
Author POV
Tak perlu waktu lama bagi Nara untuk mengantarkan Gwera pulang ke rumahnya. Apalagi rumah mereka dekat, hanya terpisah tembok pagar pembatas dan taman di samping rumah gwera.
Nara memasuki pekarangan rumah Gwera dan memarkirkan mobilnya, berniat membangunkan Gwera untuk segera masuk ke rumah. Karena dia tahu pasti bunda Rania sudah menunggu kepulangan Gwera, meski Gwera sudah meminta ijin pulang telat karena rapat OSIS dan makan siang diluar. Nara merasa tak tega membangunkan Gwera. Dia menatap Gwera dengan lekat, mencoba menyingkap poni gwera yang menutupi matanya. Namun karena gerakan kecil itu membuat Gwera membuka matanya dan pandangan mereka bertemu. Gwera yang masih mengantuk melihat Nara sambil mengerjapkan matanya beberapa kali. Tersadar kalau mereka sudah sampai rumah, dia bergegas melepaskan seatbelt dan membuka pintu mobil sambil bertanya pada Nara.
"lo mau ikut masuk dulu nggak? ketemu bunda sama adek adek gue? kaliankan wajib ketemu minimal 2 atau 3 kali sehari, udah kayak makan sama minum obat aja." Tanya Gwera sambil tersenyum dan membuka pintu mobil.
"iya dong, masa gue nggak absen ke bunda dulu sih. gue kan udah nganterin tuan putrinya kembali dengan selamat." jawab Nara menyusul Gwera dan merangkul pundaknya.
"ck, kebiasaan deh. ntar gue tambah pendek kalo lo ngerangkul pundak gue terus. lo sih enak punya badan gede gitu, mana keras lagi tuh otot."
"yee gede gede ginikan lo juga suka, ya walaupun suka lo jadiin samsak sih." balas Nara sambil nyengir yang diangguki Gwera.
"tapi gue heran deh sama lo, udah tau sering dijadiin samsak masih mau aja deket deket sama gue?" kata Gwera sambil nenelengkan kepalanya dan melirik kearah Nara.
"Gimana ya, gue suka sih. udah biasa juga. malah kalo sehari aja nggak ketemu sama lo, ngobrol sama lo, jail sama lo, maen sama lo makan bareng lo dan yaaa pokoknya kalo gak ada lo tuh rasanya hampa, sepi, kosong gitu. lo sendiri gimana kalo gak ketemu gue?"
"gue sih biasa aja, tapi orang rumah yang pada kepo. pada mikir yang macem macem. dikira gue berantem sama lo, marahan lah, inilah itulah. ingetkan waktu lo pergi buat tanding basket dan gue nggak dateng buat dukung lo, nah gue ditanyain macem macem tuh dirumah, jadi bingung jawabnya gue waktu itu."
tak terasa mereka sudah memasuki rumah Gwera, dan disambut bunda Rania.
"Assalamu'alaikum." salam Nara dan Gwera bebarengan, menyalami dan mencium tangan bunda Rania secara bergantian.
"Wa'alaikumslam wr wb. udah pulang, Gwera anak bunda yang cantik." jawab bunda Rania mencium kening Gwera.
"iya bunda, Gwera ganti baju dulu ya bunda. panas, gerah, bau lagi, he he he" ijin Gwera sambil cengengesan.
"iya, sana naik ke kamarmu. setelah ganti baju turun ya nak. ditungguin adik adikmu tuh."
"iya bunda." jawab Gwera dan bergegas naik tangga menuju kekamarnya.
Bunda Rania mengajak Nara keruang makan sambil mengobrol.
"Nara mau makan lagi? tadi katanya sudah makan soto diwarung ya?" tanya bunda basa basi.
"nggak deh bund, nara masih kenyang. tadi selesai makan langsung nganter gwera pulang. takut bunda khawatir." jawab nara seadanya.
__ADS_1
"Bunda nggak khawatir selama Gwera bersama Nara. Nara kan sudah bunda anggap anak bunda sendiri. sudah seperti keluarga sendiri." jawab bunda dengan bijak.
"iya kak nara, kakak kan udah kayak bodyguardnya kak gwera, kemana mana berdua kayak kunci sama gembok." timpal Nanda, adik Gwera yang masih SMP.
"kok kunci sama gembok?" tanya nara bingung.
"iyalah, klop gitu. kalo nggak cocok nggak bisa klop. mau kak Gwera dideketin siapa aja kalo nggak cocok dia pasti cuma diem kayak patung."
"eehhhh masa kamu nyamain gwera sama patung sih, manis imut gitu." jawab Nara tak terima dengan kata kata Nanda yang menyamakan pujaan hatinya dengan patung.
"wuidihhh yang nggak terima gebetanya disamain sama patung." goda si Nanda pada Nara, dia tahu kalau sahabat kakaknya ini sangat menyayangi kakanya.
"sudah sudah, kalian ini masih saja sering begitu. Nanda, jangan goda kak Nara terus ah nak, kasian kak Naranya. lihat disini juga ada Dana adik kamu. dia belum ngerti apa apa."
"iya bunda, Nanda kan cuma goda aja. lagian yang digoda juga seneng seneng aja tuh."
Bunda dan Nanda tertawa bersama, Nara hanya cengengesan, sedangkan Dana hanya melihat mereka hanya menatap makanan didepanya tanpa mau menyentuhnya.
Terdengar suara langkah kaki yang mereka yakini itu langkah kaki Gwera. Dana langsung tersenyum lebar begitu melihat kakak tersayangnya datang.
"emm maaf Dana, tapi kak Gwera sudah makan tadi. Dana nungguin kakak buat makan bareng?"
"iya kak. tapi kalau kakak sudah makan Dana makan nanti malam aja deh biar bisa makan bareng kakak"
"kakak suapain deh, gimana maukan makan sekarang?" bujuk Gwera.
"em!" angguk Dana antusias.
Gwera pun menyuapi Dana dengan telaten.
"padahal tadi bunda sudah bilang kalau kamu sudah makan diluar sepulang sekolah, tapi Dana tetap menunggumu untuk makan bersama".
" Dana sayang, kenapa dana nggak mau makan siang sama bunda? kasiankan bunda udah masakin dana tapi dana nggak mau makan." tanya gwera pada dana dengan lembut.
"Dana mau makan bareng kak gwera, kemarin bunda udah janji ke dana kalau hari ini kakak bisa nemenin dana makan siang. dana mau ceritain semua temen temen dana ke kakak. kalau dana cerita ke kak Nanda, kak nanda pasti diem aja." jawab dana dengan tingkah polosnya
"Dana kan bisa cerita ke bunda sayang." kata bunda ke dana sambil mengelus kepala anak bungsunya itu.
__ADS_1
"tapi dana nggak bisa sambil maen kalau cerita ke bunda, kalau kak gwera pasti ngajak dana maen sambil dengerin dana cerita."
"ya udah, nggak papa kalau dana mau ajak kakak maen atau ngobrol. tapi dana mesti makan tepat waktu sayang. kakak nggak mau dana sakit. nanti kalau dana sakit kakak nggak bisa ngajak dana maen lagi, nanti dana nggak bisa bareng kakak lagi kalau dana sakit, dana mau dirumah sakit? kalau disana nanti kakak sulit nemenin dana." dengan lembut gwera berkata pada adiknya.
"nggak kak, dana nggak mau. iya nanti dana akan makan tepat waktu. biar dana bisa maen terus sama kakak." jawab Dana dengan senyum lebarnya, menampakan gigi putih kecilnya.
"nah begitu dong, meskipun kakak nggak ada, dana tetap harus sehat terus. nurut kata bunda dan ayah. besok besok kalau dana mau apa apa bilang ke kakak. biar kaka tahu kalau dirumah ada adek kecik kakak yang lagi nungguin."
"iy kak."
"jadi dana doang nih yang diperhatiin? adeknya yang satu ini udah dilupain deh." omel Nanda dengan mulut yang manyun.
"wuuiihh tumben tumbenan minta diperhatiin kakak? biasanya cuek bebek, mau ada kereta lewat, macan lewat atau singa lewatpun kamu bakal diem aja dek. kenapa? kangen ya sama kakak yang selalu kamu cuekin ini? hm? " goda gwera ke nanda yang hanya di tanggapi dengan gerakan mulut nanda yang menirukan gwera.
"kalau tahu nggak usah tanya." jawaban nanda yang dingin membuat mereka yang ada diruang makan bingung sendiri. secepat itukah perubahan sikap nanda, yang tadinya tertawa, senyum dan menggoda kedekatan kakaknya dengan nara. sekarang kembali dingin, tetapi bukan dingin yang benar benar dingin. hanya dingin karena ingin perhatian dari sang kakak tercinta.
"wahh cemburu ya dek? masa cemburu sama dana sih, adek kamu sendiri loh. kalian itu sama sama adek kakak. jadi rasa sayang kakak ke kalian itu juga sama tanpa ada yang dibedakan. paham?"
"hm"
"iya kak" jawab nanda dan dana bersamaan.
"nah gitu dong".
" hanya kamu yang bisa membuat suasana kembali ceria gwera, bunda bangga sama kamu." Bunda menghampiri gwera dan memeluknya.
"wah jadi terharu nih, ngomong ngomong sekarang udah sore banget. Nara pamit pulang ya bunda?" ijin nara yang diangguki bunda rania.
"iya nara, oh iya tadi mamamu telfon bunda. katanya nanti dia akan pergi ke acara ulang tahun pernikahan teman ayahmu. jadi nanti malam kamu kesini aja ya untuk makan malam?"
"iya nanti deh bunda, sekarang nara mau pulang dulu bund. mau bersih bersih diri dulu. Assalamu'alaikum wr wb." pamit nara.
"Wa'alaikumsalam wr wb ." jawab mereka serempak.
Dan nara pun kembali ke rumahnya, menitipkan mobilnya dirumah gwera, agar besok mudah membawanya untuk ke sekolah bersama gwera.
----------_______----------__________--------------_______
__ADS_1