
Author POV
Naomi duduk terpaku beberapa saat setelah ia putuskan panggilan video dari Barra. Ia merengek sendirian seperti anak kecil dikamar kost an. Diacak-acakkan rambutnya bersamaan kaki yang ditendang-tendang bergantian hingga mengusutkan sprei tempat tidurnya. Alamaaaaakkk..... Mamaaaa... Aku maluuuuuu...! Haduuuuuuhhh.... Rasanya ingin dibenturkan saja ke dinding nih jidat lebar bin jenong. Eh tapi jangan, ah! Ntar atiittt pulak...
Tok tok tok...
"Mbak Naomi." Terdengar suara panggilan dari depan kamar kost.
"Ya, sebentar." Sahut Naomi bergegas membuka pintu. Ternyata yang datang ibu pemilik kost-an, bu Munir namanya. Ibu itu tampak sedang membawa mendoan goreng diatas sebuah piring.
"Anu mbak, iki tak bawakan mendoan anget buat sarapan. Tadi sengaja nggoreng lebih buat dibagi-bagi ke semua penghuni kost." Jelas bu Munir ramah masih dengan logat Jawa yang sangat kental.
Ia tampak bersemangat pagi ini. Naomi menerima pemberian dengan senang hati, lalu masuk ke kamar menggantikan piring dengan membawa bonus oleh-oleh darinya untuk bu Munir. Bu munir begitu senang menerimanya. Sampai sampai langung bilang begini,
"Mbak Naomi, yen mbak e lagi ada perlu mau ngurusi keperluan kuliah kasih tau nggih sama, ibu.. nanti tak minta mas Bagas sing nganter panjenengan."
Kalo misalkan nanti Naomi ada perlu terkait urusan kampus, bu Munir akan meminta tolong anak laki-lakinya untuk sedia membantu mengantarkan Naomi. Begitulah kira-kita Naomi berusaha memahami penuturan bu Munir dalam hati.
Bagas? Ternyata bu Munir punya anak laki-laki bernama Bagas.
"Siap, bu. Terima kasih atas tawarannya. Tapi hari ini hari sabtu, bu. Sepertinya kampus pun sedang libur. Mungkin senin baru bisa urus keperluan registrasi perkuliahan."
"Sama aku juga bisa, mbak. Senin aku belum ada agenda mau kemana-mana." Sahut seorang perempuan yang ternyata sudah duduk santai sambil menikmati mendoan di depan teras kamarnya. Ia pun kemudian berjalan mendekati bu Munir dan Naomi.
"Aku Grianna. Kamu yang semalam baru pindahan kesini, kan?" Wanita itu menyapa sambil mengulurkan tangannya mengajak bersalaman. Naomi mengangguk, "iya, kak. Salam kenal ya. Saya, Naomi. Semalam baru sampai jogja, langsung di anterin kesini sama temennya abang saya." Sambil meraih dan menjabat uluran tangan Grianna.
"Oh yaa, mbak Grian ini dari Belitung lho, mbak Naomi. Bangka sama Belitung masih sama satu provinsi, tho? Sejauh mana jarak antar keduanya ya mbak?" Bu Munir bertanya seolah penasaran.
"Adoh banget, bu. Udah beda pulau itu, jadinya jauh sekali, harus nyebrang laut pake kapal atau terbang lewat udara." Tutur Grian menjelaskan. Tampak bu Munir menyimak dengan serius.
"Waaah, tak kira sama dekatnya seperti Jogja-Solo, jee... Hihihi... Trus bahasane pie, mbak yan? Podo karo basane wong malaysia, tho?"
"Logatnya mirip-mirip dikit lah, bu. Ditempat ku klo ngomong "iye" yang artinya "iya" tuh pakai "e" saat seperti kita menyebutkan kata "seru, senang, sedih". Kalau di daerah tempat mu gimana, mii? Pake "E" taling kan ya, kaya ngomong E dalam kata Emang?" Tanya wanita bernama Grianna itu kepada Naomi sambil mengunyah mendoan.
__ADS_1
Cepat Naomi menggelengkan kepala. "Yang pake E taling begitu, ada di ibukota provinsi, mbak. Tempat ku sama aja logat bahasanya seperti ditempatnya mbak." Rupanya Naomi tampak mulai akrab dengan keduanya.
"Nduk, silahkan melanjutkan obrolan ya, ibu kedalam dulu. Masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan" , bu Munir berpamitan. Ternyata ibu kost sangat baik. Naomi merasa bersemangat pagi ini karena cuaca pun sangat mendukung. Benar-benar sabtu yang cerah!
"Kamu sudah punya rencana mau kemana hari ini?" Tanya mbak Grian sambil menyusun rapi rak sepatu depan kamarnya. Sepertinya wanita itu menyenangi koleksi heels. Naomi tertegun, bingung mau menjawab apa.
"Belum ada, mbak. Gak tau tapi nanti gimana. Kak Taufan juga belum ngasih kabar." Naomi mengangkat kedua bahunya. Lalu tangannya menyambar ponsel. Biasanya setiap pagi Naomi tak pernah melewatkan membaca berita online. Seperti sudah menjadi kewajiban baginya.
"Oh yang sejak kemarin dateng kesini nanyain kost an itu kakak mu?" Mbak Grian penuh selidik. Naomi tersenyum, "Kenapa mbak? Gak mirip kah?"
Wanita itu pun tertawa. Sambil menepis tangan sepintas depan wajahnya sendiri. "Dah lah, gak usah dibahas." Ujarnya sambil terkekeh. Naomi tau, wanita itu pasti kaget begitu melihat kak Taufan yang cupu, culun punya.
"Bukan, mbak. Dia hanya temen akrabnya kakak ku sewaktu masih kuliah dulu. Aku disini sendirian, gak punya sanak keluarga." sepertinya mbak Grian terenyuh. Ia pun berjalan mendekati sambil menepuk pundak Naomi.
Puk..pukk..pukk...
"Kamu sama kayak aku dulu. Tapi aku udah banyak makan asam garam hidup sendirian di kota ini. Aku harap kamu bisa jaga diri baik-baik. Kalo ada sesuatu, butuh pertolongan, katakan saja. Insyallah mbak bisa bantu."
Naomi tersenyum mengangguk. "Terima kasih, mbak. Senang bisa mengenal mbak." Dilihatnya wanita berusia sekitar 26 tahunan itu tampak begitu tulus. Tak lama kemudian keluar lah seorang wanita lagi dari kamar sebelah. Wanita serba kuning! Tank top kuning, hot pans kuning, sandal berbulu warna kuning, bandana kuning dan begitu terlihat isi kamarnya pun ternyata berwarna kuning.
"Kamu mungkin dah tidur semalem, wi. Kenalan dulu sama Naomi, dia Anak Bangka. Tetanggaan sama aku, Anak Belitung. Heheh" Ujar mbak Grian renyah memperkenalkan.
"Aku Dewikkk.... Aslinya Bali, tp dah lama pindah dan tinggal di Lampung." Sambil menjabat tangannya dengan Naomi. Ternyata sepagi ini dia sudah dapat dua teman baru. Meskipun usianya jauh diatas Naomi, yang satu 26 tahun dan satunya 23 tahun. Merupakan suatu kemajuan yang berarti buat Naomi hari ini.
"Ntar ikutan aja ke gramedia, mi. Kita cari buku trus habis itu jalan kemana gitu." Ajak Dewi.
"Iya, mbak. Mau sih tapi ntar perginya pake apa? Aku belum tau jalan dan gak punya kendaraan."
"Naik motor boncengan sama aku aja, Mi. Aku selesaikan dulu pekerjaan ku di dalam. Kamu juga siap dulu biar nanti selesainya barengan. Oke?" Naomi menyetujui dengan jempol tangannya. Lalu berpamitan masuk kembali ke kamar.
Hufhht...
Sepi juga ternyata sendirian dikamar begini. Tv gak punya, radio gak ada. Motor apalagi, jelas gak punya. Jadi bingung mau ngapain. Naomi merebahkan tubuh kembali dikasurnya. Sembari membuka surat kabar online yang sebelumnya tertunda dibaca.
__ADS_1
Ting...
Sebuah pesan bergambar masuk.
Kamu suka yang mana?
Begitu lah isi pesan yang diterima bersamaan sebuah gambar buket bunga. Satu berwarna merah dan yang satunya berwarna putih.
"Yang putih, dong.. seneng aja kalo liat warna putih tu keliat gimana gitu. Bersih, suci, tulus.. keliat lebih ganteng dan cantik rasanya setiap orang yang pake busana berwarna putih itu dimataku." Balas pesan Naomi.
"Artinya semalem aku ganteng dong ya?!" Begitu cepat balasan itu datang.
"Yaelah, salah sebut dah aaaahhhh!" Naomi lupa, kalau semalam Body Guard Tamvan itu memang mengenakan kaos berwarna putih.
"Sudah, akui saja kalau aku memang ganteng. Kamu juga cantik kemarin dibandara pake kaos warna putih. Jadi kita pas lah. Cocok. Hahaha"
Dih, maksudnya apa coba? Bilang pas dan cocok segala. Mau belajar buat tebar pesona gitu maksudnya?
Gak bakal ngaruh!
Soalnya jauh!
*****
Ah, yang benerrrr?? ^_^
.
.
Dear pembaca, maaf atas keterlambatan tulisan. Sebab beberapa hari belakangan, Author sedang banyak kesibukan didunia nyata mengumpulkan barang serba putih biar dibilang cantik juga...! Hihihi
Mohon dimaafkan ya!
__ADS_1
Next time, insyallah diusahakan menulis secara kontinyuuuuu 💪💪💪