
Hubungan kak Rara dan Andri akhirnya selesai tepat tiga bulan mereka berkenalan dan pacaran.
Sore itu saat pulang kerja, kak Rara sedang mengeringkan rambut teman kosanku yang basah, aku merasa aneh karena biasanya rambut basah di keringkan hairdryer tapi ini dengan catokan. Kemudian aku menawarkan meminjamkan catok rambut pada kak Rara.
Sementara mereka mengeringkan rambut, aku membersihkan diri, beberapa menit kemudian mereka berteriak.
"Api ... api...kebakaran", kata kak Rara dan kak Ayu melompat - lompat.
Aku berlari ke arah mereka dan melihat hairdyerku yang sudah gosong, aku segera mencabut kabel colokannya agar tidak terjadi konsleting listrik.
"Al, sorry hairdryernya gosong gara - gara kepanasan, bis nih rambutnya si ayu gak kering - kering", kata kak Rara menyenggol kepala kak Ayu dengan jari telunjuknya.
"Iya ni ra sorry, rambut gue sampe kebakar sedikit", kata kak Ayu melihat dan memegang rambutnya yang sedikit terbakar.
"wkwkkwkwkkw, iya..iya gakpapa kak, hehehe, emang hairdryer murah kali, hehehe, untung gak kebakar semua rambut kak Ayu, wkwkwkw", kataku memegang perut sambil tertawa geli.
"Kayanya ni gegara gue galau juga jadi gue gak fokus, hairdryernya gue gak kecilin sampe panas, wkwkkwkwkw", kata kak Rara mengibas rambut kak Ayu.
Kami bertiga pun duduk bareng di lantai, kami mengobrol tentang apapun yang berhubungan dengan make up, seputar dunia cewe dan lanjut ke soal cowo.
"Btw, senior gue di tempat kerja lagi nyari pasangan hidup nih, namanya Aldi, kak Ayu mau gak, gue mau nawarin kak Rara, takut salah lagi kaya Andri", kataku memperlihatkan foto Aldi pada kak Rara dan kak Ayu.
"Tua banget Al, gue juga maunya cowo sekampung, karena kan gue di jakarta gak ada saudara jadi gue nyari yang sekampung aja, lagipula gue udah punya teman dekat cowo di kampung, cuma dia lagi pendidikan, walaupun masih htssan alias hubungan tanpa status, hehehe", kata kak Ayu melihat ke arah layat handphoneku.
"Ih ini sih tukang sate, wkwkkwwkwk, masa loe ngenalon gue sama tukang sate Al", kata kak Rara mengambil handphoneku dan merhatiin foto kak Aldi di layar handphoneku.
"Jiah, kak Rara udah under estimate duluan, ini Aldi supervisor gue di kantor walaupun gak membawahi gue karena atasan gue langsung direktur, ganteng aslinya, pintar end tajir melintir, mau gak nih, ketemuan dulu aja, sapa tahu cucok meong alias cocok", kataku mengambil handphone.
__ADS_1
"Yaudah loe kasih aja nomor handphone gue", kata kak Rara tersenyum penuh tanda tanya.
Kamk bertiga larut dalam pembicaraan curhatan dan tak terasa mengobrol sampai larut malam dan ketiduran di kamar kak Ayu.
Keesokan harinya saat pulang kerja, aku melihat kak Rara sudah memakai baju yang rapih dan make up yang cantik.
"Mau kemana kak ?! timben nih rapih banget", kataku sambil membuka kunci kamar.
"Mau beli kado di mall, Al", kata kak Rara sambil melihat ke arah jendela ruang tamu.
"Sama siapa kak, kok lihat - lihat ke jendela, cowonya mau jemput ya, cie...", kataku tetap berdiri di depan pintu kamar dan membuka pintu kamar pelan - pelan.
"Gue nunggu ojek online bukan cowo gue, wkwkkwkw", kata kak Rara berjalan ke jendela dan melihat ke arah luar jendela.
"Kan ojek online cowo kak, wkwkwkkw. Gue ikut dong kak, mumpung gue belum ganti baju", kataku menutup kamar dan mengunci pintu kembali.
"Gak usah Al, jangan deh, loe pasti capek, gue nunggu di luar aja deh, gue buru - buru, dah Alya, hehehe", kata kak Rara tersenyum dan pergi keluar kos.
Keesokan paginya, kebetulan hari minggu biasanya anak kos terutama kak Rara selalu bangun kesiangan, berbeda denganku yang sudah terbiasa bangun pagi hari.
"Woi bangun kak Rara, gue mau introgasi nih, wkwkkwkwkw", aku mengedor pintu kak Rara untuk membangunkannya.
"Ya ampun Al, ada apaan sih, masih jam segini, gue ngantuk bangey, semalam pulang jam dua belas, baru bisa tidur jam empat pagi", kak Rara membuka pintu sambil membawa bantal dan handphone, kak Rara kembali merebahkan tubuhnya di pintu.
"Putus satu tumbuh seribu, gercep (gerak cepat) banget loe kak, katanya mau beli kado, padahal langsung ngedate sama Aldi, perasaan gue baru ngenalin semalam, eh udah ngedate aja besok malamnya, memang playgirl satu ini diam - diam menghayutkan, usia bukan halangan kan, wkwkkwkwkw", kataku duduk di sebelah kak Rara.
"Wkwkkwkwkw, habis dia intens banget ngechat gue di wa, gila Al si tukang sate ternyata prince, pangerang, the king of jakarta, ganteng banget, kulitnya bersih, putih, gue sampe klepek - klepek jantung gue sampe berdebar bo, wkwkkwkw", kata kak Rara tertawa sambil memeluk guling dan sesekali membalas chat wa.
__ADS_1
"Makannya jangan judge book on the cover atau apalah itu pokoknya pribahasanya, sorry kalau salah pengejaan, kan dah gue bilang gak bakal nyesel ketemuan dulu, terus giman", kataku tertawa meledek kak Rara.
Kak Rara menunjukkan chat wa dari Aldi padaku, kak Rara pun bertanya - tanya soal Aldi di lingkungan kerjaku.
Satu minggu kemudian aku melihat kak Rara malas - malasan di kos tidak seperti biasanya setiap hari kerjanya tidur dan melihat handphone.
"Kenapa lagi sih kak, mau ngajak ngebakso lagi, mau curhat lagi, wkwkkwkkwkw", kataku melihat kak Rara berwajah galau sambil menonton televisi.
"Gue galau, Al. Aldi bilang dia cuma lulusan SMA terus dia punya ade keterbelakangan mental, dan punya ibu yang harus di bantu. Gimana ya, apalagi dia bilang adiknya serinh ngamuk, gue jadi mikir kalau nikah sama dia hidup gue gimana nanti, gue takut juga jagain adenya, terus kalau si Aldi di pecat dari kerjaannya, nanti dia mau kerja apa kalau cuma ngandelin ijasah itu aja", kata kak Rara menghela nafas.
"Mikirnya kejauhan, setahu gue kak Aldi itu S2 kak, dia punya gelar master, bahkan dia lagi di rekomendasikan jadi kepala cabang, soal keluarganya aman - aman kok, dia itu tajir melintir tapi lum nikah - nikah, mungkin dia bilang seperti itu buat ngetes kak Rara aja, mau gak kak Rara diajak susah, mana mungkin supervisor di tempatku lulusan di bawah Sarjana, wkwkwkkw kak Rara ni polos banget atau oneng, wkwkkwk bercanda kak sorry bercanda", kataku pada kak Rara sambil tertawa.
"Tapi Al, waktu dia nanya gue siap gak nikah sama dia dan gue terima dia apa adanya gak!, terus gue bilang jalanin aja dulu, pikir - pikir dulu, karir dulu, ngumpulin tabungan dulu", kata kak Rara sambol mengerutkan mata ke arahku.
"Kakak bilang begitu, siap - siap aja the end, biasanya cowo nanya soal pernikahan tandanya serius dan udah siap, tapi kalau kakak dah terlanjur bilang pikir - pikir dulu, pasti dia jadi ilfeel dan berpikir kakak gak nerima dia apa adanya", kataku mengerutkan bibir dan tersenyum sinis sambil melirik.
Satu bulan kemudian, kak Rara putus dengan Aldi tanpa ada kata - kata perpisahan. Kak Rara selalu menunggu kabar chat Wa atau telelepon dari kak Aldi, kak Rara tampak terlihat down.
"Kak, semangat dong", kataku berjalan di depan kamarnya sambil melihat kak Rara yang malas - malasan mengerjakan dokumen kerjanya.
"Gue jujur sama lo Al, gue dah jatuh cinta sama Aldi, di saat gue dah cinta, gue udah gak sama dia, huuu nyesek banget", kata kak Rara mengusap airmatanya yang hampir jatuh dari ujung matanya.
"Hm...tenang kak, gue masih ada stock cowo lagi, hehehe", kataku sambil tersenyum.
"Dasar loe mak comblang sejati, yaudah mana, buruang, kali aja bisa bikin gue lupa sama Aldi, hehehe", kata kak Rara yang moodnya berubah tiba - tiba jadi happy.
"Motonya Putus Satu...", kataku sambil mengangkat jari telunjuk dan tanganku ke arah atas.
__ADS_1
"Tumbuh Seribu....", sahut kak Rara sambil memutar - mutar pulpen dengan tangan kanannya.
"Wkwkwkkwkwkwk", kami berdua tertawa terbahak - bahak.