitu nyaring, memanggil semua mahasiswa baru peserta pertunjukan. Naomi tampak sudah siap dan melupakan kegugupan yang tadi sempat hadir. Hal itu berkat obrolan singkatnya dengan Barra.
Barra memang sangat antusias menanggapi dengan asik setiap obrolan yang dilontarkan Naomi. Membuat Naomi merasa nyaman dan tidak perlu merasa malu. Sebab jarak jauhlah yang membuat Naomi jadi lebih berani jika harus berbicara apalagi menggoda memberi candaan kepada Barra. Coba saja kalau jarak mereka dekat. Mungkin Naomi hanya bisa bilang "ehemmm" saja atau bahkan tidak sama sekali Naomi mengeluarkan suara.
10 menit berlalu, panggilan telpon pun diakhiri. Naomi segera bersiap bersama teman grup barunya. Tampak Memey senyum-senyum sendiri sambil menatap Naomi. Jadi heran juga, kenapa Memey seperti itu?
"Ada apa sih Mey, senyam senyum begitu?" Naomi mulai tersipu malu karena terus diperhatikan.
"Cie..cie.. yang abis dikasih semangat sama pacarnya, udah gak nervous lagi deh jadinya. Hahaha.." goda Memey. Teman-teman lain pun jadi ikut tertawa dan menggoda Naomi.
"Itu bukan pacar ih, apaan sih.. temen itu.. temen..sumpah!" Naomi semakin tersipu malu sambil membentukkan dua jari tanda swear, bersumpah.
__ADS_1
"Kamu tuh, pake malu-malu segala. Iya juga gak apa-apa kok, kan bagus malah buat support semangatin kamu belajar." Sahut teman-teman yang lain.
Naomi semakin tersipu malu. Tapi kenyataannya sekarang memang benar ia sudah tidak lagi merasa gugup sedikit pun untuk memulai pentas. Entah apa sebabnya Naomi tidak begitu terlalu memikirkan. Ia lebih fokus menghitung durasi waktu setiap jalannya pertunjukan sampai tiba waktu grup mereka akan tampil. Tak sabar Naomi menanti giliran. Rupanya setelah diundi, mereka mendapatkan nomor urut peserta keempat. Itu artinya, mereka akan perform diurutan keempat, masih termasuk urutan awal.
Naomi segera mengambil hp dan membuka kamera depannya sambil mengintruksi teman satu grup nya untuk ikut berpose bersama.
1
2
3
"Ckreeekkk!!!"
Benar-benar bak foto grup girlband mereka berpose. Tidak begitu sulit bagi mereka untuk mengatur gaya. Padahal ini kali pertama mereka bergabung dalam satu tim. Tanpa banyak aba-aba, langsung klik, mereka cocok!
Dipasangakanlah oleh Naomi foto tersebut dalam story whatsapp dan akun medsosnya. Tanpa menunggu waktu lama, langsung ada sebuah pesan balasan dari story tersebut. Sebuah foto laki-laki berseragam lengkap, dengan posisi tangan kanan yang mengepal tanda memberi semangat untuk Naomi.
"Kamu bisa! Semangat!" Begitu lah bunyi caption pesan bergambar itu.
Duhhhh... bikin melelehhhhh....
Tapi setelah diperhatikan dengan seksama, pria itu lumayan juga ternyata.
*
*
*
*
*
__ADS_1