
"Hallo, iya, iya aku baru pulang, besok aja ya, aku capek, besok pagi aja beli ku kirim pulsanya", kataku ditelepon sambil membuka pintu kosan.
"Hai kak Rara, baru pulang kerja juga, ohya kak aku dah diterima kerja jadi sekretaris, mulai besok aku sudah bekerja, aku masuk duluan ya kak", kata Alya masuk lebih dulu ke dalam kosan.
"Al, tunggu, kamu mau keluar lagi gak cari makan, cari nasi goreng gitu atau apa gitu, kebetulan aku lapar banget, sebenarnya sih aku capek banget tapi karena lapar takut gak bisa tidur kalau gak makan", kataku mengikuti langkah Alya.
"Yaudah aku temenin aja kakak, tapi aku gak beli ya kak, jadi sekretaris takut gak boleh gemuk", kata Alya menoleh dan tersenyum padaku.
"Yaudah kakak beliin es kolding gimana, masa Alya cuma nganterin kakak aja dan gak beli apa - apa?", kataku sambil membuka kunci pintu kamar di sebelah kamar Rara.
"Ih, apaan si kakak, jangan kak, gak usah, tapi kalau maksa ya boleh banget, hehehe..., nanti kalau aku dah gajian ku traktir kakak deh, gantian ku beliin es kolding juga, ku masuk dulu ya kak, mau mandi, gerah", kata Alya yang kemudian masuk ke dalam kamar.
Setiap menit dia selalu telepon minta pulsa, marah - marah, aku harus perawatanlah, harus cari kerja kantoran, banyak permintaan.
Bertahun - tahun Aku menjalin cinta dengan berbagai macam pria, semua ku ceritakan pada Alya teman satu kosku, aku mengijinkan Rara untuk menuliskannya dalam suatu Novel suatu hari nanti.
Sekarang Alya yang akan menceritakan kronologis kak Rara.
Kak Rara ini sosok yang baik, pengertian, dewasa, seperti wanita pada umumnya, kalau di katakan cantik lebih ke iner beauty.
Setiap hari kak Rara sibuk mengajar, kami sering bertemu setiap malam di kosan, sampai pada suatu hari ku mulai ceritanya dari pacar pertama.
Malam itu aku pulang dari tempat kerjaku di antar pacarku sampai depan kosan, kak Rara melihat ke arahku sambil kak Rara sibuk menelepon seseorang, aku menegur kakak Rara dan masuk duluan ke dalam kosan.
Kak Rara memanggilku dan meminta tolong mengantarkannya keluar kosan untuk membeli sesuatu, aku pun mengiakannya. Setelah membersihkan diri, kami berdua pergi keluar kos, di perjalanan kak Rara mengajakku untuk mampir ke sebuah toko handphone untuk membeli pulsa. Setelah membeli pulsa kak Rara sibuk menelepon seseorang, suaranya seperti agak kesal dengan seseorang yang berbicara dengannya ditelepon.
"Kak, sudah teleponannya, sudah hampir larut malam kak, besok hari pertamaku mulai bekerja jadi sekretaris", kataku pada kak Rara.
"Oh, iya, iya Al, sorry, yaudah yuk beli nasi goreng dan es kolding dulu ya", kata kak Rara.
Sepanjang jalan kak Rara bertanya padaku.
__ADS_1
"Al, weekend kemana?, ke toko buku yuk, mau cari buku CPNS", kata kak Rara.
"Gak kemana - mana sih kak, boleh aja ke toko buku", kataku pada kak Rara.
Akhirnya weekend pun datang, aku dan kak Rara pergi ke toko buku, setelah beberapa hari sering ngobrol di kos soal film, musik dan lain sebagainya, kami pun akrab seperti saudara layaknya kakak beradik.
Saat melihat - lihat buku, kak Rara mulai menceritakan tentang dirinya.
"Gue sebenarnya gak enak cerita sama lo Al soal masalah pribadi gue, gue kan udah umur tiga puluh tahun nih, keluarga gue nyuruh gue untuk ngenalin pasangan hidup gue", kata kak Rara.
"Bukannya kakak udah punya pacar yang biasa neleponin terus", kataku sambil melihat - lihat buku.
"Iya sih Al, tapi dia kebanyakan ngatur, umurnya aja masih dua puluh dua tahun tapi banyak ngatur, dia selalu minta tolong beliin pulsa alasannya gak ada yang jualan pulsa sedangkan dia harus telepon ibunya, dia minta pulsa dong sama gue, ya gue kasih tapi jadi kebiasaan, terus dia gak bolehin gue ngasih hadiah ke keponakan gue, dia bilang mending uangnya ditabung buat kita nikah katanya karena dia maunya patungan kalau nikah, terus kalau dah nikah gue gak boleh0 komunikasi lagi sama keluarga gue karena katanya keluarga gue nanyi nyusahin cuma mintain duit gue, yang terakhir paling anehnya, dia minta gue untuk gak keluar rumah kecuali kerja, cari makan dan kirim dia pulsa, menurut loe gimana Al", kata kak Rara sambil menunggu membayar di kasir.
"Kakak gak curiga?, maaf kak jangan - jangan dia cuma manfaatin kakak aja, soalnya aneh dia minta kakak di rumah gak kemana - mana, biasanya nih kak, kalau ada cowo yang banyak melarang dan nyuruh cewenya di rumah aja, tandanya ada yang dia sembunyikan, pasti yang disembunyikan perempuan lain, aku nyakin banget kak", kataku yang berdiri dibelakang kak Rara.
"Al, pulang dari toko buku mampir dulu ya ke monas, soalnya gue mau mastiin kata - kata loe, tadi, gue juga bingung sebenarnya Al", kata kak Rara sambil membayar buku di kasir.
"Emang kita mau kemana kak?", kataku berdiri di samping kak Rara, kemudian kami berjalan melangkah ke luar toko buku.
"Ya bagus sih niatnya pengen cepat - cepat nikah, tapi caranya salah, terus kakak mau?, kalau aku jadi kakak, aku dah blakclist dia dari hidupku", kataku sambil terus berjalan bersama kak Rara di mall.
"Mana gue udah ngenalin dia ke kakak - kakak gue, terus loe tahu gak Al, kakak - kakak gue tuh gak tahu sikap dia ke gue, nyuruh gue ngisiin pulsa tengah malam, gak mikirin gitu gue cewe, kata dia gini Al ... loe kan udah tua, mana ada yang mau sama loe ... nyakitin banget kan", kata kak Rara.
Sesampainya kami di luar toko buku Gramedia, kak Rara memanggil bajay.
"Bang ke monas bang, biasa kan dua puluh lima ribu", kata kak Rara.
"Masuk neng", kata abang bajay.
"Masuk Ra, kita ke monas, gue mau lihat dia kerjanya ngapain sih", kata kak Rara.
__ADS_1
"Kak Rara ni terlalu baik sama cowo, gimana ya aku bingung juga, semoga aja Tuhan kasih kakak pencerahan, kasih petunjuk buat kakak supaya bisa berpikir lagi untuk nerima dia jadi pacar kakak, ih takut...belum nikah aja dah begitu, apalagi dah nikah", kataku di dalam bajay.
Sesampainya di monas, aku dan kaka Rara berjalan ke pagar, dari jauh aku melihat beberapa laki - laki berbadan tinggi, bertubuh atletis dan berparas ganteng sedang berjaga, mereka memakai baju kecoklatan dan ada mobil seperti mobil penertibpan pedagang kaki lima.
Kak Rara menghentikan langkahnya, aku mengikutinya, kami berdiri tidak jauh dari beberapa pria itu. Kak Rara terus memperhatikan salah satu gerak gerik pria yang sedang duduk sambil melihat handphone, tak lama kemudian ada seorang wanita berambut lurus panjang sebahu, memakai kaus seksi berwarna hijau dan hampir terlihat belahan dadanya dengan rok pendek sedengkul, sedang membawa plastik yang berisi kotak makanan.Wanita itu mendekati pria yang sedang duduk, lalu wanita itu salim dengan pria itu dan memberikan plastik berisi kotak makanan. Wanita itu duduk di samping pria itu, teman - temannya sesekali tertawa kecil dan memperhatikan mereka.
Kemudian kak Rara berjalan menghampiri mereka dan berhenti di dekat bangku tempat pria itu dan wanita itu.
"Jadi ini, jadi begini kelakuan kamu dibelakang aku, kamu tega ya sama aku, aku emang salah apa sama kamu, selama ini aku berkorban pulsa buat mamu, kamu pinjam uang aku, tapi aku gak pernah minta ganti sama kamu", kata kak Rara, aku juga ikut menatap kesal ke arah pria tersebug, aku yang berada di sebelah kak Rara berusaha menenangkannya.
"Kamu nih bikin malu aja, bentar sayang, biasa kalau orang udah cinta sama abang ya kaya gini", kata pria itu berdiri dan menarik kak Rara dengan kasar.
"Lepasin tangan kakak gue, atau gue teriakin loe supaya loe di pecat dari pekerjaan loe karena udah berani kasar sama perempuan" kataku menunjuk pria itu.
"Loe sadar diri dong, Ra. Dengan umur lo tiga puluh tahun dan gue masih dua pulu dua tahun, masa iya gue mau nikah sama nenek - nenek yang ordeldilnya udah peyot", kata pria itu.
Kak Rara hanya diam dan menangis di sebelahku.
"Eh, jangan sok ganteng deh loe, gue sumpahin loe dapat karma tujuh turunan, cewe yang loe pilih aja kaya begiti, emang apa bagusnya cewe loe, sekarang gue tanya, cewe loe masih single atau udah janda?", kataku bernada marah pada pria itu.
"Udah Al, kita pergi aja dari sini. Jangan pernah temuin gue lagi, dan jangan pernah hadir dalam kehidupan gue", kata kak Rara.
"Kalaupun cewe gue janda tapi dia bahenol, body gak kerempeng kaya papan penggilesan kaya dia", kata pria itu.
"Udah kak ayok kita pergi, angjing menggonggong tapirlah berlalu, anggap aja dia itu, ngomong sono loe sama kaki gue ni", kataku sambil memegang tangan kiri kak Rara dan mengajak kak Rara pulang.
"Woi berani loe, dasar bocah", kata pria itu.
Sepanjang perjalanan kak Rara berusaha tegar dan menghapus airmatanya, namun sesampainya di kosan, kak Rara memilih berdiam diri di kamar.
__ADS_1
Aku merasakan kesedihan kak Rara, dalam pikiranku mungkin pria itu adalah pacarnya yang selingkuh dengan janda.
"Pasti sekarang kak Rara sedang menangis di kamar, sudahlah, besok pagi aja aku sapa dan tanya kabarnya", kataku sambil berbaring di atas kasur.