
"Udah kak santai aja, gak bakalan dia datang nemuin kak Rara lagi, pasti istrinya udah iket dia", kata Alya.
"Padahal gue pikir dia bisa jadi pelabuhan terakhir gue, orangnya royal dan baik lagi", kataku sambil menyantap soto dengan lahap.
"Itu kesel apa laper bu, wkwkkwwkw", kata Alya.
"Dua - duanya Al, rasanya gue mau telen tuh penipu, wkwkkwkwkw", kataku tertawa.
Beberapa bulan berlalu di usiaku ke tiga puluh empat, aku lebih fokus perawatan wajah untuk mempercantik diri.
"Dok, bekas jerawatku yang bolong - bolong ini apa bisa mulus dok", tanyaku pada dokter kecantikan.
"Tentu bisa kak, nanti kita cek dulu separah apa, lalu kita akan kasih krim siang dan malam untuk kakak, tiga bulan sudah bisa terlihat hasilnya", kata dokter kecantikan sambil memeriksa wajahku.
Aku dan Alya sudah jarang bertemu, Alya sibuk bekerja dan sering keluar kota, sampai suatu hari saat libur hari raya kami hanya berada di kos.
"Kak Rara, apa kabar nih. Wow magic!", kata Alya menepok bahuku dan memperhatikan wajahku.
"Apaan sih Al, loe ngagetin gue aja, gue lagi nyetrika nih, loe gak ada acara keluar Al", kataku kaget dan meneruskan menyetrika.
"Gak kak, kenapa kak?, mau traktir lagi! boleh - boleh, hehehe, btw perawatan dimana muka sampe kinclong mulus banget kaya jalan tol, hehehehe", kata Alya meledekku sambil menonton televisi di sofa.
"Gue mau ngajak ke mall, sekalian ketemu sama temen gue", kataku mencabut colokan setrikaan dan duduk di sebelah Alya.
"Lo anterin gue, nanti gue traktir, pas temen gue datang, baru lo pulang", kataku menoleh ke arah Alya.
"Busyet sekarang gue turun tahta, dari jadi konsultan yang dengerin curhatan loe kak, sekarang jadi asisten loe kak, wkwkkwkwkw sekalian gue di gaji donk kak, wkwkkw", kataku Alya menoleh padaku dan tertawa terbahak - bahak.
Setelah temanku Alika datang bersama seorang pria bertubuh atletis, tinggi dan bermata seperti mata orang jepang, terlihat ganteng dan mapan.
"Hai Ra, udah lama nungguin, ohya ni kenalin Bagas", kata Alika memperkenalkanku pada Bagas.
"Gak kok, baru aja sampe, yaudah yuk kita makan siang dulu, pastikan belum makan siang", kataku mengajak mereka ke salah satu restoran di dalam mall.
Saat makan, aku dan Bagas saling curi - curi pandang, aku teringat presure social, banyak sekali tekanan yang ku dapat dari lingkunganku soal pasangan hidup atau pacar.
"Sepertinya aku bisa memanfaatkan Bagas sebagai pelengkap statusku soal pasangan hidup", kataku dalam hati sambil sesekali melihat ke arah Bagas.
"Sambil ngobrol dong Gas, eh Bagas, ni temen gue Rara, masih single lagi cari pacar sama kaya loe yang lagi patah hati di putusin, cocok banget kalian berdua", kata Alika tersenyum padaku dan Bagas.
__ADS_1
"Ih apaan sih loe, bercanda aja, ohya nambah - nambah, jangan malu - malu", kataku.
"Bagas tuh lihat si Rara ni gak pelit orangnya, royal banget deh, gak bakal rugi kamu jadi pacarnya", kata Alika.
Alika pulang lebih dulu dan meninggalkan aku dan Bagas di mall.
"Ra, aku tadi minta nomor kamu sama Alika", kata Bagas berjalan di samping kananku.
"Iya Bagas gapapa, kamu kegiatannya apa", kataku menoleh padanya, aku yang mempunyai tinggi di bawah bahu bagas harus mendangak ke atas untuk melihat wajahnya.
"Aku kurir di salah satu expedisi, Ra", kata Bagas menoleh padaku dan menatapku.
Setelah pertemuan itu, Bagas rajin menchat aku melalui whatapp.
"Pagi Ra, nanti berangkat jam berapa?", chat dari Bagas.
"Pagi Bagas, aku biasanya berangkat jam setengah tujuh", balasan chatku.
"Boleh share kosan kamu, nanti aku jemput ya sekalian aku berangkat kerja, aku antar kamu dulu", chat dari Bagas.
"Takut ngerepotin Bagas?", balasan chatku.
"Bagas, sebenarnya aku ingin menanyakan, bagaimana sebenarnya perasaan kamu ke aku?", kataku saat di berboncengan dengan Bagas di motor tigernya.
"Sebenarnya sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah suka sama kamu, kamu wanita yang baik dan tidak pelit", kata Bagas yang fokua membawa motor.
"Kalau begitu kenapa kita gak pacaran aja!", kataku, jantungku mulai berdebar saat memintanya menjadi pacarku.
"Aku mau jadi pacar kamu", kata Bagas.
Setelah rapat kinerja pengajar, biasanya aku dan rekan kerja berkumpul untuk makan bersama yang sudah di sediakan.
"Ra, kapan nih kenalin pasangan kamu yang baru?!", kata temanku si A.
"Iya Ra, kita lihat kamu sering di jemput sama dia di depan kantor", kata temanku si B.
"Iya, iya nanti pasti dikenalin, doain aja lancar, hehehe", kataku tersenyum lalu tertawa.
"Lancar apa dulu nih, lancae antar jemputnya atau sampe ke pelaminan, wkwkkwkw. aamin.. tancap gas Ra, wkwkkwkw", temanku si C tertawa, semua temanku pun ikut tertawa bahagia.
__ADS_1
Aku menunggu Bagas yang tak kunjung datang menjemputku.
"Kamu dimana, aku sudah nunggu satu jam tapi kamu belum datang juga", aku mengirim chat pada Bagas.
"Bentar Ra, ban motorku kempes nih, mana aku gak pegang uang, belum gajian, kamu ada uang gak, bisa sms banking kirim ke aku dulu nanti ku ganti pas gajian", chat dari Bagas.
"iya, butuh berapa?, berapa nomor kamu?", chat dariku.
Sudah beberapa bulan aku menjalin cinta yang tadinya aku berpikir sebagai status palsu punya pacar namun seiring berjalannya waktu, aku dan Bagas menjalin keseriusan, Bagas memperkenalkanku dengan ibunya yang berjualan sayuran di pasar.
Aku pun memperkenalkan Bagas dengan keluargaku terutama dengan kakak laki - lakiku.
Entah mengapa setelah beberapa bulan menjalin kasih san cinga itu tumbuh, aku merasa di manfaatkan oleh Bagas, Bagas sering sekali meminjam uang padaku dengan alasan motornya.
Sampai suatu hari, Bagas susah sekali dihubungi.
"Kenapa lagi sih kak, kemarin - kemarin baik - baik aja, sekarang udah galau aja", kata Alya menegurku yang sibuk melihat handphone sambil menyender di pintu kamar.
"Ini Ra, cowo gue gak bisa dihubungin hampir seminggu ini", kataku kesal.
"Yaudah sabar aja kak, mungkin lagi sakit, coba aja tengokin ke rumahnya", kata Alya yang sedang menyantap makanan di sofa.
Keesokan harinya aku mengikuti saran Rara, aku meminta ijin untuk tidak mengajar satu hari dan menemui ibunya Bagas.
"Eh ada nak Rara, gimana touringnya kemarin sama teman - temannya Bagas?", tanya Ibunya Bagas.
"Selamat pagi ibu, touring gimana maksudnya ya ibu", tanyaku dan bersalaman dengan Ibunya Bagas.
Sejak dari pasar perasaanku sangat hancur, aku mencoba mencari tahu sari media sosialnya Bagas memalui pertemanannya dengan Alika, aku melihat Bagas sedang berboncengan dengan seorang wanita cantik dan masih muda.
Bagas menghubungiku kembali dan meminta uang padaku, aku yang masih kesal padanya berusaha untuk sabar menghadapinya. Aku menolak permintaannya, kemudian dia mengancam akan memutuskan aku dan tidak akan mengembalikan uang yang sebelumnya dia pinjam padaku jika aku tidak meminjamkannya lagi.
Aku menceritakan semuanya pada Alya, Alya menyuruhku untuk mengambil sikap. Sudah satu minggu aku berdiam diri di kamar dan selalu menangis.
"Kamu tega Bagas, hatiku sakit, kamu hancurkan aku dengan sikapmu, aku benci sama kamu, aku benci", kataku dalam hati menahan rasa sakit di dadaku, aku menangis terisak - isak, aku merasa Tuhan tidak adil padaku dan ingin ku akhiri hidupku.
Aku memutuskan hubungan dengan Bagas. Namun Bagas tidak terima, dia terus menghampiriku dan menungguku di depan kos.
"Cari siapa kak?, kalau cari kak Rara sia - sia aja, kak Raranya udah pindah ke rumah kakaknya jauh di kampung, mending kakak pulang aja deh karena ini kosan cewe punya Pak RT, daripada nanti kakak di usir warga", kata Alya menegur Bagas dan mengusirnya sampai akhirnya dia tidak datang lagi ke kosan.
__ADS_1