KAPAN NIKAH

KAPAN NIKAH
Keresahan


__ADS_3

"Pulang kerja jadinya pada kemana kita?", tanyaku yang fokus mempelajari modul pengajar di depan komputer meja kantor.


"Terserah loe aja Ra, gimana kalau kita nongkrong di Cafe Start aja, di sana banyak cogan (cowo ganteng), sapa tahu ada yang klik, cocok terus kita dapat gebetan buat masa depan", kata Sasa teman kerjaku.


"Gak seru ah, kita masih muda ini, masih umur dua lima gak masalah kalau belum dapat cowo, mending karaokean habis itu kita - kita nonton, ada film bagus nih di bioskop", kataku sambil sesekali menoleh pada teman - teman kerjaku.


Namaku Rara Sahira, aku bekerja menjadi seorang pengajar di salah satu instansi pendidikan, sejak lulus kuliah aku yang sangat mencintai pekerjaanku, aku menganggap cowo adalah pacar penjaga, orang yang cuma stay di samping kita, nemenin ngobrol, jalan, jemput di kala pergi atau pulang kerja dan gak lebih dari itu.


Aku dan teman - temanku selalu hangout ke mall setiap pulang kerja dan traveling saat weekend.


Waktu cepat berlalu, sekarang usiaku sudah menginjak umur tiga puluh tahun, satu persatu rekan kerjaku sudah menikah dan punya anak, setelah mereka menikah, aku merasa waktuku hanya ku habiskan di kos dan tempat kerja karena mereka sibuk mengurus anak setelah pulang kerja.


Saat ku beranikan diri hangout sendiri, berjalan di mall sendiri, aku melihat di sekitarku pasangan kekasih yang tertawa bersama, saling merangkul saat berjalan menyusuri lorong mall. Saat itu aku merasa kesepihan, ada yang kurang dalam hidupku.

__ADS_1


Seperti biasa setiap tahun keluarga besarku berkumpul dan bersilahturahmi di di rumah kakakku, sudah lama aku tidak berkumpul dalam acara hari raya bersama keluargaku karena aku selalu memanfaatkan cuti hari raya dengan traveling bersama teman kantor.


Saat datang ke rumah kakakku, aku bersalaman dengan orangtuaku dan keluargaku. Awalnya mereka menanyakan kabarku dan pekerjaanku, sampai di satu waktu mereka menanyakan pasangan hidupku.


"Ra, kapan dikenalin calonnya", tanya kakak pertamaku sambil menyantap kue dan duduk di ruang meja makan.


"Iya Ra, kenalin dong ke kami, ingat umur, apalagi kita seorang wanita yang harus melahirkan, resikonya besar kalau melahirkan di usia tua", kata kakak iparku sambil menghidangkan beberapa makanan di atas meja makan.


"Iya kak, iya bu..., sabar ya bu, nanti rara akan kenalkan ibu dengan pasangan hidup rara", kataku yang duduk di sebelah ibu dan menoleh ke arah ibu sambil tersenyum.


"Kakak tunggu, pokoknya setelah kamu menemukan pria yang cocok untuk masa depan kamu, kamu langsung kenalin ke kakak", kata kakakku.


Sesampainya di kos, aku membaringkan tubuhku, dan menatap ke langit - langit atap.

__ADS_1


"Pasangan Hidup, kata - kata yang terlalu berat di kepalaku, bahkan lebih berat dari pada mengajar anak nakal sekalipun, hufft! sudahlah nanti juga indah pada waktunya", kataku beranjak dari kasur dan keluar kos untuk menonton televisi di ruang tamu.


"Hai kak, kenalkan namaku Alya, aku ngekos di sini juga", kata Alya yang tiba - tiba duduk di bangku ruang tamu kosan bersamaku.


"Hai Alya, aku Rara, masih kuliah atau sudah kerja?", tanyaku menoleh ke arah Alya.


"Belum kak, susah cari kerja di ibu kota Jakarta, aku baru lulus kak, belum punya pengalaman, rencananya sih mau melamar - melamar pekerjaan besok di kantor pacarku", kata Alya menoleh ke arahku sambil meneguk minuman di gelas yang dipegangnya.


"Oh..., semoga cepat dapat kerja ya Al", kataku .


"Iya kak, makasih doanya kak Rara, pasti dapat kerja", kata Alya tersenyum ke arahku.


"Hah! dia masih muda, baru lulus kuliah, udah punya pacar, bukannya nikmatin hidup dulu, tapi kenapa gue jadi iri ya waktu dia bilang cowonya mau antar dia ngelamar pekerjaan besok, gue jadi ngerasa kesepihan, ya Tuhan....dimana Pasangan Hidupku, argh!!", kataku dalam hati sambil menghela nafas dan melihat ke arah Rara.

__ADS_1


__ADS_2