KaJo Taka LaNa(Kalau Jodoh Takkan Lari Kemana)

KaJo Taka LaNa(Kalau Jodoh Takkan Lari Kemana)
Bukan Siapa Siapa


__ADS_3

Hari ini kelas berakhir pukul 3 sore. Lumayan melelahkan meski belum efektif belajar. Ada beberapa alat pembelajaran yang harus dimiliki setiap mahasiswa, namun Naomi belum memilikinya. Untung saja hari ini dikelas, Naomi sudah dapat beberapa teman baru yang sekelas dengan nya. Mereka akhirnya sama-sama janjian sepulang dari kampus langsung hangout sekalian cari kain dan selendang untuk kelengkapan kelas menari besok.


Imelda dari Belitung, Anye dari Palembang, dan Desi dari Pontianak. Ternyata hanya mereka anak-anak asal luar pulau Jawa saja yang rata-rata belum mempersiapkan peralatan tersebut. Mungkin karena kurang terbiasa menari jadinya mereka tidak begitu paham. Bagi Naomi, bisa masuk menjadi salah satu mahasiswa jalur beasiswa dari pemerintahan saja dia sudah begitu gembira luar biasa. Oleh sebab itu, ia tidak merasa rendah diri. Ia justru merasa harus bertekad agar bisa lebih percaya diri belajar dari nol begitu terjun di ruang lingkup kampus seni yang 80% sudah banyak terisi manusia-manusia berkompeten dalam berkesenian.


Di Jalan Panembahan mereka berempat sudah janji bertemu. Naomi berdua dengan Desi sengaja memesan Taxi online karena sama-sama belum memiliki kendaraan pribadi. Sementara Anye dan Imelda sudah berboncengan mengendarai sepeda motor dan lebih dulu sampai ke toko batik yang telah disarankan oleh dosen kelas menari Yogya.


"Oi dah alangke bagus nian tempat ini owh. Luar biaso."


Alangkah bagusnya tempat ini, luar biasa. Anye tak habis-habisnya berdecak kagum melihat arsitektur bangunan dan interior toko tersebut. Banyak benda-benda antik dan unik yang dipajang. Tersusun sangat rapi sekali. Aroma bunga dan lantunan gamelan pun terasa sangat kental sekali sejak awal memasuki ruangan toko.


Anye dan Imelda tampaknya sangat serasi. Terbukti begitu memasuki area toko, mereka sangat kompak dan langsung berpose cantik dibeberapa spot tempat berfoto. Membuat Naomi dan Desi menggelengkan kepala tak habis pikir kenapa masih saja semangat padahal hari sudah semakin sore.


"Permisi bu, kami mau cari kain dan sampur selendang untuk menari." Desi memulai percakapan dengan pramuniaga. Mereka pun diarahkan ke sisi khusus tempat kain batik. Ternyata tersedia sangat lengkap. Mereka sangat bingung ketika ditanya mau membeli kain motif gaya Yogya atau Surakarta.


Perbedaan paling mendasar antara keduanya adalah warna kain gaya Yogya yang cenderung berwarna hitam dan putih, sedangkan gaya Surakarta lebih ke coklat dan kuning keemasan. Akhirnya masing-masing mereka membeli dua macam karena memang keduanya akan sangat dibutuhkan saat dikelas.


Begitu banyak penjelasan seputar sejarah kain dan motif dari pramuniaga toko yang begitu menarik, membuat Naomi dan teman-temannya tidak menyadari ternyata hari pun sudah semakin gelap.


Krreoookkk....


Perut Desi berbunyi keras seketika membuat semua jadi saling berpandangan dan tertawa. Tak terkecuali si mbak dan si mas pramuniaga di toko. Desi menutup wajahnya menahan malu sambil lari berlindung dibelakang Naomi.


"Udah mbak, kami belanja yang ini saja. Kasihan teman kami ini sudah sangat kelaparan. Belum makan soalnya dari SD." Jawaban ngawur Naomi lantas mengundang geger tawa orang-orang disekitar. Bagaimana tidak, bukan melindungi justru dia menambahkan lelucon untuk menggoda Desi yang sedang lapar berat. Kasihan amat Desi sudah laper sejak Sekolah Dasar! Hehehe... Dasar Naomi.


Akhirnya misi hari ini pun selesai. Apa yang dicari sudah ada ditangan. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk makan dan duduk bersantai di sebuah angkringan di alun-alun bagian selatan. Sambil menunggu pergantian waktu berlalu.


"Pak, pesan empat teh hangat ya." Imelda bersuara, memesan minuman untuk mereka melepas dahaga. Ia begitu detail dan cerewet soal minuman. Tidak ada yang disarankannya minum es disaat kondisi tubuh sedang dahaga. Kecuali air mineral dan minuman teh yang hangat.


Ting.....


Sebuat chat masuk.


"Bagaimana hari ini di kampus? Menyenangkan? Aku belum bisa telpon, tanggung. Sebentar lagi magrib tiba."


Ah, pria itu lagi. Entah mengapa semakin kedepan, body guard tamvan itu semakin intens saja menghubungi. Seperti tidak ingin melewatkan barang satu hari pun informasi tentang Naomi. Tapi baginya itu bukan suatu masalah. Selagi belum merasa terlalu banyak distir, ia menganggap ini masih hal biasa. Mungkin saja ini bentuk kepedulian antara kakak senior dan adik junior.

__ADS_1


Ckreekkk!!!


Naomi langsung mengambil gambar dirinya bersama teman-teman menggunakan kamera depan hp nya dengan cepat.


Semua kaget dan Anye yang paling heboh memprotes. "Yaa ampun Naomi, kok gak bilang dulu sih kalau mau foto. Jadinya kan aku gak bisa merubah pose ku, ih gimana sih ahhh..."


Naomi terkekeh. Pasalnya saat foto tersebut diambil, Anye memang sedang dalam posisi rakus sedang memakan gorengan dan nasi kucing. Begitu juga dengan Desi yang sudah sejak SD belum makan itu tampak berpose sedang sibuk mengambil gorengan. Lalu pose Imelda yang sibuk meraih gelas teh hangat dari bapak penjual dengan mulut terbuka karena sedang bicara.


Naomi tidak memperdulikan omelan para sahabat barunya dan langsung saja mengirimkan foto ke nomor tujuan. Ia mengirimkannya kepada Barra tanpa tambahan keterangan caption apapun yang menyertai. Lalu melanjutkan kembali makan nya yang sempat tertunda.


"Sudah hampir maghrib begini ternyata masih diluar? Berada jauh dari jangkauan keluarga harusnya bisa membuatmu lebih berhati-hati menjaga kepercayaan. Jangan sampai kamu buat mereka khawatir." Naomi tertegun setelah membaca isi pesan balasan dari Barra. Seperti tidak menyangka kalau foto yang dikirimkannya barusan ditanggapi dingin seperti itu. Tapi Naomi merasa tersentuh, ada rasa ingin memberontak. Menyadari bahwa dirinya sedang memendam rasa kesal, secepatnya dihabiskan makanan yang tidak begitu banyak lagi tersisa.


"Kamu kenapa, miii? Diem aja dari tadi, trus tiba-tiba langsung terburu-buru begitu.." Desi rupanya memperhatikan perubahan sikap Naomi. Dua teman lainnya pun menyadari dan seperti menunggu jawabannya. Naomi menggeleng lalu tersenyum, ia terus lanjut menghabiskan makanannya.


"Habis ini ada yang mau ikut aku mampir ke masjid terdekat? Sepertinya kita sudah beberapa menit melewati waktu untuk sholat." Naomi bersuara. Ia pun meminum habis teh hangat nya dan segera membayar.


"Aku ikut." Desi langsung mengikuti Naomi untuk segera membayar biaya makannya. Sedangkan Imelda dan Anye saling berpandangan. Ada rasa malu diantara mereka jika sampai tidak melakukan kewajiban yang sama. Langsung saja mereka bergerak cepat mengikuti. Mereka berempat pun berjalan bersama menuju masjid terdekat.


Setelah sampai, mereka mereka mempercepat langkah kebagian belakang masjid untuk segera berwudhu. Kemudian memasuki masjid dan mencari mukenah untuk mereka pinjam. Decak kagum pun tak habis-habisnya keluar dari mulut Anye saat mereka memasuki area dalam masjid lama bergaya keraton, bukti adanya peradaban kejayaan islam di tanah Jawa masa lampau. Desi menyikut lengan Anye agar dapat menahan diri dari tatapan orang-orang dalam masjid. Sssst.... Desi mengkode Anye supaya diam, tidak berisik. Akhirnya mereka berempat solat berjamaah menyusul di shaf paling belakang.


Tapi ntah mengapa pada akhirnya Naomi menyadari bahwa kedatangan nya sejauh ini memang benar hanya untuk menimba ilmu, bukan sekedar untuk bersenang-senang hingga lupa waktu. Ada terselip rasa syukur atas kejadian sore ini. Ternyata Allah masih melindungi dan membukakan pintu hidayah untuknya. Lewat ucapan tegas namun sedikit menyakitkan bagi Naomi tadinya.


Tapi kini setelah ia benar-benar menyadari, tidak sepantasnya pula ia harus kesal ataupun marah dengan ucapan Barra. Justru ia malah harus berterima kasih dan tetap bersikap baik kepada Barra. Karena ucapan Barra lah yang menyebabkan ia ingat akan tujuan utamanya berada di kota pelajar ini.


Selesai sholat, Naomi bergegas mengaktifkan ponselnya yang sejak tadi ia matikan. Kebiasaan Naomi sedari dulu, menon-aktifkan hpnya apabila sedang marah dan tidak ingin diganggu oleh siapapun. Kini wajahnya sudah tidak lagi semurung tadi. Sudah menunjukkan ketenangan bahkan kini sudah tersungging senyuman manis dibibir Naomi. Ketiga sahabat barunya saling berpandangan heran melihat perubahan sikap Naomi.


"Kamu kenapa sih, mi? Lagi marah ya? Marah sama siapa? Ataukah kami ada melakukan kesalahan?" Desi mencoba bertanya dengan pelan.


Naomi menggeleng, lalu tersenyum.


"Gak kok, bukan marah sama kalian. Tadinya ya cuma lagi kesel aja sama seseorang. Tapi bukan disini, orangnya jauh. Hihihiii.." Naomi terkekeh kembali ceria.


"Huuuuu... Makanya klo punya pacar tu gak usah jauh-jauh! Cari yang pasti-pasti aja deket sini. Jadi gak ngambek-an, gak cemburuan." Goda Anye sambil menyenggol sedikit badan Naomi. Naomi menatap sinis sambil memuncungkan bibirnya tanda tak menyetujui ucapan Anye.


"Sorry ya, itu bukan pacar, bukan siapa-siapa nya aku! Huhh.." bantah Naomi sembari mengemas cepat mukenah yang sudah dipakai. Ditaruhnya kembali ke tempat semula.

__ADS_1


"Yeee... Dikira kita gak ngerti apa ya, tingkahnya para buciners itu gimana? Ya seperti ini lah contohnya, suka marahan gak jelas! hahahha.." Sambung Imelda sambil tertawa ikut menggoda. Wajah Naomi bersemu merah, ia tak mampu menyembunyikan perasaannya apalagi menyanggah ujaran para sahabat barunya.


Diurungkan niat membaca notifikasi hp nya yang sudah berbunyi berkali kali. Hp di simpan dan Naomi pun memfokuskan diri untuk perjalanan pulang ke kost an. Desi sudah memesan taxi online untuk tujuan pulang mereka.


Ternyata antara kost Naomi dengan kost Desi tidak lah berjauhan. Hanya dibatasi sebuah musholla saja. Mereka sangat senang, itu artinya mereka jadi bisa lebih sering berkunjung dan saling akrab satu sama lain.


Perjalanan ditempuh selama 20 menit, akhirnya sampai lah Naomi di dalam kamar kost. Uuhhhh.... Sudah seharian penuh ia tidak merebahkan tubuh nya diatas kasur ini? Melelahkan sekali. Kuliah, jalan, belanja, makan, haha hihi bersama teman sampai lewat maghrib saja sudah sangat menguras tenaga. Biasanya kalau Naomi sudah kelelahan seperti ini selalu ada mama yang menemani. Sekedar minum teh hangat dikamar bedua sambil makan biskuit ataupun camilan keripik. Aahh... jadi rindu Mama...


Dipencet layar panggilan cepat nomer 1 dilayar Hp nya. Dan... "Assalamualaikum sayang... Gimana kabar kamu hari ini? Udah makan belum?" Suara mama sangat girang terdengar dari ujung hp. Naomi pun menyambutnya dengan bersemangat. Ia menceritakan pengalamannya hari ini kepada mama. 30 menit mereka larut dalam keceriaan saling bertukar cerita.


"Dek, udahan dulu ya. Mama udah ngantuk nih mau tidur. Kamu juga tidur ya, jangan bergadang. Ntar besok disambung lagi ceritanya.." setelah berpamitan lewat telpon, panggilan Naomi akhirnya terputus.


Naomi kembali merasa sepi di kamar kost an. Hatinya kembali merasa sedih sendiri. Dia buka kunci layar hp dan kembali memeriksa seberapa banyak pesan chat Whatsapp yang masuk.


Rupanya notif pesan chat yang banyak masuk sejak tadi hanya dari grup SMA. Tidak satu pun chat dari Barra yang ia temukan selepas pesan terakhir saat maghrib tadi. Naomi merasa ada sesuatu hal yang mengganjal. Apakah Barra menjadi ilfil tidak ingin lagi berbicara dengan nya hanya karena ia telah lalai pada Sang Pencipta? Tapi kenapa rasanya terlalu berlebihan ataukah hanya perasaan Naomi saja yang berlebih... Aaahhh..... Apaan sih!! Naomi menjadi gusar.


Haruskah dia yang kali ini coba memulai menyapa? Meski belum pernah ia lakukan sebelumnya, tapi bagaimana cara memulainya? Mungkin saja Barra benar-benar tidak menyukai tindakan nya hari ini.


"Hai.. lagi apa kak?" Begitu tulisan chat Naomi, tapi merasa tidak percaya diri lalu kembali dihapusnya.


"Lagi sibuk ya, kak?Udah makan kak? Tumben gak vicall.. aaaghhh.... Apa apaan kau ini Naomi!!!!!! Naomi merasa geram sendiri dibuatnya. Bolak balik kamar mandi pun tidak kunjung merubah keadaan hatinya yang gundah. Dicoba kembali untuk mengetik tulisan chat ke Barra dan...


"Hayoo..ketauan dari tadi mau nulis pesan apa buat aku? Kok gak jadi jadi..?"


Naomi jadi bingung sekaligus bengong.


*


*


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2