
"Kenapa hidupku seperti ya Tuhan....hikz...hikz...", aku menangis di belakang pintu kamar dan menutup wajahku.
"Kak Rara, kak.. ada di dalam?", kata Alya mengetuk pintu kamarku dan memanggilku.
"Iya Al, sebentar", kataku sambil menghapus airmataku yang jatuh membasahi pipiku.
"Kak Rara besok aku dan kak Ayu mau jalan ke TMII (Taman Mini Indonesia Indah) mau ikut gak, kita refreshing sekalian foto - foto bareng buat kenang - kenangan sebelum kak Ayu pindah ke Padang", kata Alya berdiri di depan pintu.
"Yaudah kak Rara ikut", kataku membukakan pintu kamar dan berdiri di hadapan Alya.
"Cup...cup...cup...habis nangis ya kak, udahlah jangan di pikirin, mending kita happy - happy mumpung belum nikah", kata Alya mengajakku bercanda.
Hari minggu kami bertiga pun pergi ke TMII, kaki berjalan menikmati rumah - rumah tradisional Indonesia, ketika aku sedang menikmati pemandangan di danau, aku melihat pesan whatapp dari Miki di handphoneku.
"Ra, bisa ketemu minggu ini", wa dari Miki.
Aku merasa bahagia kembali karena Miki menghubungiku kembali, aku berpikir Miki memang jodohku.
"Bisa, kamu apa kabar?", wa dariku.
Aku dan Miki pun saling mengirim chat wa.
"Sebaiknya aku sembunyikan hubunganku kali ini dari sahabat - sahabatku, karena aku mau memberikan mereka kejutan pernikahanku dengan Miki di usia tiga puluh lima tahun nanti", kataku dalam hati sambil tersenyum ke arah Ayu dan Alya yang sedang bercanda di sebelahku.
"Duh capek banget ya hari ini kak", kata Alya saat sampai di kos dan merebahkan tubuhnya di sofa.
"Aku masuk dulu ya ke kamar, udah ngantuk", kataku tersenyum.
"Nah gitu dong kak, harus bahagia, happy, jangan patah hati terus, hehehe", kata Alya meledekku sambil tertawa.
"Iya, makasih banget udah ngajak kakak jalan ke TMII jadi dapat hiburan, wkwkwkkw", kataku berjalan memasuki kamar dan menutup pintu.
Sudah seminggu aku dan Miki saling mengirim chat wa. Komunikasi kami terjalin baik kembali.
__ADS_1
"Ra, kamu apa kabar, kamu mau menikah sama aku Ra, aku serius", chat wa masuk dari nomor Damar.
"Ngomong apa sih kamu, jangan ganggu aku lagi, aku sudah dengan orang lain, aku gak mau sama kamu kalau kamu masih gendut", chat balasanku dengan kesal melihat chat dari Damar.
Setiap hari Damar selalu mengirimkan pesan padaku dan mengajakku menikah, namun aku terus menolaknya bahkan aku menyindir fisiknya yang gempal karena aku terlanjur sakit hati karenanya.
Miki menjemputku sepulang aku berkerja, Miki mengajakku makan Seblak restoran tempat makan kami. Saat bertemu dengannya, aku merasa berbunga - bunga, aku sangat merindukan raga dan perhatian dari seorang bakal pasangan hidupku nanti.
Kami duduk berhadapan saat menyantap seblak pedas, aku malu - malu menatap wajahnya, aku makan seperti ratu karena tidak ingin terlihat jelek di depannya.
"Ra, sebenarnya aku ingin menikahi kamu dalam waktu dekat ini", kata Miki memegang tangan kananku dengan tangan kirinya dan menatap wajahku.
"Serius kamu gak bercanda kan?!", kataku tertunduk malu dan sesekali menoleh ke arahnya, jantungku berdebar kencang rasanya mau copot.
"Aku serius sayang, tapi..", kata Miki terus memegang tanganku.
"Tapi aku belum punya tabungan, bagaimana kalau kita buka tabungan bersama atas namaku, setengah gaji kamu dan gajiku masuk ke rekening yang sama, buat modal kita nikah, kita nabung selama setahun terus nikah, kamu mau?", kata Miki menyakinkanku dengan wajahnya yang cute.
"Aku mau, yaudah besok kirimin aja nomor rekeningnya, nanti aku transfer setiap bulan", kataku berbunga - bunga mendengat kata pernikahan, akhirnya impianku selama ini untuk menikah terwujud.
"Iya gapapa, aku aja yang bayar", kataku sambil mengeluarkan uang di dompet.
Sudah hampir satu tahun aku dan Miki menjalin hubungan, walaupun setiap ngedate Miki selalu beralasan tidak bawa dompet, belum ambil uang di ATM, belum gajian, ada keperluan keluarga dan masih banyak lagi alasannya.
Semua alasan Miki membutakan hati dan pikiranku, karena pikiranku hanya terfokua untuk bisa menikah dan punya pasangan hidup di usiaku ke tiga puluh lima tahun ini.
"Kak Rara, ni ada yang mau kenalan temannya pacarku, namanya Baim, sekantor sama pacarku, Baim udah mapan, punya mobil dan punya rumah, mau gak?", kata Alya saat main laptop di kamarku.
"Gak ah Al, gue rencananya mau nikah tahun ini", kataku tersenyum ke arah Alya sambil membenahi lemari baju.
"Seriusan loe kak, syukurlah, gue ikut senang dengernya", kata Alya tersenyum heran ke arahku.
"Doain aja ya", kataku tersenyum.
__ADS_1
Sudah sebulan Miki gak ada kabar, bahkan sulit sekali dihubungi, aku gelisah luar biasa, aku pergi ke tempat tanteku karena rumah Miki berjarak lima rumah dari rumah tanteku, aku mendatangi tanteku.
"Tan, apa kabar?", kataku bersalaman dengan Tante Raya.
"Baik Ra, masuk - masuk, kamu apa kabat, sekarang siapa pacar kamu?", kata Tante menyuruhku duduk.
"Masih sama Miki, Tan. Kan Tante yang pertama kali kenalin aku sama Miki waktu itu, aku masih awet sama dia sampai sekarang, bahkan dia mau nikahin aku Tan", kataku terseyum.
"Sebentar Tante ambilin kamu minum dulu, di minum dulu Ra, kamu serius masih sama Miki", kata Tante mengambilkanku minum dan menaruhnya di atas meja.
"Masih Tan, bahkan kita udah nabung barengan buat modal nikah", kataku meneguk minuman sirup dingin yang di buatkan Tante.
"Ra, lihat ini, ini udangan pernikahan Miki dengan orang lain", kata Tante menunjukkan undangan pernikahan yang ada foto Miki memeluk seorang wanita cantik.
Hatiku sangat hancur, airmataku menetes, ragaku terasa lemas, aku menangis histeris melihat undangan itu.
"Ini bohong kan, Tan?!. ini gak benerkan Tan?!. Tan, apa yang harus Rara lakukan, sudah hampir setahun Rara transfer ke Miki, hikz...hikz...hikz...", kataku menangis memeluk Tante.
"Sabar sayang, maafkan Tante karena pernah mengenalkanmu dengan laki - laki brengsek itu", kata Tante memelukku dan mengusap punggungku.
"Aku mau ke rumah Miki sekarang Tan, aku mau dia kembalikan semua uangku", kataku beranjak dari bangku dan berdiri.
"Iya sayang, Tante temani, Tante bakalan maki - makk keluarga mereka", kata Tante merangkulku.
Aku dan Tante mendatangi rumah Miki, di sana Tanteku yang lebih banyak berbicara, Tanteku meminta pertanggung jawaban dari Miki, tetapi keluarga Miki justru menghina umurku yang tidak cocok dengan Miki, mereka justru membulyku wanita tua yang mudah ditipu. Akhirnya tetangga pada datang ke rumah Miki dan membelaku serta membantu Tanteku.
Keluarga Miki menghubungi Miki, Miki meneleponku dan mengatakan akan mengembalikan semua uangnya padaku namun di cicil.
Pulang ke kos hatiku sangat hancur, aku tidak ingin bertemu ataupun komunikasi lagi dengan Miki namun demi uangku yang dia tipu, aku menahan emosiku. Sebenarnya aku ingin melaporkannya kepolisi, namun aku kasihan padanya karena rasa sayang itu tidaj mudah dihilangkan begitu saja dari hatiku.
Aku menceritakan semuanya pada Alya, Alya sangat marah dan kesal mendengarnya. Saat curhat (curahan hati) dengan Alya, Alya mengangkat telepon.
"Bentar Ram, aku lagi sama kak Rara", kata Alya langsung mematikan handphonenya.
__ADS_1
"Udah kak jangan nangis, aku masih ada stock terakhir, sahabatku Ramdhan, dia orang yang sangat baik dan sangat menghargai wanita, aku suruh dia chat kakak dan hibur kakak", kata Alya padaku dan mengusap punggungku.