KAPAN NIKAH

KAPAN NIKAH
Patah Hati Sama Si Gendut


__ADS_3

"Kak Rara, ni ada sepupuku masih single, lagi cari pacar", kataku saat menjemur pakaian di balkon atas, kebetulan kak Rara sedang mencuci pakaian.


"Gak ah, gue trauma, nanti gue ditinggalin lagi, apalagi sekarang umur gue dah mau tiga puluh tiga tahun bulan depan", kata kak Rara.


"Jangan pesimis dulu dong kak, ini mantep banget, udah mapan, kerjanya sebagai pengajar di perguruan tinggi, udah S2 lagi, terus kakakknya juga pengajar di luar negeri, dia anak terakhir, kebayangkan warisannya, wkwkkwkw", kataku sambil tertawa iseng.


"Lu Al, bisa banget lu, ngeluluhin hati gue, yaudah kasih aja nomor gue sama dia, biar dia duluan yang hubungin gue", kata kak Rara tersenyum padaku.


"Ok siap kak Rara", kataku.


Beberapa bulan kemudian kak Rara menceritakan perjalanan cintanya dengan sepupuku. Sepupuku bernama Damar, dia adalah seorang pengajar di perguruan tinggi swasta, Damar memiliki berat badan serus delapan puluh tujuh kilogram, Dimas anak terakhir dari dua bersaudara, ayah dan ibunya sudah meninggal dunia, kakak Damar adalah pengajar di Amerika.


Kak Rara mulai menceritakan kisah cintanya dengan Damar.


"Selamat pagi, saya Damar sepupunya Alya, salam kenal", chat Damar padaku.


"Pagi, salam kenal, saya Rara", balas chat Rara pada Damar.


Aku dan damar kemudian janjian untuk bertemu di kampus tempat dia mengajar, saat bertemu dengannya aku kaget karena dia besar banget, berat badanku yang hanya empat puluh lima kilogram merasa kebanting dengan berat badannya yang seratus kilogram lebih.


"Gile si Alya ngasih gue gajah, buset...besar banget", kataku dalam hati saat pertama kali bertemu dengan Damar.


Aku mengobrol dengannya di kantin kampus, dia menceritakan tentang keluargannya, begitupun aku.


Sejak pertemuan itu kami menjadi dekat, dia sering mengingatkanku ibadah, makan, dan selalu mengucapkan selamat tidur saat malam tiba.


Suatu hari Damar ingin main ke rumahku tapi bingung harus naik kendaraan apa, karena biasanya dia di boncengin naik motor dengan ojek di daerahnya.


"Ra, aku udah stopin angkutan gak ada yang mau berhenti", chat Damar.


"Tungguin aja, nanti juga ada yang mau", chat balasanku.


Sesampainya di kosan, Damar menceritakan padaku.

__ADS_1


"Ra, tadi aku naik angkot duduk di depan sebelah supir, suaah banget turunnya sampe supirnya bantuin aku turun, terus di suruh bayar double karena kata supirnya biasanya tempat duduk di depan untuk dua orang, porsiku dua orang katanya, yaudah aku bayar", kata Damar.


"Yaiyalah dua orang, secara jumbo plus..plus..plus..., gak kebayabayang itu angkot miring sebelah, wkwkwkkw", kataku dalam hati sambil menutup mulut menahan tawa karena tak enak hati pada Damar.


"Maaf ya, kamu jadi susah, susah ke sini", kataku sambil menyuguhkan minuman.


"Demi kamu apa sih yang enggak Ra", kata Damar lalu meneguk minuman di gelas sekali teguk habis.


"Buset...haus apa laper, harusnya pake kran air, segelas sih cuma basahin tenggorokannya aja", kataku dalam hati.


Seiring berjalannya waktu, Damar memberanikan diri menembakku, akhirnya dengan tulus aku menerima Damar sebagai pacarku.


"Ra, sebenarnya aku suka sama kamu, kamu mau gak jadi kekasih hatiku", kata Damar saat video call.


"Kamu serius mau sama aku, aku kan kurus", kataku tersenyum, jantungku berdebar kencang.


"Iya aku serius, aku mau nikah sama kamu tapi gak sekarang, aku ngumpulin uang dulu, aku nabung dulu", kata Damar berwajah serius saat vicallan denganku.


"Iya aku mau", kataku menganggukan kepala, perasaanku bahagia dan jantungku berdebar kencang saat menatap wajah gendutnya.


Sampai tibalah saat itu, Damar tidak ada kabar, aku coba menghubunginya namun tidak bisa.


""Ketika dia meninggalkanmu, dunia ini tidak pernah berhenti memberikan harapan dan peluang baru untukmu.Ketika dia meninggalkanmu, dunia ini tidak pernah berhenti memberikan harapan dan peluang baru untukmu." kataku dalam hati dan mencoba menguatkan perasaanku.


Di saat aku sudah menemukan seseorang selalu saja aku ditinggalkan. Berhari - hari aku merasa galau, aku selalu mengingat kenangan bersamanya.


Sampai akhirnya aku sadar untuk apa aku bersedih, aku membayangkan jika aku menikah dengannya, aku bisa remuk dipeluk sama dia, bisa rebutan makanan, jatah makananku di ambil sama dia, dan mau kemana - mana repot karena makan tempat.


"Aku akan lupain dia, dasar gendut, sok ganteng", kataku yang merasa sakit hati karena sikap Damar.


Saat pulang kerja, aku memesan ojek, saat itu sudah jam sepuluh malam, biasanya sudah jarang ada ojek online, apalahi hujan deras.


Ojek online menghampiriku.

__ADS_1


"Dengan mbak Rara, diantar ke Jalan Bunga Rampai?", kata ojek online.


"Iya, Pak", kataku.


Sesampainya di kosan, ojek online itu membukakan helmku. Perasaanku deg - degkan karena kebaikannya, ojek online yang masih memakai helem dan masker menatap mataku, aku pun menatap matanya.


"Malam, dengan mbk Rara, saya ojek online yang barusan nganterin mbak", chat ojek online.


"Siapa sih nih, ojek online doang sksd (sok kenal sok deket) banget", kataku dalam hati dan mengabaikan chat dari ojek online.


"Kenalkan saya Farhan, besok saya antar jemput ke tempat kerja ya, gratis", chat ojek online bernama Farhan.


"Lumayan nih, masih muda kelihatannya, boleh juga, sapa tahu bisa ngilangin perasaan gue ke Damar", kataku dalam hati sambil melihat foto Farhan si ojek online di photo profil chatnya.


Setiap hari Farhan selalu menjemputku, sampai akhirnya kami dekat. Farhan sering mengajakku ke mall untuk makan dan nonton bioskop.


"Ra, sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama sama kami", kata Farhan memegang tanganku saat di bioskop dan berbisik di telingaku.


Aku tersenyum dan tersipu malu sambil menoleh padanya.


"Ra, apa kamu mau jadi calon istriku, aku serius sama kamu", kata Farhan.


Aku tersenyum dan mengangguk.


Setiap jalan dengan Farhan, Farhan selalu membelikan makanan untuk teman - temanku.


Suatu hari seorang wanita menelponki dan melabrakku, dia mengatakan bahwa dia adalah istri dari Farhan.


Aku merasa kaget dan betapa ketakutannya diriku, aku memblokir semua kontak Farhan dan mengirimkan pesan padanya untuk tidak lagi menghubungiku.


Aki sangat takut bila dia datang menemuiku lagi di tempat kerjaku, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku takut teman kerjaku salah paham dan menyebutku pelakor, aku takut istri Farhan mendatangiku dan memarahiku di depan umum.


Farhan terus menghubungiku dengan menggunakan nomor baru, dia selalu mengirimkan pesan dia katakan masih mencintaiku, ingin menikahiku.

__ADS_1


"Gue stress Al, gue takut si Farhan nekat", kataku sambil mentraktir Rara makan soto mie untuk mendengarkan curhatanku.


__ADS_2