
Melihat Gwera menuju meja taman sambil membawa sepiring makanan, membuat Haru berpikir untuk membeli makanan yang sama dengan Gwera. Agar ada alasan ketika haru menghampiri Gwera. Namun Haru bingung ketika harus memilih apa saja makanan yang akan dia beli.
"Bang, beli makanannya seporsi. Sama seperti yang dibeli cewek itu ya". Haru memesan makanannya sambil menunjuk ke arah Gwera. Tanpa tahu apa saja yang di pesan oleh Gwera tadi.
" Baik mas, waahhh mas kenal neng Gwera juga ya?" bang Tono mencoba berbasa basi dengan Haru, namun sayang pandangan Haru hanya tertuju pada Gwera saja. Dan bang Tono pun tak mempermasalahkan pertanyaannya yang diabaikan oleh Haru.
"Ini mas pesanannya sudah siap" ucap bang Tono sambil menyerahkan sepiring siomay pada Haru.
"Oh ok bang, berapa totalnya bang?"
"Rp 10.000,00 mas". jawab bang Tono.
" Kok murah banget bang? ini saya beli sepiring lho". Haru heran dengan harga makanan yang dia beli tersebut. " Semurah itu harga makanan ini? apa makanan ini aman? tapi kalau tidak aman pasti terjadi sesuatu pada Gwera. Jangan-jangan Sakura juga sering beli makanan seperti ini?" Batin Haru dan teringat dengan adiknya.
"Iya mas, memang murah agar para anak anak sekolah bisa tetap jajan. Semua yang ada disini di patok dengan harga yang sama kok mas. paling mahal Rp10.000,00, kalau ada murid sekolah yang uang jajannya kurangpun tak masalah bagi kami untuk memberikan jajanan kami secara gratis. Bukan kami sok kaya, kami hanya mencoba mengerti keadaan mereka, karena kami juga pernah berada dikeadaan yang sulit. Hingga ada sesosok malaikat yang mau menolong dan membantu kami keluar dari keadaan itu". Cerita bang Tono pada Haru. Bang Tono bercerita sambil memandang Gwera yang sedang mengerjakan sesuatu sambil sesekali memakan siomay yang Gwera beli tadi.
"Nih orang cerita kok sambil lihat ke arah Gwera sih? punya niat apa nih? tapi kok pandangannya sayu begitu? apa ada hubungannya dengan Gwera? ah nggak mungkinlah, memang apa yang bisa dilakukan anak sekolah ke tukang siomay? mending aku cepat cepat bayar siomay nya dan menghampiri Gwera. Sebelum Sakura dan temannya Gwera selesai rapat OSISnya". Batin Haru, dan tentu saja haru tak punya uang pecahan kecil didompetnya. Maka dia memberikan uang Rp 50. 000,00 ke bang Tono tanpa meminta kembalian. "Ya udah bang saya mau bayar, maaf bang saya nggak bawa uang pecahan kecil. Kembaliannya buat abang aja ya." Dan Haru bergegas menghampiri Gwera.
__ADS_1
Bang Tono yang menerima uang tersebut masih agak kebingungan dengan tingkah laku pembelinya itu. Namun dia tetap berterima kasih pada Haru. "Eh beneran nih mas? wah makasih ya mas, semoga rejekinya lancar ya mas." Teriak bang Tono.
Haru berjalan dan menengok kebelakang sebentar mendengar teriakan bang Tono, dia mengangguk kecil dan tetap berlalu. Dia sudah tak sabar untuk mengobrol dengan Gwera, atau setidaknya hanya berada didekat Gwera. Setelah dia berada disamping Gwera, dia mencoba berbasa basi dengannya dengan bertanya apakah dia boleh duduk di bangku sebelahnya.
"Apa aku boleh duduk di bangku yang kosong di sebelahmu?"
Lama tak ada jawaban dari Gwera, dia hanya sesekali mengangguk dan menggelengkan kepalanya. Membuat Haru bingung dengan jawaban yang diberikan Gwera. Karena dia tak tahu jika Gwera sedang mendengarkan musik dari handphone jadulnya yang dia simpan disaku bajunya, maka Haru menganggap jika Gwera mengijinkannya untuk duduk di bangku sebelahnya. Namun sebelum duduk Haru menepuk pundak Gwera untuk menyapa Gwera agar tidak canggung mengobrol karena sejak tadi dia hanya diam.
"Eh?.... oh.... ada apa kak?" tanya Gwera yang kaget dengan tepukan dipundak dari Haru, tadinya dia berpikir kalau Nara sudah menyelesaikan rapatnya dengan cepat dan mengusilinya. Namun ternyata kakak dari temannya lah yang menepuk pundaknya.
"Aku mau dudi disebelahmu, disini kosong". jawab Haru dengan nada dingin, namun dibatinnya terucap semua kata kata umpatan pada dirinya sendiri atas sikapnya yang jutek karena gugup.
Setelah lebih dari 15 menit mereka makan bersama (setidaknya itu yang dipikirkan Haru, karena sebenarnya Gwera makan sambil mengerjakan proposal dan tetap mendengarkan musik dari headset nya dengan anggapan bahwa tidak ada orang disekitarnya agar lebih konsen mengerjakan tugasnya), Haru mencoba mengajak Gwera ngobrol tentang apa yang dia kerjakan. Namun Gwera yang masih konsen nampak tak bisa diganggu, membuat Haru diam-diam memperhatikan Gwera dengan seksama. Rambut yang tak terlalu panjang namun terlihat halus yang dikuncir kuda, poni tengah yang mengembang, mata yang sipit ketika menatap kebawah namun lebar saat menatap kedepan, hidung mancung meskipun kecil, bibir merah muda yang mungil dengan bagian atas yang tipis dan tebal dibagian bawah, wajah yang cantik. Ditambah dengan tubuh yang mungil namun berisi, tidak kurus atau gemuk. Sempurna, itulah yang Haru pikirkan tentang Gwera.
Gwera merasa terus diperhatikan oleh seseorang, maka dia mencari asal usul tatapan itu dan menyudahi hal yang dia kerjakan. Dan dia baru ingat bahwa sedari tadi orang yang duduk disebelahnya adalah Haru, kakak dari temannya. Dengan melirik Gwera bertanya pada Haru apa yang Haru lakukan.
"Apa yang anda lakukan?" Tanya Gwera sambil merapikan laptop dan contoh proposal kedalam tas.
__ADS_1
Haru yang kaget dengan pertanyaan Gwera terdiam sejenak dan berpikir, bukan berpikir tentang jawaban yang akan diberikan, namun berpikir tentang panggilan yang dilontarkan Gwera kepadanya. Dan dia pun mengingat tentang hal yang terjadi di warung soto kemarin. Ya, itu memang kesalahnnya sendiri karena mengucapkan kata kata yang dingin. Namun dia tak menyangka jika Gwera akan memanggilnya dengan sebutan 'anda' karena tadi dia sudah memanggil Haru dengan panggilan 'kakak' saat Haru baru menghampirinya.
Gwera yang pertanyaannya tak kunjung dijawab oleh Haru pun acuh tak acuh dengan sikap Haru yang seperti batu. Selesai merapikan barang bawaannya, Gwera mengecek jam ditangannya dan menatap kearah gerbang sekolah. "Katanya rapat cuma sebentar, lah ni udah 20 menit lebih. Huuuhhh anginnya semilir, adem pula disini. Jadi ngantuk". Pikir Gwera yang merasa ngantuk dan jenuh menunggu Nara untuk pulang. Tanpa menghiraukan orang disebelahnya yang bermuka masam.
" Kenapa kamu memanggil saya seperti itu?" tanya Haru pada Gwera karena Gwera nampak tak ingin berbicara dengannya jika dia tak memulai obrolan.
"Kenapa?" Jawaban yang tentu saja tak memuaskan bagi seorang Haru.
"Saya tanya kenapa kamu memanggil saya dengan 'anda'? kenapa bukan 'kakak'?" Haru tetap menuntut jawaban yang pasti.
"Kan anda sendiri yang bilang kalau saya ini 'orang lain' pada Sakura. Jadi saya pun memperlakukan anda sebagai 'orang lain'. Dan karena anda lebih tua dari saya, maka saya mencoba untuk tetap sopan dengan memanggil anda dengan 'anda'. Sudah ingat kan? anda sendiri yang menganggap saya orang lain, jadi saya turuti kemauan anda dengan memanggil anda sebagai 'anda', bukan 'kakak'. Karena saya dan anda tak sedekat itu untuk menjadi 'adik dan kakak'." Gwera menjawab dengan suara yang tenang dan tetap tersenyum,sehingga membuat Haru merasa menyesal dengan perkataannya kemarin. Kini dia tahu sedikit tentang Gwera, bahwa Gwera bukan orang yang bisa diremehkan meski hanya dengan kata kata.
Haru yang menyesal ingin mencoba meminta Gwera utuk memanggilnya 'kakak', agar tak terlalu jauh jarak yang harus dia hapus kelak untuk lebih dekat dengan Gwera.
"Hhmm kalau begitu saya minta maaf, kalau kata kata saya kemarin menyinggungmu. Jadi sekarang kamu boleh memanggil saya dengan sebutan 'kakak' lagi.
" Saya menolak. Akan lebih baik jika saya tetap berbahasa formal pada anda. Lagi pula itu lebih nyaman menurut saya, karena bagaimanapun saya dan anda tak pernah akrab, bahkan dari awal kita bertemu pun anda telah menganggap saya sebagai pembuat onar. Benar kan?" Jawab Gwera dengan tetap tersenyum, seolah olah dia tak pernah menganggap hal itu sebagai hal yang penting.
__ADS_1
Sedangkan Haru yang ditanya merasa aibnya terbongkar, seolah rahasianya terkuak begitu saja oleh seorang penghianat. (Ya siapa lagi penghianatnya kalau bukan Sakura?). " Waahh ini pasti kerjaanya Sakura, pasti dia ngomong ke Gwera tentang aku yang memanggil Gwera sebagai pembuat onar. Memangnya tuh anak nggak mau mendukung kakaknya apa gimana sih? Pakek di aduin segala lagi".
Pikiran Haru yang kusut membuat dia semakin tegang karena berpikir berlebihan, padahal Gwera saja malah duduk dengan santai dan memejamkan matanya(alias tidur).