
Kak Rara kembali menjalani hari - harinya dengan normal, aku melihat kedewasaan kak Rara dalam menghadapi masalah denga ke kasihnya yang sekarang menjadi ojek online.
Satu tahun kemudian saat kak Rara berulang tahun di usia tiga puluh dua, aku dan teman kos lainnya memberikan kejutan dan menjahilinya, kami menyiramnya dengan tepung, kami tertawa bersama, aku pun kak Rara beberapa hari ini kak Rara begitu bahagia.
"Kak, selamat ulang tahun semoga cepat ke pelaminan, supaya aku bisa makan prasmanannya nambah dan bisa bungkus buat stock di kosan, wkwkwkwk", kataku memberi ucapan selamat dan menertawakan kak Rara yang penuh dengan tepung dan berusaha mengejarku dan mengejar teman kos lain untuk dia peperin.
Keesokan harinya kak Rara mentraktirku makan bakso, saat makan bakso kak Rara selalu tersenyum sambil menyantap bakso.
"Al, loe tahu gak", kata kak Rara.
"Gak kak, kakak aja belum ngasih tahu, gimana Alya bisa tahu, wkwkwkw", kataku sambil sesekali makan bakso dan menyedot esteh di botol dengan sedotan.
"Ih, loe mah bercanda mulu, harusnya loe kepo dong kaya biasanya, loe tanya ada apaan ke gue", kata kak Rara.
"Pengen banget di introgasi kak, wkwkwkw, nanti ku panggilin polisi, wkwkwkwkw, serius - serius, ada apaan sih kak", kataku yang terus tertawa setiap kali membalas percakapan kak Rara.
"Miki udah diterima kerja, Al. Dia diterima kerja jadi audit, gue bersyukur banget, gajinya katanya lumayan, tapi..", kata kak Rara yanb wajahnya tersenyum berubah jadi cemberut.
"Tapi apaan sih kak, bikin penasaran aja", kataku dengan serius.
"Miki minta gue modalin dia selama dia training yang bayarin ongkos dan makan dia ke tempat kerjanya, gue", kata kak Rara sambil menusuk - nusu bakso bulat besar dengan kesal di mangkoknya memakai garpu.
"Bagus dong, tapi kelewatan, jadi cowo gak modal banget sih, gak mau rugi, terus kakak bilang apa ke dia", kataku menyantap bakso terakhir.
"Gue iyain aja, gue mau lihat dulu beberapa bulan ke depan, Al. Dia bilang dia serius sama gue, gue dah keyang nih", kata kak Rara yang tidak menghabiskan baksonya dan menaruh sendok dan garpu di atas mangkok bakso.
__ADS_1
"Gimana baiknya aja kak, yang penting kakak bahagia, alemong tuh cowo", kataku sambil tepuk jidat.
Setelah beberapa hari kemudian aku melihat kak Rara sudah jarang ngedate dengan cowonya, namun aku gak berani bertanya apa yang sedang terjadi, wajah kak Rara nampak biasa saja tapi murung dan sering melihay ke arah layar handphone saat mengerjakan tugas kantor di kosan atau saat menonton televisi.
"Woi kak, kok bengong aja, melamun terus, itu rambut dicabutin terus, lama - lama botal", kataku sambil menonton televisi.
"Al, gue stress nih banyak pikiran, si Miki kemarin kan dikirim audit ke luar kota, sejak saat itu gak ada kabar", kata kak Rara sambil memijat - mijat kepalaya dengan jari.
"Ya ampun kak, klo dia handphone dah gue lembiru, lembar beli baru, udah ga usah di pikirin, gue punya teman nih kak, dia kerjanya matiin api kalau ada yang kena kebakaran, mau gak?!, daripada nunggu yang gak pasti", kataku bangun dari sofa dan menghampiri kak Rara yang sedang tiduran di pintu kamarnya. Aku memperlihatkan foto temanku yang bernama Andri, aku mengirimkan nomor handphone Andri pada kak Rara.
"Yaudah deh, boleh sambil nunggu kabar Miki, sambil menyelam berenang, hehehe", kata kak Rara bangun dan duduk di sebelahku sambil melihat foto Andri di handphoneku.
"Playgirl juga loe kak, bukan berenang tp sambil menyelam minum air, wah gawat juga ya virus broken hurt bisa bikin lupa pribahasa, wkwkwkwkw, gue kirim cus, gue dah wa Andri, katanya oke", kataku sambil mematikan layar handphone.
"Itu dia handphone di sebelah bantal, hadew...kak Rara", kataku menoleh padanya sambil tertawa sinis.
"hehehe, Al...Alya, lihat si Andri udah hubungin gue", kata kak Rara melihat ke layar handphonenya dan menunjukkan pesan chat whatapp padaku.
"Iya, iya, yaudah lanjut, gue ngantuk pengen tidur", kataku beranjak dari lantai kamar kak Rara.
"Bentar dulu, bentar, loe kebanyakan tidur, nanti gendut loh!, btw , umurnya berapa, kelihatannya muda banget Al", kata kak Rara menahan tanganku.
"Umurnya dua tujuh kak", kataku yang sudah berdiri di pintu kamar kak Rara.
"Emang dia mau sama gue yang usianya tiga puluh dua, lima tahun lebih tua", kata kak Rara menarik tanganku.
__ADS_1
"Mau, katanya umur gak masalah, orangtuanya juga gak masalahin umur, gue kenal sama bapaknya, sering ketemu di tempat service motor pas antar cowo gue", kataku melepas tangan kak Rara dan berjalan menuju ke kamar.
"Al...Thank you...", sahut kak Rara dari kamarnya.
"Sami - sami kak, wkwkwkw", kataku tertawa dan masuk ke dalam kamar.
Beberapa hari kemudian aku melihat kak Rara sudah jalan bareng dengan Andri, setiap hari aku melihat postingan whatapp mereka ngedate bareng, makan bareng, bahkan mereka sering berkunjung ke tempat - tempat bersejarah.
"Memang beda, mereka berdua yang sudah pemikirannya dewasa lebih suka ngedate di tempat bersejarah, dibandingkan aku yang ngedate maunya di pantai, mall atau jajanan pinggir jalan, wkwkwkwk, yang berasa anak muda mudinya", kataku dalam dan tersenyum sambil melihat postingan kak Rara di status wa.
Tiga bulan kemudian kak Rara mengajakku makan bakso di depan kantor pos langganan kami. Saat makan, kak Rara sibuk melihat handphonenya.
"Lagi ngapain sih kak? di makan dulu baksonya, nanti kalai dingin gak enak loh", kataku sambil mengaduk - ngaduk bakso.
"Gue penasaran sama akun medsos si Andri, waktu itu gak sengaja di beranda fb gue lihat ada akun fb cewe terus foto mesra bareng sama dia, loe tahu nama lengkapnya Andri gak, Al", kata kak Rara sesekali menyantap mie baksonya.
"Coba cari Andri Sanjaya dua, duanya pake angka ya", kataku yang habis menyantap bakso lebih dulu.
"Ada Al, tuhkan firasat gue bener, dia sama cewe, loe lihat deh nih dia status pacaran sama ni cewe sampai sekarang", kata kak Rara menyodorkan handphonenya ke arahku.
"Serius kak, setahu gue memang dia dulu punya mantan, cuma gak di reatuin ortunya karena mantannya gak sopan gitu", kataku sambil melihat jelas ke arah medsos di handphone kak Rara.
"Gue jadi gak nafsu makan, kenapa sih Al hubungan asmara gue selalu sial, pasti pertiga bulan ada aja masalah, waktu sama teman kuliah gue dulu, terus sama trantib, terus sama Miki, sekarang sama Andri, apa gue dikutuk ya", kata kak Rara yang sudah tidak memakan baksonya lagi yang masih tersisa banyak di mangkok.
"Sabar kak, nanti aku coba cari tahu dan tanyain si Andri", kataku sambil meneguk es kelapa di gelas.
__ADS_1