Kata & Rasa

Kata & Rasa
Kebetulan yang disengaja.


__ADS_3

Haru yang menunggu Sakura didalam mobil sedikit melonggarkan dasi dan melepas satu kancing kemejanya. Dia menunggu sambil mengerjakan pekerjaan kantornya yang belum selesai. Karena jam pulang sekolah Sakura lebih lama dari jam istirahat di kantornya, sehingga membuat Haru lebih sering mengabaikan waktu istirahat siang dan beristirahat di jam pulang sekolah Sakura sambil menjemput adik kesayangannya itu.


Saat dia sedang mengalihkan perhatian dari laptopnya, pandangannya tertuju pada gerbang sekolah yang ramai dengan anak anak seumuran adiknya yang keluar sekolah. "Pasti sebentar lagi Sakura keluar dari gerbang sekolah. Apa aku parkir didepan gerbang saja ya?. Tapi kalau parkir di sana pasti menganggu orang orang yang berlalu lalang di gerbang sekolah. Hm aku chatt aja deh. Bilang kalau aku parkir di seberang sekolah didekat taman." Setelah berpikir begitu Haru mengirim chatt kepada Sakura, mengatakan bahwa dia menunggu Sakura didekat taman di seberang sekolah.


Sakura yang mendapatkan pesan dari Haru pun membalas "iya kak, aku pulangnya masih agak lama kak. Kakak menunggu ditaman saja bersama Gwera. Tadi Gwera bilang dia mau ke taman menunggu Nara yang masih di sekolah. Tapi kakak jangan marah marah ke Gwera lagi ya. Dia itu orang baik kak. Jangan dimarahin terus. Aku masih ada rapat dengan ketua OSIS kak. jadi masih agak lama. Tapi kalau kakak sibuk, kakak bisa kembali ke kantor dulu. Nanti saat diskusi ku dengan ketua OSIS selesai, aku akan menghubungi kakak". Panjang penjelasan Sakura pada Haru.


Haru pun membalas pesan dari Sakura "Iya, kakak tunggu kamu di mobil atau taman saja. Daripada kakak bolak balik ke kantor. Nanggung, 3 jam lagi juga sudah waktunya jam pulang kantor."


"Iya kak. nanti setelah selesai aku akan langsung telephon kakak." Balas Sakura.


Haru kembali berkutat dengan laptopnya untuk menghilangkan rasa jenuh dibenaknya karena menunggu Sakura sendirian didalam mobil. Tapi ada satu hal yang mengganggu pikirannya. Yaitu tentang Gwera yang menunggu Nara di taman seberang sekolah. Itu berarti sebentar lagi dia akan melihat Gwera di taman itu. Taman yang berada tepat di samping dia memarkirkan mobilnya. Kalau begitu dia bisa bertemu dengan Gwera lagi. Tapi kenapa sekarang dia jadi gelisah dan gugup membayangkan pertemuannya dengan Gwera nanti. Padahal hanya kebetulan karena sama sama sedang menunggu seseorang. Tapi begitu dia ingat siapa yang ditunggu oleh Gwera, dia jadi membulatkan tekatnya untuk menemui Gwera. "Kenapa aku jadi bingung dan gugup begini hanya karena memikirkan kalau aku akan bertemu Gwera di taman itu nanti. Padahal kami sama sama sedang menunggu seseorang di sana. Tunggu, menunggu seseorang? dia kan sedang menunggu anak laki laki yang sering jalan berdua dengannya. Si Nana atau Rara itu. ah terserahlah siapapun namanya. Yang jelas anak cowok itu yang selalu menggangguku saat aku sedang memandangi Gwera. Tidak bisa, aku harus mengambil kesempatan ini untuk mengobrol dengan Gwera. Agar aku bisa dekat dengannya".Begitu isi pikiran Haru. Dan dia memperhatikan satu persatu orang orang yang keluar dari gerbang sekolah.

__ADS_1


Tak lama Gwera muncul dari dalam sekolah menuju taman yang dimaksud. Dia menyeberang dengan hati hati bersama beberapa siswa sekolah yang lainya. Gwera langsung menuju ke taman yang dirawat dengan apik tersebut. Disekitar taman tersebut juga ada beberapa penjual makanan yang menjajakan dagangan mereka yang bisa mengganjal perut bagi orang orang yang kelaparan. Seperti siomay, cilok, bakso, bubur, dan jajanan yang lainya. Untuk harganya pun sesuai dengan kantong para siswa sekolah. Murah tapi bukan murahan.


Dan sebelum duduk di salah satu bangku taman yang terbuat dari batu, Gwera memesan seporsi siomay untuk mengisi perutnya yang sudah bernyanyi menyanyikan lagu rock karena kelaparan. Dia bercanda dan tertawa dengan para penjual jajanan di sana. Yang ternyata beberapa penjual jajanan tersebut adalah para preman yang dulu pernah bertarung melawan Gwera di halte depan sekolah.


"Bang, pesen siomaynya seporsi dong, di kasih pare juga ya bang". Kata Gwera memesan siomay ke penjual yang bernama Tono.


" Eh neng Gwera, iya neng. Khusus buat neng, bang Tono kasih gratis." Jawab penjual Siomay dengan tersenyum lebar.


"Tolong jangan ditolak neng. Memang benar ini dagangan abang, tapi kalau bukan karena eneng yang dulu kasihan ke abang dan temen temen abang, kami pasti masih jadi preman dan malakin anak anak sekolah neng. Jadi dagangan abang ini nggak seberapa buat ngucapin rasa terima kasih abang ke eneng". Penjelasan dari bang Tono membuat Gwera merasa agak tidak enak hati menolak pemberiannya itu. Dan penjual bakso dan cilok pun ikut nimbrung. Karena mereka juga merasa berterima kasih pada Gwera atas kebaikan hati Gwera.


"Udah neng, jangan ditolak lagi ya. Eneng udah keseringan nolak jajanan yang pengen kami kasih buat eneng sebagai rasa terima kasih. Kami jadi merasa agak terbebani kalau ketemu eneng. Padahal dulu kan eneng yang bilang sendiri kalau jangan sungkan kalau ketemu eneng. Masa eneng nggak mau nerima jajanan yang kami bikin sebagai rasa terima kasih kami neng?" Ucap bang Dedi yang berjualan cilok.

__ADS_1


"Iya neng, kami seneng kok neng kalau neng mau incip incip jualan kami. Tiap hari juga nggak papa neng." timpal bang Yanto si penjual bakso.


"Lhah kalau tiap hari apa bedanya gue sama preman yang tukang malakin orang? masa tiap pengen jajan digratisin terus. ntar kalian yang rugi lho. nggak mau ah. Gwera terima rasa terima kasih kalian, tapi Gwera nggak mau bikin para abang sekalian ini jadi rugi. Jadi, nanti kalau Gwera nggak bawa duit aja baru ditraktir. Tapi jangan keseringan, ntar gue ngelunjak lagi minta gratisan terus". jawab Gwera pada para penjual jajan yang bersikeras memberikan jajanan mereka secara gratis ke Gwera sambil tersenyum.


Tanpa disadari oleh Gwera, sejak tadi ada seseorang yang memperhatikan percakapan antara mereka.


"Kenapa dia terlihat begitu akrab dengan para pedagang jajanan itu? apa mereka berteman? tapi masa Gwera berteman dengan penjual makanan pinggir jalan begitu? kenapa mereka tertawa? seperti sudah akrab saja. masa aku kalah dari para pedagang itu? huh! benar benar menjengkelkan". Haru menggerutu jengkel karena begitu banyak orang (laki laki) yang dekat dan bebas mengobrol dengan Gwera. Sedangkan dia tak pernah bisa berbicara secara leluasa dengan Gwera padahal banyak kesempatan di setiap dia menjemput Sakura. Dia benar benar merasa dikalahkan oleh banyak laki laki disekitar Gwera.


Gwera akhirnya menerima siomay bang Tono sebagai traktiran dari bang Tono. yha daripada semakin panjang dan lama dia mengobrol dengan mereka padahal banyak siswa siswa sekolah yang juga mengantri untuk jajan di tempat mereka.


Gwera berjalan menuju meja dan bangku di taman yang terbuat dari batu agar dia lebih leluasa mengerjakan proposal tentang acara pesta topeng nanti. Daripada dia menunggu Nara dengan bosan, maka dia berencara mengerjakan proposal dengan mendengarkan musik dari handphone jadulnya setelah memakan siomay nya.

__ADS_1


Belum selesai dia memakan siomay, dia mengambil laptop, contoh proposal tentang biaya apa saja yang dibutuhkan, headset, dan handphone jadulnya. Dia benar benar tak mau menyia-nyiakan waktu. sambil mengunyah, dia mengerjakan proposal tersebut dan mendengarkan lagu dari handphonenya. Lagu yang dia dengarkan rata rata lagu dari band ternama, yaitu peterpan, yang sekarang berubah nama menjadi noah. Saking asiknya dia dengan kegiatannya, sampai sampai tak menyadari kedatangan seseorang di sampingnya. Dia mengekspresikan lagu yang dia dengar dengan manggut-manggut dan bersenandung, sehingga dia tak mendengar sapaan dari orang yang berada disampingnya. Sampai sebuah tangan menepuk pundaknya.


__ADS_2